Beauty Clouds

Beauty Clouds
Penyesalan



Dengan langkah yang setengah kesusahan karena perut yang sudah membesar Ody menghampiri Resepsionis rumah sakit.


"Malam Mba ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu wanita yang tengah berjaga.


"Iya Mba, apa Nyonyah dari pemilik rumah sakit ini dilarikan kesini yah?" Ody menyampaikan niatanya, dengan suara sangat lembut.


"Oh iya betul Mba. Ngomong-ngomong Anda siapa yah?"


"Saya masih Familly dari pemilik rumah sakit ini, kalo boleh tau Mamih dirawat diruangan mana yah. Saya ingin menjenguknya." Ody menyembunyikan jati dirinya di mana ia sebenarnya menantu dari pemilik rumah sakit ini.


"Oh Nyonyah Hartono dirawat diruangan khusus di lantai atas dekat dengan ruangan kerja Tuan Hartono."


"Oh baik lah Mba, saya ucapkan banyak terima kasih." Ody pun berjalan menuju lift dan akan menuju ruangan yang petugas resepsionis beri tahu.


Begitu Ody sampai di depan ruangan yang di maksud, ia tidak berani masuk karena ia merasa bersalah dan takut dengan reaksi keluarga suaminya terlebih Rio. Entah apa yang ingin Ody jelaskan dengan peristiwa ini. Niatnya hanya membela diri tetapi justru terjadi malapetaka.


Ody memilih menunggu di depan ruangan itu, dia memainkan jari jarinya. Entah sudah berapa lama ia menunggu berdiri disana, kaki pun sudah berasa pegal. Sampai tiba-tiba pintu dibuka dan ternyata yang membuka ada lah Rio, suaminya.


Ody langsung menatap kearah Rio, begitu pun Rio dengan mata merah menatap ke arah Ody.


"Mas... gi....


Rio langsung mencengkram tangan Ody dengan kuat, sampai Ody merasa perih karena kuku yang nancap kuat dipergelangan tanganya. Ia menarik tangan Ody dan menyeretnya dengan langkah yang panjang dan setengah berlari. Ody mencoba mengimbangi langkah kaki Rio dengan setengah berlari dan memegangi perutnya yang serasa mengeras.


"Mas... tolong jangan seperti ini kamu menyakitiku dan juga anakmu." Berkali-kali Ody memohon agar Rio mengurangi kecepatan jalan Rio. Namun, nampaknya Rio sudah di penuhi hawa emosi.


Rio Mendorong Ody masuk kedalam mobilnya, sampai perutnya mengeras dan kram. Ody meringis menahan rasa sakit diperutnya. Rio masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seolah ia lupa bahwa Ody istrinya tengah hamil dan mengandung anaknya. Dia akan memberi pelajaran pada istrinya.


"Mas... tolong setop kamu harus dengan penjelasana aku. Aku dihina oleh keluargamu dan aku hanya membela diri." Ody terisak menjelaskan kejadianya. Namun, tak sepatah kata pun yang bisa memberhentikan Rio.


Ody terus memohon, sembari menahan rasa sakit diperutnya, yang datang kembali. Sampai Rio yang tengah emosi ditambah emosi dengan ocehan Ody yang terus menerus membela diri dan memohon ampun darinya.


Citttt..... Rio menginjak pedal rem sekaligus sehingga Ody terhuyung kedepan dan membentur dashboard mobil, jidatnya memar karena benturan itu dan perutnya pun terbentur sehingga menimbulkan rasa yang semakin sakit. Kebetulan saat itu Ody tidak memakai seat belt sehingga ia terpental ke depan.


Rio turun dan menarik tangan Ody agar keluar. Ody pun mengikuti kemauan Rio ia turun dari mobil, dengan tangan memegang perutnya yang semakin kuat rasa sakitnya.


"Aku muak liat muka kamu, kamu memang nggak pantas menjadi istriku! Lebih baik kita pisah, karena kamu hanya membawa malapetaka buat keluargaku. Gara-gara kecerobohanmu. Mamihku sekarang masih kritis, dan kamu harus menanggung hal yang sama dengan Mamihku." Rio langsung meninggalkan Ody yang masih menangis dan memegangi perutnya.


Rio meninggalkan Ody seorang diri di tengah jalan yang sepi dan minimnya penerangan.


"Mas... tunggu! Jangan tinggalkan aku sendirian Mas...."Ody meraung ingin menggapai mobil Rio, tetapi terlambat mobil Rio sudah jauh meninggalkanya.


Ody menangis di tepi jalan menahan semua sakit dan kecewa seorang diri.


Dari kejauhan dua pasang mata menatap tajam Ody yang masih membukuk menahan sakitnya.


Sebuah mobil dengan kecepatan kencang mengarah ke Ody. Ody yang merasa silau dengan lampu mobil kaget dan mencoba menghindar dan....


