
"Iya sayang ini kamar kita, itu ada buket bunga yang tadi siang aku kasih ke kamu dan boneka juga ada tuh. Kamar kita jadi kaya gini karena malam ini malam pertama kita. Jadi dibikin seromantis mungkin dan ini pasti kerjaan Abi juga," ucap Clovis sembari menarik Ipek duduk dipangkuanya.
"Eh... Iya tapi biarin Ipek bersih-bersih dulu yah Bang, gerah pengin mandi," ucap Ipek sembari mencoba bangun dari pangkuan Clovis. Dan Clovis pun tidak melarang alias membiarkan istrinya beranjak dari pangkuanya. Ipek pun perlahan membuka gaun yang lumayan berat itu.
Ipek memegang dadanya yang mana jantungnya memompa darah lebih cepat hal itu memicu darahnya naik ke otak lebih cepat. "Ya Tuhan, aku nggak pernah terfikirkan akan melewati malam pertama dengan laki-laki yang dulu pernah aku puja-puja. Laki-laki yang pernah aku sebut namanya di setiap doaku sekarang laki-laki itu ada dalam satu kamar dengan aku. Rasanya aku deg-degan banget ya Tuhan." Ipek bukanya menyegerakan mandi dan bersih-bersih justru asik mengulang rasa yang dulu dia pernah jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Dalam isi kepalanya, Ipek di penuhi dengan adegan yang dulu pernah ia menyaksikan suaminya itu saling memuaskan dengan para wanita panggilanya. "Gimana kalo aku nggak sehebat para wanitanya dulu yah? Kira-kira Clovis akan marah tidak kalo aku tidak memberikan perlayananan seperti mereka." Ipek lagi-lagi memikirkan hal yang tidak seharusnya di pikirkan. Karena Clovis sendiri sekarang bukan Clovis seperti yang dulu di mana ia akan memilih wanita karena pandainya sang wanita yang menari dengan indah di atas tubuhnya.
Setelah melewati waktu satu jam lebih untuk mandi kini Ipek keluar dengan mengenakan batrobe terlebih pakeian yang ada di kopernya adalah pakeian haram semua.
Intan, Zawa dan Ody pun terkekeh ketika membayangkan Ipek yang mengenakan pakeian haram itu. Yah pakeian Ipek diambil semua oleh mereka dan di ganti dengan lingerie dan parahnya lagi lingerie yang Intan masukan ke koper Ipek adalah pakeian dengan paling minim dan paling transparan.
Ipek tidak membuka batrobe yang di pakeinya karena baju haram yang ia pakai lebih tipis dari sehelai tisu. Hal itu menunjukan pakaian dalam yang Ipek pakai lebih terlihat. Malah seolah tidak ada gunanya ia memakai pakaian itu hal itu karena semuanya transparan.
"Kamu udah selesai mandinya. Kalo gitu biarkan gantian Abang yang mandi." Clovis beranjak bangun dari pembaringan di mana tadi dia tengah istirahat dan merebahkan tubuhnya sampai tertidur beberapa menit, karena menunggu Ipek yang terlalu lama untuk sekedar mandi.
Setelah Clovis masuk ke kamar mandi Ipek membuka Batrobe dan mencoba melihat pantulan dirinya di depan cermin. "Oh apakah ini cara untuk membahagiakan suami," batin Ipek, tetapi geli sendiri ketika melihat tubuhnya yang hanya berbalut pakaian transparan. Tidak lupa Ipek menyeprotkan mintak wangi yang beraroma menggoda dan tentu Intan yang menarunya di sana. Untuk wajah Ipek tidak perlu memolesnya karena wajah alaminya lebih menggoda apalagi dengan pakaian yang bisa memanjakan suami itu.
Kreeekeettt... Pintu kamar mandi di buka dan itu menandakan bahwa Clovis sudah selesai dengan ritual mandinya.
Glekkk... Ipek menelan salivanya dan matanya tidak bisa lepas dari perut kotak-kotak milik Clovis. "Tubuh six pack itu dari dulu selalu terjaga," batin Ipek, dan matanya kali ini ia pejamkan. Otaknya sudah benar-benar tidak bisa dikondisikan.
