
"Ehemz......" dehem Zawa yang merasa diabaikan oleh Arzen, yang justru asik ngobrol dengan Ody.
"Eh sorry, tadi ada temen aku jadi lupa sama ayang." jawab Arzen yang kaget, karena deheman Zawa.
"Hobby nolong cewek yah? Kirain aku doang yang ditolong ternyata memang masih ada lagi yang sudah berhasil ditolong, bahkan sampe dibikinkan kopi." oceh Zawa dengan nada sindiran.
"Aura-auranya ada yang cemburu nih." ledek Arzen yang sudah mencium bahwa Zawa cemburu. "Jangan salah paham ayang, cewek tadi itu Ody istri temen aku, dan kemarin ibunya meninggal karena suaminya nggak bisa mengantarkan untuk pulang makanya aku yang antarkan." jelas Arzen agar Zawa tidak makin cemburu.
"Istri temen kamu, atau calon istri kamu." balas Zawa masih dengan nada ketus.
"Astagah ayang, dia beneran istri teman aku Rio." jawab Arzen dengan nada memelas agar Zawa percaya dengan omongannya.
"Hah.... kamu serius?" tanya Zawa tampak kaget. "Eh, maksud aku kamu serius cewek tadi beneran istri temen kamu, bukan calon gebetan baru." ucap Zawa mengalihkan pembahasaan agar Arzen tidak curiga apabila Zawa kaget mendengar Rio yang sudah beristri.
"Kalo Rio sudah beristri gimana reaksi Emly yah, lalu aku harus memberikan informasi ini langsung pada Emly atau nanti sajah setelah informasi ini pasti." batin Zawa berkecamuk ragu.
"Iya lah mana berani aku bohong sama ayang, tapi ko kamu kaya kaget gitu dengar nama Rio?" tanya Arzen yang sedikit curiga dengan reaksi Zawa barusan.
"Ah itu mah perasaan kamu ajah. Aku lagian mana kenal dengan temen kamu. Aku bukan kaget, tetapi hanya seneng sajah kamu udah mau jujur sama aku." balas Zawa mencoba meyakinkan Arzen, tentunya agar tidak curiga.
"Iya kali, lagian mana kamu kenal sama Rio, dia kan orangnya jarang bergaul kalo belum terlalu kenal." jawab Arzen percaya dengan Zawa.
Setelah berbasa basi dan melepas rasa kangen dengan Zawa, Arzen pun memutuskan telpon karena memang Arzen sudah melihat mobil Rio sudah hampir sampai di rumah Ody.
Rio sampai di rumah Ody setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Dia langsung keluar dan menyapa Arzen yang tengah duduk di terelas rumah Ody.
"Duduk Yo, Ody ada di dalam." ucap Arzen mencairkan suasana.
Rio pun duduk mengikuti saran Arzen.
"Eh Ndra, Mba lagi ngapain?" tanya Arzen, yang kebetulan Hendra lewat di depan mereka.
"Mba lagi bantu masak di dapur, kenapa Mas?" tanya Hendra pada Arzen dengan ramah.
"Bisa panggilkan dulu Ndra, nih ada tamu yang mencarinya." titah Arzen, agar Hendra memanggilkan Ody.
Hendra pun mengikuti kemauan Arzen, memanggil Ody di dapur.
"Siapa Zen?" tanya Rio kepo dengan sosok yang bercakap dengan Arzen barusan.
"Emang loe belum kenal keluarga Ody? Yang barusan ngobrol sama gue Hendra, adiknya Ody." jawab Arzen menjelaskan siapa Hendra.
"Oh..." jawab Rio sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Tidak lama berselang Ody keluar dengan satu piring pisang goreng yang masih mengepulkan asap panas. Ody kaget ketika melihat Rio ada di rumahnya.
"Kalian selesaikan masalah kalian di dalam, gue nggak pengin ada salah paham diantara kalian." ucap Arzen yang tau bahwa diantar keduanya masih ada kecanggungan.
