Beauty Clouds

Beauty Clouds
Nasihat Papih



Ody mulai menggerak gerakan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang silau dan dia mengamati ruangan sekitar.


"Aku di mana, ini bukan ruangan yang kemarin, ini ruangan apa?" batin Ody, dia belum tahu bahwa Mamih dan Ka Luna ada di kamar yang sama juga dengan dia, dan kini tengah mengawasi Ody yang sudah sadar.


"Ody kamu sudah bangun?" tanya Ka Luna langsung menghampiri Ody.


Ody langsung menajamkan penglihatanya pada Ka Luna, dan juga Mamih di sampingnya.


"Kalian, ngapain Anda kesini. Mau buat keributan apa lagi Anda?" Ody mejerit, ia tidak ingin melihat dua orang yang telah membuat ia kehilangan buah hatinya. Andai saat itu semua nggak datang pasti nggak akan kejadian seperti ini.


"Ody, kami hanya mau meminta maaf. Kami sangat menyesal terlebih atas semua yang terjadi dengan kalian, dan sekarang anak kami, Rio pun sama tengah berjuang untuk sembuh. Rio juga sama terpukulnya dengan kamu." Mamih terisak, dan mencoba medekat kearah Ody, tetapi Ody dengan sigap mundur.


"Aku mau cerai dari Rio, Nyonyah, Nona jadi mohon sampaikan pada Rio niat saya." Ody berbicara dengan dingin dan tidak mau menatap mertua dan iparnya.


"Ody, tolong kamu jangan gegabah. Rio itu hanya khilaf, dia sangat menyayangi kamu. Tolong kamu pertimbangkan lagi keputusan kalian," ucap Mamih dengan menagis haru mana kala menantunya ingin bercerai dari anaknya.


Tidak lama Papih masuk dan meminta mamih dan ka Luna untuk keluar sejenak. Papih ingin berbicara dengan Ody empat mata sajah.


"Gimana keadaan kamu Ody?" tanya papih dengan suara berat, tetapi nada bicaranya sangat lembut.


"Baik Tuan," jawab Ody dengan singkat.


"Syukurlah, maaf sebelumnya kita belum kenalan. Saya papihnya Rio, alias papih mertua kamu juga. Sebelumnya Papih tidak tau apa yang terjadi dengan kalian. Namun belakangan setelah ada kasus ini Papih baru paham setatus kalian. Sangat disayangkan Rio tidak bercerita jujur sajah dengan kami, dari awal, Kami rasa bukan kelurga yang anti pernikahan dengan setatus sosial yang berbeda. Papih akan mencoba menerima semuanya. Namun sayang semuanya terungkap setelah kejadian ini. Bahkan Papih sekarang bingung mau memulai menyelesaikan semuanya dari mana dulu." Papih menarik nafas dalam dan membuangnya dengan pelan.


Ody hanya dia mencerna setiak kata yang keluar dari ucapan papih. Ody lebih nyaman dengan papih terlihat sekali sikap papih yang bijaksana, dan penyayang.


"Papih tidak membenarkan sikap Rio, tetapi asal kamu tau dibalik musibah ini ternyata sudah direncanakan oleh seseorang yang benci pada hubungan kalian terutama Rio. Jadi semua disini bisa dibilang korban dari keegoisan orang tersebut." Papih yang sudah menerima hasil dari introgasi polisi pada kasus Ody, sangat yakin bahwa semua ini sudah direncanakan dengan matang.


"Maksud Papih apa?" tanya Ody yang tidak tahu maksud dari omongan mertuanya.


"Jangan biarkan orang-orang yang menginginkan rumah tangga kalian hancur tertawa bahagia, karena tujuanya telah tercapai. Kalian justru harus tunjukan kalo kalian kompak dan tidak akan bisa dengan mudah terprofokasi." Papih terus memberikan nasihat dengan Ody.


"Tapi, saya sulit untuk melakukan itu semua Tuan. Hati saya tidak semudah itu memaafkan semuanya," lirih Ody dengan isakan masih terdengar dari bibirnya.


"Kamu coba, sedikit-sedikit sajah. Kenang kebaikan kalian, dan coba kamu fikirkan dengan baik-baik. Semua orang nggak ada yang sempurna. Pasti ada sajah kesalahanya. Andai kejadian ini dibalik kamu jadi Rio dan Rio jadi kamu. Pasti kamu juga mengharap maaf dari Rio, sama seperti sekarang Rio juga butuh maaf dari kamu, dan dukungan dari kamu juga. Rio mentalnya sedang tidak baik Ody. Dia harus berjuang untuk Ikhlas." Papih pun mulai larut dalam kesedihan mana kala menceritakan kondisi Rio. Bahkan sampai saat ini Rio belum mau makan, dia menyiksa tubuhnya. Namun papih tidak menceritakan kondisi detail apa yang terjadi dengan Rio. Bagi papih Ody bisa mengerti Rio sajah sudah lebih dari cukup.


Ody termenung, dalam hatinya setiap yang dikatakan papih ada benarnya. Ia ingin memaafkan Rio. Namun ucapan malam kejadian itu, masih sangat membekas. Rio menuduh dirinya biang masalah dan meminta berpisah.


Ody hanya ingin mengabulkan permintaan Rio, tetapi apabila yang dikatakan papih benar berati Rio juga sama sangat kehilangan buah hati mereka.


Papih akhirnya pamit dan meninggalkan Ody, tidak lama Intan dantang. Papih pun ingin mimita bantuan Intan setidaknya berbicaralah yang bisa membuat keputusan Ody berubah. Intan pun akan berusaha semaksimal mungkin, karena ia juga tidak ingin membuat hati Ody tambah tertekan. Intan ingin membiarkan Ody memaafkan dari hatinya bukan karena paksaan dari orang lain.


"Hay Dy, gimana udah baikan?" tanya Intan dengan suara yang ceria.


"Udah Dok, hanya paling luka lecet-lecetnya ajah yang masih pegel." Ody menjawab sembari menunjukan beberapa luka lecet ditubuhnya.


"Iya nggak apa-apa nanti juga sembuh, ada yang dirasa selaian luka lecet? Bekas jahitan, atau mungkin yang lainya?" tanya Intan kembali memastikan


"Alhamdulillah kalo fisik hanya luka ringan, dan masih bisa diobati. Yang lagi kurang sehat luka batinya Dok," balas Ody sembari mengelus dadanya.


"Sabar yah sayang, Tuhan terlalu sayang sama kamu. Sampai seolah cobaan untuk menaikan derajatmu sungguh banyak." Intan yang sangat tahu penderitaan Ody dari awal tentu paham betul gimana perjalanan Ody bisa sampai sekarang.


"Iya Dok, aku kehilangan orang-orang yang aku sayang, dari Ayah, Ibu dan sekarang Anakku yang aku belum tahu wajahnya sama sekali juga ikut Alloh panggil. Kadang aku berfikir apa aku tidak pantas bahagia, setiap aku merasakan kebahagiaan sedikit saja, Tuhan cabut lagi dan digantikan dengan kesedihan. Kenapa tidak sekalian sajah aku yang dipanggil agar aku bisa berkumpul dengan mereka yang menyayangiku, Ibu, Ayah, dan Anakku." Ody meracau tidak jelas, meratapi nasibnya.


Menjadi Ody pasti sangat berat perjuangan untuk menggpai bahagia sangat sulit dan terjal, begitu sudah bahagia hanya berlangsung sekejap saja. Kini kebali di uji, akankah ada pelagi dengan awan yang indah setelah badai yang gelap gulita....