Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebahagiaan Clovis



Selesai sarapan Ipek kembali ke kamarnya dia lalu menghubungi nomer Tama, seolah ia sudah tidak sabar untuk memulai misinya.


"Hallo, tumben Pek telefon ada apa?" tanya Tama dari sebrang telfon.


"Engga, kamu lagi sibuk nggak Ma, kalo nggak aku pengin ngobrol sama kamu, nggak kopi darat sih via telpon ajah, bisa nggak?" tanya balik Ipek.


"Sekarang aku masih ada kerjaan, gimana kalo nanti aku sudah selesai kerjaanya gue bakal hubungi balik kamu," usul Tama.


"Boleh deh, sesempatnya kamu sajah yah Ma." Ipek pun menutup telefonya dan dia merebahkan badanya di kasur yang empuk, semenjak ia tidak bekerja lagi, kini kerjaanya hanya rebahan di kamar dan makan, menikmati perannya sebagai tuan putri.


****


Rio yang baru saja sampai di rumah sakit ia bergegas memasuki ruanganya.


"Hari ini ada rapatnya Ra?" tanya Rio pada sekertarisnya, Azra.


"Ada Pak, tapi nanti sore sekitar jam dua, rapat dengan beberapa suplayer alat medis," jelas Azra dengan ramah.


"Baik lah." Rio masuk keruanganya. "Masih ada waktu satu jam lagi buat mulai praktik, ok aku hubungin Clovis dulu, untuk mencari tahu siapa yang sudah membuntuti Ody dan Ipek kemarin? Apa mungkin Emly berulah lagi?" Rio bergumam seorang diri.


"Kemana sih ini Clovis, kenapa aku telpon nggak diangkat-angkat. Apa iya jam segini dia masih perang sama wanita bayaranya," oceh Rio yang kesal karena telponya tak kunjung di balas.


Dilain tempat Clovis yang merasa misinya berhasil semalaman ia berpesta bersama para kupu-kupu yang menemaninya merain kesenangan duniawi, seolah sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah bisa dihindari maka ketika kesenagan datang disanalah ada kupu-kupu yang selalu menghangatkan tubuhnya.


Menjelang pagi hari Clovis baru tertidur setelah beberapa kali mencapai pelempasanya. Clovis terbangun ketika suara telepon dengan nyaring berhasil membengkakan telinganya.


"Siapa sih pagi-pagi gangu ajah orang tidur," omel Clovis yang berusaha bangun dan menggapai ponselnya.


"Hallohhhh!!!" Sapa Clovis dengan suara setengah membentak, tanpa melihat siapa yang memanggilnya dan juga mata masih sangat berat untuk ia buka.


"Wey, sellow bos, pagi-pagi udah ngegas ajah, enggak dapat service memang semalam sama sikupu?" Ledek Rio.


"Bukan nggak dapat justru terlalu banyak dapat, jadi pagi-pagi gue baru tidur. Lagian ngapain sih loe tumben telepon gue. Ganggu kenyamanan ajah, orang lagi enak-enak tidur loe ganggu," sungut Clovis, menumpahkan kekesalanya pada Rio.


"Lagian loe mah rakus sih, sekali ajah udah lemes ini sampe pagi buat mendaki gunung, kayak nggak ada hari esok ajah." Rio tak mau kalah memberikan wejangan pada temanya itu.


"Tau ah, perasaan loe mah seneng nggak seneng tetep ajah bawaanya buat nyenengin cewek yang haram buat di sentuh. Gue butuh bantuan loe kira-kira loe bisa kan kerahin anak buah loe buat cari orang yang kemarin mata-matain istri gue?" tanya Rio, dia enggan menanggapi ocehan Clovis. Mengingat waktunya terbatas sebentar lagi dia akan praktek pula.


"Siapa yang dibuntutin orang? Ody? Memangnya kronologinya gimana? Ada ciri-ciri yang ngikutin Ody?" tanya Clovis dengan serius.


"Justru itu gue belum punya perkiraan siapa kira-kira otak dibalik ini semua. Yang gue takutin ada Emly dibalik semua ini makanya gue minta anak buah loe buat nyelidikin ini semua, kalo ciri-ciri kemarin Ody udah jelasin dan udah gue rekam nanti loe liat sajah ciri-cirinya siapa tau loe masih hafal orang-orang suruhan Emly. Kalo gue jujur curiganya sama dia, tapi biar pasti ajah gue minta loe cari tau siapa dibalik dalang semuanya. Soalnya aku nggak mau ada sesuatu yang terjadi sama istri gue. loe tau kan," dengus Rio.


"Ya udah mana ciri-cirinya biar gue bisa cepat cari tau pelakunya," pinta Clovis dengan santai. Rio pun mengirimkan rekaman Ody yang tengah menceritakan kejadian kemarin ketika diikuti oleh orang misterius. Terlihat dari cerita Ody bahwa Ody dan Ipek sangat ketakutan sehingga mereka memutuskan pulang lebih awal.


Hahahahahaha.......


Clovis justru tetawa puas setelah melihat rekaman dari Rio, hal itu membuat Rio merasa aneh.


"Kenapa loe malah ketawa, kan ini mah keadaanya genting malah loe tertawa lagi," oceh Rio, yang merasa Clovis aneh.


"Bilangin sama Ody, nggak usah harus takut atau parno. Yang dia kira mata-matain itu cuma kerjaan orang iseng. Gue pastiin Emly nggak terlibat dalam hal ini. Mereka hanya iseng ajah, hal kaya gini biasa terjadi di mall besar," ucap Clovis mengalihkan obrolan agar Rio tidak curiga bahwa yang mengikuti Ody dan Ipek adalah orang suruhanya.


"Loe yakin, awas ajah kalo sesuatu terjadi sama istri gue, loe orang yang gue cari," ancam Rio.


"Iya loe boleh maki-maki gue kalo memang orang-orang itu ada niatan jahat sama Ody," balas Clovis dengan yakin.


Setelah memastikan Rio percaya bahwa orang yang mengikuti Ody ada lah orang iseng kini sambungan telefon pun terputus.


Hahahaha....


Hahahaha....


Hahahahha...


Clovis langsung tertawa terbahak-bahak ia membuang telfonya entah kemana, kini hatinya tengah berbahagia. Rasa ngantuk yang tadi sempat berat untuk dihilangkanya, justru sekarang menguai entah kemana.


"Keberuntungan sedang berpihak pada gue, selangkah lagi Ipek akan hancur. Baru pemulaan sajah loe udah ciut, udah ketakutan kaya anak ayam kehilangan indulnya." Clovis pun lagi-lagi tertawa dengan bahagia. "Rasanya tidak sabar melihat Ipek menangis menyesali perbuatanya yang telah lancang mencintai ku dan juga selalu membalikan setiap perkataanku." Seringai licik terpancar dari wajah Clovis.


...****************...