Beauty Clouds

Beauty Clouds
Mencari Jodoh



Ipek menarik nafasnya, ia akan mulai bercerita sesuai dengan apa yang teman-temanya ingin dengar dari dirinya, kenapa ia bisa bersama Arzen.


"Sebenarnya aku pun barengan Arzen belum lama loe Wa, sekitar empat bulanan mungkin. Masih baru banget kan? Aku juga awalnya enggak tahu dia di mana, aku pikir masih sama seperti dulu, ternyata dia juga menyusul jejak aku yang pergi dari kaliaan juga." Ipek menatap wajah temanya yang ternyata mereka tengah menunggu dengan seriuz cerita Ipek.


"Lalu ceritanya kamu bisa ketemu Arzen gimana? Enggak mungkinkan tiba-tiba ketemu begitu saja." Intan tidak sabar mendengar cerita selanjutnya.


"Enggak lah, apalagi aku juga enggak tahu nomor Arzen, dan aku kan yang ganti nomor juga pasti Arzen tidak tau. Aku tahunya dari Tama, yang tiba-tiba jam dua pagi telpon aku mengabarkan kalo Arzen kecelakaan di Banyuharum. Tama bilang Arzen nggak ada siapa-siapa di sana dan dia nggak bisa nyusul Arzen karena ada kerjaan di luar kota juga, posisinya yang lebih jauh dari aku memutuskan dia meminta bantuan aku...


"Tungu-tunggu ini Tama itu yang mana? Apa kita pernah ketemu? Kayaknya namanya enggak asing, tapi kalo aku ingat-ingat lagi enggak ada yang namanya Tama di lingkungan pertemanan kita." Intan mencoba-coba mengingat siapa gerangan Tama.


"Tama itu yang dulu pernah bantuin waktu bikin vidio aku itu Dok, yang dia tukang edit, dan lain-lain dia juga pernah bantu yang cari bukti CCTV waktu kasus Mba Ody yang dokter Rio nggak mau tanggung jawab, akhirnya pake bukti CCTV," ucap Ipek mengingatkan Intan siapa Tama.


"Oh iya aku ingat yang kerjanya bantu intel-intel ngungkap kasus-kasus itu kan? Yang orangnyaa cukup ganteng. Ngomong-ngomong dia udah punya cewek belum Pek, kalo belum bisa lah dikenalin ke aku. Jodohin aku sama dia gitu, emang kamu nggak kasihan liat aku jomblo terus mana yang lain pada punya pasangan aku sendirian ajah," ucap Intan dengan menaik turunkan alisnya.


"Yeh, ngapain jauh-jauh ngejar Tama yang belum kenal. Kenapa nggak sama aku ajah, biar jadi Pak Duda, tapi nggak kalah pesonanya dapat dari pada kejar Tama belum tentu dapat," sela Chandra, menyadarkan Intan kalo selagi ada yang dekat ngapain cari yang jauh, belum pasti lagi.


"Enggk lah sama loe mah udah bosen, dari orok udah main bareng. Maian rumah-rumaahan sampe main papah dan mamah bohong-bohongan masa sekarang jadi teman tidur, enggak mau. Ogah!" Intan memang teman main masa kecil bersama Chandra dan Rio selain sebagai sepupu mereka adalah teman main dan sekolah bersama.


"Tapi kayaknya kalian itu cocok loh Dok, selain profesi yang sama-sama dokter, bisa main suntik-suntikan kalian juga sama-sama bisa saling melengkapi dokter Intan jail dan iseng, dokter Chandra ngayomin. Cocok tuh," ledek Ipek.


"Kalo soal jahil, jangan di bilang Pek, aku dari kecil udah jadi korban dia. Kalo Rio sama dia berantem terus, sedang aku jadi korban kejaahilan dia pokoknya kenyang lah di kerjain dia terus," kekeh Chandra mengingat keisengan Intan yang tidak ada lawan.


"Pek lanjut penasaran nih, obrolan yang lain abaikan saja, kalo perlu biarin Chandra sama Intan suruh kencan ajah berdua di belakang," ujar Zawa dengan melirik ke arah Intan dan Chandra.


"Yeh, ogah banget kencan sama duda," protes Intan, untung Chandra buka tipe yang gampang tersinggung sehingga Intan mau ngomong apa ajah dia nggak ngefek.


