
Sepulang kerja, Ody dan Ipek istirahat sejenak. Mereka akan berangkat kerja ketempat Clovis sebelum magrib, karna jam enam mereka akan mulai bekerja.
Untuk pekerjaan pertama mereka masih didampingi oleh karyawan yang sudah senior, pastinya agar tidak melakukan kesalahan pada saat melayani tamu-tamu yang berkunjung.
" Tidak terlalu buruk kerja ditempat Clovis, aku pikir awalnya akan sama seperti yang aku liat diTV, bahwa banyak pria mabuk dan bercumbu ria dengan lawan jenis." ucap Ody pada Ipek saat mereka beristirahat.
"Iya, Ipek juga awalnya mengira begitu, tapi ternyata hampir sama seperti bekerja dicafe." jawab Ipek menimpali obrolan Ody.
Sebenarnya niat Ipek menerima pekerjaan ini, agar ia bisa dekat dengan Clovis. Ini cinta pertama yang Ipek rasanya, begitu menggebu dan ingin menjadikan Clovis pendamping hidupnya.
"Kamu kenapa ko kelihatan gelisah?" tanya Ody
"Ko Bambang Clovis ga keliatan yah," jawab Ipek dengan wajah sendu.
"Hay,...kamu ga boleh sedih gitu, mungkin ajah Clovis sedang ada urusan yang penting. Jadi belum bisa datang kesini." hibur Ody, agar Ipek kembali ceria.
"Mungkin sajah yah, rasanya kalo belum liat bambang Clovis belum dapat suntikan semangat," ucap Ipek asal.
Huzzz,.... kalo ngomong jangan gitu ah," tegur Ody, sembari memukul pundak Ipek. Ody ga suka kalo Ipek terlalu memuja Clovis. Ia takut kalo Ipek justru akan bersedih diakhir perjuanganya.
" Aduh...., ya jangan ditimpuk dong pundaknya, sakit nih!! tuh liat ajah langsung bengkak kan." Beo Ipek sambil menunjuk pundaknya.
" Lebay,...." nih bengkak nih," balas Ody dengan mencubit gemas pipi Ipek yang memang gembil.
Mereka tertawa setiap melewati momen bercanda mereka, meskipun hanya candaan ringan, tapi bisa membuat mereka bahagia.
Jam istirahat sudah berakhir mereka berdua kembali bekerja. Ditengah pengunjung yang semakin malam semakin ramai, terlihat sosok yang sangat Ipek tunggu. Clovis tengah bercumbu mesra dengan wanita cantik dikursi pengunjung.
Ipek yang akan mengantarkan minuman kemeja Clovis, berusaha bersikap sesantai mungkin, meskipun hatinya sakit. Biarpun dari awal Ipek sudah tau kelakuan Clovis, tapi ia tetap memilih untuk mengejar cintanya. Ipek yakin bahwa suatu saat nanti Clovis akan berubah.
"Ehemmmzzz,..."dehem Ipek, dan berhasil memberhentika kegiatan panas mereka...
Clovis melirik sinis kearah Ipek, seperti mata pisau yang siap menghunus.
Ipek balas senyuman dengan manis, meskipun dimata Clovis mungkin senyuman itu sangat menjijikan, tapi Ipek selalu berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Minumanya tuan, siapa tau haus kan? kalo cuma berciuman tidak bisa membuat tenggotokan lega." ucap Ipek dengan nada mengejek.
"Maksud kamu apa?" tanya Clovis nggak terima dengan ucapan Ipek.
"Maksud tuan apa?" tanya balik Ipek "salah kalo saya menawarkan minum? bukanya yang kemarin anda ajarkan untuk melayani tamu, harus dengan menawarkan minum, seperti ini?" ujar Ipek masih dengan sikap santainya.
"Kamu berani yah, nggak tau siapa aku?" tanya Clovis dengan nada yang membunuh.
"Tentu sajah tau tuan, anda adalah pemilik tempat saya bekerja, jadi anda adalah bos saya." jawab Ipek sesantai mungkin, meskipun hatinya sudah ingin meledak ledak meladeni kemaran Clovis. Namun, Ipek akan memerankan peranya dengan sebaik mungkin.
"Lalu kenapa seolah kamu nggak takut buat aku pecat, apakah begini sikap kamu, buruk sekali!!!" Celoteh Clovis mengejek Ipek.
"Kalo memang saya benar, kenapa harus takut," jawab Ipek dengan nada yang sepelan mungkin agar pengunjung yang lain tidak mendengar petengkaran mereka.
Clovis mulai geram dengan Ipek, yang selalu bisa membalikan kata-katanya.
"Ikut aku," Clovis menarik pergelangan tangan Ipek dengan keras agar mau mengikutinya.
Ody yang melihat pun takut terjadi apa-apa dengan Ipek.
"Aduh ada apa lagi sih ini, kenapa keliatanya Clovis marah sekali dengan Ipek. Ya Alloh lindungi Ipek," doa Ody.
Clovis mendorong Ipek ke dalam ruangan, dengan kasar, sehingga Ipek hampir terjerebak kelantai.
