Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kesedihan Ipek



Setelah malam pertunangan Arzen dan Zawa kini hari-hari teman-teman Arzen pun disibukan dengan persiapan pernikahan Arzen dan Zawa. Arzen meminta bahwa pernikahanya jangan terlalu meriah selain karena budget yang ia miliki belum banyak sehingga untuk mewujudkan pernikahan yang mewah sangat tidak masuk akan. Selain itu juga Arzen ingin hanya orang-orang inti yang datang dan mendoakan yang terlebih adalah doa, bukan kemeriahan pesta.


Baik Zawa maupun Arzen memang ingin yang sederhana tetapi sakral dan penuh dengan doa bahagia.


Semua teman-temanya pun menyanggupi apa yang menjadi keinginan Arzen. Namun, tanpa sepengetahuan dia lagi-lagi teman-temanya membuat patungan untuk membantu mewujudkan pesta pernikahan yang tidak akan bisa Arzen dan Zawa lupakan. Tidak hanya itu ternyata Ipek juga mengabarkan pernikahan Arzen kepada penduduk sekitar pondok dan tentu kepada Abah dan Ambu juga. Di mana otomatis tamu yang akan datang pun pasti banyak. Bahkan biasanya di kampung Abah apabila berkondangan jauh akan menyewa bus-bus pariwisata. Benar sajah Ipek sudah menyiapkan akomodasi itu tinggal siapa yang akan ikut tinggal berangkat tanpa memikirkan berapa ongkosnya.


Jelas sajah penduduk banyak yang mendaftar ikut ingin menyaksikan pernikahan Arzen itu semua karena Arzen adalah orang yang baik dan ramah belum Arzen adalah laki-laki yang pandai memasak sehingga banyak dikenal ibu-ibu. Tidak ketinggalan juga Ipek mengundang mantan mertuanya yaitu keluarga Wahid agar mereka tidak merasa di lupakan setelah kepergian Wahid.


Setelah enam hari disibukan dengan segala serentetan mempersiapkan pernikahan Arzen akhirnya esok hari adalah acara pernikahan sahabatnya itu yah setelah Rio yang menikah dengan dulu sangat-sangat sederhana. Kini pernikahan kedua adalah pernikahan Arzen. Tentunya pernikahan Arzen tidak bisa dikatakan sederhana karena untuk akad memang diadakan di rumah keluarga angkat Zawa dan untuk resepsi pernikahan saja di lakukan di gedung bintang lima, hal ini menjadi kejutan dari teman-temanya. Tentu semuanya Arzen tidak tahu, karena ini memang murni ide dari teman-temanya. Sungguh beruntung kamu Arzen memiliki teman-teman yang kompak seperti mereka, tidak hanya kompak melainkan sultan semua.


Pagi harinya baik di rumah Rio maupun rumah Zawa sudah sangat ramai dan sibuk, yah memang karena Arzen yang belum memiliki rumah untuk sementara tingga bareng di rumah Aarav yang memang lokasinya bersebelahan dengan rumah Rio. Sehingga untuk persiapan dan segala macamnya dilakukan di rumah Rio. Mereka semua akan berangkat dari rumah Rio juga.


Sementara Abi Ipek yang sebenarnya orang paling dekat dengan Arzen justru tidak mengikuti banyak acara Arzen. Seperti lamaran dan lain sebagainya. Ia malah lebih suka mengucapkan secara pribadi menggunakan pesan singkat. Hal itu semua karena adanya Clovis. Entah Abi sangat menghindari Clovis. Sementara Ipek jadi merasa serba salah, ia juga sama Abi di larang untuk ikut acara-acara Arzen agar tidak ketemu dengan Clovis. Sementara Ipek ikut menghadiri acara mereka pun Ipek tidak merasa diganggu atau bahkan berbicara dengan Clovis. Clovis tahu batasan untuk wanita yang sedang menjalani masa Idah. Mungkin Clovis sudah bertanya dengan Arzen sehingga ia tahu batadan-batasan pria dan wanita yang belum muhrimnya.


Namun Abi lagi-lagi mengira bahwa Ipek hanya mencari alasan saja.


Di saat di rumah Rio maupun Zawa yang tengah di sibukan dengan persiapan pernikahan Arzen dan Zawa. Justru hal sebaliknya terjadi di rumah Ipek.


Di rumah Ipek pagi ini justru kembali terjadi ketegangan. Setelah semalam Ipek dan Abi juga saling bersitegang, di karenakan Ipek yang meminta izin ingin menginap di rumah Ody, dengan alasan agar ia bisa siap-siap langsung dari rumah Ody.


Namun Abi lagi-lagi melarang dengan alasan pasti akan ada Clovis, padahal Clovis juga memiliki kesibukan sendiri yang tidak setiap saat bertemu dengan Ipek. Apabila bertemu pun Clovis sudah bisa menjaga pandanganya. Tidak liar dan lapar seperti dulu, tetapi Abi selalu tidak percaya dengan ucapan Ipek sehingga Ipek yang bingung harus bagaimana lagi cara menjelaskannya pada Abi pun akhirnya pasrah dan mengalah.


Ipek memilih kembali kekamarnya dan akhirnya tidur seperti biasa di kamarnya. Pagi harinya Ipek sangat berharap bahwa Abi akan luluh dan memaklumi dirinya untuk bisa pergi kerumah Ody dan ikut meramaikan dan menjadi saksi di acara Arzen.


Namun, lagi, Abi dengan lantang tidak mengizinkan Ipek pergi ikut mengantarkan Arzen yang pagi ini akan melaksanakan ijab kabul. Padahal ini adalah momen yang paling di tunggu. Ipek juga yakin pasti Arzen menginginkan kehadiran Ipek untuk menjadi saksi di pernikahan dirinya.


