
Di lain tempat...
Ody dan Rio memutuskan pulang ke rumah setelah berjalan-jalan seharian dari belanja pakaian, kuliner dan semua yang Ody inginkan Rio berusaha mewujudkanya.
Kini Ody pun tampak lebih bahagia karena telah bertemu Cindi dan Doni. Bukan karena masih ada perasaan yang mengganjal melainkan uang hasil kerja kerasnya ia akan terima paling lambat tiga bulan lagi.
"Mas ko tadi Mas Rio yakin banget sih dalam waktu tiga bulan surat tanah itu bisa ketemu dan Doni bisa balikan uang Ody secepatnya." Ody bertama kepada Rio, karena ia penasaran.
"Emang kalo kamu liat, istrinya mantan tunangan kamu itu gimana?" tanya Rio.
"Cindi maksud Mas Rio?"
Rio mengangguk tanpa menjawab dengan ucapan.
"Kalo Ody liat Cindi ya gitu, memang dia mah gitu dari cara bicara dan logatnya memang gitu kaya orang marah, tapi kenyataanya nggak ko." Ody tidak ingin menjelekan sahabatnya di depan suaminya. Meskipun sesungguhnya Ody juga kesal dengan penghianatan Cindi. Yang dengan sengaja merebut Doni darinya. Namun setidaknya Ody bersyukur bahwa ia telah gagal menjadi istri Doni dan digantikan dengan Rio yang sangat sayang denganya. Meskipun awalnya Rio sangat menyebalkan dan sering membuat Ody menangis.
"Nah, itu lah polosnya kalian tanpa sadar kalian itu telah dibodohi sama perempuan licik itu." Rio dengan santai menjawab pertanyaan istrinya.
"Maksud Mas Rio gimana?"
"Ody... Ody, sudah ketahuan banget dari mata dan gelagatnya si Cindi itu, dia iri sama kamu sehingga dia berusaha merebut yang kamu miliki. Kalo Mas yakin banget surat tanah itu dia yang nyembunyiin. Tinggal Doni sadar tidak istrinya adalah biang dari masalahnya. Ya, sebarusnya dia peka'sih dengan omongan Mas tadi," ujar Rio dengan bersantai berebahkan tubuhnya di pangkuan Ody.
Yah mereka kini telah bersantai di atas kasur yang empuk. Meregangkan otot-ototnya yang seharian mereka habiskan untuk berjalan-jalan.
"Ko, Mas bisa tau sih, jujur Ody liat Cindi ya biasa ajah," balas Ody bingung. "Apa jangan-jangan Mas Rio punya indra keenam yah sehingga bisa liat hati seseorang," imbuh Ody sembari menoel hidung Rio yang mancung.
"Iya nih Mas bisa liat isi hati kamu yang penuh sama nama dan wajah Mas," goda Rio sembari mencium bibir Ody yang sangat menggoda.
"Mas mulai deh." Ody bisa menebak kemauan Rio selanjutnya setiap kali mencari-cari kesempatan disitulah pasti meminta yang lebih.
Rio mengedip-ngedipkan matanya dan senyum yang mengandung arti lain.
"Kenapa ini matanya?" tanya Ody pura-pura polos padahal mah semenjak kehamilanya memasuki umur tri.mester kedua Ody lah yang lebih banyakan meminta. Bahkan Ody nggak akan segan-segan membangunkan Rio tengah malam hanya karena ingin melakakuan penyatuan yang indah. Tentu sajah Rio dengan senang hati akan melayaninya. Justru itu yan membuat Rio semakin dibuat tidak bisa berpaling ke lain hati karena pelayanan Ody yang selalu memuaskan. Kalo orang lain hamil, tengah malem bangunin ngidam, minta sesuatu, makanan ke apa lah, kalo Ody beda banguni sesuatu karena pengin yang nunu nana....
Ketika dulu awal-awal melakukan penyatuan Ody akan malu dan pasif menerima semua hujaman demi hujaman dengan pasrah maka kini ia akan memberi perlawanan yang sepadan. Bahkan Rio sering dibuat bertekuk lutut dengan permainanya.
"Kode ini sayang," balas Rio sembari mencium perut buncit Ody dengan gemas.
