
"Kamu nikah udah berapa lama? Terus yang suka duluan siapa? Dan bertemu dengan suami kamu di mana?" Ody hanya ingin tahu Itu. Pasalnya ia kemarin sudah bertanya tetapi Ipek tidak menjawabnya.
Rasa penasaranya makin menjadi-jadi mana kala Ipek terlihat sangat mencintai suaminya. Semua pun kaget ketika dengar Ipek sudah menikah. Terlebih Clovis hatinya tiba-tiba sakit ketika mengetahui itu semua. Rasanya harapanya runtuh padahal ia ingin meminta maaf pada Ipek dan ingin menjadikan Ipek kekasihnya. Tapi rasanya itu mustahil.
Ipek tersenyum ketika mendengar pertanyaan Ody. Serta Intan dan yang lainya yang seolah kaget ketika mengetahui bahwa dirinya sudah menikah.
"Pek ko nggak di jawab sih, pasti kamu bohongan yah kalo udah nikah? Buat manas-manasin seseorang?" kelakar Chandara. Duda satu anak itu juga nggak mau kalah ingin tahu fakta sesungguhnya.
"Enggak ko, Ipek udah nikah. Untuk berapa lamanya, kami menikah? Jawabanya masih tergolong baru. Ya, baru tiga bulan. Dan buat yang suka duluan siapa? Kebetulan suami yang suka duluan. Bahkan suami sebelumnya udah melamar dua kali tapi Ipek tolak. Sok cantik banget yah Ipek sampe nolak-nolak lamaran dua kali pula." Ipek tertawa sendiri. Yang lainya masih setia menyimak. Termasuk Clovis ucapan Ipek mengingatkan dirinya kada kisah Ipek. Ipek segera menjawab agar tidak ada dugaan ia berbohong.
"Ayo pek buruan ah lanjutin ceritanya penasaran nih, pasti seru." Zawa yang pendiam pun angkat bicara saking penasaranya dengan kisah Ipek.
"Hehe kisah kita itu nggak menarik banget sumpah, malahan garing gitu," ucap Ipek yang merasa ceritanya malah aneh. Namun yang lain tidak menilai begitu.
"Engga ko. Kisah kamu unik, kan kamu nolak tuh sampe dua kali, tapi kenapa akhirnya kamu terima. Dia yang maksa apa kamu yang udah mulai suka?" tanya Intan benar-benar penasaran dengan kisah Ipek.
Ipek menghirup nafasnya dalam, dan mulai melanjutkan kembali ceritanya. "Ipek nolak dia bukan karena apa-apa, hanya nggak kenal, dan bahkan nggak tahu calon suami Ipek yang kaya apa. Soalnya kan dia masih kuliah di Kairo. Waktu satu bulan dia mau pulang Abah nanya lagi. Mau nggak dijodohkan sama anak temen Abah. Gini gitu lah pokoknya bilang yang baik-baik gitu. Terus kata Abi juga lebih baik dicintai dari pada mencintai. Kalo dicintai kita diperjuangkan tapi kalo mencintai kita memeperjuangkan yang bisa ada dua kemungkinan kita kalah berjuang atau bisa juga menang dalam berjuang. Jadi Ipek coba buat meminta petunjuk dan satu bulan kemudian taaruf dan menikah. Alhamdulillah yang diucapkan Abi benar kita diperjuangkan sampe tidak sadar udah cinta banget malah. Dan belakangan baru tahu bahwa ternyata suami Ipek itu sudah lama suka sama Ipek, bahkan sebelum dia kuliah ke Kairo." kekeh Ipek yang merasa ia sangat bucin dengan Wahid.
"Wah jodoh nggak kemana yah Pek, akhirnya setelah suamimu berjuang. Kamu bisa luluh juga. Berati kamu udah cinta sekarang sama suami kamu? Terus kira-kira apa yang membuat kamu cinta sama suami kamu?" tanya Rio, sebab kisah Ipek memang sangat menarik.
"Udah lah, bahkan bucin kali kalo anak jaman now bilang, sifatnya, ibadahnya dan cara dia memperlakukan istri. Enggak pernah marah, walaupun membentak. Sabar, dan ngayomi dan ngemong. Dia juga kocak, ya walaupun awal-awal garing banget candaanya. Tapi lama-lama lucu juga. Ketika orang kalem mencoba menghibur." Ipek sepanjang cerita tersenyum bahagia. Berbeda dengan Clovis yang justru sakit mendengarnya. Kisanya sangat mirip dengan Ipek, tetapi kini karma menghapirinya. Ipek yang dulu mengejar-ngejar cintanya sampe nggak pernah nyerah walaupun Clovis beberapa kali menolaknya. Bahkan menyakiti fisik dan mental Ipek. Namun sekarang Ipek sudah bahagia bahkan kebahagiaanya sangat jelas dan kini justru Clovis yang menderita melihat Ipek bahagia dengan yang lain.