Clovis yang hanya mengenakan handuk dibagian bawahnya justru senang ketika melihat Ipek kikuk dengan situasi seperti ini.
Clovis memeluk Ipek yang masih berdiri di depan cermin tetapi sudah mengenakan batrobe kembali. Ia memeluk dari arah belakang dengan tangan menjelajah ke balik batrobe yang di pake Ipek. Ingin tangan Ipek menahan agar tangan kekar itu jangan melanjutkanya lagi. Tetapi otaknya tidak bisa dikondisikan. Justru ******* lolos dari bibir tipis Ipek.
Ehhhhaaaaa.... Bibirnya tidak bisa lagi menahan betapa tangan jahil itu benar-benar ahli membuat wanita seolah terbang ke langit kenikm*tan.
Pluuupp... Batrobe yang Ipek kenakan sudah jatuh kelantai. "Jangan ditutupi dengan pakaian tebal ini lagi, karena seperti ini lebih menggoda," bisik Clovis di telinga Ipek. Ipek pun langsung sadar bahwa pakaian tebal yang ia sengaja kenakan untuk menutupi pakaian transparan itu sudah jatuh ke lantai. "Tapi malu, pakaianya terlalu tipis," ucap Ipek sembari tangan-tanganya menutupi area sensitif yang terlihat apabila hanya mengenakan pakaian tipis itu.
"Tidak apa-apa, kaya gini sudah dapat pahala. Karena sudah membuat hati suami senang." Clovis dengan sekali tari sudah membalik tubuh Ipek sehingga kini mereka posisi berhadap-hadapan dan hal itu tidak bisa Ipek sia-siakan dan bibirnyanya langsung mengabsen setiap seng'kal wajah Ipek dari pipi hingga ke bi'bir.
Clovis seolah bermain seorang diri, karena hal seperti ini Ipek dulu dengan mantan suaminya tidak pernah melakukanya.
Kruyukkkkkk... Kruyukkkk... Cacing dari perut Ipek berdemo di tengah-tengah permainan yang sudah membuat panas.
"Kamu lapar sayang?" tanya Clovis dengan tertawa renyah. Ipek langsung sembunyi di balik dada bidang suaminya karena malu. Telah mengganggu pemanasan yang cukup membuat isi kepala memanas.
"Baiklah kalo gitu ayo kita makan dulu. Biar isi tenaga yang banyak dan tidak pingsan ditengah-tengah permainan. Karena permainan kita nanti butuh tenaga banyak jadi harus makan yang banyak." Clovis menutup kembali tubuh Ipek dengan batrobe dan dia akan memesan makanan, karena dia sendiri juga lapar.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Clovis sama Ipek yang sejak tadi hanya memainkan ujung pakaianya.
"Apa saja Bang, yang penting makan dan kenyang," jawab Ipek dengan polos, tidak mau kebanyakan memilih makanan yang justru membuat lama dan cacing di dalam perutnya sudah berdemo dengan riang gembira.
Selama mereka mununggu makanan yang tengah di pesan. Ipek dan Clovis gunakan untuk bercerita dengan hal-hal yang ringan.
"Sayang kamu sempat kesal enggak sih sama Abi kamu yang melarang kita untuk bersatu gitu. Jujur aku itu untuk pertama rasa kesel dengan Abi kamu yang menjodohkan kamu dengan Eric-Eric itu. Sampai sekarang aku masih penasaran Eric itu yang mana sih. Kok kayaknya laki-laki itu tidak datang yah?" tanya Clovis yang baru ngeh bahwa yang disebut Eric itu tidak hadir diacara pernikahan mereka. Padahal yang namanya Eric itu berhasil membuat Clovis cemburu dan marah karena sempat di nilai telah merebut Ipek dari dirinya. Padahal Ipek waktu itu bukan milik siapa-siapa, tetapi Clovis marah karena menganggap bahwa Ipek sudah menjadi miliknya karena wasiat dari Wahid.