"Yah, intinya itu, begitu aku dengar kabar itu langsung menuju Banyuharum untuk nyusul Arzen mana perjalanan sampe belasan jam aku rela tempuh. Waktu pertama liat kaget dengan kondisi Arzen yang beda banget. Ternyata aku baru tahu seminggu sebelum kecelakaan itu Arzen habis kehilangn ibunya, beliau meninggal dunia setelah satu tahu menjalani pengobatan, tapi beliau menyerah, dan membuat Arzen mungkin nggak fokus atau gimana jadi kecelakaan. Selama ini dia banyak menjalani kehidupaan yang keras Arzen yang dulu bos menjaadi seorang Arzen yang pengaangguran karena ia memutuskan merawat ibunya yang tengah sakit dan uang dari hasil jual cafe yang sebagiaan buat biaya pengacara, buat bantu kamu Wa, dan yang sebagian awalnya akan ia gunakan sebagai modal usaha, jadi ia gunakan untuk pengobatan ibunya. Arzen itu sekarang tidak punya apa-apa itu yang membuat dia minder Wa, belum akibat kecelakaan dirinya belum bisa berjalan normal. Meskipun tidak memaakai korsi roda lagi, tapi dia masih harus memakai tongkat untuk bantuan berjalan." Ipek menghentikan ceritanya karena Zawa yang ternyata sudah terisak, menagis mendengar cerita Ipek.


Zawa merasa sangat bersalah karena membiarkaan Arzen melewati kesusahan yang begitu banyak. "Terima kasih yah Pek, kamu sudah membantu Arzen di saat dia sangat membutuhkan uluran tangan. Aku tidak tahu gimana nasibnya Arzen kalo tidak ada kamu," ujar Zawa sembari terisak, bukan hanya Zawa yang sedih Intan dan Chandra pun ikut merasakan kesedihan itu.


"Iya sama-sama Wa, lagian aku dan Arzen itu nggak mungkin lupa begitu saja. Berkat Arzen dulu aku bisa lepas dari orang-orang yang ingin memper-kosa aku maka dari itu aku tidak merasa sama sekali kalo Arzen itu merepotkan aku. Justru dari Arzen aku banyak belajar. Dia itu baik banget, sehingga dia penghuni baru di pesantren Abah tapi penggemarnya sudah banyak. Termasuk ibu-ibu dan gadis-gadis remaja. Makanya nanti kalo kamu udah ketemu langsung minta Arzen nikahin ajah, Kalo tidak bisa-bisa udah keburu di lamar sama ibi-ibu buat anak gadisnya. Apalagi Arzen itu mantu idaman banget, selain rajin, juga masakanya juara." Ipek sengaja membuat Zawa cemburu, benar saja wajah Zawa langsung memerah, gerah dengar omongan Ipek. Sementara Ipek terkikik dalam batinya, karena sudah berhasil membuat Zawa cemburu.


Sepanjang perjalanan mereka berceritya dari yang serius sampai yang asal hanya untuk menghibur, terutama pak supir biar ikut adil dalam obrolan sehingga tidak ngantuk.


Kini Ipek dan rombongan pun sudah sampai di halaman pesantren. Perjalanan yang panjang sudah tergantikan dengan pemandang yang sangat apik sepanjang memasuki desa di mana rumah Abah Ipek tinggal. Terlebih ketika baru saampai halaman pesantren mereka sudah di sambut oleh sosok yang selama ini mereka cari. Yah, ternyata Arzen tengah berada di luar pengantren ikut melakuakn kegiatan bersih-bersih dan mengecet tembok-tembok yang sudah usang.


Zawa sangat terharu ketika melihat sosok laki-laki yang selama ini ia rindukan, sangat-sangat merindukan Arzen. Zawa tidak langsung turu, hatinya yang tengah melow justru menumpahkan air mata semakin deras sehingga baik Ipek, Intan dan Chandra pun belum turun juga. Ipek dan yang lainya memberi semangat juga agar Zawa tidak bersedih, kasian Arzen kalo liat Zawa sedih pasti ikut sedih. Begitu kira-kira motifasi dari mereka.


Arzen yang melihat mobil Ipek datang pun heran siapa gerangan yang kesini, ada perlu apa kalo memang di dalaam mobil itu Ipek, ada perlu apa Ipek datang ksini? Arzen yang penasaran pun mencoba menghampiri mobil Ipek dengan berjalan tertatih menggunakan tongkat penyangga. Kakinya memang sudah tidak di perban tetapi, masih belum bisa untuk menopang tubuhnya yang berat. Kakinya masih pegal daan linu apabila tongkaatnya di lepas. Sehingga Arzen masih tetap menggunakan alat bantu itu.