
"Siang pa," sapa Bu dewi, begitu Bu Dewi dipersilkan masuk oleh asisten Aarav.
Setelah obrolah barusan bersama Ipek dan Ody. Bu Dewi langsung bergegas menuju ruangan asisten Aarav untuk membicarakan, kesediaan Ody menggantikan ART sementara dirumah Rio .
"Siang Bu Dewi, gimana udah ada calon yang mau kerja dirumah Bos Rio?" tanya asisten Aarav.
"Udah Pa, dia adalah Ody, Og dikantor ini dan kebetulan bertugas memberisakan ruangan ini juga, mungkin asisten Aarav dan Dokter Rio juga sudah mengenalnya." jelas Bu Dewi.
"Ody yang suaranga serak-serak basah nan se'xsi itu bukan?" tanya Aarav memastikan.
"Ah iya Pa, barusan dia menawarkan diri, katanya dia sanggup bahkan kalo diperbolehkan dia tetap kerja disini dan akan ambil kerja paruh waktu dirumah Dokter Rio, karna Ody sedang butuh banyak uang buat biyaya sekolah Adiknya dan kebutuhan keluarganya dikampung sebagian besar dia yang tanggung. Maka dari itu,dia mau ambil kerjaan yang asisten Arav tawarkan." ujar Bu Dewi.
"Kasian juga dia yah, pasti beban banget hidup dia, tapi emang dia bisa atur waktu buat kerja sekaligus dua tempat, berat loh kerja dirumah dokter Rio," Aarav meyakinkan lagi, agar Ody tidak menyesali atau bahkan kecapean dengan kerjaanya itu .
"Ody sih bilanganya sanggup, makanya kalo boleh saya juga minta kerja samanya buat asisten Aarav agar ,Ody tetap kerja dirumah sakit ini dan selebihnya dia akan kerja dirumah Dokter Rio. Kasian soalnya saya kalo liat Ody, dia anak yang rajin dan pekerja keras, dan juga kerjanya bagus, selalu memuaskan untuk Absensi selama kerja juga nggak ada masalah. Namun, karna suatu sebab dia harus bekerja lebih keras lagi buat mencukupi kebutuhan keluarganya dikampung, dia juga harus membiyayai adiknya kuliah." Bu Dewi meriwayatkan sedikit tetang kehidupan Ody yang malang, tujuanya agar Aarav mengizinkan Ody ambil dua kerjaan.
"Gini ajah deh nanti aku coba bilang sama Bos. Mudah-mudahan beliau tidak keberatan, soalnya kan keputusan tetap ada ditangan Beliau, tapi Bu Dewi tenang ajah, nanti saya coba bantu buat meyakinkan Bos ko, jadi berdoa ajah yah." ucap Aarav yang juga simpati dengan nasib Ody.
"Makasih yah Pa Aarav, saya sedikit lega kalo Pa Aarav mau bantu meyakinkan Dokter Rio." ucap Bu Dewi, dengan senyum diwajahnya.
"Iya sama-sama,nanti bilangin ajah sama Ody. jangan pulang dulu, ada yang aku sama Dokter Rio pengin bahas." ucap Rio memberi tahukan Bu Dewi.
"Baik Pa, nanti saya sampaikan sama Ody.
Kalo sudah selesai pembahasanya, saya mau pamit dulu melanjutkan kerjaan saya," pamit Bu Dewi .
"Oh iya sihkan, nanti saya infokan lewat telfon untuk keputusan finalnya." tambah Aarav.
"Baik Pa," jawab Bu Dewi mengahiri perbincangan mereka. Bu Dewi pun kembali ke pantri dengan hati sedikit lega.
***
Sepamitnya Bu Dewi, Aarav langsung keruangan Rio, guna memberika kabar bahwa sudah ada calon ART yang Rio mau. Tentunya membahas juga kemauan Ody yang ingin tetap kerja dirumah sakit,dan dilanjutkan ambil kerjaan dirumah bosnya.
Begitu Aarav masuk keruangan Rio, ruangan masih kosong.
"Ra, Bos kemana?" Aarav mencoba bertanya dengan Azra sekertaris Rio.
"Biasa kunjugan kepasien rawat, kenapa?" tanya Azra tanpa menoleh ke Aarav.
"Nggak ada yang mau dibahas ajah. Ya udah nanti aku balik lagi kalo dia sudah selesai visitnya. Namun baru sajah Aarav akan balik keruanganya, Dokter Rio munjul dengan wajah lelahnya.
"Tuh, Dokter Rio udah selesai," Azra meinfokan ke asisten Aarav, yang sebenarnya juga sudah liat kedatangan Rio .
"Telat lue, gue juga udah liat." jawab Aarav ketus .
"Yeh kan cuma kasih info siapa tau matanya lagi eror jadi nggak liat," gumam Azra yang masih dapat didengar dengan jelas oleh Aarav .
"Ada apa ini kumpul-kumpul didepan ruangan gue, nggak ada kerjaan apa kalian sampe waktu kerja dipake buat rumpi." tanya Dokter Rio ketus.
"Bukanya ngerumpe Bos, tadi saya cari Anda, ada yang mau dibicarakan, tapi Anda sedang ada kunjungan ke pasien, eh pas mau balik keruangan, tiba-tiba Anda udah selesai, jadi aku tunggu ajah, soalnya ini info penting Bos." jawab Rio dengan nada bicara dibuat seformal mungkin.
"Ya udah ayo masuk, kamu lanjut kerja yah Ra, kalo Aarav gombalin kamu jangan ditanggepin dia emang gitu Playboy." sengaja Rio ngeledek asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Baik Pa, udah kebal juga sama gombalan asisten Aarav, nggak mempan," balas Azra yang sekali-kali melirik sinis ke arah asisten Aarav .
"Suka-suka kalian ajah deh ,mau gibahin aku terus ya silahkan, kalo aku mau kerja kasih laporan atas titah paduka Rio," gumam Aarav sinis sambil mebuka pintu masuk keruangan Rio.
Aarav tau betul dirinya jadi bahan olokan Bos dan Sekertarisnya.
"Rio pun menyusul Aarav masuk, sambil bebisik ke arah Aazra,"marah dia"
"Aazra pun hanya bisa menggidikan bahunya tanda nggak mau ambil pusing," udah biasa ko Aarav gitu tar juga biasa lagi.
Kebersamaan antar Dokter Rio dan asisten Aarav serta sekertaris Azra sudah terjalin lama,dan mereka memang adakalanya melontarkan candaan-candaan dan mereka juga akan seriuz ketika sudah menyangkut kerjaan .
...****************...
#Terimakasih buat yang sudah mampir❤