Ipek mengusap-usap pergelangan tanganya yang terasa sakit, karna cengkraman dari Clovis, dan mencoba berdiri dengan santai.
"Maksud kamu apa, aku tau kamu ga suka melihatku bercumbu dengan wanita lain, sehingga kamu memancing emosiku." cecar Clovis dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Ipek.
Namun, Ipek berusaha setenang mungkin, meskipun dalam hatinya bersyorak bahagia karna wajah Clovis berdekatan dengan wajanya.
" Kalo saya jawab, yah,...saya tidak suka, apa anda akan meninggalkan wanita itu? engga kan? lalu kenapa anda menuduh saya seperti itu, PD sekali anda tuan Clovis." ucap Ipek dengan memalingkan wajahnya kesamping.
" Denger yah, aku tau kalo kamu suka denganku. Sampai kapanpun akan aku pastikan, cintamu hanya akan bertepuk sebelah tangan, maka berhentilah mengejarku," ucap Clovis dengan memegang wajah Ipek kasar.
Ipek tersenyum sinis.
"Cinta ini milik saya, hak saya, mau mencintai siapapun. Tidak ada yang berhak melarang sayang mencintai seseorang, termasuk anda tuan. Kalopun nanti cinta saya bertepuk sebelah tangan, yang sakit saya!! kenapa anda khawatir? atau jangan-jangan anda juga mencintai saya?" tanya Ipek dengan nada mengejek.
" Cih......,NAJIS, cewek cantik banyak, body yang bagus, banyak yang mau dengan ku, bahkan setiap hari aku bisa bergonta ganti cewek yang cantik dan tentu bodynya bagus. Lebih baik kamu ngaca gimana bentukan kamu, dikasih gratisan juga nggak bakal mau kalo ceweknya kaya gini bentukanya." jawab Clovis dengan meledek badan Ipek yang memang gendut dan berkulit gelap. ( gimana tidak gelap, setiap hari Ipek kemana-mana naik motor, terkena sinar matahari kulit jadi gosong)
"Ok,...anda memang luar biasa buat menaklukan cewe cantik dan body bagus itu, tapi sayang biarpun saya begini modelanya, saya tidak akan ngasih gratisan dengan anda atau pun laki-laki lain." cicit Ipek masih dengan senyum mengejeknya.
Clovis kehilangan bahan untuk membalas ucapan Ipek, karna ternyata Ipek selalu ada ide untuk membungkam mulunya.
"Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan denganku, tuan? kalo masih saya akan dengar sampai selesai, tetapi kalo tidak, saya akan kembali bekerja. Bukankah anda membayar saya buat bekerja,melayani para tamu, bukan menemani anda ngobrol?" tanya Ipek dengan sinis.
" Cih..... najis sekali aku ngobrol sama kamu," umpat Clovis.
"Kalo begitu saya pamit kembali bekerja tuan, anda jaga diri, jangan marah-marah terus, takut nanti sakit. Saya akan sangat sedih kalo anda sakit." pamit Ipek masih menyelipak kata-kata yang membuat Clovis jijih. Seolah Ipek senang jika membuat Clovis marah.
Clovis melotot kearah Ipek. Namun, Ipek menanggapinya dengan senyum santainya.
Ipek meninghalkan ruangan Clovis dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
Sementara Clovis didalam terduduk lesu, ia selalu kalah dengan kata-kata Ipek, biarpun Clovis menghina habis-habisa Ipek, tapi Ipek selalu tidak terpancing, hal itu membuat Clovis makin membenci Ipek.
Ody yang melihat Ipek keluar dari ruangan Clovis langsung menghampiri.
"Kamu ga apa-apa kan?" tanya Ody panik, sambil meneliti setiap jengkal tubuh Ipek. Takutnya Clovis melakuan sesuatu dengan Ipek.
"Kenapa sih mba?" tanya balik Ipek, merasa aneh denga pelakuan Ody.
"Kamu tadi ditarik oleh Clovis dan dibawa masuk keruanganya, kamu nggak diapa-apakan sama Clovis." ujar Ody cemas.
"Astaga mba, kirain kenapa, Ipek baik-baik ajah ko, tenang ajah, masalah sama Clovis mah kecil, mba Ody nggak usah khawatir." ujar Ipek menenang kan Ody .
" Syukur deh kalo Clovis nggak ngapa-ngapain kamu." ucap Ody dengan lega.
"kalo Clovis mah jelas, ga akan ngapa-ngapain aki, takutnya malah aku yang ngapa-ngapain dia..hahahaha....," canda Ipek sambil tersenyum bahagia.
"Ih kebiasaan deh,..." cetus Ody dengan memukul pundak Ipek. Namun, Ipek yang sudah tau betul kebiasaan Ody langsung menghindar, sehingga pukulan Ody tidak mengenai Ipek..
"Hahah....ga kena," tawa Ipek sambil berjalan meninggalkan Ody yang masih berdiri didepan ruangan Clovis.
*** Cobalah untuk tidak menjadi seseorang yang sukses, tapi jadilah seseorang yang bernilai***
#Terimakasih buat yang udah mampir dan jangan lupa tinggalkan jejak yah...❤❤❤