
Di lain tempat Ipek yang tengah di rumah Abah, tiba-tiba perasaanya tidak enak, ia keingat suaminya Wahid, padahal rencananya sore hari mereka juga akan balik ke Jakarta dan untuk siang harinya mereka akan istirahat dan menikmati suasana pondok yang. Sementara Chandra membantu Arzen untuk mempersiapkan baju dan barang-barang yang akan di bawa.
Walaupun tanpa di bantu Chandra, Arzen bisa melakukanya sendiri, terlebih pakaian Arzen itu tidak banyak hanyaa beberapa setel sajah apalagi barangnya, ia tidak punya barang yang berharga. Surat tanah pun Arzen sudah titipan dengan Abah.
"Pek, kenapa aku perhatiin kamu, ko kayaknya kamu gelisah banget? Tadi bukanya kamu bilang kalo kamu pengin istirahat dulu sebelum pulang ke Jakarta lagi, tapi kok kaya yang nggak tenang gitu?" tanya Zawa yang melihat Ipek gelisah sejak tadi.
"Entah lah Wa, perasaan aku tidak tenang, apa terjadi sesuatu dengan Abang yah?" tanya Ipek kini ia duduk, sudah tidak rebahan lagi. Rasa ngantuknya bahkan sudah hilang.
"Mungkin karena ini kali pertama kamu ninggalin Wahid kali, jadi kamu merasa nggak tenang gitu, atau kamu kalo masih terus penasaran bisa hubungi perawat yang ngejaga Wahid biar kamu tenang. Apa malah mau pulang sekarang ke Jakarta?" tanya Intan yang kasihan melihat Ipek. Toh yang penting urusan mereka sudah selesaikan.
"Kalo pulang ke Jakarta sekarang nggak apa-apa kan, semuanya nggak marah karena kita di sini cuma sebentar. Aku benar-benar nggak tenang dengan perasaan aku takut terjadi apa-apa dengan suamiku, dan kalo pun telepon pasti orang-orang yang jaga Whid tidak akan mau berkata jujur. Mereka akan mencoba menutupi apa yang terjadi di sana. Ipek takut tidak ada di samping Abang, ketika ia membutuhkan Ipek untuk penyemangatnya," lirih Ipek dengan rasa tidak enak pasalnya ia baru juga datang dan akan beristirahat, tetapi harus kembali melanjutkan perjalanan yang tidak sebentar.
"Ya Allah, Ipek kami seharusnya yang berterima kasih karena kamu yang sibuk, tetapi masih mau menyempatkan diri buat mengantar kita ke rumah Abah kamu. Kalo gitu ayo kita siap-siap dan aku akan telepon Chandra untuk siap-siap juga. Kita pulang sekarang!" Zawa dan Intan segera mengemas kembali barang-barang mereka yang tidak seberapa itu.
Mereka pun saat itu juga pulang kembali ke Jakarta, setelah sebelumnya berpamitan dengan Abah dan Ambu, bahkan Ipek yang rencana awalnya ingin mengunjungi mertuanya barang sejenak di batalkan, itu semua karena memang ia sudah sangat tidak sabar ingin ketemu Wahid.
Sepanjang perjalanan tidak banyak terjadi obrolan itu semua karena menghargai perasaan Ipek yang tengah cemas dan khawatir dengan kondisi suaminya, terlebih Ipek menghubungi umi dan suster yang menjaga Wahid tidak ada yang mengangkatnya.
****
Di rumah sakit semua terligat cemas manakala kondisi Wahid terus turun dan bahkan sudah lebih dari tiga jam Wahid pingsan, semua penanganan dan segala cara sudah di usahakan yang terbaik, namun kondisi Wahid makin melemah.
"Umi, apa tidak sebaiknya kita beritahu Ipek, soalnya kondisi Wahid makin menurun di takutkan ini adalah hari terakhir untuk Wahid?" tanya suster yang menjaga Wahid.
"Jangan dulu sus, soalnya kasihan Ipek kalo tahu Wahid seperti ini pasti di sana dia kefikiran dan jadi tidak tenang, biarkan untuk sesaat ia merasakan kumupul dengan temanya. Umi yakin pasti Wahid bisa melewati ini semua. Wahid itu orang yang kuat." Umi yang tengah duduk lesu dan berzikir terus memandang ke arah ruangan Wahid yang sampai sekarang belum di izinkan ada yang masuk kecuali tenaga medis.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menyita waktu, setelah abis magrib akhirnya Ipek sampai di rumah sakit, dengan terburu Ipek langsung menuju ke lantai di mana Wahid di rawat. Teman-teman Ipek pun semuanya ikut ke rumah sakit, mereka juga ingin mengetahui kabar dari Wahid.
