Beauty Clouds

Beauty Clouds
Menemui Ipek



Ody mengikuti Intan, lalu merebahkan badanya di bed pemeriksaan dibantu oleh Rio dengan sangat perhatian. Sehingga Intan sangat yakin mereka kini hubunganya sudah membaik. Tentu sajah Intan sangat bersyukur akhirnya Rio mau merubah pendirianya dan menerima Ody sebagai istrinya.


Seperti biasanya intan mengoleskan gel di atas perut Ody dengan perlahan Intan menggerakan transducer dilayar sudah terlihat dengan jelas janin yang sudah mulai tampak dengan jelas organ badanya. Kehamilan Ody sudah memasuki bulan ke empat sehingga kondisi janin sudah tampak sempurna.


Rio pun menatap dengan haru layar yang menampilkan hasil pemeriksaan dengan janin yang aktif bergerak. Sebagai seorang dokter tentu Rio bahwa janinya baik-baik sajah, tanpa harus menunggu Intan untuk menjelaskanya.


"Semuanya bagus, kan udah aku bilang anak kalian itu hebat, kuat, dia itu pemersatu kedua orang tuanya makanya dia kuat. Apalagi Ibunya juga kuat otomatis anaknya juga lebih kuat." Beo Intan dengan merapihkan peralatan yang telah selesai ia gunakan untuk memeriksa Ody.


"Syukur deh Dok kalo sehat, soalnya kemarin sempet kram jadi aga was-was takut terjadi sesuatu dengan dedenya." ujar Ody sembari kembali duduk di hadapan Intan.


"Makanya kalo tempur jangan terlalu semangat biar nggak kram." ledek Intan sembari melirik kearah Rio.


Ody hanya menunduk malu dengan muka memerah.


"Nggak usah malu Dy, biar aku belum pernah parktek dengan yang begituan, tapi soal teori aku jago. Jadi santai ajah, kebutuhan batin itu, iya kan Yo." kekeh Intan, tetap meledek pasangan baru itu. Intan sama Ipek memang julid jadi sangat senang ketika ada kesempatan itu.


"Bawel loe ah." ujar Rio sembari mengajak Ody untuk kembali keruanganya meninggalka Intan begitu sajah.


"Makasih yah Dok," ucap Ody sebelum ia meninggalkan ruangan Intan.


Sementara itu Intan hanya menggelengkan kepalanya. Dalam hati tentu bersyukur ternyata Ody akhirnya mendapatkan kebahagiaanya. Intan adalah saksi gimana keras kepalanya Rio menerima Ody.


"Kamu kalo masih cape istirahat dulu dikamar." ucap Rio sembari menunjukan ruangan pribadinya yang biasa ia gunakan buat istirahat.


"Aku disini ajah, lagian baru bangun juga masa tidur lagi." balas Ody sembari duduk di sova yang berada di sudut ruanganya.


Entah mimpi apa Ody sampai kini, ia bisa duduk di sova bahkan bisa tidur di ruangan pribadi Rio, yang dulu ruangan ini adalah ruangan keramat baginya.


"Enggak kerasa udah empat bulan ajah nih utun," ucap Rio sembari mengusap perut Ody, perhatian yang tidak pernah Ody bayangkan kini justru ia merasakany.


Ody memperhatikan Rio yang tengah sibuk bekerja, ketampananya bertambah ketika ia tengah fokus memeriksa map-map yang bertumpuk dihadapanya.


"Natapnya jangan lupa kedip." ujar Rio yang tau semenjak tadi Ody fokus memperhatikanya.


"Ko tau aku liatin Mas." balas Ody malu.


"Tau lah abisnya sampe nggak berkedip matanya. Suaminya tampan banget yah." ujar Rio sembari menghampiri Ody.


"Tau ah." elak Ody yang malu ketahuan memperhatikan Rio sampai tak berkedip.


"Duh kalo udah merajuk jadi pengin ngajak perang." bisik Rio.


Ody melotot, "Ko perang sih?" balas Ody heran.


"Iya perang di kasur." kekeh Rio. Sembari merebahkan badannya di sova dan tidur di pangkuan Ody, tempat ternyamanya selama beberapa bulan Ini. Rio menciumi perut Ody berulang kali. Ody sudah hapal apabila sudah begini berati tugasnya adalah memijit kepalanya dan Rio akan masuk kealam mimpinya.


Benar sajah tidak lama Ody memijit kepalanya. Kini nafas Rio sudah teratur menandakan ia sudah tertidur. Ody menggeser duduknya dan memindahkan kepala Rio kebantal agar kakinya tidak kram.


"Lama yah aku tidurnya?" tanya Rio begitu ia terbangun dan melihat Ody yang tengah memainkan gawainya.


