Beauty Clouds

Beauty Clouds
Patah Hati



"Ayok masuk!" Abi mengajak tamunya yang hanya berjumlah tiga orang untuk masuk. Di dalam sana masih banyak asisten rumah tangga yang berlalu lalang untuk merapihkan kekacauan di ruang tamu rumah mewah itu.


Clovis sebenarnya sudah curiga bahwa tamu tadi ada hubunganya dengan Ipek. Namun berkali-kali rasa curiga itu coba ia hilangkan, dan di gantikan dengan motifasi untuk dirinya sendiri, di mana sepertinya tidak mungkin keluarga Ipek melupakan apa yang mereka sepakati.


Sementara Ipek begitu keluarga Eric pulang ia langsung masuk kedalam kamarnya. Lagi, Abinya tidak mengizinkan Ipek untuk bertemu dengan Clovis dan teman-temanya lagi, hal itu di lakukan agar keputusan Ipek tidak digoyahkan.


Bahkan nama Eric dan wajahnya baru Ipek ketahui barusan dan dengan keputusan bersama Ipek akhirnya menerima perjodohan ini. Berbeda dengan dulu dirinya yang di jodohkan oleh Abahnya. Walaupun sama-sama di jodohkan tetapi dulu Ipek tidak merasakan bahwa ia di paksa sepeti sekarang ini baik keluarganya, Abi dan Abangnya terkesan sangat memaksa perjodohan Ipek dan Eric dan juga keluarga Eric pun sangat terlahat memaksa. "Apakah ini adalah keputusan yang tepat ya Allah," batin Ipek sangat terlihat jelas keraguan di wajahnya sejak tadi.


Memang Eric terlihat laki-laki yang tampan dan juga dari keluarga terpandang. Keluarganya memiliki bisnis di bidang perhotelan dan Eric sediri digadang-gadang sudah memiliki bisnis sendiri yang tidak kalah mentereng dari bisnis keluarganya, tetapi entah mengapa Ipek tidak mendapatkan klick di hatinya ketika bertatapan dengan Eric dan tadi pun di berikan waktu untuk pengenalan satu sama lain. Lagi-lagi Ipek tidak menemukan kecocokan dengan Eric. Ipek merasa Eric itu laki-laki yang sedikit memaksa dan terkesan jutek dan arogant.


Namun Ipek tetap mencoba melangkah, "Bukanya kalo sudah menikah dan tidak mendapatkan kecocokan juga, setidaknya ia masih bisa menuntut bercerai." Itu yang ada di dalam batin Ipek. Sehingga ia mencoba bahwa ketidak cocokanya hanya rasa yang menghantuinya, karena ia sudah kembali memiliki rasa dengan Clovis.


Ipek tentu ada rasa sedih, karena tidak diizinkan bertemu Clovis, setidaknya ia ingin memberikan tahukan keputusanya bahwa ia akan memilih laki-laki lain yang orang tuanya pilihkan. Namun Abi melarang, dengan alasan nanti Abi yang menyampaikan hal itu pada Clovis.


"Ayo silahkan di minum, mohon maaf jadi nunggu lama. Maklum kalo sudah ngobrol sama sahabat lama suka tidak ingat waktu." Abi memulai obrolan, setelah satu asisten rumah tangga meletakan tiga gelas minuman untuk tamu majikanya itu.


"Tidak apa-apa Abi. Kami maklum kok." Ustadz mewakili memulai obrolan dengan Abi. "Jadi begini Bi, kedatangan kami sebenarnya ada niat yang ingin di sampaika. Sebelumnya perkenalkan nama saya Yusuf, hendak mewakili Nak Clovis ingin menyampaikan niatanya menepati janji pada Anda dengan tantangan Anda agar bisa memantaskan diri menjadi suami putri Anda. Kiranya Anda masih mengingat janji itu." Ustadz Yusuf tanpa berbasa basi langsung menyampaikan niat dirinya dam Clovis serta Arzen mendatangi rumah mereka. Sebenarnya ingin berbasa-basi lebih dulu, tetapi karena hari yang sudah makin malam sehinga mau tidak mau mereka menyingkat waktu agar tidak megganggu istirahat empunya rumah. Tentunya mereka juga lelah karena terlalu lama menunggu. Ingin buru-buru juga istirahat merebahkan badan di atas kasur.


Abi nampak mengangguk-anggukan kepalanya tentu ia tahu dan masih ingat dengan semua itu. "Iya saya masih ingat Mas Yusuf, tapi mohon maaf sebelumnya Ipek sudah ada yang mengkhitbah barusan saja keluarga calon suami dari putri saya pulang," jawab Abi dengan senyum bahagianya.


