Beauty Clouds

Beauty Clouds
Bantal Guling



"Emly ayo lawan sakit kamu, di sini ada anak kamu, Meyra tadi juga tidur dengan kamu loh. Kamu harus bangun yah dan tunjukin kalo kamu itu kuat. Kamu harus kasihan sama Zawa, sahabat kamu. Dia sampai sakit karena kamu. Ayo bangun yah! Lawan sakit kamu." Aarav terus sajah membisikan motifasi agar Emly mau bagun. 


"Ini kenapa sih kok ruangan bisa rame kayak gini, udah kayak pasar malem ajah," ucap Intan, sembari mengecek Zawa yang masih pingsan. Rio membisikan sesuatu pada Intan, dan Intan membalasnya dengan mata yang melotot. Sehingga membuat Arzen yang tengah memijit kaki Zawa pun penasaran dengan apa yang mereka omongin.


"Kalian ngomongin apa sih? Bikin aku penasaran ajah," ucap Arzen dengan kepo.


"Zen, kayaknya Zawa pindahin di ruangan lain ajah deh, dan harus rawat inap satu atau dua hari dia darahnya rendah dan harus banyak istirahat," ucap Intan.


"Terus kira-kira Zawa kenapa Tan, apa cuma karena kelelahan atau ada gangguan kesehatan lain?" tanya Arzen tentu penasaran dari tadi Rio periksa jawabnya tanya Intan, dan sekarang Intan yang periksa masa ia nanti jawabnya tanya Aarav kan bikin senewen.


"Kalo soal sakit aku belum bisa katakan dulu, nanti deh kalau sudah di check keseluruhan baru  bisa di simpulkan. Kan semuanya tidak bisa asal ambil kira-kira ajah," ucap Intan dan karena  Intan meminta Zawa di rawat sehingga Arzen pun meminta pada suster agar Zawa di pindahkan ke ruang rawat sebelah Emly.


Intan yang penasaran dengan satu pasien yang sejak tadi Aarav tungguin pun berjalan mendekat, selagi Zawa tengah di urus oleh suster kepindahanya. Intan pun terkejut ketika melihat wanita itu lebih jelas. "Emly... sejak kapan dia kembali, dan keluar dari persembunyianya? Dan dia kenapa?" tanya Intan pada Rio yang kebetulan Rio juga ada di samping Intan. 


"Dia sempat koma, tetapi dia sepertinya tengah berjuang untuk sadar, tanganya sudah mulai bergerak itu tandanya kalo dia tidak lama lagi akan sadar," ujar Rio sekaligus member tahu Aarav dan juga Intan.


Benar sajah apa yang di katakan oleh Rio. terdengar erangan lemah dari bibir pucat Emly. "H... ha... haus..." lirih Emly bahkan Aarav harus benar-benar menajamkan pendengaranya, agar tahu kata apa yang Emly ucapkan.


Baik Rio dan Intan serta Arav saling berpandangan seolah mereka saling bertanya kata apa yang barusan Emly katakan.


Intan dan Rio menggidigkan bahunya tanda mereka pun tidak mendengarnya. "Emly, kamu tadi ngomong apa?" tanya Aarav di samping telinga Emly, Mata Emly memang sudah terbuka tetapi ia seolah tidak mengenali siapa yang ada di hadapanya sehingga Emly tatapanya kosong. Intan dan Rio bisa memahami karena memang ketika bangun dari koma butuh penyesuaian untuk mengingat semua kejadian sebelum ia koma.


"Ha... Haus." Emly mengulangnya dan kali ini tanganya ia angkat sembari menunjuk tenggorokanya, walaupun tidak sampai menyentuh tenggorokanya, sehingga Aarav masih harus berpikir keras dengan apa yang Emly katakan.


"Dady, mamih haus, mamih pengin minum," ucap Meyra yang ternyata lebih paham dengan suara yang hampir menyerupai erangan itu.


"Ya ampun sayang, maaf dady bahkan tidak tau mamih bicara apa. Makasih yah sudah kasih tau Dady dengan apa yang mamih bilang," ucap Aarav, dan dibalas anggukan dan senyum manis dari Meyra. Aarav pun langsung mengambil air minum yang ada gelas dan satu buah sendok untuk memberikan air minum, tentu setelah Rio mengizinkan.


Yah memang Aarav tadi sempat bertanya pada Rio, boleh tidak Emly di beri minum, dan Rio pun mengizinkan. Itu sebabnya Aarav berani memberikan minum.


