Beauty Clouds

Beauty Clouds
Prank Yang Gagal



Setelah memberi tahu pada semuanya dan Arzen kini tengah bersiap untuk memberikan kejutan untuk calon istri tercintanya. Meskipun ada beberapa teman yang tidak setuju, terutama Chandra yang kasihan dengan Zawa karena pasti Zawa sedih karen rencana gila Arzen. Namun setelah di bujuk dan dirayu dan Arzen memastikan rencananya akan baik-baik sajah. Chandra pun pada akhirnya mengikuti kemauan Arzen.


Sementara Arzen yang tengah di sibukan dengan persiapan kejutanya. Zawa di tempat lain setelah memberi tahu pada keluarganya bahwa acaranya hari ini gagal, hal itu karena Arzen yang tengah berada di luar kota, terlihat sekali kekecewaan di wajah orang tua dan keluarga besar yang membantu mempersiapkan semua acara di rumahnya. Yah, mereka memang sangat kompak mejalankan rencana Arzen. Sehingga Zawa pun merasa bersalah dan kembali murung.


Zawa yang tidak tega melihat kesedihan di wajah keluarganya pun, kembali masuk ke kamarnya. dan ia menangis kembali. Entah lah dia jadi melow padahal, walaupun keluarganya bersedih, tetapi ayah angkatnya memaklumi ketidak bisa hadiran Arzen karena alasan pekerjaan, tetapi Zawa masih merasa sedih. Padahal apabila hari ini gagal, bukanya masih ada hari esok, yang Arzen berjanji akan menepati janjinya, datang kerumah Zawa dan berkenalan dengan keluarga besarnya. Yup, lamaran untuk memastikan bahwa keluarga besar Zawa tidak ada yang keberatan dengan dirinya yang akan meper'istri Zawa, dokter kandungan yang cantik, sopan dan lemah lembut dan satu lagi Zawa kalem alias tidak banyak berbicara sangat berbeda dengan Intan profesi sama tetapi Intan sangat banyak sekali berbicara, bahkan hampir setiap pasien yang datang untuk periksa atau konsultasi hampir semua Intan ajak gibah.


Pukul tujuh rombongan teman-teman Arzen mulai memasuki rumah keluarga Zawa. Sementara Zawa yang kesal karena acaranya tidak jadi diadakan hari ini, ia sudah menghapus make up dan berganti dengan pakaian tidur dan juga lampu kamarnya sudah di matikan, yah Zawa memutuskan untuk tidur saja biar tidak terus-terus mengingat dan merasa kesal dengan acara yang gagal.


Terdengar kehebohan di ruangan tamu di rumah mewah orang tua Zawa, tentu Zawa mendengarnya, tetapi Zawa pura-pura acuh, ia tidak kefikiran sama sekali bahwa yang datang kerumahnya kali ini adalah rombongan Arzen yang akan mendukung acara lamaran yang Arzen buat.


Zawa berfikir yang rame-rame itu adalah team catring atau yang lainya sehingga ia tetap cuek dan pura-pura tidak mendengar, tekadnya sudah bulat ia akan tidur saja dan akan bangun keesokan paginya.


Sementara semua teman Arzen di ruang tamu bercengkrama dan berbasa-basi dengan keluarga Zawa, memang mereka juga sengaja tidak memanggil Zawa agar keluar untuk menemui mereka, keluarganya membiarkan Zawa di dalam kamarnya sampai nanti sang calon suami datang.


pukul setengah delapan sesuai dengan rencana Arzen, ia datang seorang diri dengan membawa buket bunga dan tentunya cincin untuk acara lamaran nanti dan penampilan yang memukau terlihat sekali ketampanan Arzen dan badan yang wangi serta senyum bahagia di wajah Arzen. Setelah mengucapkan salam Arzen bersalaman dan menyapa satu persatu keluarga calon istrinya, tetapi ia gantian di kejutkan karena ia malah tidak melihat Zawa di acara mereka.


"Loh Zawanya mana?" tanya Arzen dengan heran. Seharusnya kalo menurut rencananaya ia ada Zawa tetapi dengan wajah yang menandakan marah, kecewa, kesal, tetapi happy. Namun ternyata malah ia tidak melihat calon istrinya.


"Ngambek dia. Di kamar tidak mau keluar marah katanya sama nak Arzen," jawab ibu dari Zawa.


Arzen nampak panik dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan bahkan rambutnya yang awalnya tertata dengan rapih justru kini terlihat sedikit acak-acakan. Di saat Arzen mulai panik dan mulai berfikir bagaimana caranya ia membujuk Zawa agar mau keluar, di dalam hati semua yang hadir tengah menertawakan Arzen.


Karena pada akhirnya baik Zawa maupun Arzen kena prank semua. Tidak adilkan kalo yang kena prank hanya Zawa sajah sedangkan Arzen masih bisa tersenyum dengan jahil menertawakan rencananya yang dianggap berhasil.


