Beauty Clouds

Beauty Clouds
Keputusan Papih Emly



Dirumah Emly...


Papih yang awalnya juga mengira bahwa Emly hanya akan ngeprank mereka, setelah melihat keseriusan dari tatapan Emly, papih sadar kali ini Emly memang berkata jujur.


Papih berdiri dan menampar Emly dengan kencang, meluapakn semua kekecewaanya.


"Anak siapa yang kamu kandunga hah..." ucap papih dengan nada marah."


Emly yang selama ini selalu berlipahan kasih sayang, tidak pernah sedikitpun menerima bentakan apa lagi pukulan, seperti yang saat ini papih lakukan.


Emly terisak, kaget dengan perlakuan papih, ia memegangi pipinya yang terasa panas.


Mamih pun kaget dengan perlakuan papih. Mamih mendekat ke papih dan mencoba menenangkan papih, agar bisa bicara dengan kepala dingin.


"Pih, duduk dulu yu, kita nggak boleh kaya gini. Kasian juga Emly kalo Papih kaya gini, dia justru akan takut untuk berkata jujur, kalo sikap Papih kaya begini." ujar mamih menenangkan suaminya.


Papih pun duduk mengikuti perintah mamih, tapi masih menunggu dengan tatapan yang membunuh, jawaban dari Emly.


"Emly sayang ayo dong, kamu juga jangan nangis terus, jelasin sama kami, siapa yang sudah membuat kamu hamil?" tanya mamih dengan sabar, keistimewaan mamih adalah dia selalu sabar disetiap ada masalah apapun.


Emly menatap wajah mamih, dan menggelengkan kepala, memberikan tanda bahwa akan tambah buruk suasananya setelah ia berkata jujur.


"Nggak apa-apa kamu jujur ajah, nanti kita cari jalan tengahnya," ucap mamih lagi-lagi menenangkan Emly.


Emly menarik nafas berat, seolah ia sudah pasrah dengan kemarahan papih setelah ia berkata jujur.


"Aarav, asisten Rio yang sudah menghamiliku." ucap Emly dengan menunduk nggak kuat rasanya kalo harus melihat kekecewaat di wajah kedua orang tuanya.


"Gila kamu Emly, kenapa kamu mau sajah berhubungan dengan orang miskin seperti Aarav. Apa kamu mencintai orang miskin itu ??


tanya papih dengan nada penuh emosi.


"Demi Tuhan, semua ini karena jebakan mereka Pap, aku hanya korban." ucap Emly dengan isakan air mata.


Mamih saat ini hanya diam, terlalu menyakitkan untuk ikut membahas ini semua. Emly anak kesayanganya hamil diluar nikah sajah sudah membuatnya hancur, terlebih mengetahui laki-laki yang menghamili Aarav, laki-laki miskin yang menurutnya tidak bisa di andalkan bisa membahagiakan Emly.


"Jebakan??? Apa maksudmu." tanya papih tidak tau maksud kata-kata dari Emly.


"Emly pun menceritaka kronologinya dengan detail, sampai ia bisa tidur dengan Aarav dan akhirnya ia hamil.


"B*d*h kamu Emly, seharuasnya kalo memang Rio memutuskan kamu, jangan sekalipun kamu bertindak seperti pengemis cinta seperti itu. Yang ada Rio akan makin menjauh. Akibatnya seperti ini, kamu hamil dengan laki-laki yang nggak kamu cinta." omel papih marah dengan cara Emly membuat luluh Rio, sampai dirinya justru yang terseret kepermainanya sendiri.


"Iya Emly menyesal Pap, tapi Emly juga nggak mau menikah dengan Aarav mau ditaro dimana muka Emly, terus juga Emly nggak cinta sama Aarav." lirih Emly dengan nada menyesal.


"Gugurkan kandungan itu! Sebelum petaka datang kekeluarga kita." ucap papih dengan nada memberi ancaman.


"Emly sudah berjanji, akan terus mempertahankan anak ini Pap, maaf." Emly lagi-lagi tersudut dengan keputusan papih.


"Papih tidak mau tau, kamu gugurkan anak itu! Atau engga kamu pergi dari rumah ini." ancam papih, sesuai dengan tebakanya, bahwa papih pasti akan mengusirnya.


