
"Tan, buruan loe panggil dokter, buat kasih gue obat sakit perut! Gue enggak kuat Tan, sakit banget," omel Rio, ketika rasa sakitnya kembali menguasai perutnya. Laki-laki yang menjabat sebagai dokter anak itu kesal, kenapa ketika ia tengah kesakitan sampai meringis-ringis itu tandanya rasa sakit itu bukan sembarangan, tetapi memang benar-benar sakit. Namun dokter dihadapanya bukan hanya Intan dan suster juga banyak tapi tidak satun yang berinisiatip untuk meminta bantuan pada dokter atau apotik mengambil obat untuk meredakan rasa nyerinya.
"Itu bukan sakit karena apa Yo, anak kamu yang bikin kamu seperti itu. Kan itu tandanya ikatan batin kamu sama anak yang Ody kandung sangat kuat," ucap Intan, agar Rio jangan terik-teriak terus. Bikinya ajah diem-diem ajah giliran istrinya mau lahiran dia yang teriak-teriak kayak anak kecil.
Rio awalnya ingin protes kembali pada Intan tapi melihat Ody meringis dan mencengkram tanganya dengan kuat. Rio benar-benar merasakan nyeri di mana-mana, tanganya seperti bekas dicakar harimau setiap Ody merasakan kontraksi terutama di detik-detik terakhirnya ia akan membenamkan kuku-kukunya di mana kuku istrinya masih lentik-lentik dan belum sempat di potong karena perkiraan lahir masih seminggu lagi.
*****
Ody menarik nafas dalam dan membuangnya dan mengejan dengan kuat sesuai arahan dari Intan. Rio di sampingnya juga tidak kalah merasakan mulas ketika Ody mengejan.
"Ayo Di, atur nafas, tarik.... ya, dorong!" Intan dengan sabar memberi arahan pada Ody yang memang sudah pembukaan sempurna.
Ody mengikuti perintah Intan, sementara Intan merasa kesal dengan suami Ody itu. Melihat Rio diam saja dengan mata yang mengeluarkan air mata melihat istrinya berjuang melahirkan, bukanya memberikan suntikan semangat atau apa, langsung melayangkan tabokan di pundak Rio.
Bukkk... Intan menepuk pundak sepupunya. Sampai Rio tersadar dari kesedihanya. "Kasih semangat buat Ody, biar tenaganya makin kuat jangan malah melamun, nangis lagi. Cengeng," oceh Intan matanya melotot udah kaya pengawas ujian yang melihat peserta ujiannya ketahuan mencontek.
Rio yang sadar dari lamunanya pun langsung mencium kening Ody yang sedang melahirkan itu. "Sayang yang kuat yah, sebentar lagi kita akan punya anak lagi, dan kakam Meyra akan mempunyai adik pasti dia senang," bisik Rio setelahnya ia pun membacakan doa-doa dan surat pendek sesuai yang Arzen ajarkan.
Sementara Ody yang mendengar nama Meyra, langsung terpacu tenaganya, dan segera ingin menyelesaikan proses persalinanya ia ingin melihat Meyra. Ody takut Meyra terbangun pasti akan menangis mencari ayah dan ibunya.
"Ayo Di, udah keluar kepalanya, tarik nafas...buang. Tarik nafas...dorong!!! Bagus."
Ea... Ea... Tangisan dari bayi yang baru lahir memenuhi ruangan bersalin. Rio mencium kening Ody yang masih meneteskan air mata kebahagiaan karena ia bisa melahirkan anaknya dengan normal. Bahkan rasa sakit di bagian bawah sana di mana otot-ototnya seolah sebelumnya ditarik paksa dan terputus dengan sempurna. Namun rasa sakit itu hilang sudah ketika anak masih menangis kencang ada didekapan dadanya.
"Alhamdulillah," ucap orang yang ada di ruangan bersalin secara bersamaan. Tidak ketinggalan Ody dan Rio, mengucapkan rasa syukurnya karena bisa melewati semua dengan normal.
"Terima kasih sayang, sudah kasih buat hati sebagai pelengkap keluarga kita. Selamat yah sudah jadi wanita sempurna seutuhnya. I love you," ucap Rio dengan air mata menetes dari kedua matanya. Mencium kening istrinya cukup lama dan juga anaknya yang masih merah. Bahkan Rio dan Ody belum tahun jenis kelamin anak keduanya. Itu semua karena Intan selalu merahasiakanya setiap menjalani USG dan Rio pun memang tidak ingin tahu dulu jenis kelamin anaknya, biar jadi kejutan kata Rio.
Rio yang sangat merasa lega, karena istrinya berhasil melahirkan anaknya. Langsung sujud syukur dua kali dan menengadahkan tanganya mengucapkan doa untuk anaknya yang baru lahir dan istrinya.
Namun, setelahnya Rio merasakan rasa lemas langsung melanda disekujur tubuhnya, pandanganya gelap.
"Dok... dok..." pekikan serentak dari perawat yang sebagian perempuan ketika melihat Rio jatuh pingsan. Ody yang saat itu tengah dibersihkan begitu pun anaknya. Panik juga ketika melihat Rio tergeletak di lantai.
