Beauty Clouds

Beauty Clouds
Mencari Gara-Gara



Clovis dengan santai menunggu Ipek yang masih di dalam kamar mandi. Sementara supir tidak ikut turun untuk mengawasi Ipek. Karena Ipek yang barusan melarangnya. Ia merasa sungkan apabila ke kamar mandi sajah harus diikuti sopir pribadinya, mana supir itu cowok lagi.


Clovis menyandarkan punggungnya di dinding kamar mandi, dan memainkan kakinya serta kedua telapak tangan yang ia masukan kedalam saku celananya, matanya memandang kesekeliling area sekitar, mengawasi keadaan agar tetap aman.


Ipek dengan lega membuka kamar mandi. Dia tidak tau bahwa sejak tadi Clovis menunggunya. Bahaya tengah mengancam dirinya.


"Selamat siang Ipek yang manis." Clovis mengagetkan Ipek yeng tengah merapihkan pakaianya.


Tentu Ipek langsung mengenali suara berat Clovis tanpa harus menoleh kesumber suara.


"Anda? Sedang apa Anda disini?" tanya Ipek dengan gugup, dan sedikit terbata. Perasaan Ipek saat itu juga langsung tidak karuan, mau lari pun tentu tidak memungkinkan, dan belum tentu juga Clovis akan berbuat jahat. Ipek mencoba menenangkan fikiranya, dan mencoba berfikir positif dengan kehadiran Clovis.


"Loh, bukanya seharusnya aku yang bertanya sedang apa kamu disini? Hay... kamu lupa, tempat ini milikku jadi wajar kalo aku ada disini. Tapi, kalo kamu disini kira-kira lagi ngapain? Apa jangan-jangan kamu kangen sama aku, dan diam-diam membuntutiku untuk tetap bisa melihat ku. Apalagi kamu suka sama aku, jadi wajar sekali kamu kangen dengan aku," ledek Clovis dengan nada mengejek.


"Dih... siapa yang kangen sama Anda. Saya kesini karena kebetulan lewat sajah, dan mau numpang ke kamar mandi." Ipek mengelak tuduhan Clovis, dengan mencoba tetap tenang dan tidak gugup.


"Ok-ok anggap sajah kali ini aku percaya," jawab Clovis. "Bisa ikut denganku, ada yang ingin aku bahas dengan kamu. Ini penting soal hubungan kita." Kali ini Clovis bica lebih halus dari biasanya. Tentu ia hanya ekting agar Ipek tidak kabur dan mau mengikutinya untuk mengikuti permainan selanjutnya dari Clovis.


Sementara di dalam bar Sami pun tidak diizinkan keluar, dia dikurung di dalam ruangan Clovis.


"Hubungan yang mana? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Bahkan atasan dan bawahan pun sudah tidak ada lagi hubungan itu, jadi sepertinya tidak ada yang dibahas dalam hubungan apa pun." Ipek tidak mudah terpancing dengan Clovis. Ia tetap waspada apabila Clovis justru akan mempermainkanya.


"Ok, kali ini aku nyerah lagi. Kita nggak ada hubungan apa-apa sehingga tidak bisa membicarakan hal itu. Tapi kalo membicarakan nasib Sami, Zawa dan Arzen kira-kira kamu mau nggak?" Kali ini Clovis percaya bahwa Ipek nggak akan nolak mengikuti arahan darinya.


Seketika itu juga Ipek menoleh kearah Clovis yang dengan santai masih bersandar di dinding dan kedua tangan bersedekap didadanya. "Ma... maksud Anda apa?" tanya Ipek terbata.


"Kita bicara diruanganku, semuanya bisa dinegosiasikan," jawab Clovis dengan senyum mengejek.


Saat itu juga perasaan Ipek semakin tidak enak. Apa maksud dari omongan Clovis? Mau tidak mau kini Ipek harus mengikuti kemauan Clovis, agar ia tau selanjutnya dengan rencana-rencana lawanya itu.


"Baik lah saya ikut dengan mau Anda, tapi aku mohon jangan ganggu ketiga temanku," ucap Ipek dengan tegas.


"Siap Nona." Clovis dengan tegas pula menjawab permintaan Ipek.


Kini Clovis berjalan dengan santai mesuk ke dalam ruanganya, dan Ipek mengekor di belakangnya. Sebisa mungkin Ipek bersikap tenang dan tidak akan terpancing lagi dengan omongan-omongan Clovis. Ia tau kini Clovis tengah memanfaatkan kelemahanya, sehingga sebisa mungkin ia tidak akan menunjukan bahwa ia takut dengan semua ancamanya dan juga tidak pula menantangnya.


Sami terlonjak kaget, dan langsung berdiri dari duduknya, ketika ada yang membuka pintu. Ternyata yang masuk adalah bos tempatnya bekerja. Sami kaget ketika Ipek ikut masuk keruangan itu.