Brrrrrraaaaakkkk..... Au.......


"Ya Alloh tolong selamatkan kami, Andai Engkau menghukumku tolong ambil sajah nyawaku jangan anakku." Ody berdoa dalam hatinya antar sadar dan tidak. Rasanya badan sudah sangat sakit dan pandangan mata semakin melemah....


*****


Di rumah sakit Rio yang baru datang setelah menenangkan diri di tepi danau pun heran kenapa di IGD ramai sekali, dan terlihat ada polisi juga. Rio menghampiri seorang petugas jaga.


"Ada apa ini Pak, ko rame sekali apa ada korban kekerasan atau apa?" tanya Rio dalam hatinya merasa tidak tenang.


"Itu dok, ada ibu-ibu hamil, kayaknya sih korban tabrak lari. Kondisinya kritis dan sekarang lagi ditangani oleh team ahli. Soal polisi itu meminta keterangan dari saksi mata yang menemukan ibu itu dan menghubungi kepolisian dan team medis.


"Oh, Rio hendak kembali ke dalam melihat kondisi mamihnya, tetapi entah mengapa perasaanya tidak tenang dan ingin melihat korban itu. Ia jadi keingat Ody yang ia tinggal seorang diri di tengah jalan.


"Ody, gimana keadaan dia apa dia sudah pulang kerumah?" batin Rio. Ia mengambil ponselnya hendak menghubungi Mbok Karti guna menanyakan keberadaan Ody sudah sampai rumah atau belum.


Sembari nunggu telepon diangkat Rio mencari tahu korban tabrak lari yang ternyata hendak mendapat penanganan di ruang oprasi.


Rio sebagai pemilik rumah sakit tentu punya akses untuk masuk keruang oprasi dan betapa kagetnya Rio ketika ia melihat baju wanita itu. Yah dia kenal pakaian yang dikenakan oleh wanita hamil itu.


Seketika itu juga Rio terduduk lesu. Setelah Mamihnya yang membuatnya sedih, kini istri dan calon anaknya pun harus mengalami hal yang serupa.


Rio kembali menguatkan tubuhnya ia bangun dan hendak mengganti pakaianya. Ia harus kuat untuk anak dan istrinya. Rio pun berganti pakaian dan ikut masuk ke ruang oprasi. Tanpa meminta kejelasan dari dokter yang menangani kondisi istrinya tentu Rio sudah tau gimana kondisi istrinya saat ini lemah bahkan sangat lemah.


"Sayang, Maafkan Mas, demi Tuhan bukan ini yang Mas mau. Mas hanya khilaf dan justru harus membuat kamu seperti ini!" Rio menangis memegangi tangan Ody. Seolah ia tengah memberi kekuatan untuk Ody.


Setengah jam semudian lahir seorang bayi mungil dan cantik, tetapi dengan kondisi sangat lemah.


Berbagai penanganan terbaik dilakukan pada bayi mungil itu.


"Ya Tuhan kuatkan anak kami, jangan ambil dia yah Allah." Rio kini tak berdaya ketika melihat bayi mungilnya kritis di dalam inkubator.


"Dok bayinya terpaksa kami keluarkan meskipun belum waktunya itu semua karena ibu bayi mengalami benturan hebat dan sekarang bayinya kritis karena telat mendapatkan penanganan." Seorang dokter memberitahukan Rio yang tengah menagis memandangi darah dagingnya.


"Tolong lakukan penanganan terbaik untuk anak saya, pastikan anak saya tetap hidup," lirih Rio yang terus meratapi malaikat hatinya.


"Baik Dok, kami akan lakukan, tapi kembali lagi pada takdir. Kita hanya berusaha, takdir hanya milik Sang Pencipta, kematian, dan kehidupan sudah digariskan oleh Sang Khalik.


Rio tak megindahkan penuturan dokter satu profesinya. Ia meninggalkan bayi mungilnya dan menghampiri Ody yang sudah selesai menjalani penanganan.


Lagi, Rio terpukul melihat kondisi Ody yang sama lemahnya dengan buah hatinya. Rio mendekat.


"Kenapa takdir mempermainkan kita seperti ini sayang, Mas jahat banget sudah membuat kalian jadi seperti ini. Hukum Mas... tapi tolong seteleh itu kalian kembali menjadi wanita hebat yang mendampingi Mas." Rio menangis. Yah, hanya itu yang ia bisa lakukan, menangis dan menyesal.


Andai ia bisa lebih menahan emosinya pasti semua ini tidak akan terjadi.


#Nah nyesel kan Rio, penyesalan memang datang belakangan. Emosi hanya membawa petaka....


Jika kita mampu mengendalikan emosi dengan lebih bijak, kehidupan akan lebih damai, jauh dari malapetaka dan tanpa rasa sesal dikemudian hari.