Beauty Clouds

Beauty Clouds
Pertemuan



Ruangan yang riuh oleh Ody dan kawan-kawanya, tidak sedikit pun membuat baby boy bangun. Justru si boy makin dibuat terlelap, padahal sudah berapa bibir yang mencoba membangunkanya, dari mencium ringan sampai gemas, tetapi si baby boy benar-benar tidak ingin di ganggu. Mungkin si boy mengira kalau suara rame yang memenuhi ruangan itu adalah nyanyian merdu dari sang Diva Indonesia.


"Rio, loe bikin anak sambil tidur atau gimana kenapa dia tidak mau bangun sama sekali padahal suara kita kalau ruangan ini enggak kedap suara bakal tembus sampai lobby rumah sakit," tanya Arzen heran sama anak si Rio. Di mana kebanyakan bayi kalo berisik akan terusik, kebalikannya anak Rio malah makin nyenyak tidurnya.


Ruangan kembali ramai dengan gelak tawa, mereka mengira kali ini si boy akan bangun, tetapi dia hanya menggerakan tubuhnya menandakan kalau dia masih menginginkan tidur, matanya dibuka sebelah, untuk mengintip kejadian apa yang membuatnya terusik, setelah itu sang bayi laki-laki yang kini menjadi fokus mereka kembali tertidur pulas, seolah tidak peduli banyaknya pasang mata yang gemaz dengan gayanya.


Sungguh membuat yang melihatnya gemas dengan tingkah si boy, sepertinya boy sudah memiliki bakat cool, sehingga tidak tertarik dengan keramaian ibu-ibu komplek.


"Ody yang biasanya tidur, dia memang hobbynya bikin, tapi matanya merem," jawab Rio sembari melirik Ody yang tengah menyisir rambut Meyra sembari dibikin kuncil seperti vidio yang dia lihat. Yah, si kakak, sejak tadi merengek ingin di kuncir seperti vidio yang melintas di beranda sosial media milik bundanya. Mungkin karena bagus sehingga ia ingin kuncir itu.


Ody menoleh ke suaminya yang ternyata tengah menggibahi dirinya. "Loh kok nyalahin Ody sih. Mas Rio juga yang sering tidur, kalo mau main harus di bangunin dulu, mana kalo di bangunin susah, jadi kan nurun ke anaknya gitu," dengus Ody tidak terima, masa di bilang dia yang sering ketiduran, padahal Ody udah merasa menjadi istri yang pandai melayani suaminya.


Obrolan mereka pun terus berlanjut sampai si boy, bangun karena lapar dan haus sehingga pengin minum susu.


"Kamu udah ada tanda-tanda Pek?" tanya Zawa kepo.


"Tanda-tanda apa? Hamil?" tanya Ipek pasalnya takut salah jawab, jadi lebih baik bertanya lah.


"Iya hamil, kok aku belum yah. Padahal aku sudah empat bulan menikah loh, tapi kenapa belum hamil juga yah. Ody dia dulu sekali tabur langsung jadi, kalo aku kenapa lama," ujar Zawa dengan raut wajah sedih. Biar pun Zawa adalah dokter kandungan tetapi dia tetap saja ada rasa iri dan putus asa, takut kalau dia tidak bisa hamil seperti orang tua angkatnya.


Meskipun Arzen beberapa kali bilang tidak akan meninggalkan dirinya, meskipun ia tidak bisa hamil, tetapi ketakutan di jiwanya tetap ada sajah dan tidak bisa dibohongi.


Terlebih kalau ada pasien yang program kehamilan kedia menanyakan apakah sudah hamil atau belum, rasanya hatinya teriris. Bisa memberikan nasihat dan cara-cara agar bisa segera hamil, tapi justru dirinya tidak jua kunjung hamil. Sementara cara apapun sudah ia praktikan agar bisa segera hamil seperti para pasienya, tetapi Tuhan tidak kunjung mengabulkanya, doa pun sudah Zawa dan Arzen kencangkan, tetapi belum membuahkan hasil.


Memang Zawa juga tau bahwa usia pernikahan empat bulan itu masih tergolong baru, dan soal momongan tidak bisa di samakan dengan si A dan si B. Pengalaman menjadi dokter sepesialis reproduksi memberikan dia pengetahuan yang sangat terang benderang. Bahkan ada yang sudah menikah melebihi lima tahun seperti Abang Ipek, Ammar. Menikah sudah lebih dari lima tahun tetapi masih belum di kasih kepercayaan dengan adanya malaikat kecil di tengah-tengah keluarga mereka.


