
Satu piring menu orek-orek telur ala Clovis terhidang diatas meja, Ipek dengan antusias siap menikmati makanan yang berhasil membuat dia ketagihan. Clovis terdiam dan melihat Ipek makan dengan lahap, bahkan saking terhipnotis dengan ibu hamil itu Clovis tanpa sadar masih menggunakan celepek di tubuhnya, dan berdiri mematung melihat istrinya yang makan hanya dengan telor orek. Tidak hanya Clovis yang dibikin terheran-heran denga Ipek. Umi dan Abi juga terheran-heran dengan kelakuan anaknya. Sampai-sampai dua pasangan suami istri itu penasaran segimana enaknya sih telur orak arik yang Clovis makan. Glekkk... Umi dan Abi pun menelan ludah, seolah ikut menikmati masakan yang Ipek gadang-gadang sangat lezat itu.
Euhhh... Suara sendawa dari Ipek menandakan bahwa perutnya sudah aman dari setok makananya. Menu telor orak arik masih ada setengah. Abi yang penasaran dengan gimana lezatnya masakan menantunya itu. Memberanikan diri meminta izin pada Ipek untuk membagi telur oreknya yang berhasil membuat Umi dan Abi menerlan ludahnya karena mengilar dengan cara Ipek makan yang sepertinya sangat enak sekali makanan itu.
"Sayang Abi sama Umi boleh minta telur oreknya enggak? Kayaknya liat kamu makan nikmat banget jadi pengin tau rasanya gimana hebatnya tuh masakan suami kamu sampai kamu makan cuma sama nasi dan telor orek nambah sampe dua piring?" ucap Abi dengan wajah sangat berharap kalau anaknya mau membagi makanan yang dia punya.
Ipek sebenarnya masih mau buat makan nanti siang atau malam, tetapi tidak tega juga kalo harus liat umi dan abinya menginginkan rasa yang sangtat lezat dari menu sedehana yang suaminya buat. Eh... jangan salah meskipun sederhana tetapi rasanya juara abis. Ipek melirik ke Clovis dan laki-laki yang masih menggunakan celemek itu pun menganggukan kepalanya sehingga Ipek juga membalasnya dengan senyuman manisnya.
"Makanlah Abi, Umi, nanti kallo Ipek ingin makan lagi tinggal minta tolong mas suami memasakan lagi. Iya kan Bang?" ujar Ipek sembari mengedipkan matanya untuk menggoda Clovis.
Clovis pun membalas dengan anggukan dan jari jempol yang ia acungkan. Umi dan Abi pun makan mengikuti gaya Ipek dengan hanya nasi dan telor yang mantunya masak. Kedua pasangan itu pun mengakui memang masakanya Clovis lezat. Rasanya pas, asin dan pedasnya sangat pas sehingga tanpa sadar mereka juga nambah lagi nasinya, sama seperti anaknya yang tidak cukup makan dengan satu piring itu.
Setelah sarapan Clovis dan Ipek pun bersiap karena akan mengikuti saran dari umi yaitu priksa lagi ke dokter kandungan untuk memastikan hasilnya. Ipek pun sebelumnya sudah membuat janji dengan Intan, Sebelumnya Ipek akan memeriksakan diri di Zawa, tetapi Ipek kefikiran kalo Zawa juga pengin hamil, nanti kalo tahu Ipek hamil duluan malah bisa bersedih. Jadi Ipek memilih priksa ke dokter Intan untuk menjaga perasaan Zawa,
"Sayang udah siap?" tanya Clovis, begitu dua pasangan yang tengah bahagia berada di dalam mobil.
"Deg-degan Bang, rasanya kayak mau ketemu orang yang dicintai. Padahal cuma mau lihat calon Baby kita yang ada di perut, tapi udah bikin Ipek cemas," jawab Ipek sembari memegangi dadanya yang seolah mau loncat.
Clovis terkekeh, melihat tingkah istrinya tetapi dalam hatinya juga sama deg-degan kayak mau ngelamar Ipek dulu. Tidak memakan waktu lama kini Ipek dan Clovis sudah ada di ruamah sakit Hartono di mana ia akan langsung menemui Intan. Sepanjang perjalanan mereka diselingi obrolan hangat.
"Ngapain sih pagi-pagi udah heboh ajah," tanya Intan dengan ketus ketika pasangan suami istri sudah masuk kedalam ruanganya.
"Mau periksa lah Tan, masa mau minta sumbangan," jawab Clovis tidak kalah ketus dari sang dokter, memang harus banyak-banyak sabar punya pasien seperti Clovis, dan dokter seperti Intan.
