Beauty Clouds

Beauty Clouds
Rumah Penuh Kenangan



"Hah... kamu mau nikah? Sama siapa Pek?" tanya Arzen sangat terkejut, ketika Ipek berkata bahwa ia akan menikah.


"Aku belum tahu namanya, soalnya aku belum sempat bertanya, tapi sudah keburu pergi kesini. Nanti kalo kondisi kamu sudah membaik aku segera tanya siap calon imamku." Ipek memang belum sempat bertanya siapa calon suaminya. Pasalnya sudah keburu pergi ke Banyuharum untuk menemani Arzen.


"Gila kamu Pek, ini menikah loh Pek, apa nggak lebih baik kamu menikah dengan yang sudah kenal sama kamu, kalo kaya gini kamu namanya mencoba-coba, iya kalo berhasil kalo gagal bagai mana?" Arzen nampak kecewa dengan keputusan Ipek yang menurutnya seperti asal.


"Menikah itu memang seperti untung-untungan Zen, bahkan banyak ko yang udah saling kenal dan saling cinta tapi berakhir dengan perpisahan dan saling bermusuhan. Lagian aku tidak asal menerima akan menikah dengan laki-laki pilihan Kakek. Dia udah melamar aku dua kali tapi selalu aku tolak. Dia juga menurut Kakek sudah lama suka sama aku, dan aku nggak begitu kenal dia. Jadi kalo kata Abi lebih baik di cintai dari pada mencintai. Kalo dicintai kita akan diperjuangkan sedangkan kalo mencintai akan memperjuangkan, di saat memperjuakan itu sakit Zen, sakit banget hati ini." Ipek sudah sangat yakin akan menerima laki-laki perjodohan dari Kakek.


"Iya bener juga yang kamu bilang, lebih baik di cintai dari pada mencintai. Semoga itu memang pilihan terbaik kamu yah dan juga dia adalah jodoh dunia dan akherat kamu. Aku hanya bisa mendoakan," ujar Arzen, ia hanya bisa mendoakan yang terbaik karena memang yang dikatakan Ipem ada benarnya.


"Terima kasih Zen, kamu juga yah semoga mendapatkan jodoh yang sesuai dengan impian kamu." Ipek tak mau kalah ia juga ingin mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya.


"Kalo aku malah, nggak mau nikah Pek, kalo nikah mau dikasih makan apa coba istri aku nanti. Kalo liat kondisi aku, penyembuhannya lama. Untuk pengobatan saja aku nggak ada uang lagi. Mungkin nanti ajah untuk bekal modok aku akan menjual rumah dan ladangku. Semua cafe sudah aku jual, uangnya sudah habis. Biaya rumah sakit saja kalo nggak ada kamu aku nggak tau harus gimana. Hidup aku sudah miskin banget Pek," lirih Arzen.


"Kamu nggak boleh ngomong gitu, siapa tau nanti Allah angkat derajat kamu dari cara yang lain. Lagian tinggal di pondok Abah itu nggak usah mikirin modal. Aku ajah nggak pake modal. Malahan dapat uang, soalnya disana aku juga sambil ngajar anak PAUD. Kamu juga bisa nanti aku saranin sama guru yang lain. Kebetulan guru laki-laki belum ada jadi kamu bisa mengajukan diri buat ngajar di sana. Selain dapat pahala karena mau berbagi ilmu, nanti juga ada pemasukan sedikit-sedikit lah. Seru loh di sana. Aku pun betah di pondok Abah maka dari itu aku tiga tahun terasa sebentar sekali. Dan kalo soal fisik, biar lama yang penting jangan menyerah nanti juga sembuh ko. Percaya pada Allah, dia maha pengasih pasti akan memberikan jalan terbaik buat kamu." Ipek tidak ingin Arzen berkecil hati dengan kondisin fisik dan materinya.


"Iya sih, mudah-mudahan yah Pek aku bisa memperbaiki ekonomiku lagi. Tiga tahun ini aku benar-benar kehilangan arah, dan semangat untuk kembali memulainya. Sampai kemarin aku yang sedang melamun tertabrak mobil di jalan. Itu semua bukan salah orang yang menabrak, tapi salah aku yang jalan tidak lihat-lihat dan sudah diklakson tapi aku masih melamun. Akibatnya begini deh." Arzen pun terkekeh sendiri.