Setelah menunggu cukup lama makan malah yang di pesan pun datang Ipek dan Clovis memakan-makanan dengan lahap dan hal itu sebagai persiapan yang akan malah ini mereka gunakan untuk bercocok tanam.
Hanya butuh satu jam mereka untuk menghabiskan makanan yang tadi di pesan, padahal porsinya jumbo-jumbo.
"Kamu kecil tapi makanya banyak yah sayang," goda Clovis yang mana Ipek hampir menghabiskan makanan yang mereka pesan.
"Hehehe... Lapar Abang, jadi lebih baik dihabiskan dari pada pura-pura kenyang padahal perut masih lapar," bela Ipek dengan senyum polosnya.
"Kamu itu lebih pantas pakai-pakaian seperti ini kalau dihadapan suami sayang terlihat sangat s*ksi," ucap Clovis sembari menarik tubuh Ipek agar naik ke atas tubuh kekarnya.
"Abang apa tidak berat?" tanya Ipek yang mana tubuhnya berada di atas tubuh kekar suaminya itu.
"Tidak sama sekali, tubuh kamu itu ringan banget sayang jadi tubuh aku kamu taiki setiap saat juga tidak akan berat," bela Clovis yang mana malah Clovis senang apabila Ipek berada diatas tubuhnya.
"Pemanasan yang tadi sempat tertunda karena cacing yang berdemo kini di lanjutkan lagi. Bi'bir yang tipis berhasil Clovis kuasai kembali. Walaupun Ipek nampak kewalahan mengimbangi Clovis tetapi karena Clovis yang sabar mengajarinya akhirnya Ipek bisa membalas permainan juga bahkan di percobaan ketiga Ipek sudah bisa membalas permain*n lidah yang panas.
Clovis yang sejak tadi selesai mandi hanya mengenakan handuk pun hanya butuh sekali tarikan kini dia sudah polos. "Abang Pekik Ipek manakala melihat Clovis sudah tidak mengenakan penutup di bagian Mr P'nya padahal sejak tadi Ipek sudah merasakan bahwa benda keras itu menusuk-nusuk bagian perut bagian bawahnya. Kini gantian tangan-tangan kekar Clovis tanpa Ipek sadari sudah membuat pakaian tipis miliknya berserakan ke manapun.
Auuuhhh... Ketika beda menyerupai kacang itu berhasil Clovis cicipi. Manis, dan kenyal. Hal itu membuat Ipek memejamkan matanya menikmati sen'sansi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memang janda tetapi dengan suaminya dulu Ipek tidak pernah melakukan perbuatan sejauh ini. Lidah Clovis bergantian mengabsen daging keny*l itu. Sementara Ipek tanpa sadar kedua kakinya merentangkan seolah ia sudah siap menerima serangan yang lain.
No, Clovis belum ingin langsung bermain dengan intinya. Ia lebih senang membuat Ipek merasakan sensansi yang banyak dicari dari sekedar bercocok tanam.
Begitupun tangan Clovis menuntun tangan Ipek agar memainkan adik kecilnya yang sudah keras dan tegap bediri.
Ahhhh... Clovis meng*rang dan memejamkan matanya dengan sempurna dan bibir dia biarkan terbuka. Cukup lama Ipek bermain dengan benda keras itu sampai Clovis pun rasanya naik turun seolah terbang dihempas, terbang dan di hempas seperti itu setiap kali Ipek bermain dengan beda keras miliknya.
"Sudah siap?" tanya Clovis dan langsung di sambut anggukan semangat oleh Ipek.
"Baiklah, kalo nanti merasa sakit atau apa kamu boleh mencakar punggung Abang atau pun me menggigit punggung, lengan atau apa saja yang penting kamu bisa melampiaskan rasa sakit itu, kamu mengerti sayang?" tanya Clovis dengan suara sangat halus dan Ipek pun lagi-lagi hanya mengangguk. Ia sudah siap, Ipek menggigit bi'bir bawah ketika benda panjang nan keras itu mulai berusaha masuk ke area sensitifnya. Tiga kali percobaan itu gagal.