"Sami," ucap Ipek kaget.


Sami pun melakuakan hal yang sama "Ipek."


Clovis langsung mengambil posisi duduk di kursi kebesaranya sementara Ipek dan Sami masih berdiri memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Silahkan duduk Nona Ipek, saya akan menawarkan pilihan buat Anda," ujar Clovis dibikin seformal mungkin, tetapi kata-kata itu justru untuk menunjukan bahwa ia tengah memainkan permainan barunya.


"Yah, sepertinya loe sudah tau. Jadi gue nggak harus berbasa basi lagi. Muak juga kalo harus ekting," balas Clovis, disertai senyum mengejak. "Gimana, kerjaan baru loe? kayaknya menikmati banget dengan kerjaan baru itu. Sudah berapa laki-laki yang bayar jasa loe?" tanya Clovis mengejek Ipek.


Ipek sudah tau kemana arah omongan Clovis, dan Ipek pun diam tidak menjawab pertanyaan itu. Bagi dia nggak harus menjawabnya karena justru akan membuat ia semakin serba salah.


"Pela'cur, cewek murah'an, loe nggak punya mulut yah?" bentak Clovis dengan menggebrak mejanya.


Kedua bola mata Ipek sudah panas, ketika mendengar kata-kata hina dari mulut Clovis. "Sebenarnya mau Anda apa? Jangan melebar kemana-mana. Langsung sajah dengan topik obrolan kita." Ipek tetap mencoba untuk tenang agar tidak terpancing dengan kemarahan Clovis.


Sementara Sami di belakang sudah ketakutan melihat kemarahan Clovis. Sebelumnya Sami tidak pernah melihat Clovis semarah ini sehingga ia langsung gemetaran sekujur badannya, sedangkan Ipek tetap mencoba tenang, karena ia sudah biasa diperlakukan hina oleh Clovis.


"Gue pengin loe meminta maaf, atas perbuatan kamu," jawab Clovis dengan menunjuk kearah Ipek.


Ipek pun lsngsung mengikuti kemauan Clovis. "Saya meminta maaf Tuan atas semua kesalah yang saya buat, baik sengaja maupun tidak disengaja," ucap Ipek dengan menununduk sesopan mungkin.


Namun, justru Clovis semakin menjadi kemarahanya. Ia menggebrak dan melempar semua barang yang berada di atas mejanya. "Bukan begitu meminta maafnya!! Dasar pela'cur, bodoh!!!" bentak Clovis dengan tatapan membunuh.


Ipek yang awalnya tetap tenang dan mencoba tidak terpancing, kali ini pun mulai yakin bahwa Clovis hanya mencari-cari kesalahanya agar ia semakin tersudut.


Sepertinya memang Clovis sudah benar-benar tidak ada maaf lagi buat Ipek, sehingga akalnya kini sudah hilang, dan kemarahanya sudah susah dikendalikan dan semua yang Ipek lakukan tetap salah dimana dia. Clovis menyangka bahwa Ipek justru tengah memancing kemarahanya.


Berbanding terbalik dengan pikiran Ipek yang mengira Clovis akan luluh ketika ia mengikuti semua kemauanya, tanpa melakukan pelawanan. Namun nampaknya yang Clovis inginkan adalah Ipek melawan perkataanya, sama seperti yang ia sering lakukan terhadap perkataanya sebelumnya.


#Serba salah jadi Ipek. Maklum Clovis lagi labil dengan perasaanya....


...****************...


Sembari nunggu apa yang akan terjadi dengan Ipek, yuk mampir ke karya teman Author....


Langsung ajah meluncur yah,....


Nih othor kasih bocoran novelnya....


Zivanya, Janda muda beranak dua. Yang menjadi idaman setiap kaum Adam. Dari kalangan Berondong, Duda, bahkan sampai suami orang.


Wajah cantik, juga penampilan sexy dan menggodanya itu, kerap kali mengundang bencana dalam rumah tangga orang lain. Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah berniat untuk menggoda pria. Hanya saja, sikap ramahnya dan murah senyum, membuat banyak pria terpesona dan membuat para istri dari pria yang sudah menikah itu memandang rendah dan benci padanya.


Awalnya, Zivanya tidak pernah ambil pusing dengan semua hinaan dan cacian para ibu-ibu yang ada di lingkungannya. Tapi semua itu berubah, setelah ia dan tunangannya putus. Tunangannya memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak jelas, tunangannya mengatakan bahwa, ia adalah Janda genit dan juga sering menggoda pria. Dari situlah Zivanya berubah, ia benar-benar merubah hidupnya. Hinaan dan juga tuduhan yang di lontarkan padanya, benar-bebar ia wujudkan dan lalukan.


Bagaimana kisahnya? (Pesona Janda Anak Dua)