
Ody terbangun ketika mendengar ada tangisan bayi yang nyaring. Oh... ternyata sudah ada seorang bayi lucu di sampingnya. Bayi itu sejak tadi sudah digilir di gendong sama opa dan omanya lalu menangis karena haus.
"Mamih ini anak Ody?" tanya Ody matanya berkaca-kaca saking bahagianya dia melihat bayi yang merah menangis mencari sumber air kehidupan buatnya. Ody semakin dibuat terharu dan bahagia, tanpa bertanya anaknya perempuan atau apa Ody sudah bisa memastikan bahwa buah hatinya adalah laki-laki. Hal itu di lihat dari pakaian yang di pake oleh anaknya itu. Biru identik dengan anak laki-laki.
Tidak hanya Ody yang terbangun karena teriakan bayi itu. Meyra pun ikut bangun di susul oleh papahnya.
Ody dengan perlahan mengangkat anaknya, dan setelah di angkat oleh wanita yang baru saja melahirkanya anak itu seolah tahu bahwa dia adalah wanita yang selama ini membawanya kemanapun pergi, sehingga tangisanya perlahan memudar.
Ody pun menyusui bayinya itu. Pertama kali rasa perih di rasakanya, sama seperti ketika meyusui Meyra kala itu, perih sampai bulu kuduk ditubuhnya menegang sempurna karena rasa pegal dan perih yang baru ia rasakan. Namun nik'matnya terasa ketika bayi itu menyedot dengan kuat ASInya.
"Bunda... Bunda itu dede bayinya lagi ngapain? Kenapa dada bunda di gigit dede bayi?" tanya Meyra penasaran kenapa dede bayinya menggigit dada bundanya. Meyra sedih ketika bundanya di gigit adiknya itu. Terlebih Meyra melihat bundanya meringis seperti kesakitan. Oma dan Opahnya yang juga masih ada di ruangan mereka pun terkekeh ketika Meyra mengira bahwa adiknya tengah menggigit dada bundanya.
Mamih menghampiri Meyra, sementara Tuan Hartono merebahkan tubuhnya di atas sova yang empuk. Masa cemasnya sudah mengurai satu per satu. Bahkan anaknya juga sudah sadar. Kini gantian, tinggal papih yang beristirahat pikirnya. Tanganya ia lipat dan di letakan di bawah kepalanya bagian belakang. Tubungnya dibiarkan menatap pelafon rumah sakit, matanya di pejamkan, tetapi telinganya masih terus mendengarkan celoteh Meyra yang terus menggelitik telingga, sehingga memaksa bibi laki-laki paruh baya itu mengembang sempurna.
Bagai mana bisa anak itu menangis hanya karena mengira adik bayinya menyakiti bundanya. Menggigit bundanya, Meyra takut bundanya kesakitan.
"Kakak Mey sayang, adik bayi bukan sedang gigit bunda, dede bayi sedang mimi susu. Sama kayak kakak kalo mimi susu di dot. Nah kalo dede bayi mimi susunya dari sini." Omanya menjelasnkan dengan penuh sabar dan perhatian agar Meyra tidak salah duga, dan menangis lagi.
Meyra menatap Ody, tetapi Meyra tidak menangkap wajah bundanya yang meringis seperti tadi. Bundanya kali ini malah tersenyum dengan lebar. Bahkan terkekeh melihat kelakuan anak pertamamya.
Rio yang baru bangun dan masih menyesuaikan dengan apa yang terjadi denganya. Memory di otaknya ia paksa putar kembali dengan apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Yah, Rio sudah bisa mengetahui apa yang terjadi sebelum ia pingsan itu.
Rio terkekeh ketika mendengar celoteh Meyra perihal adiknya yang sedang menyusu itu. Padahal ingatanya masih samar dengan kejadian yang memaksanya tidur cukup lama.
"Bunda apa dede bayi tidak gigit bunda?" tanya Meyra tatapan mata polosnya mengarah kemata Ody, seolah ia tengah mengamati apa benar bundanya tidak sakit.
"Tidak kakak, dulu kakak Mey juga minum susunya kaya gini. Kan dede bayinya belum punya gigi jadi tidak bisa gigit dada bunda dong," jawab Ody tanganya ia gunakan untuk mengelus rambut anaknya yang berada di tengah-tengah antara Ody dan Rio. Meyra terus melihat adiknya yang bibirnya bergerak-gerak menye'dot ASI dari dada bundanya.
Rio berusaha duduk dengan memegangi kepalanya yang masih sedikit berat. "Mas, kamu udah bagun?" tanya Ody. Ya sudah jelas udah Ody buktinya Rio sekarang duduk dan berusaha menggeser duduknya mendekati istrinya yang sedang menyusui buah hatinya.
