
Pagi hari menyapa dari sebuah desa di ujung pulau Jawa bagian barat. Arzen yang biasanya akan bangun di jam enam bahkan bisa lebih dari itu, tetapi kini setelah memutuskan untuk tinggal di pesantren jam empat sudah bangun. Ia dibantu oleh Nuel dan Nando membersihkan badanya Nuel saat ini usianya baru dua puluh tahun sedangkan Nando baru delapan belas tahun. Mereka dengan sabar membantu Arzen untuk membersihkan badanya dan juga mengambil wudhu lalu menjalan kan sholat Subuh berjamaah di Masjid masih berada di sekitar pesantren.
Arzen sangat bersyukur setidaknya ketika ia tinggal di pondok banyak yang peduli. Gimana kalo ia tidak dipertemukan dengan Ipek dan tidak memutuskan tinggal di sini, pasti hidupnya semakin menderita, tanpa ada yang membantunya.
Selepas subuh Arzen mulai belajar agama mengikuti kajian di pagi hari, begitupun dengan yang lain. Arzen yang memang jago dalam mengolah makanan ingin membantu ibu-ibu memasak di dapur. Yah kelebihan Arzen adalah memasak dan menghidangkan makanan. Itu alasan ia dulu berbisnis kuliner. Karena memang ia sejak sekolah sudah suka dengan dunia kuliner. Maka dari itu dia membuka cafe yang cukup ramai peminatnya.
****
"Bi, ganggu nggak?" Ipek menghapiri Abinya yang tengah duduk bersantai di terelas rumahnya, menikmati sejuknya udara pagi.
"Kapan sih buat, putri kesayangan sibuk, jangankan cuma satu dua jam minta waktu satu minggu juga Abi jabanin." Abi yang sangat kangen sama tuan putrinya pun menarik sang putri agar duduknya bersebelahan dengan dirinya.
"Apaan sih Bi, malu ah," tolak Ipek karena sekarang ia malu ketika diperlakukan manja oleh keluarganya. Baik Abi, Abang maupun Uminya.
"Kok malu? Dulu ajah ngapa-ngapain udah kaya ekor selalu ngintil di mana ajah, ditangan di belang atau di samping, dan juga nemplok disini," protes Abi sembari menunjukan dadanya tempat dirinya sering minta gendong.
"Itu dulu Abi, kalo sekarang beda dong, kan udah gede. Mana udah mau nikah masa masih minta gendong apa kata suami Ipek nanti." Ipek yang merasa udah besar dan udah tidak mau di gendong lagi.
"Apaan nih pagi-pagi udah rame ajah." Umi yang baru datang dengan membawa goreng singkong mekar pun melerai putri dan suaminya yang pagi-pagi sudah rame entah lah memperebutkan apa.
"Ini Mi, anak kami nggak mau di peluk.lagi sama Abinya, katanya udah gede udah mau nikah katanya gitu Min. Padahal Abi masih pengin manjain tuan Putri loh," canda Abi sembari menunjukan mimik wajahnya dibikin sesedih mungkin.
"Tau si Abi ini, laki-laki tapi bawaanya melow mulu, waktu pertama kamu tinggal di rumah Abah juga tiap malam liatin foto kamu terus sayang. Bagaimana nanti kalo kamu nikah terus di bawa Nak Wahid ke Kairo sanah. Apa Abi kamu bakal ikut sama kamu dan ninggalin Umi di sini." Umi membuka aib suaminya yang selama ini ditutup-tutupinya.
"Apaan sih Mi, enggak gitu kok sayang." Abi mencubit Umi agar tidak lagi melanjutkan ceritanya yang menurutnya memalukan.
"Eh... ngomong-ngomong tadi kamu mau ngomong apa sayang? Abi sampe lupa gara-gar keasikan bercanda." Abi kembali mengingatkan Ipek yang memang awalnya ingin mebicarakan sesuatu.