"Dok Mas Rio kenapa?" tanya Ody panik, pada Intan yang justru tetap santai dan masih fokus dengan tugas sesungguhnya.
Ody pun percaya saja dengan Intan dan tetap fokus dengan apa yang Intan lakukan di bawah sanah sembari sesekali meringis.
"Dok diapain sih, kok agak nyeri?" tanya Ody heran.
"Dijahit biar nanti kalo di pake sama Rio berasa perawan lagi," jawab Intan sembari mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Wajah Ody pun memerah karena godaan Intan. Bahkan proses lahiran ajah baru selesai Intan sudah membicarakan seperti itu rasanya otot perut memanas lagi.
*****
Sementara di ruangan Meyra, anak itu benar-benar tidak mau lepas dari pelukan Aarav selalu menempel di dadanya, matanya terpejam tetapi selalu menyebut papah dan bundanya.
"Papah... Bunda..." Kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Sedangkan badanya tidak mau sedikit pun lepas dari Aarav.
"Rav, kamu urus Mey ajah, masalah kerjaan nanti Jaxtion akan bantu kamu," ucap Hartono tidak mau cucunya kenapa-napa lagi.
"Baik Pi," jawab Aarav, kalo pemilik rumah sakit sudah berkehendak Aarav bisa berkata apa. Dan soal panggilan, Aarav dari dulu memang sudah di minta menganggap mereka sebagai orang tuanya. Mengingat Aarav juga dulunya selain teman sekolah dari kecil dengan Rio, dia juga anak salah satu orang kepercayaan papih sebelum orang tua Aarav meninggal. Makanya Hartono juga menganggap Aarav bukan sekedar asisten Rio. Bahkan kalo Aarav mau dari dulu papih menawarkan modal untuk bisnis. Tetapi Aarav dengan halus menolak, sampai ia memiliki modal sendiri dan sukses memiliki beberapa cabang tempat GYM diberbagai kota besar. Semuanya berkat kerja keras Aarav dan bantuan dari teman-temanya.
Rio pun sudah bilang dari beberapa tahun yang lalu kalo ia mau fokus dengan bisnisnya maka dia mengizinkan Aarav untuk resign. Namun Aarav menolak dengan alasan sudah nyaman dengan kerjaanya. Padahal gajih Aarav kalo dibandingkan dengan pemasukan dari tempat GYM dan Fitnessnya jauh berbeda, tetapi Aarav tidak pernah mengeluh dan meminta untuk resign biarpun Rio sudah mengizinkanya.
"Erwin kamu sudah melihat kondisi cucuku kan, lebih baik kalian pulang! Biarkan cucuku istirahat," ucap Hartono dengan terang-terangan mengusir orang tua Emly.
Erwin pun sebenarnya ingin mencium cucunya tetapi rasanya tidak mungkin, hanya sekedar di sentuh oleh orang lain selain Aarav pun tidak mau apa lagi di cium mereka. Akhirnya mereka pun mengerti kondisi Meyra saat ini, dan tidak akan menyalahkan anak kecil itu. Karena memang Rio dan Ody sepertinya lebih tulus merawat cucunya.
"Baiklah saya pulang Har, terima kasih kesempatanya sudah mengizinkan kami bertemu Meyra." Erwin sebelum berpulang berpamitan terlebih dahulu pada sahabatnya itu. Namun baik Hartono maupun istrinya tidak merespon. Sehingga Erwin dan Liana keluar tanpa berbasa-basi.
Aarav sangat penasaran ada tujuan apa orang tua Emly sebegitu ingin menemui Meyra. Dan Papih pun tidak tahu bahwa yang menghamili Emly adalah Aarav. Zawa memang pernah bercerita kronologi ia menolong Emly karena kehamila Emly tetapi Papih lupa menyimak dan bertaya sosok laki-laki yang menghamili Emly siapa?
"Pih, orang tua Emly kesini ngapain? Kok kayaknya ngotot banget pengin ketemu Mey?" tanya Aarav siapa tahu Hartono berkata jujur.
Aarav sebenarnya sedikit ada kecurigaan bahwa Mey anak Emly yang berarti anak dia juga. Di mana kalo di lihat dari wajah Mey sedikit mirip dengan Emly. Belum Intan juga dulu pernah bilang kalo Mey mirip sama dia. Serta ikatan batin antara dirinya dan Mey yang sangat kuat. Mey pun seperti itu apalagi di tambah kejadian hari ini Aarav semakin di buat berharap bahwa dugaanya lagi-lagi benar. Tetapi kalo dugaanya benar apa dia akan mengambil Mey dari Rio dan Ody?
"Tau tuh keluarga aneh, datang tiba-tiba bilang kalo Mey cucunya. Atas dasar apa dia bilang seperti itu," ucap Hartono. Berhasil membuat tubuh Aarav mematung antara bahagia dan bingung. Bahagia bahwa ia tidak usah bersusah payah mencari di mana keberadaan anaknya. Karena saat ini anaknya berada dipelukanya. Memeluk erat dirinya.
Bingung karena ia tidak mungkin tega mengambil Mey dari tangan Ody dan Rio.