"Anak kita cowok sayang?" tanya balik Rio, mengabaikan pertanyaan basa basi iatrinya, dengan mata berbinarnya ketika melihat pakaian bayi itu "I'm Boy" itu tulisan yang ada di baju berwarna biru itu. Memberi tahu dengan jelas bahwa anaknya laki-laki.
Ody mengangguk dengan semangat. Rio ingin memeluk istri dan kedua anaknya tetapi tidak bisa selang infus tidak sampai apabila ia ingin berpelukan dengan Ody yang tengah menyusi bayinya itu.
"Iya sayang, kan sama kakak Mey juga dulu waktu bayi gitu. Mimi susu dari dada bunda." Rio menjelaskan kembali agar Meyra tidak merasa bingung dengan adiknya, kenapa minum susunya dari dada bundanya. Tidak dari botol susu seperti dirinya itu.
Meyra terus mendekat-dekat kearah adik bayinya yang masih berada di gendongan bundanya. Dan masih minum susu matanya terpejam tapi jangan ditanya tarikanya sangat kencang, berbeda dengan Meyra dulu sedikit lebih santai. Mungkin karena anak yang ini laki-laki sehingga tarikanya lebih kuat dari pada Meyra dulu.
"Kakak mau pegang dede bayinya?" tanya Ody sembari tersenyum ramah. Sementara Oma yang mungkin lelah pun duduk di sova. Membiarkan Ody dan keluarganya menikmati momen barunya itu.
"Boleh yah Bun?" tanya Meyra dengan ragu dan tentu tangan kecinya di gerak-gerakan seolah pengin pegang adiknya, tetapi takut.
"Boleh sayang," balas Ody dan Rio pun turun dari ranjang berjalan membawa selang infusnya dan kini duduk dihadapan Ody membelai anaknya dengan penuh kasih. Seolah sakit dikepalanya langsung hilang ketika tahu anaknya laki-laki. Sudah sangat cocok bukan laki-laki dan perempuan, satu pasang kalo orang-orang bilang.
Bahkan sekarang anak itu sudah melepaskan dada bundanya. Karena sudah kenyang. Dan juga udah kembali pulas tertidur.
Meyra yang diizinkan boleh mengelus pipi adiknya pun mengikuti papahnya yang menggelus-elus adik bayinya. Awalnya tanganya dipegang-pegang masih dengan ragu lama-lama ke pipi dan badanya seolah mengerti dengan keadaan,.anak berumur belum genap empat tahun itu berinisiatif seorang diri mencium adik bayinya.
Ody dan Rio yang melihatnya terharu, pasalnya biarpun mereka tidak di lahirkan oleh rahim yang sama, tetapi ikatan batinya Meyra dan adiknya itu sangat kuat.
****
Berbeda dengan keluarga Rio yang sedang berbahagia Aarav tengah bersedih. Hatinya tiba-tiba sakit melihat buah hatinya mengacuhkanya, setelah keluarganya berkumpul. Ia menumpakan kesedihanya di kamar mandi. Dia laki-laki kuat bahkan ketika orang tuanya meninggal dia bisa tahan tangisnya, tetapi ketika dihadapkan dengan darah dagingnya hatinya seolah tercabik-cabik oleh tajamnya sembilu.
Aarav menatap beberapa helai rambut yang ia sengaja ambil dari Meyra. Yah, tadi diam-diam Aarav mengambil rambut Meyra dan menyimpanya di tisu yang ia ambil dari samping ranjang Meyra.
"Mey, Dady berharap suatu saat kamu tahu kebenaranya dan kita akan berkmpul bersama. Andai Dady dulu tahu bahwa kamu adalah darah daging Dady, pasti waktu itu Dady tidak akan menyerahkan pada Rio," oceh Aarav masih di kamar mandi dengan air keran terus mengalir.
Aarav memiliki ide, ia ingin bercerita dengan chandra sebelum semuanya terbongkar. Ia akan meminta nasihat, sebaiknya ia harus bagai mana? Langkah apa yang baiknya ia ambil?
Bukankah seharusnya Aarav tidak berkecil hati, karena biarpun Rio dan Ody yang lebih berhak atas Meyra secara hukum, tetapi Aarav setidaknya masih bisa mengasuh anaknya itu, tetapi hatinya masih ada rasa berat. Sehingga Aarav memutuskan bertemu dengan Chandra. Di mana Chandra sudah memiliki buah hati pasti lebih tahu perasaan Aarav.
Laki-laki itu kembali melipat tisu dengan rapih di mana di dalamnya ada beberapa helai rambut putrinya. Dia akan melakukan tes DnA tetapi tentunya bukan di rumah sakit ini. Aarav akan memilih rumah sakit lain agar lebih aman.