Begitu Ipek berada di depan ruangan Wahid ia heran kenapa Umi dan perawat yang ia tugaskan untuk menjaga suaminya ada di depan kamar. Menunggu di banggku dengan umi yang terus membaca surat-surat pendek.
"Umi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Umi dan suster ada di luar bukanya di dalam?" tanya Ipek dengan suara sangat pelan.
"Ipek kamu ada di sini? Kamu kapan kembali ke sini? Apa kalian nggak jadi ke tempat Abah?" Umi yang heran bahkan tidak melihat ada Arzen, berati tandanya mereka sudah sampai di pesantren Abahnya kalo sampe Arzen juga ada di sini.
"Umi, kenapa tidak jawab pertanyaan Ipek? Apa ini alasan kalian tidak mengangkap telepon dari Ipek, karena takut Ipek akan sedih dengan kondisi suami Ipek yang tidak baik-baik saja?" tanya Ipek kali ini ia sudah terisak menangis. Air mata yang sejak tadi mengganjal di pelupuk matanya kini sudah benar-bnenar tumpah.
Zawa mendekat ke arah Ipek dan mencoba menenangkan Ipek, setidaknya duduk dulu baru mengobrolkan dengan apa yang terjadi dengan Wahid.
Umi pun hanya bisa diam saja, ia juga takut dan cemas dengan kondisi menantunya. Terlebih Wahid seperti ini ketika Ipek mempercayakan penjagaanya pada dirinya.
'Sus, Wahid kenapa?" Ipek bergantian bertanya pada suster, setelah bertanya pada Umi tetapi tidak ada jawaban dari Umi.
"E... itu Bu, Pak Wahid tadi pas curhat dengan dokter Rio ngeluh sakit kepala dan tiba-tiba malah drop, dan sekarang masih di pantau oleh dokter belum ada yang boleh jenguk karena kondisinya belum setabil," jawab suster dengan ragu. Suster akhirnya memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, bagaimanapun bukanya Ipek juga akan tahu juga jadi bagaimana kondisi Wahid baiknya di ketahui oleh Ipek juga.
Seketika itu juga Ipek langsung lemas dan hampir saja jatuh tersungkur, untung ada Zawa yang sigap menangkap tubuh Ipek sehingga Ipek tidak sampai jatuh. Ia lemas karena tidak kuat mendengar ucapan suster.
"Ipek apa kamu baik-baik saja, apa nggak sebaiknya kamu juga istirahat, pasti kamu lelah dengan perjalanan tadi dan lebih baik kamu istirahat yuk di ruangan aku." Intan yang berjongkok di depan Ipek pun mencoba membujuk Ipek yang tengah lemas, dia tidak pingsan tetapi seolah tenanganya hilang entah kemana. Sehingga tubuhnya saat itu juga seolah tidak bertulang.
Ipek menggeleng dengan lemah. Ia ingin menemui Wahid, yang ia inginkan saat ini adalah menemui Wahid. Menemani suaminya mungkin ini adalah saat terakhir ia menemani suaminya, sehingga Ipek tidak ingin kehilangan momen itu.
Semuanya yang ada di sana tidak bisa membantu apa-apa kecuali hanya doa. Setiap yang ada di sana memanjatkan doa untuk kebaikan Wahid.
Arzen pun yang memang kondisinya belum pulihhh benar di minta istirahat keruangan Rio, di antar oleh Chndra, begitu pun Umi, Ipek yang meminta untuk pulang beristirahat. Biar di rumah sakit Ipek dan teman-temanya yang dengan sukarela siap bergantian menjaga Wahid.
Seharusnya pertemuan antara Arzen dan teman-temanya, seharusnya menjadi pertemuan yang membahagiakan dan menjadi momen yang ditunggu-tunggu, tetapi sayang semua waktunya tidak tepat. Arzen datang ketika suasanaa tengah genting. Bankan Rio saja dari tadi belum balik keruanganya masih menunggu perkembangan Wahid, Clovis pun di ruangan Rio sembari kerja sembari pikiranya entah kemana. Ia benar-benar di rundung perasaaan bersalah.
"Andai tadi aku menerima permintaan Wahid. Mungkin saat ini Wahid masih baik-baik saja." itu yang ada dalam fikiran Clovis sejak tadi.