Beauty Clouds

Beauty Clouds
Misi Ipek



Ipek yang beberapa saat lalu murung bahkan untuk makan pun harus disiapkan oleh umi dan diantar ke kamarnya. Kini justru pagi-pagi dia dengan bergembira dan berdendang lagu kesayanganya. Sembari berjoget, mengeol-geolkan pinggulnya bak penyanyi dangdut profesional.


"Eh... eh... itu anak gadis Abi ko kaya gitu kelakuanya." Abi kaget melihat kelakuan Putrinya.


"Sayang kamu kenapa sih, ko kelihatanya happy bener," tanya umi yang ikut seneng ketika anak kesayanganya kembali ceria.


"Jelas dong Mi, Ipek kan lagi berbunga-bunga kerena sebentar lagi misi Ipek berhasil," pekik Ipek, sembari berjingkrak gembira.


"Misi apa si De, roman-romanya bahagia bener?" tanya Abang Ipek nggak mau ketinggalan informasi.


"Ra-ha-si-a..." Ipek memenggal kata dan menekankan setiap pemenggalan katanya. "Pokoknya misi kali ini kalo berhasil Ipek bakal masak intimewa buat semua yang ada disini," janji Ipek dengan penuh keyakinan.


"Jangan!!!" Teriak mereka serempak, pasalnya apabila Ipek memasak mereka bisa-bisa sakit perut semua. Ipek itu payah buat masak, bahkan sangat payah.


"Hahahaha... Kenapa? Padahal Ipek udah jago loh buat masak," ujar Ipek dengan menyombongkan diri.


"Enggak usah deh sayang, kamu nggak usah masak-masakan. Biar kepandaianmu buat nanti ajah masakin suami kamu. Kalo urusan masak sekarang serahkan sama Bunda. Masih sanggup ko Bunda buat masakin kalian," ucap Bunda dengan sangat halus agar tidak menyakiti perasaan putrinya.


"Ok deh Bundaku yang cantik, Ipek nggak jadi masakin kalian." Ipek terkekeh sendiri, padahal ia sengaja mengerjai keluarganya. Lagian mana mungkin Ipek mau berkotor-kotoran di dapur, lebih baik nonton drakor di kamarnya dari pada memasak.


"Bi, nggak ada niatan buat beliin Ipek mobil baru gitu?" tanya Ipek dengan menyindir Abinya. "Biasanya Abi yang paling rajin nawarin Ipek buat ganti mobil. Ko sekarang kayaknya sepi-sepi ajah." Ipek masih melanjutkan sindiranya.


"Emang kamu mau mobil apa?" tanya Abi dengan sangat halus.


"Ngapain beli mobil baru de, itu pake punya Abang ajah kan ada dua. Lagian Abang juga kan nggak langsung pake dua mobil. Satu ajah nggak abis-abis.


"Apaan masa bekas Abang mobilnya. Mentang-mentang ade, apa-apa lungsuran kakanya," cicit Ipek tidak terima disuruh pake mobil Abangnya. Biarpun mobil Abangnya juga nggak kalah keren dan masih baru-baru.


"Yeh, bersyukur kamu De, dikasih lungsuran mobil. Noh orang-orang mah ada yang dikasih lungsuran baju yang udah luntur warnanya masih mau pakenya," sungut Abang Ipek.


"Beda cerita, dan kondisi Abang.... kalo Abikan mampu dan mau membelikan anak kesayanganya mobil baru, jadi kenapa kayaknha Abang yang nggak suka. Iya kan Bi, masih mampu belikan Ipek mobil baru dan yang mewah." ucap Ipek dengan melirik ke arah Abangnya menunjukan kemenangan.


"Iya nanti Abi belikan, kamu pilih ajah mau mobil yang mana," balas Abi pasrah, mana bisa Abi menolak kemauan anak kesayanganya.


Wleee...


