
Ipek masuk kembali kekamar setelah membeli makan dikantin, Ia membangunkan Ody yang masih terlelap tidur. Sebenarnya Ipek nggak tega untuk membangukan Ody terlebih setelah Ia memegang badan Ody yang terasa panas. sepertinya Mba Ody benar-benar sakit. Badanya sampai demam kaya gin." batin Ipek.
"Mba bangun dulu yuk, katanya mau dikerokin." ucap Ipek, sembari menggoyangakn pundak Ody.
Ody yang merasa ada yang mengajak ngobrol pun bangun. "Eh,..ketiduran aku yah Pek?" tanya Ody sambil mengucek matanya yang terasa gatal.
"Iya nggak apa-apa ko masih ada waktu. Makan dulu yuk, nih Ipek udah beli makananya," tujuk Ipek dengan mengangkat kantong palstik berisi nasi bungkus.
"Aduh ngerepotin dong," ucap Ody lagi-lagi merasa nggak enak, karena merepotkan Ipek.
"Mulai deh,...."kata Ipek dengan muka tidak suka.
#Ipek selalu nggak suka, kalo Ody selalu mengulang-ulang bilang kalimat ngerepotin.#
"Hehe, iya maaf kebiasaan, Ody yang sadar akan kesalahanya pun menutup mulutnya.
"Makan yang banyak, abis ini tar dikerokin sama minum obat, biar cepet sehat lagi. Badan Mba Ody panas loh." ucap ipek.
"Iya pek, badan aku juga lemez sama pada pegel," ucap Ody jujur.
"Kalo gitu nanti, Mba istirahat lagi ajah dulu, entar Ipek izin sama Bu Dewi deh biar Mba nggak kena Omel." ujar Ipek memberika solusi.
"Eh, nggak usah Pek, entar juga kalo udah dikerokin mah baikan ko. Biasanya juga gitu," jawab Ody
"Ya udah, tapi nanti kalo masih belum enakan juga jangan dipaksain loh. Awas kalo nanti Ipek denger kenapa-kenapa, pokoknya Ipek mau ngambek, karna Mba Ody nggak nurut ma Ipek." ancam Ipek.
"Iya Ndoro," ucap Ody dengan meledek, sedangkan Ipek yang mendengar jawaban Ody pun melotot.
Ody hanya tertawa melihat tingkah kocak temanya.
Benar sajah setelah Ody kerokan dan beristirahat sebentar kini badanya sudah kembali enakan. Ody dan ipek pun kembali bekerja setelah satu jam istirahat .
***
Seperti biasa, Ody pulang diantar oleh Ipek .
Perasaan ko rumah bersih Ody yang baru masuk rumah merasa kalo rumahnya sudah rapi, Ody pun dibuat heran. Begitu Ody akan masuk kedapur ia melihat ada Orang yang sedang asik menyiapkan sayuran yang akan diolah.
Ody berdehem.
"Ehm..."
Mbok Karti yang udah kembali bekerja setelah beberapa bulan pulang kampung pun kaget ..
"Eh,siapa yah ?" tanya Mbok Karti karna memang belum kenal Ody.
"Saya Ody ,Ibu?" Ody balik bertanya.
"Oh ini toh neng Ody," gumam Mbok Karti memang kenal nama karna Rio yang bercerita dulu pas Ody baru masuk kerja.
"Saya Mbok Karti, pembantu disini, cuma karna anak saya sakit saya pulang kampung dulu." jelas Mbok Karti, memperkenalkan dirinya.
Ah, Ody pun tau, karna dulu Pak Aarav pernah memberi tau alasan Art Rio yang pulang kampung.
"Gimana anaknya udah sembuh mbok?" tanya Ody berbasa basi.
"Sudah Neng, Anak Mbok sudah nggak sakit lagi." jawab Mbok Karti sambil tersenyum.
"Iya Alhamdulillah." balas Mbok Karti dengan tulus.
"Kalo gitu saya izin ke kamar dulu Mbok, mau bebersih setelah itu nanti bantu Mbok." pamit Ody dengan Mbok Karti.
"Iya Neng silahkan," jawab Mbok Karti sopan.
Ody pun pergi masuk kekamar, meninggalkan Mbok Karti yang sibuk didapur. Didalam kamar Ody bukanya langsung beberes, tapi justru ia termenung memikirkan nasibnya, apa akan tetap diizinkan untuk kerja di rumah ini atau justru dirinya harus kembali kerumah paman. Bahkan Kamar ini sekarang menjadi kamar Mbok karti.
