Beauty Clouds

Beauty Clouds
Segenggam Kebencian



Rio meminta Ody juga ikut istirahat di samping putrinya. Mengingat Ody juga pasti di landa rasa cape, karena tidak istirahat dari pagi, dan sarapan pun tidak seperti biasanya, hanya beberapa suap dan itu pun Rio yang memaksanya.


"Mas enggak tidur?" tanya Ody bukankah yang lelah pasti bukan dirinya saja. Rio pasti lebih lelah terlebih Rio lah menggendong dan menimang-nimang putrinya.


"Iya nanti Mas istrirahat juga sayang, ini Mas mau ketemu sama papih dulu," ucap Rio agar istrinya tenang.


****


Di loby rumah sakit, papih dan mamih dari Emly juga baru datang dan mereka pun langsung menanyakan Meyra ada di rawat di ruangan mana? Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, pasangan suami istri itu pun langsung, menapaki lantai rumah sakit dengan sedikit membuat langkah kaki yang panjang.


Lorong-lorong rumah sakit yang menghubungak satu ruangan ke ruangan lain pun mereka lewati. Tiba lah di depan ruangan yang ciri-cirinya perjaga resepsionis katakan. "Ini sudah pasti kan Mih ruanganya?" tanya papih sebelum mengetuk dan memastikan supaya tidak malu apabila terjadi salah kamar.


"Kalo dari ciri-cirinya sih betul Pih, coba papih ketuk pintunya," saran mamih sembari gelisah sudah tidak sabar ingin segera bertemu cucunya.


Ehem... Suara deheman mengaget kan pasangan paruh baya yang hendak mengetuk pintu.


Secara serentak orang tuan Emly menoleh ke sumber suara yang membuatnya mengentikan tanganya, tepat di depan pintu berwarna putih di hadapanya.


Tuan Hartono yang kebetulan akan menengok cucunya begitu mengetahu ada orang yang sangat ia kenal, langkah kakinya langsung di buat secepat mungki.


"Sedang apa kamu di sini Erwin, Liana? Apa ini tandanya kalian lelah bersembunyi dan akan menyerahkan anak kalian ke kantor polisi?" tanya Tuan Hartono, nada bicaranya yang dingin dan tegas menandakan bahwa pemilik rumah sakit itu tengah menahan emosi.


Deg! Jantung orang tua Emly seolah ditarik keluar dari rongga dadanya dan berhenti seketika.


Tatapan keduanya saling beradu (Hartono dan Erwin) seolah tengah mengadu kekuatan supra fit, eh... supra natural maksud othor.


"E... Har, semuanya bisa di bicarain baik-baik. Kami datang kesini ingin berbicara dengan kalian atas kesalahan anak kami," tutur Papih Erwin, suaranya seolah gemetar dan di bikin sekecil mungkin, menandakan bahwa papih Erwin memang sedang menyesali perbuatan anaknya.


"Omong kosong, baik-baik yang bagai mana yang kalian maksud? Baik setelah cucu aku Angel di bu-nuh dengan keji oleh anak kami, yang katanya seorang model terkenal. Seharusnya apabila dia model, ahli figur, tentu dia tahu bagai mana cara bersikap. Bagai mana kalo kasus ini di ungkap sampai ke publi? Bagai mana nasib kalian menanggung sangsi sosial dari masyarata luas." Tuan Hartono benar-benar sudah naik pitam, kesabaranya sudah sampai di garis merah. Emosinya full sampai seratus persen.


Sementara Oma Narin, yang baru keluar dari lift dan melewati lorong yang tidak terlalu ramai. Heran kenapa ia mendengan seperti ada keributan di ruangan cucunya di rawat.


Mata mamih Narin langsung terbelalak lebar, mamih Narin melakukan langkah yang sama dengan suaminya tadi ketika melihat ada mantan calon besanya.


Berbeda dengan mamih Narin yang panik dan takut terjadi apa-apa Mamih Liana justru nampak lebih santai dan menyimak obrolan dua pria paruh baya itu yang masih terlihat garis kebencianya.


Tuan Hartono memberi isyarat pada istrinya bahwa semuanya aman. Sehingga mamih Narin berusaha diam dan menyimak obrolan antara suaminya dan Erwin.


"Sekarang Emly sudah bertobat, dan dia sudah mendapatkan hukuman langsung dari Tuhan, apa kalia juga tega membuat Emly mendekam di penjara dengan kondisi fisiknya yang sekarang?" tanya Erwin dengan masih mengiba memohon pengampuanan dari keluarga Rio.


"Sandiwara apa lagi yang sedang kalian rencanakan. Kabur dari kesalahan, sudah. Bersembunyi dari pencarian polisi udah. Lalu apa lagi yang sedang kalian rencanakan? Katakanlah aku akan berpura-pura tidak tahu, dan akan membantu memuluskan rencana kalian." Hartono sudah tidak ada simpati sidit pun dengan apa yang di katakan Erwin dan keluarganya.


