Beauty Clouds

Beauty Clouds
Bangkai Mulai Tercium



Disebuah rumah mewah...


Emly yang baru membuka ponsel dan melihat beberapa pesan dari nomor baru.


"Pesan dari siapa ini?" lirih Emly, karena penasaran Emly membuka pesan itu, betapa kagetnya Emly ketika melihat pesan itu yang berisi foto-foto Rio dan Ody yang tengah melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang tergolong sederhana namun terasa sangat sakral.


Walaupun Emly udah tahu pernikahan Rio dan istrinya tetapi ketika melihat foto-foto itu, Emly kembali kesal dan panas hatinya. Ia mengepalkan kedua telapak tanganya dengan keras. Rasa sesak di dadanya begitu terasa. Tanpa sadar Emly menitikan air matanya.


Emly melempar ponselnya dan melempar benda-benda yang berada diatas meja Riasnya.


"Ah... Bajing'an kamu Rio, berbahagialah kalian semua sekarang. Tapi aku pastikan secepatnya kalian akan menangis dan tercerai berai. Persahabatan kalian hancur, dan hubungan kalian pun hancur. Aku berjanji." Emly bergumam dengan tatapan membunuh menatap ke kamar Rio.


Yah, kamar Emly menghadap langsung ke kamar Rio, sehingga Emly bisa mengawasi Rio dari jarak rumahnya. Terlebih Emly menggunakan teropong, yang bisa melihat jarak jauh dengan jelas.


Mbok Zuha yang mendengar kegaduhan dari kamar majikanya langsung berlari dan merangsak masuk ke dalam kamar Emly.


"Non, kenapa bisa begini?" tanya Mbok Zuha yang melihat kamar Emly acak-acakan.


Emly yang melihat Mbok Zuha, yang sudah ia anggap sebagai keluarganya, langsung menghambur ke dalam pelukan Mbok Zuha. "Mbok, aku sakit hati! Aku benci sama Rio, dan teman-temanya," rancau Emly. Mbok Zuha dengan telaten mencoba menenangkan majikanya.


Hanya Mbok Zuha yang bisa menenagkan Emly. Setelah Emly merancau dan menangis kini Emly sudah sedikit tenang.


"Non, duduk dulu yuk!" Mbok Zuha menuntun Emly keranjang tidurnya. Mbok Zuha menumpuk bantal menjadi tinggi agar Emly bisa sandaran dengan nyaman. "Non ada yang pengin dimakan, biar Mbok ambilkan." Mbok Zuha kembali bertanya pada Emly mungkin sajah ia menginginkan sesuatu untuk mengobati kemarahanya.


"Aku pengin Empek-empek ajah Mbok, tolong belikan yang aga pedes yah Mbok," ucap Emly, tiba-tiba iya menginginkan makan kudapan Khas palembang itu. Rasanya segar apabila pikiran lagi panas di obati dengan satu porsi empek-empek, yang sedikit pedas....


"Baik lah, Mbok Zuha beli dulu yah," pamit Mbok Zuha dengan ramah.


Emly hanya mengangguk samar. Di dalam kamar dirinya memikirkan gimana caranya ia bisa meyakinkan dan menghasud mamih Rio agar membenci Ody dan membuat kegaduhan dengan foto-foto pernikahan Rio.


Emly memejamkan matanya, mencari solusi dari setiap masalahnya. Emly memang sudah menyusun rencana-rencana itu dengan matang dan tanpa terendus siapa pun. Bahkan Zawa sendiri tidak curiga denganya.


Kesempatan Emly untuk membalas dendam memang sangat terbuka lebar, tetapi ia kali ini sangat berhati-hati sehingga tidak mau gegabah. Walaupun berkali-kali kesempatan untuk menyelakai Rio atau Ody terbuka lebar. Namun, Emly kembali mengingat rencananya bukan untuk Rio dan istrinya sajah, tetapi untuk para sahabatnya juga. Untuk apa menghancurkan Rio dan keluarga kecilnya, kalo teman-temanya masih kompak, sehingga bisa sajah temennya mencari bukti dan menemukan bahwa semuanya adalah ulahnya. Yang ada malah mereka membalas dendam lagi dengan dirinya. Tidak... tidak... itu buka tujuan Emly.


Tujuan Emly adalah menghancurkan Rio dan keluarganya. Serta persahabatanya, sehingga mereka semua akan sibuk dengan urusan masing-masing, dan Emly tidak akan tercurigai sebagai otak dari kericuhan ini.


"Yah... yah... begitulah rencana ku," kekeh Emly.


Lalu apa yang akan Emly lakukan dengan Aarav, kenapa seolah ia tidak membuat kegaduhan dengan laki-laki yang telah menghamilinya.


Tentu Emly juga sudah membuat rencana untuk Aaraven. Anaknya! Yah, Emly akan membalas Aarav dengan anaknya.


Emly kembali terkekeh dengan rencana-rencananya.