"Maafkan aku, karena melarang kamu mengangkat telpon dari keluargamu padahal, telpon itu sangat penting buat kamu." ucap Rio dengan sangat menyesal "Andai aku tau bahwa ini yang terjadi sama kamu, pasti aku izikan kamu pulang, tanpa marah dan mencurigai kamu dan Arzen yang engga-engga." imbuh Rio, ia sangat menyesal ketika Mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
"Iya nggak apa-apa Dok, saya juga awalnya tidak tau apa yang terjadi dengan Ibuku, karena Mamang tidak mengabarkan diawal, beliau hanya meminta aku untuk pulang. Setelah sampai di rumah baru aku tau kenyataan yang sebenarnya bahwa Ibuku telah meninggal." jawab Ody kembali menitikan air matanya.
Rio yang iba melihat Ody mendekat kearah Ody dan memeluk Ody dengan mesra, ia mencoba memberika kekuatan untuk Ody. "Mulai sekarang kita adalah satu aku ingin kamu berbagi kebahagiaan dan kesedihan denganku." bisik Rio, sembari memberikan kecupan lembut dipucuk kepala Ody.
Ody mengangguk lemah. Cukup lama mereka berpelukan saling menyalurkan energi positif, melepaskan rasa kangen diantar keduanya.
Rio berjanji pada dirinya sendiri, mulai kali ini ia tidak akan mementingkan egonya. Ia akan mencoba melindungi Ody dan juga calon buah hatinya.
Setelah ini Ody berencana mengenalkan Rio dengan Hendra, dan akan menceritakan setatusnya serta menceritakan bahwa ia juga tengah hamil. Tak lupa Ody juga akan mengenalkan Rio pada ibu dan ayahnya.
****
Sementara itu di rumah Zawa, ia tengah bimbang antar bercerita fakta yang ia ketahui mengenai Rio barusan atau tetap merahasiakanya.
Hari ini Zawa ada kontrol keapartemen Emly, dia akan mengecek kandungan Emly dan juga ingin berbagi cerita dengan Emly agar Emly tidak suntuk.
Tak butuh waktu lama kini Zawa sudah berada di apartemen milik Emly.
"Gimana hubungan loe sama Arzen nggak ada masalah kan?" tanya Emly kepo.
"Eggak hubungan kami masih harmonis. Arzen laki-laki baik dan dia juga romantis dan humoris." jawab Zawa membanggakan Arzen.
"Bagus dong kalo gitu, Arzen nggak curiga kan sama loe? Terus udah ada kabar belum dari Arzen tentang Rio?" tanya Emly dengan penuh harap, bahwa Zawa akan membawa kabar mengenai Rio.
"Aku tadi sempat telepon dengan Arzen, dan tanpa sengaja mendengar mereka ngobrolin Rio gitu, kalo nggak salah Rio sudah menikah. Emang kamu nggak tau bahwa Rio udah menikah." ucap Zawa ia tidak berkata jujur bahwa dia sudah mengetahui dengan pasti bahwa Rio telah menikah.
"Belum, aku bahkan tidak tau kalo Rio sudah menikah. Kalo memang Rio telah menikah lalu siapa istrinya?" tanya Emly, ia sangat berharap bahwa Zawa membawakan kabar yang lengkap.
"Justru itu aku mendengarnya pun samar, dan juga mereka ngobrolnya seperti dirahasiakan gitu sehingga susah buat nyari infonya. Kalo aku tanya langsung takutnya Arzen curiga." jawab Zawa ia masih merahasiakan infonya sebagian. Zawa juga belum begitu yakin dengan Emly, takutnya apabila Zawa memberika info langsung tentang apa yang ia ketahui. Emly justru bisa mencelakai istri Rio atau bahkan menghancurkan hubungan keduanya. Maka dari itu Zawa harus hati-hati memberiak infonya. Pendirian Zawa tetap sama dia akan merubah Emly agar melupakan dendamnya dengan berpura-pura dipihak Emly, tentunya tanpa Emly sadari.
Zawa bahkan sangat peduli dengan Emly dan calon buah hatinya. Maka dari itu ia rela mengikuti kemauan Emly agar ia tetap bisa memantau Emly.
Sedangkan tanpa sepengetahuan Zawa, Emly juga menyewa orang bayaran untuk tetap mengawasi Rio dan juga ada orang yang bertugas mengawasi Zawa. Emly takut bahwa Zawa berhianat maka dari itu ia akan tetap memantau Zawa sehingga nanti Emly tidak kecolongan lagi, kali ini Emly benar-benar berhati-hati menjalankan misinya.
Dia udah bertekad sangat bulat menghancurkan Rio dan teman-temanya.
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