
Tiga hari paska kecelakaan malam itu kini telah berlalu, kondisi Ody semakin membaik, tetapi ia bingung akan pulang kemana setelah dokter yang menanganinya mengambarkan bahwa hari ini Ody sudah boleh pulang, pasalnya ia tidak memiliki tempat tinggal sendiri. Pulang ke rumah paman dan bibinya terasa sangat tidak mungkin. Pasti mereka sangat mencemaskan Ody. Memberi tahu Hendra pun sangat tidak mungkin, pasalnya pasti Hendra akan marah dan kembali memancing keributan dengan Rio.
"Kenapa Dy, kayaknya bingung banget?" Intan yang baru sajah masuk pun heran melihat Ody melamun di balik jendela.
"Dok, kalo untuk sementara aku tinggal di rumah dokter boleh nggak?" Dengan ragu Ody bertanya pada Intan. Pasalanya hanya Intan yang selalu baik dengan dia.
"Kenapa nggak boleh, kamu sama Ipek itu udah aku anggap sebagai sodara sendiri. Jadi kalo butuh bantuan kamu tinggal bilang sajah. Aku pasti bantu kamu ko." Intan dengan senang hati menerima Ody menginap di rumahnya, apabila Ody lebih memilih ia sebagai teman untuk berbagi keluh kesahnya.
"Dok, ngomong-ngomong Ipek kemana yah? Sudah lama nggak ada kabar. Aku pun sudah berulang kali mencari kabar, menelepon, berkirim pesan, tetapi tidak ada kabar dari Ipek, apa jangan-jangan dia marah yah sama aku jadi dia nggak mau terima pangilanku?" Ody merasa ada yang beda dengan Ipek, tiba-tiba sajah menghilang.
"Bukan hanya kamu Ody yang telpon dan pesan tidak diangkat sama tuh anak. Aku, Arzen dan yang lainya pun sama kehilangan jejak Ipek." Intan pun merasakan hal yang sama dengan Ody. Kangen dengan keusilan Ipek, biasanya kalo mereka bersama selalu sajah berantem dan selalu ada keisengan diantara mereka tetapi ketika Ipek pergi sangat berasa kehilanganya.
"Oh... kirain hanya sama Ody saja Ipek nggak mau angkat telpon dan balas pesan. Kira-kira kenapa yah Dok, ko tiba-tiba Ipek seperti berubah gitu." Ody yang melewati banyak kisah dengan Ipek tentu merasa kehilangan dengan sosok yang sangat berjasa diantar mereka. Terlebih teman pertama yang Ody temui adalah Ipek.
"Sepertinya tentang kisah cintanya yang nggak berjalan mulus, terlebih banyak yang terjadi dengan Ipek selama ini. Mungkin itu yang membuat dia memutuskan untuk menenangkan diri. Saat ini ia tengah menenagkan dirinya, tapi aku yakin suatu saat ketika dia sudah bisa melewati masa sulit ini, pasti Ipek kembali." Intan lebih bisa memahami keputusan Ipek sebab Intan sangat tahu gimana perjuangan Ipek selama ini.
"Kenapa Dokter sepertinya sangat tahu dengan Ipek? Apa ada banyak kejadian yang aku lewatkan sampai aku merasa sangat jauh dengan Ipek?" Ody mulai penasaran dengan Ipek.
Intan pun mulai menceritakan semua yang terjadi dengan Ipek dan Clovis sampai Arzen dan kekasihnya.
Setelah mendengar cerita dari dokter Intan Ody merasa sangat jauh dengan Ipek, dan sangat payah sebagai teman. Di mana selama ini Ipek selalu ada dikala Ody susah, namun kenapa ketika Ipek kesusahan Ody tidak ada.
"Kenapa aku merasa gagal sebagai teman yah Dok, apa aku sepayah itu sebagai teman. Sampai aku tidak tau sama sekali apa sajah yang terjadi pada Ipek?" Ody menunduk, sangat jelas terlihat kesedihan dalam raut wajahnya.
"Bukan kamu gagal menjadi teman. Namun, Ipek yang meminta agar merahasia kan semua kejadian ini dari kamu. Ipek saat itu takut kamu kenapa-napa. Kamu saat itu masih hamil, dan bisa sajah dengan masalah yang Ipek alami kamu jadi setres dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka dari itu kami sepakat merahasiakan dari kamu. Namun saat ini kamu harus tahu bahwa kami melakukan itu semua karena kami sayang sama kamu. Bukan karena kami tidak menganggap kamu sebagai teman," balas Intan dengan sangat berhati-hati agar Ody tidak tersinggung.
Rio bukan gila atu setres, hanya sajah ia terlalu merasa bersalah dengan semua kejadian yang sudah menimpa keluarga kecilnya. Rio bahkan ingin menyiksa tubuhnya dengan tidak mau makan. Kondisi ini semakin menambah lemah tubuhnya.
Mamih dan Papih sangat cemas dengan kondisi Rio. Namun, mereka juga tidak bisa berbuat banyak sebab semua usaha telah mereka lewati tetapi belum membuahkan hasil.
"Mih, Rio pengin ke makan Angel, pengin liat Angel." Rio berkata dengan sangat lirih empat hari tubuhnya tidak mau makan sesuatu sehingga badanya sangat lemah.
"Rio boleh ke makam Angel, tapi makan dulu yah. Bagaimana mau ke makam, kalo untuk berjalan Rio tidak kuat?" Mamih merayu Rio agar mau makan walaupun hanya sesuap atau dua suap.
"Tapi Angel saja tidak makan Min, Rio tidak tega liat Angel sendirian di sana. Rio mau menemani Angel." Rio terus meracau ingin bertemu Angel. Hal itu membuat hati Mamih dan Papih sakit. Andai bisa di putar waktu pasti Mamih tidak akan marah terhadap Ody dan akan menerima semuanya.
Penyesalan yang kini tertinggal dari semua tragedi yang beruntun terjadi pada keluarga Rio. Mamih menyeka air matanya. Entah usaha apa lagi yang akan mereka lakukan agar Rio menerima takdirnya. Menerima bahwa Angel sudah tidak ada lagi.
Mamih terus membujuk Rio agar mau makan dan mamih berjanji akan membawa Rio menemuai Angel dimakamnya. Namun tentu sajah hal itu akan dilakukan andai Rio mau makan.
Setelah melewati rayuan yang sangat panjang akhirnya Rio mau makan bubur yang sangat lembek.
Di tempat lain Ody pun sama tengah merayu Intan untuk membawa dirinya mengunjungi makan Angel nama yang baru Ody tau. Ternayata Rio memberikan nama Angel untuk putrinya. Nama yang sudah sejak lama Rio siap kan untuk putrinya ketika sudah lahiran, namun ternyata justru nama itu terpahat di batu nisan.
"Ayolah Dok, Ody sudah kuat dan pasti kuat untuk melihat makam Angel. Bahkan sebelumnya Ody juga kuat menyaksikan makam kedua orang tuanya yang dia tidak menyaksikan ketika wafatnya, dan itu semua Ody bisa lewati semua. Ody juga yakin akan kuat ketika melihat makam Angel nanti.
"Baiklah kalo kamu memaksa dan ingin bertemu Angel, nanti sore kita akan kunjungi makam Angel. Pasti Angel sangat bahagia ketika melihat Bundanya datang," ucap Intan.
Ody pun mengangguk, ia sudah sangat ingin mengunjungi Angel. Ody berjanji akan menerima semua ini, walaupun hatinya masih sakit, namun ia yakin bisa melewati semua ujian yang telah Allah berikan.