"Rasanya aku tidak sabar menanti hari menyenangkan itu," batin Emly. Ia kembali terkekeh dengan tangisnya....


#Serem sih kamu Emly. Author jadi takut....


****


Di sebuah rumah kontrakan yang terletak dipinggiran ibukota.


"Apa ini Cindy, coba kamu jelaskan apa arti pesan ini?" tanya Doni dengan wajah memerah menahan kemarahanya.


#Fleshbeck on


Yah, Doni yang sejak bertemu dengan Rio dan Ody. Mempertimbangkan setiap ucapan Rio, dan Doni pun mulai mencurigai Cindi, bahwa ia lah yang telah menyembunyikan surat tanah miliknya dan Ody yang akan dijual.


Tanpa Cindi sadari Doni selalu memata-matai pergerakan Cindi dan juga pesan masuk dan keluar begitupun pangilannya, selalu Doni cek, tentu Doni melakukanya secara sembunyi-sembunyi agar Cindi tidak menyadarinya.


Tepatnya pagi tadi ada pesan masuk dan Cindi tengah berbelanja sayur di depan gang sanah, tanpa membawa ponselnya.


Bip... bip... suara getar dari ponsel cindi menandakan ada pesan masuk.


Bip...bip... Terdengar lagi untuk kedua kalinya. Awalnya Doni acuh, dia pikir paling dari teman-teman istrinya kalo tidak dari pelanggan online shop'nya. Namun karena ponselnya bergetar lagi menandankan pesan yang masuk lebih dari satu. Doni iseng mengecek ponsel Cindi.


Pesan dari nomer tidak dikenal, karena penasaran Doni membuka pesan itu.


Satu pesan terbuka, pesan penagihan hutang yang sudah telat dari jadwal pembayaran. Doni masih berfikir positif, mungkin sajah itu pesan dari orang iseng. Banyak bukan di jaman sekarang orang-orang iseng yang mengaku menagih hutang dan lain sebagainya hanya untuk penipuan.


Rasa penasaran masih belum beranjak dari fikiranya, sehingga Doni membuka pesan kedua. Di mana dipesan itu ada sebuah ancaman akan menyita rumah yang sangat Doni kenal. Yah, itu rumahnya yang ia bangun dari uang Ody dan dirinya. Lantas maksud dari pesan itu apa?


Tidak tinggal diam karena penasaran Doni langsung mendeal nomor tersebut.


Satu panggilan berdering tidak diangkat, tetapi dipanggilan ke tiga terdengar sahutan dari sebrang sanah.


Tanpa berbasa basi Doni langsung menanyakan isi pesan-pesan yang mereka kirimkan ke nomor istrinya.


Betapa syoknya Doni ketika mendengar penjelasan dari seseorang disebrang sanah. "Pantas sajah suami Ody mencurigai Cindi, ternyata benar kata Rio. Cindi adalah ular berbisa yang aku pelihara," gumam Doni. "Ternyata surat-surat tanah dan rumah kami dia gadaikan. Sampai keluargaku nyari sampai ubanan juga nggak bakal ketemu di rumah itu. Surat itu disimpan rapih tapi dipegadaian." Doni terus saja menyesali perbuatan Cindi yang sangat diluar prikemanusiaan.


Doni mondar-mandir menunggu Cindi yang tengah berbelanja sayur tetapi tidak kunjung pulang juga.


#Fleshneck of.


" E... apa maksud kamu Mas kenapa kamu itu selalu menuduh aku terus," balas Cindi dengan terbata dan menunjukan tanpang memelasnya, ia memaikan lagi perannya agar Doni bersimpati dan mempercayai perkataanya nanti.


"Menuduh? Menuduh itu kalo tanpa bukti. Kalo bukti sudah akurat apa bisa dikatakan menuduh!" bentak Doni di depan wajah Cindi. Kemarahan Doni sudah diambang batas sehingga Cindi pun dibuat ketakutan dengan kemarahan suaminya itu. Sebelumnya Doni tidak pernah semarah ini.


"Yang Mas Doni katakan apa sih? Cindi nggak tau, ba..(Ucapan Cindi dipotong oleh Doni)


"Surat tanah! Kamu yang sudah mengambil surat tanah itu dan kamu gadaikan! Iya?" bentak Doni semakin memerah wajahnya.


Cindi langsung kaget mendengar ucapan Doni. "Dari mana Mas tau?" lirih Cindi, dengan wajah ketakutan karena kini ia tidak bisa menghindar lagi.


"Dari mana aku tau? Ini kamu baca ini!" Doni meletakan ponsel Cindi dengan kasar. "Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai bakal tercium juga Cin," ucap Doni yang langsung menusuk ke Cindi.


Cindi dengan rasa takut bergetar mengambil ponselnya. dan membaca pesan yang masuk.


Doni bersandar duduk di sova. Namun pandangan ia buang keluar jendela malas rasanya melihat Cindi.....


#Nah loh Cindi mau diapain tuh sama Doni selanjutnya? Buang kelaut ajah Don....