"Pap bisa dibicarakan dengan baik-baik kan Pap, nggak harus usir Emly." mohon mamih yang nggak tega, apabila Emly benar-benar diusir oleh suaminya.


"Mamih jangan ngebela dia terus yang ada dia makin manja." Papih ngak terima, apabila istrinya lagi-lagi menghawatirkan Emly dan memaafkan setiap kesalahan yang diperbuatnya.


"Urusan Rio dan Asistenya biar Papih yang urus, mereka harus menanggung apa yang kalian perbuat dengan anakku." ucap Papih dengan nada kesal. Kamu cukup ikutin perintah papih jangan membantah terus, kalo ada apa-apa papih yang akan menanggung malu.


Emly hanya mengangguk pasrah dengan omongan papih.


Dia hanya akan menjadi petaka buat keluarga kita, maka harus di singkirkan!" ucap papih nggak bisa dibantah oleh siapapun.


Mamih dan Emly lega, setidaknya anak itu akan tetap hidup meskipun kalo sudah lahir harus dia singkirkan dari keluarga ini, dan tentunya terpisah dengan Emly.


Emly pun pada kenyataanya nggak mau merawat anak itu, hanya karna Zawa sajah yang memohon mempertahankan anaknya.


****


Di rumah sakit Rio yang baru sajah selesai praktek, menuju keruanganya untuk melanjutkan pekerjaanya .


"Rujak serut pesananku udah di bikin belum yah sama Mbok Karti." gumam Rio, lagi-lagi Rio membayangkan segarnya rujak serut itu, sampai ia tidak konsentrasi dengan pekerjaanya.


Sekertaris Azra akan mengambil barang yang dikirim go-jek, karena barusan ada telpon dari security bahwa ada bambang go-jek yang membawa pesanan milik Rio.


Dikolidor ruangan kerjanya Azra melihat Ody yang sedang menuju pantry.


"Ody.....," panggil Azra ..


Ody yang merasa dipanggilpun menoleh ke belakang, dan setelah tau bahwa yang memanggil adalah Azra, Ody pun menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Ody dengan sopan.


"Bisa minta tolong nggak, di bawah ada Abang ojek dipos Sekurity kamu tolong ambilkan pesanan Dokter Rio yah ada di Abang ojek, ongkos udah dibayar ko. Kamu tinggal ambil ajah. Bisa kan?" tanya Azra dengan memohon karena memang ia sedang mager untuk berjalan ke bawah.


"Oh, baik bu hanya itu sajah?" tanya Ody dengan sopan, memastika nggak ada lagi tambahan pekerjaan.


"Iya itu sajah, terimakasih Ody." ucap Azra setelah Ody siap-siap akan pergi.


Ody pun membalas dengan tersenyum tulus, dan tangan yang menyimbolkan OK.


Tidak lama Ody meninggalkan Azra kini ia sudah kembali dengan menentang sebuah pepper bag ditanganya.


"Ini Bu pesanan Dokter Rio." ucap Ody sambil mengakat papper bag yang ia bawa.


"Oh udah yah, cepet banget ambilnya." ujar Azra nampak kaget karna Ody yang tiba-tiba sudah ada di hadapanya lagi.


"Iya Bu, udah biasa naik turun jadi cepet," jawab Ody dengan senyum di wajahnya.


"Kamu langsung masuk ajah yah, antarkan ke Dokter Rio, Beliau udah selesai praktek ada diruanganya." ucap Azra santai.


"Apa nggak lebih baik Bu Azra ajah yang antar ke tuan Rio, saya takut nanti kalo saya yang antar malah dokter Rio marah." ucap Ody mencoba mencari alasan supaya tidak ketemu dengan Rio.


"Nggak bakal marah, nanti bilang ajah kalo Rio marah, Azra yang perintah gitu, Azra lagi-lagi meyakinkan Ody agar mau mengantarkan pesanan ke Rio.


"Aduh gimana ini, Bu Azra kekeh aku yang harus mengantarkan. Pasrah ajah deh kalo tuan berkuasa marah-marah." Batin Ody.


"Bismillahirahmanirrahim..... Mudah-mudahan syaitonnya lagi pergi biar nggak kena semprot nanti." doa Ody sebelum mengetuk pintu ruangan Rio.


***Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka*** (Qs. Al an'am:151)


...****************...


# Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah ❤