"Siapa yang sakit? Sakit apaan? Jangan bilang karena kebanyakan istri loe juga meriang kayak kasus Zawa dan Arzen?" tanya Intan, pada heran dengan sahabatnya kenapa main enggak pada pake rumus aman. Main gempur selesai, sakit atau bahaya itu urusan kesekian.
"Tapi dugaan loe kayaknya bener, karena Ipek yang kebanyakan gue telanjangin, makanya gue kesini," ujar Clovis dengan senyum jahilnya.
Intan terbelalak mendengar berita yang Ipek bawa, dan antara percaya dan tidak, kalo sahabatnya hebat sekali. Jangan diragukan lagi Clovis, Rio dan Chandra adalah team sukses sekali tabur bibitnya langsung jadi.
"Nah kaya Ipek tuh Vis, begini kan enak, kalo ngapa-ngapa itu di jelaskan detailnya jangan malah mancing keributan pagi-pagi," dengus Intan sembari meminta Ipek mengikutinya untuk di periksa dengan USG agar lebih memastikan ada tidaknya calon babynya.
"Lah, tapi benar kan Tan, karena kebanyakan di telanjangin sehingga istri gue tek-dung," protes Clovis yang merasa kalo dia selalu benar.
"Yah, yah... anggap ajah omonga loe benar, tetapi pada kenyataanya tidak harus di telanjangin juga kalo mau bikin tetap bisa hamil," ucap Intan mematahkan ucapan Clovis. Dan sejak itu Clovis diam karena benar juga ucapan Intan, cuma pakaian bawah di buka sedikit saja bisa tetap produksi kok, jadi tidak harus sampai telanjang seperti dirinya dan Ipek ketika melakukan ritual cetak baby harus dilepas semuanya biar enggak gerah.
"Satu per satu pemeriksaan di lewati. "Wah selamat yah Pek, kamu benar-benar mau jadi Ibu, tuh calon baby kamu, masih bentuk embrio jadi masih sebesar biji kedelai," jelas Intan dan sahabatnya itu juga menjelaskan dengan detail kondisi calon buah hatinya yang sangat sehat dan aktif, detak jantung juga ok tidak ada kendala apapun. Clovis dan Ipek pun terharu dengan penjelasan Intan, terlebih melihat calon Babynya rasanya seperti mimpi.
Intan tersenyum jahil, ada ide jahilnya yang keluar begitu saja ketika mengetahui Ipek hamil, dan bersamaan dengan itu Zawa juga sedang di rawat dirumah sakit ini. "Pek bisa bantu aku nggak?" tanya Intan pada Ipek, yah besar harapan agar Ipek mau membantunya.
"Bantu apa Dok, kalo memang tidak berat mah pasti mau ajah," jawab Ipek sembari berusaha turun dari ranjang periksa di bantu oleh suami siaganya dan berjalan ke meja kerja Intan.
Intan pun membisikan sesuatu di telinga Ipek, tentu sajah tanpa sepengetahuan kanjeng suami. Sekarang ganti Ipek yang terkejut dengan kabar yang Intan bawa. "Jadi dokter Zawa juga di rawat di rumah sakit ini? Kondisinya gimana?" tanya Ipek kepo dan kaget juga, padahal tadinya Ipek mau sekalian menegok baby boy yang menurut info hari ini akan pulang kerumahnya. Namun belum pulang Zawa malah di rawat juga di rumah sakit ini, belum Emly yang juga masih menjalani perawatan, meskipun kondisinya masih lemah.
Intan mengangguk, "Mau yah, kamu hanya diam ajah kok, nanti gue yang ngomong sama zawa dan Arzen," ucap Intan sembari menunjukan jempol tanganya agar Ipek mau juga mengikuti cara yang dia bisikan tadi.
"Tapi aman kan?" tanya Ipek memastikan kalo rencana Intan aman.
"Pasti, aman semuanya," balas Intan dengan yakin. Setelah menjawaban keyakinan Ipek pun menyanggupi kerja sama bersama Intan. Dan Clovis semakin di buat penasaran dengan Intan.
"Tan, loe enggak ajarin istri gue yang aneh-aneh kan?" ucap Clovis dengan menyipitkan matanya
"Apaan sih Vis, ini misi kaum Hawa, loe diam ajah!" ujar Intan dengan kejahilan yang sangat menjengkelkan bagi Clovis. Ia takut kalo-kalo Ipek dekat-dekat dengan Intan jadi Ipek yang jadil, Clovis tidak tahu ajah dulu Ipek sebelum taubat adalah orang nomer satu yang paling jahil, melebihi Intan, bahkan Intan juga sering menjadi korban kejahilan Ipek. Jadi kalo Ipek kembali jahil itu bukan ajaran Intan, tetapi memang sifat aslinya keluar.