Rio pun mendekat ke arah Arzen, dan meminta agar sahabatnya duduk, karena keluarga Zawa akan membujuk Zawa lagi dia akan mencoba membujuk Zawa agar mau keluar menemui dirinya. Arzen pun yang sudah mulai panik nurut sajah dengan permintaan Rio. Dia duduk bersama teman-temanya.


"Makanya jangan jahil, ngikutin kelakuan Intan segala ngeprank-ngeprank. Kena prang balik kan," batin Chandra, dengan senyum tipis di bibirnya.


Sementara Arzen yang tengah di landa kepanikan, sehingga keringat dingin sudah bermunculan, rasa pedenya yang tadi sangat tinggi kini telah hilang bergantikan dengan kebingungan. Di sisi lain masih di rumah yang sama hanya di pisahkan oleh lantai yang berbeda. Ibu angkat Zawa tengah mencoba membangunkan Zawa, yang ternyata anak itu sudah tertidur, mungkin saking capenya menangis ia sampai tertidur.


"Sayang... sayang... sayang... bangun yuk, kita turun kebawah di bawah ada tamu," ucap Ibu dengan suara sangat lembut.


"Kenapa Bu? Jam berapa ini?" tanya Zawa, matanya masih menyesuaikan dengan cahaya yang ia tangkap, tak hanya itu ternyata kupingnya justru semakin menangkap kegaduhan. Ia sedikit heran kenapa sudah malam orang-orang berisik sekali sih. Padahal tanpa dia sadari ini itu masih sore bahkan belum jam delapan malam, Zawa pikir ia tadi sudah tidur dengan lama, padahal tanpa ia sadari mungkin tidurnya dia masih terhitung beberapa menit.


"Ada tamu yang mau ketemu sama kamu, yuk turun!" ajak Ibu Zawa, dengan sangat lembut.


Zawa pake baju tidur kaya gini," balas Zawa sembari menatap ke tubuhnya yang memakai setelan tidur panjang dengan bahan satin ber gambar salah satu kartun yang terkenal dengan warna pink.


"Enggak apa-apa tetap cantik kok," bujuk Ibu, agar Zawa tidak terlalu lama membuang waktunya. Karena penasaran Zawa pun akhirnya mengikuti kemauan Ibunya. Turun dari ranjang empuknya dengan enggan sebenarnya.


Entah mengapa Zawa jalan saja tanpa mengintip lebih dulu siapa tamu yang ibunya maksud mungkin karena ia masih sangat ngantuk sehingga masa bodo lah siapa tamunya yang terpenting ia temui. Enggak mungkin juga kan Arzen yang datang kan calon suaminya itu lagi kerja ke luar kota.


Tanpa ngaca apakah penampilanya layak atau tidak menerima tamu. Sungguh penampilan Zawa sangat acak-acakan. Mata sembab sisa make up yang masih menempel tebal dan cerepot, karena dibersihkan asal. Rambut yang acak-acakan sangat berbeda dengan Zawa yang biasanya.


Zawa dengan pede langsung turun dan menuju ruang tamu di mana di sana teman-temanya dan calon suami serta keluarga besarnya yang Zawa kira sudah pada pulang tetapi ada di sana, dengan penampilan yang sangat rapih dan sangat berbeda jauh dengan Zawa.


"Astagah," pekik Zawa kaget, begitu Zawa sadar bahwa apa yang terjadi di ruang tamu dan hampir semua pasang mata yang ada di ruang tersebut tertuju pada Zawa. Gadis cantik itu segera berbalik dan hendak kabur kembali kekamarnya. Bagai mana tidak buru-buru akan kabur kalo penampilanya saja sangat tidak layak untuk acara seperti yang akan mereka lakukan.


Yah di pikiran Zawa sudah tahu bahwa Arzen mengerjainya. Buktinya calon suaminya justru ada di tengah-tengah perkumpulan orang-orang itu dengan senyum tampan, tapi khusus malam ini senyumnya terlihat mengesalkan.


Bahkan penampilan Arzen sudah sangat ok hanya rambutnya sedikt acak-acakan.


"Eh mau kemana? Udah jangan kemana-mana. Buruan temui mereka, kasian udah nunggu sejak lama," ucap Ibu dengan senyum terkembang dan jahil.


"Ibu!!!" pekik Zawa yang sudah tahu ternyata semua ini ada andil dari keluarga besarnya.


Ibu pun tertawa renyah, begitu pun yang lain ikut tertawa dengan renyah sehingga ruangan keluarga yang awalnya sepi menjadi riuh, dengan tawa yang menggema.


#Arzen kamu jangan kelamaan main sama Intan sama Ipek deh kasihan Zawa, kena imbas kejahilanmu...