Apa yang di lakukan Erwin dengan melindungi anaknya sudah menghilangkan kepercayaan dua sahabat itu. Padahal dulu sebelum Emly mencurangi Rio, hubungan atara dua pembisni ini adalah sahabat yang kental kekompakanya. Tidak hanya itu beberapa bisnis besar juga mereka terlibat bekerja sama.


"Har, aku memang sempat melindungi Emly tetapi aku melakukanya karena kondisi Emly saat itu kritis. Tidak mungkin anak kami untuk mendatangi polisi dan menyerahkan diri. Anak kami koma, hampir satu tahun dan sampai saat ini Emly juga belum sembuh total. Itu alasanya anak kami belum bisa ikut hadir di sini." Erwin dengan pelan menjelaskan sedikit garis takdir yang terjadi pada anaknya.


"Yah... yah anggap saja kami percaya dengan ucapan kalian. Terus kan saja sampai kalian bosan dan kehabisan ide untuk mengarang kebohongan demi kebohongan kalian." Tuan Hartono nampak acuh dan membuang muka.


Erwin segera menggerakan tangan kananya untuk meraih gawainya yang berada di dalam kantong jasnya. "Lihat ini, apa bukti-bukti ini yang kalian bilang sandiwara. Orang tua mana yang rela membuat sandiwara separah ini? Bahkan andai boleh di minta lebih baik aku kehilangan harta-hartaku dari pada harus menyaksikan anakku terbaring seperti mayat hidup, hanya bergantung hidup dari mesin-mesin itu?" Erwin yang bingung mau menjelaskan bagai mana lagi caranya agar mantan calon besanya percaya. Sekelebat ide keluar di otaknya untuk menggunakan foto-foto Emly yang ia ambil untuk mengabadikan perjalanan dalam pengobatan anaknya, sebagai kenang-kenangan.


Papih meraih ponsel yang Erwin sodorkan. Mamih Narin pun tidak mau ketinggalan mengintip apa yang terjadi dengan Emly selama ini.


Kondisinya sangat memprihatinkan selang-selang medis memenuhi tubuh Emly. Tuan Hartono sebagai orang yang sudah berkecipung di dunia medis puluhan tahun, bahkan dari para leluhurnya sudah lebih dulu menggelutinya dan mungkin kelak sampai anak, cucu dan, cicit-cicitnya akan menggeluti bisnis yang sama. Dari bidikan kamera itu sudah bisa di simpulkan bahwa dugaanya tadi yang mengatakan sandiwara itu salah. Emly benar-benar mengalami masa yang sulit.


Setelah menggeser layar pintar itu untuk melihat foto demi foto sebagai perjalanan pengobatan Emly sampai di foto terakhir Emly nampak tersenyum di atas korsi rodanya.


"Kondisi anak kami saat ini masih belum bisa berjalan, tetapi Emly menitipkan pesan pada kami, bahwa ia akan tanggung jawab dengan apa yang dulu anak kami perbuat. Tidak hanya itu Emly ingin bertemu dengan keluarga kalian dan Zawa untuk meminta maaf. Itu sebabnya kami datang kesini." Erwin memecah kefokusan Tuan Hartono dan Nyonyah Narin yang masih fokus dengan foto-foto Emly.


Tangan Hartono terulur ke depan guna mengembalikan ponsel milik Erwin. "Pulang lah, kita bicarakan nanti, saat ini keluargaku sedang ada musibah, cucuku sedang terganggu kesehatanya. Biarkan semuanya pulih dan pikiran kami tenang baru kita bahas masalah ini." Suara yang lebih bersahabat ditunjukan oleh Tuan Hartono.


Laki-laki paruh baya itu langsung meraih tangan istrinya dan menariknya supaya mengikuti langkahnya dan masuk ke kamar, di mana Mayra di rawat.


Pintu berwarna putih itu terbuka, di dalam Rio masih duduk memperhatikan anak dan istrinya yang terlelap dalam kedamaian tidurnya. Mereka tidak mendengar ada kegaduhan di depan kamarnya karena memang kamar rawat itu kedap suara. Sengaja di desain sedemikian agar yang sedang istirahat di dalam ruangan itu tidak terganggu apabila ada perbaikan atau apapun yang menyebabkan suara bising dari luar ruangan.


"Tunggu!!! pekik Erwin dengan suara beratnya. "Kami datang kesini juga akan menemui cucu kami," imbuhnya dengan suara dipelankan dari suara sebelumnya, tetapi tentu sepasang suami istri yang masih berada di ambang pintu mendengarnya. Tidak ketinggalan Rio pun mendengar ucapan itu. Sehingga memancingnya untuk mengetahui siapa yang berbicara, dan maksud dari perkataanya apa? Oma dan opanya Meyra pun langsung membelalakan kedua matanya, dengan wajah merah padam memalingkan wajahnya kembali menatap Erwin dan Liana, di mana Liana hanya diam dan menunduk sepanjang obrolan. Sedangkan Erwin sudah sedikit bisa di andalkan, tidak mudah terpancing emosinya seperti dulu.