Clovis menghentikan seranganya, ia heran bukankah Ipek itu janda, dan dulu Arzen juga orang yang pertama mengambil ke pera'wananya, tetapi kenapa sekarang ia merasa kalo Ipek seolah masi pera'wan. "Apa dia melakukan oprasi keperaw*nan," batin Clovis dengan menatap heran ke arah Ipek. Apalagi Ipek memiliki banyak uang, tapi buat apa dia melakukan oprasi pera'wan kalo aku sendiri ajah bukan perjaka." Lagi, Clovis berperang dengan pikiranya sendiri.
"Kenapa Abang?" tanya Ipek heran ketika melihat Clovis mematung dengan melihat kearah tubuhnya yang polos tanpa penutup apapun.
"Tidak, Abang hanya heran kenapa sulit sekali gaw*ngnya di b****," ucap Clovis.
Ipek hanya menunduk dengan sedih. "Itu karena punya Abang terlalu besar kali," balas Ipek. Dia yang belum pernah melakukan penyatuan tentu tidak tahu kenapa bisa Clovis gagal untuk melakukan penyatuan.
"Baiklah, kita coba lagi yah," lirih Clovis. Ia tidak mau menyerah dan mencoba, meskipun lagi-lagi meleset tembakanya. Clovis memperkatikan gerak gerik Ipek yang memang seolah dia itu belum pernah melakukan penyatuan. Karena penasaran dan heran kenapa bisa usahanya gagal terus akhirnya Clovis menanyakan pertanyaan yang mengganjal. Terlebih sudah hampir setengah jam ia mencoba penyatuan tetapi gagal terus. "Apa dulu kamu dan Wahid belum pernah lakukan hubungan suami istri?" tanya Clovis akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir s*ksi Clovis.
Ipek menggeleng dengan lemah. Sembari tubuhnya masih di bawah kuk*ngan Clovis.
Clovis mengernyitkan dahinya, heran. Kenapa suami istri tetapi tidak melakukan penyatuan. "Kenapa?" tanya Clovis dengan heran.
"Lalu bukanya dulu kamu dan Arzen pernah menghabiskan malam bersama?" tanya Clovis lagi.
"Tidak aku dan Arzen tidak pernah melakukan hubungan terlarang, saat itu hanya vidio editan yang sengaja aku dan Arzen buat, untuk membohongi Abang," jawab Ipek lagi-lagi dengan menunduk.
"Jadi, artinya kamu memang masih per*wan?" tanya Clovis ada rasa bahagia di hatinya.
Ipek lag-lagi membalas dengan anggukan. Ia takut kalo Clovis akan marah karena ia dulu membohongi dirinya. Namum itu semua salah...
Yes... Yes... Yes....
Clovis lompat dari tempat tidur dengan berjingkrak. Ia terlalu bahagia bahwa istrinya ternyata masih perawan. Ipek menarik selimut untuk menutupi tubuh yang belum jadi di jamah oleh suaminya. Ipek justru heran kenapa malah Clovis bahagia padahal ia sudah membohongi dirinya dulu dan dia malah masih perawan. Sedangkan dulu Clovis menginginkan bahwa Ipek diambil kegadisanya. Namun semuanya terbukti bahwa dulu yang ia dan Arzen adalah hanya sebuah rekayasa.
Clovis setelah lelah berjingkrak kini memeluk tubuh Ipek dan menciumnya berkali-kali.
"Terima kasih buat kado kejutanya, aku sangat suka," ucap Clovis lagi-lagi menciumnya dengan penuh bahagia.
Ipek hanya membalasnya dengan anggukan dan tentu masih dengan sikap yang canggung. Clovis justru seolah bingung mau ngapain lagi malam ini setelah mencoba untuk melakukan penyatuan tetapi gagal, itu semua karena Ipek yang ternyata masih peraw*an. Sementara Clovis justru takut ketika akan mencoba lagi, ia keingat ucapan Intan yang mana Arzen terlalu bersemangat sehingga Zawa meriang dan daerah sensitifnya bengkak serta harus puasa selama seminggu. Clovis takut kalo Ipek juga akan bernasib sama seperti Zawa.