Namun, dalam hati Zawa tetap ada rasa yang mengganjal itu. Terlebih kalau ada pasien atau tetangga dan kerabat bertanya hamil, dan Zawa menjawab belum, mereka seolah kaget. 'Ko bisa, bukanya dokter kandungan. Kirain bakal langsung jadi, kan sudah hatam rumus-rumusnya.' Kata-kata seperti itu yang biasanya membuat Zawa sedih sampai ke ulu hati. Mungkin mereka mengira bahwa seorang dokter tidak akan pernah sakit, mereka lupa bahwa dokter juga manusia. Bisa terkena sakit dan mereka akan berobat juga dengan dokter yang lain.


Namun tidak semua seperti itu, tidak jarang juga pasien-pasienya yang memberikan dukunganya. "Sabar yah Dok, mungkin belum rezekinya, seperti itu kira-kira ucapan mereka. Yang membuat Zawa kembali kuat.


"Ya ampun Dok, baru juga nikah empat hari. Belum ketahuan lah, lagian kalo jadi cuga masih berbentuk cairan kali yah," ucap Ody malah yang lebih antusias menjawabnya, semetara Ipek masih malu untuk membahas seperti itu. Bagi Ipek hal seperti itu tidak perlu di umbar, kecuali kemarin ia sengaja umbar di depan keluarganya. Hanya ingin memberi tahu bahwa ia sangat bahagia dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Sehingga Ipek berani menanggapi ledekan Abang dan yang lainya.


Ody dan Ipek pun memberikan kekuatan untuk Zawa, agar ia sabar untuk menunggu momongan. Karena momongan adalah rezeki, sementara rezeki itu rahasia dari Tuhan hanya butuh kesabaran untuk dapat mendapatkanya.


*****


Di rumah Emly...


"Kamu benar sayang mau ikut kami ke rumah sakit?" tanya Erwin sama Emly yang entah mengapa pagi ini merengek ingin menemui Rio. Emly merasa semakin lama malah semakin mengulur waktu. Dia ingin buru-buru bertemu Rio dan keluarganyanya dan meminta maaf, sekalian mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya. Bukankah ini momen yang bagus batin Emly.


"Iya Pih, Mih, sekarang Emly rasa momen yang bagus deh. Cepat atau lambat semuanya juga segera ia jalani, lalu tujuanya apa? Memperlambat semuanya.


"Ya udah kalo kamu maunya seperti itu, ayo bersiap mumpung masih pagi," ucap Erwin, biarpun ia masih merasa kurang setuju dengan kemauan Emly tetapi Erwin mecoba untuk tetap mengerti apa yang Emly fikirkan. Toh benar juga yang di katakanya semuanya, cepat atau lambat hanya menunggu waktu lalu kalau bisa cepat kenapa mesti menunggu yang lama.


Emly dan keluarganya pun bersiap dan tentunya mereka juga sudah menyiapkan kado buat anak Ody dan Rio. Sepanjang jalan entah mengapa Emly merasa hatinya terasa bahagia. Emly mengira mungkin keluarga Rio akan memaafkanya. Dia berencana setelah dengan Rio urusanya berhasil maka selanjutnya ia akan meminta maaf dengan Zawa.


Emly menggunakan korsi roda di dorong oleh Liana dan Erwin berjalan di sampingnya. Aarav yang habis melakukan pekerjaan di rumah sakit pun masuk rumah sakit dengan terburu, tujuanya adalah ruangan Rio yang ternyata teman-temanya ada di sana dan dia tentu ingin bergosip dengan mereka semua.


"Tunggu jangan di tutup dulu!" pekik Aarav meminta orang di dalam lift tidak menutup pintu liftnya dulu.


Erwin yang awalnya akan menekan tombol penutup lift pun membatalkanya dan menunggu orang yang sepertinya sangat buru-buru ingin menggunakan lift juga.


"Alhamdullillah," batin Aarav, belum tahu siapa yang satu lift dengan dia.


"Terima ka ka... (Aarav tidak melanjutkan ucapanya karena Aarav justru terkejut ketika melihat orang yang berdiri di sampingnya).


Tidak hanya Aarav yang terkejut tetapi ketiga orang itu pun sama halnya lebih terkejut dari Aarav.


...****************...


Readers, othor bawa rekomendasi novel yang bagus nih kalian wajib mampir ya..