Arzen dan Ipek pun semakin dekat dan sering saling berbagi cerita kini Ipek tahu alasan Zawa di penjara dan Ipek pun tahu setiap kisah-kisah dari Ody dan Intan.


Setelah melewati serangkaian perawatan di rumah sakit selama satu minggu, Arzen pun diizinkan untuk pulang. Untuk pertama-tama Arzen masih dianjurkan menggunakan korsi roda karena cidera di tulang kakinya, tetapi dokter bilang cideranya masih bisa sembuh dan kembali berjalan normal. Meskipun untuk prosesnya bisa lama.


"Zen ini rumah kamu?" tanya Ipek kagum. Pasalnya di sana banyak tanaman sayuran dan rumahnya sangat bersih dan asri.


"Rumah peninggalan Almarhum Ibu dan Bapaku," jawab Arzen, sebenarnya ia berat akan menjual semua peninggalan orang tuanya, tetapi ia sudah tidak punya apa-apa lagi selain rumah dan tanah ini. Bahkan sepeda motor sudah Arzen jual kemari-kemarin. Meminta bantuan tetangganya dan uangnya ia gunakan untuk tambah-tambah biaya rumah sakit dan lainnya sekarang uang itu sudah tinggal beberapa ratus rebu lagi. Itu tidak akan cukup untuk pegangan ia selama modok, nggak mungkin Arzen pengin sesuatu harus minta sama Ipek. Belum untuk beli sabun dan lainya, masa harus ngandalin dari orang lain, malu lah.


"Ya ampun sayang banget Zen kamu jual rumah ini. Memang kamu mau jual berapa? Aku coba tawarkan sama Abi, atau Abah yah. Siapa tau mereka mau beli. Kebetulan ini tanahnya luas bisa buat bikin pondok atau sekolah gitu. Kan Abi juga punya beberapa pondok di daerah sini cuma tepatnya di mana aku kurang tau." Ipek memberika usulan pada Arzen.


Lagian kalo Abi tidak mau Ipek juga masih mampu untuk beli tanah Arzen. Ipek memang tidak bekerja tetapi jatah bisnis dari keluarganya Ipek tetap dapat presenan dari keuntungan bisnis keluarga. Terlebih Abang-Abang, Ipek juga pada sayang-sayang dengan Ipek sehingga mereka sering memberikan uang jajan untuk tuan Putri di rumahnya.


"Ini beneran Pek?" tanya Arzen tidak percaya.


"Serius lah, masa seorang Ipek mau berbohong. pasti takut dosa dong," kekeh Ipek.


Mereka saat ini belum masuk ke dalam rumah, masih menikmati kesejukan di rumah Arzen yang sangat nyaman. Ipek pun ada ide. Ia tetap akan membeli tanah dan rumah Arzen tetapi Ipek meminta Arzen untuk dijadikan ladang untuk menanam sayuran oleh warga. Sama seperti yang Arzen lakukan bedanya yang ngelola warga agar bisa dijadikan sayuran oleh mereka.


"Alhamdulillah Pek kalo Abi atau Abah kamu mau membelinya. Jujur aku sebenarnya berat mau melepas rumah ini dan juga tanah ini. Tapi kalo ke keluarga kamu kan nanti kalo aku punya uang dan tanah ini belum mereka bangun, mungkin bisa aku beli kembali. Soalnya ini peninggalan orang tua ku," lirih Arzen setidaknya ia ada sedikit kelegaan dihatinya.


"Iya santai ajah, sama Abi dan Abah mah gampang ko orangnya."


"Tapi ngomong-ngomong kamu itu orang kaya yah Pek, tapi ko dulu kamu mau buat kerja pembantu, OG, dan kerja di Bar Clovis. Aku pikir kamu dulu orang kurang beruntung loh. Taunya Sultanwati toh. Ngomong-ngomong usaha keluarga kamu selain Pesantren apa lagi Pek?" tanya Arzen semakin kepo.