Ipek menjulurkan lidahnya pada Abangnya menandakan kemenanya. Yah biar pun Ipek tidak bekerja tetapi ke empat Abangnya selalu memberikan haknya dengan sangat adil. Mereka benar-benar memanjakan Adiknya begitu pun orang tua Ipek yang juga sangat memanjakan anak perempuan satu-satunya. Namun, hebatnya Ipek meskipun ia dimanjakan oleh Keluarganya dia tidak tumbuh menjadi gadis yang sombong dan arogan. Justru selama ini Ipek malu apabila terlehat sebagai orang yang kaya raya. Ia sejak sekolah selalu merendah dan memperkenalkan dirinya sebagai anak dari salah satu maid yang bekerja di rumah besar orang tuanya. Ipek juga tidak malu dan segan apabila harus membeli jajanan yang didepan sekolahan, seperti cimol, cilok, telor gulung, papeda dan lain-lain.


****


Di kediaman Rio mereka tengah sarapan dengan menu masakan Ody. Yah, ibu hamil satu ini justru sangat senang mencium bumbu yang ditumis, sehingga urusan masak Ody semua yang lakukan. Rio tentu awalnya menghawatirkan kalo nanti istrinya kecapean, tetapi justru Ody ketika Rio larang memasak jadi sedih dan muring. Akhirnya Rio mengalah dan membiarkan Ody memasak. Dengan catatan tidak boleh terlalu cape. Tentu Ody menyanggupinya dan kembali ceria.


"Ndra kamu udah dapat kampus mana yang jadi pilihan kamu untuk melanjutkan kuliahmu?" tanya Rio ditengah-tengan sarapan mereka.


"Udah Mas, rencananya nanti Hendra mau liat-liat sekalian daftar jadi mahasiswa pindahan."


"Kamu kesananya naik apa? Biar Mas suruh sopir buat mengantarkan kamu ke kampus pilihanmu, atau kamu mau Mas belikan kendaraan?" tanya Rio.


"Engga usah Mas, biar Rio naik angkutan umum sajah. Sekalian liat-liat kota Jakarta," tolak Hendra dengan halus agar tidak menyinggung perasaan kaka iparnya itu.


"Apa kamu bisa Nda, Mba takut nanti kamu malah nyasar lagi?" tanya Ody. Tentu ia cemas pasalnya Hendra baru pertama kali menginjakan kakinya di Jakarta.


"Mba tenang sajah, lagian sekarang udah ada map bisa tanya juga kalo bingung sama warga. Lagian Hendra kan laki-laki masa takut. Justru biar Hendra mandiri dan tidak bergantung dengan Mas Rio, Hendra harus bisa sendiri ke kampus," ucap Hendra dengan yakin.


"Ya udah kalo mau kamu gitu, biarin ajah Dy, biar Hendra juga nyari-nyari pengalaman dan pergaulan. Asalkan kamu harus tetap jaga pergaulanmu. Jangan sampai terbawa kepergaulan yang gelap," Pesan Rio pada adik Iparnya. "Nanti kalo ada apa-apa kamu hubungi Mba ajah kalo nggak keMas juga boleh," imbuh Rio.


"Iya Mas pasti Hendra nggak akan mengecewakan Mba Ody dan Mas Rio." Hendra berjanji.


Sarapan pun telah selesai kini saatnya Rio untuk berangkat kerja dan Ody mengantarkanya ke terelas depan seperti biasa.


"Mas, gimana Mas Rio sudah memerintahkan orang untuk mencari tahu siapa kira-kira yang memata-matai kita kemarin?" tanya Ody mengingatkan Rio, barang kali suaminya lupa.


"Nanti Mas akan minta bantuan Clovis, dia kan punya banyak orang-orang kepercayaan yang akhli dalam hal semacam itu. Mas pasti akan cari tau terus, terlebih ciri-ciri yang kamu sebutkan sudah lengkap tinggal menunggu waktu sajah semuanya bakal terungkap," jawab Rio dengan yakin.


"Tapi kira-kira Clovis bisa dipercaya tidak? Nanti malah dia nggak amanah lagi." Ody ragu dengan royalitasan Clovis.


"Tenang sajah sayang, Clovis selama ini selalu berhasil mengerjakan apa yang Mas perintahkan. Jadi kamu nggak usah khawatir, Clovis sudah terpercaya cara kerjanya," Balas Rio dengan yakin.


...****************...


#Mampir juga ke karya Othor yang kedua judulnya "Jangan Hina kekuranganku"Ceritanya juga nggak kalah seru loh.