"Hemz... lumayan, nggak apa-apa ko mau lebih lama lagi juga." jawab Ody sembari terkekeh.


"Mas masih banyak nggak kerjaanya?" kalo nggak pulang yuk, kan tadi udah janji mau ke tempat Clovis, kangen sama Ipek." rengek Ody bak anak kecil yang meminta balon.


"Ya udah nanti Mas cek laporan rumah sakit, sebentar habis itu kita pulang, lalu ketempat Clovis ketemu sama sahabat karibmu." ujar Rio sembari bangun dan berjalan menuju meja kerjanya.


***


"Kini Ody sudah di rumah, begitu masuk rumah ia mencari adiknya, "Ndra panggil Ody sembari menajamkan matanya kepenjuru ruangan. Ody membuka kamar Hendra dan mendapati adiknya tengah seriuas menatap layar laptopnya.


"Lagi ngapain Ndra? Mba panggil sampai nggak denger, saking seriusnya." ucap Ody sembari menghampiri Hendra.


"Ini Mba lagi cari info tentang kampus," balas sembari menunjukan laman pencarian di laptopnya.


"Oh ya udah kalo lagi sibuk. Mba cuma mau bilang nanti Mba mau keluar sama Mas Rio, kamu kalo mau makan langsung ambil ajah yah, nanti Mbok Karti siapin makan malamnya." ujar Ody memberitahukan adiknya.


"Iya Mba, santai ajah. Kalo Mba mau keluar nggak apa-apa keluar ajah senang-senang sama Mas Rio. Hendra di rumah ajah." balas Hendra dengan senyum di wajahnya.


Ody pun kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ketemu sahabatnya. Rasanya nggak sabar mau berbagi cerita sama Ipek. Biasanya selalu mendengar kebawelan Ipek, sudah beberapa hari ini tidak bertemu, bahagiaanya serasa akan bertemu dengan kekasih yang sudah lama LDRan.


"Mas ayo." ajah Ody antusias ketika Ody sudah siap.


Rio melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala Ody.


"Aneh yah?" tanya Ody dengan wajah masam.


"Enggak ko, kamu pake apa ajah tetap cantik." balas Rio, memang pada kenyataanya wajah Ody ayu, sehingga pake apa ajah tetap cantik. Hanya Rio melihat pakaian Ody terlalu sederhana. Ia lupa bahwa dia yang tidak pernah memberikan nafka lahir sehingga Ody harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhanya. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk kebutuhan sehari-hari sajah Ody harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa makan.


Rio mengambil kartu sakti berwarna gelap. "Ini kamu pegang, besok sempatkan waktu buat belanja, beli pakaian yang lebih pantas dipakai berduaan denganku." ujar Rio ia tak ingin penampilan istrinya kumal lebih seperti pembantunya timbang istrinya


"Ini buat apa Mas, kan Ody nggak butuh apa-apa." balas Ody polos enggan menerima nafkah dari suaminya. Dia hanya belum terbiasa mendapatkan pelakuan sepesial dari Rio.


"Kamu pegang, dan beli kebutuhan kamu apa sajah dengan kartu ini. Udah jangan nolak, dosa kalo nolak perintah dari suami." ujar Rio tak ingin memperpanjang perdebatanya dengan Ody. "Ayo pengin ketemu Ipek kan. Kalo nggak jadi ya udah aku balik lagi nih rebahan di kasur." ancam Rio yang melihat Ody masih mematung.


"Eh... jangan, ayo!" pada akhirnya Ody mengambil kartu yang Rio berikan dan kembali bersemangat untuk menemui Ipek.


Tidak sampai satu jam kini Ody sudah berada di depan bar milik Ody, tempatnya beberapa bulan lalu mengais rezeki.


Ody melihat Ipek yang tengah melayani tamu, Ody sengaja tidak mengabari Ipek bahwa ia akan mengunjunginya. Ia ingin memberikan kejutan pada sahabatnya.


"Ipek." pekik Ody ketika ia sudah di depan pintu.


Ipek yang merasa mengenal suara itu pun menoleh kesumber suara, dan benar sajah ia melihat teman yang sudah dianggap sodaranya tengah berdiri di depan pintu dengan merentangkan kedua tanganya dan juga terlihat Rio di belakangnya berdiri dengan cool.


"Mba Ody, tak pikir lama Ipek menghambur kepelukan Ody, rasanya sudah sangat kangen.


Andai bukan karena mengejar cintanya pada pemilik bar tempatnya bekerja, pasti Ipek sudah menyusul Ody untuk resign kerja dan akan menikmati fasilitas di rumahnya sajah.


...****************...


#Mampir juga yah novel baruku judulnya "Jangan Hina Kekuranganku" dijamin ceritanya juga seru loh...