Aku harus siap-siap untuk menerima keputusan terburuk, kalo aku nggak akan tinggal disini lagi, aku juga harus mulai cari kerja yang baru untuk sampingan. Mengandalkan gajih dari rumah sakit sangat kurang buat memenuhi kebutuhan Ody, yang mana ia tiap bulan harus mengirim uang buat biyaya adiknya kuliah, dan kebutuhan keluarganya." batin Ody berkecamuk.
Rasanya cobaan silih berganti datang, seolaha tidak membiarkan Ody menghirup kedamaian barang sebentar, cobaan lain akan datang untuk menguji keimanan Ody.
#*Sesungguhnya seorang hamba sefakir apapun dia,Maka dia mesti akan menjumpai orang yang lebih fakir darinya.Sakit apapun yang dideritanya,maka dia mesti akan melihat orang yang lebih parah sakitnya dari dia.Jika dia memiliki cacat pada fisiknya,maka dia mesti akan mendapati orang yang lebih cacat dan lebih besar musibahnya dari dia,maka apabila dia benar benar mencermati hal ini dia akan merasakan bahwa Alloh ta'ala telah memberikan keutamaan yang besar padanya dari kebanyakan makhluk*#
***
Ody pun sudah selesai mandi dan kini tengah membantu Mbok Karti memasak untuk makan malam, ia akan memasrahkan nasibnya pada Alloh, apapun keputusan Rio nanti, Ody akan menerimanya.
Meskipun setatus Ody adalah Istri dari pemilik rumah ini. Namun semua setatusnya hanya ada dalam perjanjian, jadi Ody tidak bisa menuntut, bahkan apabila ia hamil karna kerjadian waktu itu, Ody harus mencukupi semua kebutuhanya sendiri.
Satu bulan Pernikahan pun tidak membekaskan kenakan yang manis sedikit pun. Justru sakit hati yang Ody rasakan sehingga membuat Rongga sakit hati sendiri, yang dulu hatinnya kuat kini menjadi terkikis kekuatan itu digantika dengan kerapuhan.
*Bibir terkadang bicara kau harus kuat,tapi kadang kala hati tak sekuat yang kau fikirkan.*
Ini kayaknya gambaran yang cocok dengan hati Ody kadang bibir, berkata kuat, hati menjerit menangis, aku tidak kuat lagi. huhuhu sedih....
Selama membantu Mbok Karti, Ody lebih banyak berdiam, merenungi setiap kejadian yang ia lalui. Semua cobaan ia udah rasakan dari yang kehilangan harta sampai kehilangakn sosok yang sangat berati. Walaupun berat, tapi Ody bisa membuktikan, bahwa Ia masih bisa berdiri sampai saat ini.
Bukan tidak mungkin, setelah ini akan ada cobaan lain, dan memaksa Ody berkata harus kuat demi hari esok yang bisa saja esok hari adalah kebahagiaan yang kamu nantika selama ini. Bentuk motifasi dari yang biasa, sampai yang memompanya lebih semangat lagi, selalu Ody ingat, karena dengan kata-kata motifasi Ody bisa melihat bahwa penderitaanya saat ini adalah ujian untuk sebuah hadiah dimasa datang.
Seperti biasa setiap sehabis magrib Rio pulang. Ingin rasanya Ody merasakan seperti istri pada umumnya. Menyambut dan mengantarkan suaminya kerja, tetapi sekalipun kesepatan itu nggak akan Ody rasakan.
Setiap Rio pulang Ody hanya bisa melihatnya dari jendela yang ada dikamarnya, dan akan menyiapka makanan, apabila Rio akan makan. Sepanjang berdekatan atau betemu nggak pernah ada ucapan apapun.
Kebencian yang Rio rasakan terhadap Ody, sepertinya nggak akan pernah hilang. Walaupun Ody meminta maaf dan akan mengakhiri hubungan ini, sepertinya kebencian itu akan tetap ada buat Ody .
Entah kenapa akhir-akhir ini Ody lebih sensitif, terutama apabila ingat dengan perlakuan Rio. Hatinya akan menjerit, meraung-raung terasa tersayat perih.
*jangan berhenti berharap,karna Alloh lebih tau saat yang tepat mengabulkan permintaanmu.*
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa
Like
Comen
Vote
Beri Hadiah
dan tekan favorit ❤❤