"Aduh ko aku jadi patah hati yah," ucap Aarav padahal tidak tengah menyindir Clovis tapi kata-katanya seperti mewakilkan Clovis banget.
"Patah hati kenapa? Emang loh suka sama Ipek," Sela Intan.
"Ya tadinya gue mau coba dekatin tapi udah di patahkan dengan kenyataan kalo dia udah nikah. Mau nggak mau mundur alon-alon," jawab Aarav dengan menepuk Clovis. Entah mungkin maksud Aarav mewakilkan perasaan Clovis.
Mereka pun masih melanjutkan permainan kali ini gantian Clovis. Ody yang sudah gatal menyiapkan pertanyaan pun nggak sabar buat mencecar pertanyaan ke Clovis.
"Siap-siap nih, kita ajukan pertanyaan buat Casanova yang sudah insyaf," ucap Chandra. Mereka memang sudah tau bahwa Clovis sudah banyak kemajuan untuk perubahan menuju jalan yang baik.
"Ah, kamu mah dok, aku udah nyusun pertanyaan paling awal juga," dengus Ody antara nggak terima dan memang ingin ngejailin Intan.
"Bodo, pokoknya aku mau ngajuin pertanyaan pertama. Gimana kesan loe pertama liat Ipek? Yang kita di sini tau semua lah gimana loe bencinya sama Ipek," tanya Intan, pasti pertanyaan itu juga yang mengganjal di teman-teman yang lainya. Mungkin juga termasuk Ipek.
Ipek memang sejak tadi menyimak pertanyaan pun lebih banyak menunduk. Itu karena ia tidak nyaman dengan pandangan Clovis yang beberapa kali menatap tanpa kedip pada ditinya.
Terlebih Intan melemparkan pertanyaan seperti itu. Ipek tambah tidak nyaman. Ipek pun akhirnya pergi mohon izin untuk mengecek kondisi suaminya, Wahid.
"Mba, Ipek izin telpon ke rumah sakit dulu yah mau cek suami." Ipek memberanikan diri berbisik dengan Ody.
Ody yang merasa Ipek tidak nyaman pun mengizinkan. Saat itu juga Ipek pamit dengan yang lainya untuk tidak mengikuti permainan itu lagi.
Ipek memilih menyendiri di ruangan lain dan menelepon bibi agar bisa melihat Wahid.
Yah, Ipek tidak nyaman dengan pandangan Clovis. Ia ingin menjaga cintanya pada Wahid, tidak ingin menodai ikatan suci pernikahan mereka dengan kisah masa lalu, yang kembali tumbuh.
Ipek memang masih takut kalo cintanya goyah dengan hadirnya Clovis di hadapanya. Terlebih Ipek juga melihat bahwa Clovis sudah banyak berubah. Dari tatapanya sudah teduh tidak seperti dulu yang sangat garang dan menakutkan.
Ody yang melihat Ipek tidak nyaman pun menghampiri Ipek. Tentu ia merasa tidak enak juga apabila gara-gara acara yang ia buat untuk berkumpul dengan teman-temanya malah membuat Ipek tidak nyaman.
Ody menghampiri Ipek yang tengah duduk di sofa dengan memperhatikan ponselnya.
"Kenapa Pek? Apa ada sesuatu yang kurang baik dengan kondisi Wahid?" tanya Ody sembari meletakan bokonya di sofa sebelah Ipek.
"Enggak Mba, masih sama sejak Ipek pergi kata Bibi, Abang langsung tidur sampe sekarang belum bangun juga." Ipek menyodorkan ponselnya agar Ody melihat kondisi suaminya.
"Sabar yah sayang, kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu itu wanita kuat. Mba juga dulu pernah berada di titik terendah dan alkhirnya Mba bisa bangkit. Kamu juga pasti bisa melewati ini semua yah sayang." Ody mengusap punggung Ipek.
Sementara Ipek yang dari tadi pura-pura baik-baik saja pun akhirnya menumpahkan rasa sesak di dadanya. Banyak sekali yang mengganggu di pikiran Ipek Walaupun Ia berusaha baik-baik saja, tetap saja hatinya sesak ketika dihadapkan dengan cobaan berat ini. Terlebih Clovis, masa lalu yang membuatnya lemah selama ini, datang kembali. Ipek hanya takut hatinya berhianat dari suaminya, dan menodai pernikahan mereka.