Satu teguk dan dua teguk air yang Aarav berikan dari sendok. Emly pun meyudahi setelah empat teguk air.


"Intan semakin tidak paham dengan apa yang terjadi selama dua hari dia tidak bergosip dengan Ody. Kenapa Meyra menyebut Emly dengan panggilan mamih?" batian Intan dengan bingung. Dan tidak hanya itu Intan pun merasa sangat iba ketika melihat Emly dengan keadaan seperti itu. Dulu Intan marah dan berjanji akan mengajaknya duel setelah melihat kondisi Emly seperti ini ia pun menjadi iba


*****


Tok... tok... tok... Ipek mengetuk pintu kamar Umi.


Masuk!! Terdengar sahutan dari dalam kamar, dan Ipek pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar umi nya.


"Ko baru dateng? Udah ditungguin dari tadi loh," ucap Umi sembari bangun dari rebahanya dan duduk bersandar di dasbord ranjang.


"Biasa Umi, punya bayi kan harus di urus dulu," ucap Ipek sembari tersipu malu. Padahal ngurus bayi maksudnya memijit, yah sekarang Clovis jadi kebiasaan di pijit sebelum tidur, dan sekarang Clovis sudah tidur karena Ipek sudah memijitnya.


"Hemz... Iya umi tahu, enggak apa-apa semuanya pahala kok," jawab umi dengan senyum bangga, karena itu tandanya anaknya tahu bakti seorang istri.


Ipek pun membalas dengan senyuman.


"Ngomong-ngomong mau tanya apa? Udah ada tanda-tanda hamil?" tanya Umi dengan senyum menghiasi wajahnya yang masih terlihat mudah meskipun sudah memiliki mantu dua orang.


"Mau tanya soal hamil umi, emang kalo ciri-ciri hamil gimana? Kan katanya ada yang bilang mual, pengin makan rujak gitu Umi, tapi Ipek enggak ada tuh tanda-tanda begitu," ucap Ipek dengan polosnya dan hal itu berhasil membuat Umi terkekeh samar.


"Aduh sayang, bawaan hamil itu beda-beda, ada yang kuat ada yang lemah. Ada yang ingin makan ini ada yang biasa ajah enggak pengin makan yang aneh-aneh. Bahkan ada yang lemah, kalo orang bilang mabok, mual, muntah dan badan bawaanya lemas. Tapi ada juga yang enggak merasakan itu semua. Dan mungki Ipek masuk yang tidak merasakan itu semua. Lebih baik di cek ajah dulu kalo sudah ketahuan hamil atau tidaknya kan Ipek bisa jaga-jaga biar enggak terlalu cape. Dan jangan ikut Clovis olahraga dulu. Takut dedenya kenapa-kenapa," ujar Umi menasihati putrinya.


Padahal Ipek ikut olahraga Clovis itu justru yang membuatnya senang dan semangat. Dan juga Ipek tidak ikut olahraga melainkan hanya duduk dan memenuhi isi galery di ponselnya dengan foto-foto Clovis dan vidio ketika melakukan olahraga.


"Kalo di cek harus di mana Umi?" tanya Ipek, ini adalah kali pertama dia mengalami yang umi duga hamil, sehingga Ipek belum ada persiapan apapun. Terlebih pernikahan mereka tergolong masih sangat baru jadi belum ada persiapan untuk cari-cari informasi tentang kehamilan lewat internet. Dan karena uminya yang lebih berpengalaman sehingga Ipek pun mencari info dari umi lebih bagus, seperti itu kira-kira pikir Ipek.


Besok pagi Ipek ke kamar umi yah bangun tidur, ingat jangan pipis dulu!! Pipisnya di kamar mandi umi!" titah umi dengan penuh perintah.


Ipek pun tersenyum dan mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda bahwa ia memang sudah mengerti. "Aduh jadi enggak sabar pengin tahu hasilnya," ucap Ipek sembari menggosok-gosokan tanganya.


"Kenapa enggak sekarang ajah sih Umi? Kenapa harus nunggu besok," ucap Ipek dengan gemas.


"Karena kalo besok pagi-pagi biasanya hasilnya lebih akurat," jawab Umi singkat. "Udah sana bobo, udah malam loh. Nanti Clovis nyariin lagi, bantal gulingnya enggak ada," usir Umi dan membut wajah Ipek jadi merah merona.