"Kenapa sih Bi, Abi sekarang beda banget dengan Abi yang dulu. Kenapa Abi sekarang selalu melarang Ipek untuk bertemu dengan teman-teman Ipek. Padahal ini adalah hari bahagia Arzen, kenapa Abi tidak izinkan Ipek untuk menjadi saksi pernikahan Arzen dan Zawa, teman Ipek?" tanya Ipek dengan sedih bahkan air matanya sudah jatuh, karena Ipek merasa Abinya memang sangat berbeda dengan Abi yang dulu. Di mana dulu Abi sangat percaya dengan Ipek bahkan tidak membatasi pergaulanya, karena memang Abi tahu bahwa Ipek pasti bisa menjaga dirinya.


Tidak hanya Abi yang matanya berkaca-kaca, tetapi Ipek pun sama justru Ipek air matanya sudah jatuh tidak bisa terbendung lagi. Ipek tidak menyangka bahwa Abi yang ahli agama bahkan pesantren juga sudah ia miliki tetapi masih menilai seseorang dari masa lalunya.


"Abi, kenapa Abi jadi seperti ini. Mana Abi yang dulu, yang selalu bijak menilai seseorang. Tanpa menilai masa lalunya. Mana Abi yang selalu merentangkan tangan dan memeluk mereka-mereka yang tengah kehilangan arah?" Ipek sudah benar-benar bingung dengan Abinya yang sekarang. Kenapa Abi yang selama ini menjadi kebanggan Ipek karena tidak penah memandang orang lain dari materi dan masa lalunya. Tiba-tiba berubah jadi seperti ini.


"Orang tua mana Ipek, yang rela melepaskan putri kesayanganya jatuh ke laki-laki yang bisa saja membuatnya bersedih dan melukainya?" Abi kembali bertanya pada Ipek dengan nada yang tidak kalah tinggi dari biasanya Abi berbicara. Bahkan Ipek jadi lupa bahwa pagi ini ia akan menghadiri pernikahan sahabatnya.


"Tapi aku dan Clovis juga belum tentu berjodoh Abi. Aku bahkan masih dalam masa idah dan Ipek tahu batasan Ipek. Bukankah jodoh ada ditangan Tuhan. Sekuat apapun kita menolak kalo sudah jodoh akan datang juga. Dan kita juga nggak pernah tahu aku bahagia atau tidak dengan Clovis. Mungkin saja dia akan berubah dan bisa memberikan kebahagiaan buat Ipek yang laki-laki lain tidak bisa dapatkan," jawab Ipek dengan air mata yang sudah semakin deras mengalir.


"Sampai kapan pun Abi tidak akan rela kalo kamu jatuh ketangan laki-laki itu. Abi akan memilihkan jodoh yang lebih pantas untuk kamu. Bukan laki-laki tidak benar seperti Clovis. Laki-laki tidak punya tujuan hidup seperti dia pantasnya mendapatkan wanita ******," bentak Abi yang seketika itu membuat Ipek kaget dan sangat kecewa.


Ipek yang kecewa dengan Abi pun langsung kembali kekamarnya. Bahkan ia lupa bahwa ia niat awalnya meminta izin untuk menghadiri acara Arzen. Ipek lupa dengan niatnya yang menghadiri pernikahan sahabatnya itu Ipek menumpahkan semua kekesalanya dengan menangis di atas kasurnya.


Ia sudah kehilangan selera untuk menghadiri pernikahan Arzen.


"Abi kenapa Abi jadi seperti ini sih. Keras kepala. kasian kan Ipek, dia juga butuh kebebasan Bi, dia bukan burung yang bisa kita kurung di sangkar emas. Kadang bukan harta benda yang membuat hati orang bahagia. Saat ini yang dibutuhkan Ipek hanya teman-temanya. Dia sudah cukup sedih dengan meninggalnya Wahid. Kenapa Abi tambah kesedihanya dengan tidak mengisinkan Ipek berkumpul dengan teman-temanya. Lagian ini acara Arzen, sahabat baik Ipek. Setidaknya Abi izinkan sebagai balas budi karena Arzen pernah menolong Ipek jadi korban pemerkosaan. (Jadi semua keluarga Ipek tahunya Arzen pernah menolong Ipek dari korban pemerkosaan, dan tidak tahu bahwa itu semua dari kelakuan Clovis. Mungkin kalo mereka tahu kisah sebenarnya akan lebih marah dari ini)." Umi yang merasa bahwa suaminya yang keterlaluan puan mencoba membujuk agar tidak melarang Ipek menghadiri pernikahan Arzen. Terlebih Arzen ada jasa terhadap Ipek, pasti Ipek.sedih sekali.


"Abi cuma nggak mau Clovis bisa pandang-pandang putri Abi seenaknya. Abi nggak suka," ucap Abi dengan suara lebih pelan. Mana berani Abi melawan ibu negara.


"Kalo begitu Abi dan Umi juga ikut saja yuk, biar kita juga bisa menyaksikan pernikahan Arzen. Kasian loh kalo Abi nggak dateng pasti Arzen sedih. Bukanya kalian juga teman ngopi sambil makan goreng singkong." Umi mencoba meluluhkan kerasnya hati Abi. Mungkin saja ketika Umi yang merayu suaminya akan luluh hatinya, dan setidaknya Ipek tidak lagi sesedih itu.


Abi nampak menimang usulan Umi.


"Udah jangan kebanyakan mikir, nggak baik loh mutus silahturahmi apalagi sama Arzen yang sudah sangat baik banget sama keluarga kita." Umi menarik tangan Abi agar segera berganti pakaian.


Sementara dirinya akan kekamar putrinya membujuk agar jangan bersedih lagi karena mereka akan datang bersama-sama.