"Itu Bi... Ipek mau minta bantuan sama Abi. Mengenai temen Ipek yang kemarin Ipek ajak ke sini loh." Ipek hendak melanjutkan ceritanya, tetapi Abi keburu memutusnya.
"Oh iya... Abi juga mau tanya sama kamu. Temen kamu itu yang kemari apa orang yang pernah kamu sukai. Sepertinya kamu peduli banget?" tanya Abi kepo maksimal. Sementara Umi hanya menyimak sebagai pendengar setia.
"Ih, Abi apaan sih, bukan dong. Kemarin itu namanya Arzen. Nah Arzen itu teman Ipek, dia itu teman yang sangat berjasa banget buat Ipek karena bantuanya Ipek bisa bebas dari orang jahat. Dulu juga Arzen sering membantu Ipek waktu Ipek menyamar jadi orang miskin. Dia tidak pernah membeda bedakan setatus. Sering membantu Ipek dan Mba Ody untuk mencarikan pekerjaan. Nah Sekarang nasib dia tengah diuji. Selama tiga tahu ini dia banyak mengalami kemalangan sampai sekarang dia belum bisa bangkit dari keterpurukanya. Justru dia kembali di uji lagi dengan kecelakaanya. Ipek kasihan, dan ingin Abi menolong Arzen." Ipek tahu Abinya tentu tidak akan menolak kemauanya. Dia berharap dengan bantuan Abi ia bisa kembali memberikan pekerjaan untuk Arzen. Sehingga Arzen tidak minder, karen nggak ada kerjaan untuk membiyayai calon istrinya.
"Oh kirain dia itu cowok yang kamu suka. Kalo Abi sih kalo kamu yang sudah minta tidak bisa menolak lagi sayang. Bahagia kamu adalah bahagia Abi dan permintaan kamu adalah kewajiban Abi untuk mewujudkanya.
Sementara Umi masih menyimak. "Iya Umi juga kasihan loh liat Nak Arzen, sepertinya dia itu mengalami pengalan yang kurang baik. Kalo gitu Abi harus bantu Bi, apalagi kondisinya masih seperti itu pasti butuh banuak biyaya untuk pengobatanya." Umi tidak mau kalah memberikan semangat untuk Abi, supaya membantu Arzen.
"Baiklah Tuan Putri dan Tuan Ratu, katakan mau kamu, Abi harus bantu apa sayang?" Abi tentu tidak bisa menolak kemauan kedua wanita yang disayanginya.
"Kemarin Arzen pengin menujual tanahnya dan dia meminta dihargakan tiga miliar, tapi berhubung tanah itu peninggalan orang tuanya, nanti kalo dia ada uang dia mau beli lagi. Kira-kira solusi Abi bagai mana? Ipek tidak pandai dalam urusan ini. Atau Abi mau ajah Arzen untuk kerja sama? Dia dulu adalah pemilik cafe, tetapi karena dia membutuhkan uang untuk membantu membebaskan ceweknya yang kena fitnah ia jual cafenya untuk membayar pengacara. Dan uang yang sebagian akan ia gunakan untuk modal, habis untuk pengobatan Ibunya yang ternyata ibunya justru menyerah dua minggu yang lalu. Naasnya dia satu minggu setelahnya ia kecelakaan. Kasian kan Bi, makanya Abi harus bantu dia." Ipek kembali menceritakan siapa Arzen, dan kenapa bisa sampai seperti ini
"Kasian sih tapi kenapa dia udah mau berkorban sejauh itu untuk membela ceweknya. Apa yang namanya cinta memang rata-rata buta. Kamu sama Arzen itu sama ajah sama-sama bucin sama pasangan alias budak cinta. Apa ajah di lakuan agar pasangan bahagia. Bahkan rela ia sendiri menderita. Cocok tuh kalian kalo disatuin," kelakar Abi.
"Ih Abi mah gitu, jadi gimana mau bantu Arzen nggak? Kasian loh Bi kalo di gantung," kekeh Ipek.
Ipek sangat percaya bahwa Abinya pasti mau bantu sahabatnya itu.