"Yang dedenya lagi ngapain? Ko sepi biasanya juga ngajak main bola," ucap Rio sembari mengelus-elus perut Ody dan memancing agar sang baby merespon dan memberi tendangannya.
"Bobo kali Mas, udah malam juga kan ini, Mas juga bobo udah malam loh ini." ucap Ody dengan mengusap usap rambut suami kesayanganya.
"Mana bisa bobo yang, kalo belum dikasih servis," ucap Rio dengan memainkan alisnya.
Ody hanya tertawa kecut, melihat tingkah suaminya yang manja dan seperti anak-anak itu.
"Tau nggak Mas, kadang Ody itu merasa seperti mimpi ketika liat Mas Rio sekarang begini. Manja dan selalu nurutin kemauan Ody," gumam Ody, sembari mengelus rambut Rio yang hitam legam.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Rio.
"Iya lah, dulu itu Mas Rio jutex banget sama Ody. Kerjaanya marah-marah terus sama Ody. Kayaknya kalo belum liat Ody nangis Mas belum puas nerjain Ody," dengus Ody sembari mengingat ingat kelakuan suaminya pertama-tama menikah.
"Uluh... uluh... sayang, itu kan waktu dulu Mas belum mengenal kata-kata bucin. Sekarang mana berani buat kamu nangis yang ada nanti Mas nggak dapat jatah. Gantian deh Mas yang nangis," ucap Rio sembari memainkan perut Ody membuat lingkaran kecil diatas perut buncitnya.
"Lagian kenapa sih Mas, dulu itu benci banget sama Ody?" tanya Ody dengan penasaran.
"Sebenarnya buka benci ke kamu banget yah...(obrolan Rio di potong oleh Ody)
"Bohong!!! Orang jelas banget Mas itu marah, benci dan selalu buat Ody nangis, biar nggak betah di rumah ini." Ody mengingat ingat setiap perlakuanya yang sangat menyebalkan.
"Dengar dulu dong sayangku, Mas itu nggak yang benci sama kamu pyur nyalahin kamu, tapi Mas itu benci sama cewek. Ya karena Emly yang selingkuh terus berbohong. Ngehianatin Mas gitu dengan cowok lain. Rasanya itu sakit banget sayang. Apalagi Mas itu dulu sayang banget sama dia."
"Terus sekarang masih sayang dong?" tanya Ody dengan jutex dan nada menyindir.
"Sekarang udah punya pawang, nggak berani macam-macam. Takut dikutuk," kelakar Rio. "Yang nggak tahan nih..., udahan ngobrolnya waktunya olahraga biar sehat," rengek Rio bak anak kecil yang meminta dibelikan es cream.
"Nggak ah, masih penasaran pengin ngorek-ngorek sikap Mas dulu sama Ody. Jawabanya belum puas," dengus Ody.
"Mendingan olahraga dulu, wawancaranya nanti lagi." Rio tetap usaha agar Ody luluh.
"Kalo olahraga dulu yang ada abis ini Mas tidur, Ody nggak bisa tanya-tanya lagi,"
"Ya kan bisa besok lagi." Rio tetap usaha yah Yo.
"Ah nggak seru, padaha Ody itu pengin tau sikap Mas yang super nyebelin sama aku." Ody memanyunkan bibirnya.
Hal itu tentu tidak Rio sia-siakan, sayang kalo dianggurin sudah dikasih kode. Rio mencium bibir sek'si istrinya itu dan memainkanya dengan lembut. Ody yang awalnya diam karena merajuk tipis-tipis akhirnya mebalas juga permainan suaminya itu. Mana bisa sih ngambek lama-lama kalo udah dikasih yang kenyal-kenyal manis gitu.
Setelah cukup lama saling me'naut'kan bendal kenyal itu Rio pun melepaskanya. Memberikan waktu untuk menghirup nafas dalam agar bisa kembali memasok energi yang baru untuk melanjutkan ketahap selanjutnya.
"Katanya tadi nanti sajah, tapi disamber juga," ledek Rio dengan menoel bibir Ody.
"Lagian siapa yang tahan kalo dikasih yang enak-enak." Ody langsung mengambil alih duduk di atas Rio sembari memaikan benda kesukaanya....
Tentu membuat Rio semakin gemas ingin segera melawannya dan mengajak perang main pedang-pedangan......