Jeduerrrrr... bagai tersambar petir di malam hari, tanpa ada hujan tanpa ada angin. Jadi sejak tadi mereka menunggu tamu pulang, dan tamu itu adalah calon suami Ipek.


"Jadi kesimpulanya Ipek sudah ada yang meminangnya Abi?" Clovis pun memastikan bahwa apa yang ia tahu memang benar. Yah, kedatanganya hanya sebagai ajang silahturahmi, karena tidak akan ada tes-tes surat atau pun doa. Ia sudah di tolak dengan jelas sebelum menunjukan keseriusanya untuk menjadi suami untuk Ipek.


"Baik lah Abi, kalo memang keputusan kalian seperti itu, kami terima dan memang sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya begitu pun Anda sudah melakukan yang terbaik untuk Ipek." Clovis pun suka tidak suka harus menerima keputusan Abi. Setelah berbasa-basi Clovis dan yang lainya pun pamit pulang, karena hari memang sudah semaki larut.


Kecewa? Pasti Clovis kecewa kalo memang pada akhirnya mereka sudah memiliki calon lain, kenapa ketika di pondok Abi dan Abang-Abang Ipek seolah memberikan harapan yang besar untuk Clovis sehingga ia mengharapkan hal yang lebih pula.


"Zen, loe yang nyetir yah gue lagi malas bawa mobil," ucap Clovis sembari memberikan konci mobil pada sahabatnya itu. "Pak Ustadz saya minta maaf yah sudah membuat Anda cape menunggu tetapi malah hasilnya hanya cape nunggu saja," ucap Clovis ada sedikit rasa tidak enak dengan Pak Ustadz, coba tadi mereka langsung pulang mungkin tidak akan seperti ini kecewanya.


"Tidak apa-apa Vis, malah lebih baik kita tahu di awal dari pada kita pulang malah nggak tau hasilnya. Kamu jangan karena masalah di tolak sama keluarga Ipek, kamu jadi tidak belajar ngaji lagi. Tetap belajar ilmu agama yah, siapa tau nanti dapat yang lebih dari Ipek kan nggak ada yang tahu." Pak Ustadz pun menasihati Clovis agar tidak berputus asa dengan pengorbananya dan merasa belajar mengaji sia-sia karena ternyata ia ujung-ujungnya di tolak oleh keluarga pujaan hatinya.


"Hahaha... enggak atuh Pak Ustadz. Saya memang belajar memperdalam ilmu agama itu karena melihat Arzen yang kayaknya tenang banget kalo ada masalah, jadi termotifasi gitu lah," jawab Clovis yang memang pada kenyataanya apa yang dikatakan itu ada benarnya ia ingin belajar agama lebih dalam ketika melihat Arzen yang terlihat tenang dan tidak mudah terprofokasi meskipun ia diuji dengan ujian yang berat.


"Alhamdulillah deh, takutnya Mas Clovis nanti kecewa dengan ujian dari Allah, terus tidak mau belajar agama lagi," ledek Pak Ustadz Yusuf.


Arzen pun mengantarkan Ustadz lebih dulu. "Loe nggak apa-apa kan Vis, nggak marah dengan keputusan Abi?" tanya Arzen begitu mereka sudah berdua. Walaupun seolah Clovis tetap biasa sajah di depan Pak Ustadz, tetapi Arzen tahu betul, kalo sahabatnya ada rasa kecewa dengan penolakan Abi'nya Ipek.


Clovis menghirup nafas dalam ia awalnya tengah melamun melihat jalanan Ibukota yang sedikit masih padat, kondisi jalanannya.


"Sedikit kecewa Zen, bohong lah kalo gue langsung legowo menerima semua keputusan keluarga Ipek. Kelihatan banget kok kalo keluarganya nggak suka sama gue, terutama Abinya yang secara terang-terangan nunjukin nggak sukanya sama gue, tapi mau gimana lagi Zen. Marah pun nggak akan merubah keputusan kok," jawab Clovis dengan suara yang berat.


Yah, Arzen pun tahu gimana perasaan Clovis. Arzen ingin menasihati pun rasanya ini belum waktu yang tepat. Sehingga Arzen membiarkan Clovis menyendiri dulu, nanti ketika suasana hatinya sudah sedikit membaik baru ia akan menasihati Clovis setidaknya agar ia tahu bahwa masih ada teman-teman yang peduli dan akan selalu ada disetiap ia butuhkan..