
Tiga hari telah berlalu dari kejadian pemerkosaan yang menimpa Ody. Namun, sekalipun Ody belum bertemu dengan Rio, bahkan Rio selama tiga hari ini juga tidak pulang kerumah. Aarav pun ikut menghilang.
Semakin hari Ody semakin murung.
Hari ini sajah Ody sudah beberapa kali melakukan kesalahan, dan Bu Dewi juga merasakan bahwa ada yang mengganggu fikiran Ody, sampai-sampai Ody tidak fokus dengan pekerjaanya.
***
Siang hari Ody diminta membersihkan ruangan Intan oleh Bu Dewi. Ody pun bergegas keruangan Intan, dan memulai pekerjaanya. Intan yang saat itu berada diruangan, melihat perubahan aneh Ody. Ody banyak melamun, terlihat sekali matanya yang sayu memancarkan kesedihan dan beberapa kali tidak fokus dengan pekerjaanya. Tidak seperti biasa ketika Ody bekerja ia akan selalu cekatan, dan selalu fokus dengan pekerjaanya.
"Kamu ada masalah Ody?" tanya Dokter Intan, saya merasa kamu menyimpan sesuatu yang mengganggu fikiranmu?
Ody yang saat itu tengah mencoba fokus dengan pekerjaanya, ia pun kaget ketika Intah tiba-tiba bertanya.
"Eeee,...maksud Dokter Intan apa? Ody nggak paham." ujar Ody, pura-pura tidak paham dengan pertanyaan Intan.
"Bisa kamu kesini, dan duduk di depan saya." Perintah Intan
Ody pun mengikuti perintah Intan, duduk di depan meja kerja Intan.
"Sekarang kamu ceritakan masalah kamu. Dari tadi aku perhatiin, kamu nggak fokus dengan semua pekerjaanya. Ada masalah yang mengganggu pikiranmu?" tanya Intan pelan .
Ody hanya diam, bingung antara bicara jujur atau diam sajah. Mengingat yang dia alami adalah aib baginya.
"Kamu nggak usah takut, aku akan bantu kalo memang kamu ada masalah. Nggak mungkin kamu seperti ini kalo tidak ada sesuatu yang kamu fikirkan, sehingga mengganggu konsentrasimu." Jelas Intan, soalah tau bahwa Ody memang sedang membutuhkan teman untuk bercerita.
Ody lagi-lagi hanya diam, dan nampak matanya yang berkaca-kaca. Perasanya lagi-lagi teriris ketika harus mengingat kejadian saat itu. Terlebih dia bingung harus gimana, niatnya yang akan bicara dengan Rio. justru Rio menghilang begitu sajah entah kemana, membuat Ody semakin sedih dengan nasibnya.
Intan yang melihat Ody diam, dan berkaca-kaca, mendekat. Dia memegang tangan Ody dengan lembut. "Kalo kamu merasa sungkan bercerita denganku, karena kita tidak begitu dekat. Maka mulai sekarang kita berteman, agar kamu bisa berbagi cerita denganku dengan nyaman, karena kita berteman sekarang. "Ucap Dokter Intan dengan suara sangat lembut, meyakinkan Ody, agar tidak sungkan untuk bercerita.
Ody yang awalnya menunduk, kini dia mengangkat wajahnya dan melihat Intan yang tersenyum padanya.
"Apa kalo saya cerita masalah yang saya alami, Dokter Intan tidak akan meninggalkan saya, dan membenci saya?" tanya Ody dengan isakan kecil.
"Kenapa aku harus meninggalkan kamu, sedang aku belum tau masalah kamu. Dengar Ody, kita berteman sekarang, jadi aku
akan membantu kalo kamu butuh bantuan, dan aku akan menasehati kamu kalo kamu melakukan kesalahan, maka ayo kamu ceritakan apa yang membuat pikiranmu terganggu, sehingga kita bisa cari solusinya bersama-sama." lirih Intan meyakinkan Ody.
Ody mulai mengatur nafasnya. kini ia percaya dengan Intan, mungkin dengan dia berbagi cerita Intan akan membantu mencari solusi atas permasalahanya.
Ody pun mulai bercerita dengan kejadian yang dia alami. Dari mulai ia yang merasa haus dan akan mengambil minum, sampai dengan kelakuan Rio padanya, juga dengan menghilangnya Rio selama tiga hari ini. Ody menceritakan dengan detail tanpa menambahkan, atau bahkan mengurangi kejadian yang dia alami.
"Kalo yang kamu ceritakan semuanya benar adanya. Aku salah satu orang yang akan membantu kamu untuk mendapatkan keadila." jawab Intan datar, ia dengan masih syok mendengar penuturan Ody.
"Dokter Intan seriuz?" tanya Ody kaget .
"Yah, apa aku kelihatan bercanda?" Intan bertanya kembali, karna memang dia simpati pada Ody, sebagai sesama wanita.
Ody pun hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Intan.
Ody tidak bisa berkata-kata lagi, karena bersyukur ternyata ada lagi yang akan membantu dirinya untuk menuntut keadilan .
"Aku wanita Ody, biarpun kita nggak saling kenal begitu dekat, tapi aku juga harus membantu kamu, karena kamu disini korban." tutur Intan meyakinkan Ody.
"Makasih Dokter Intan, saya sangat senang Dokter Intan mau berdiri dipihak saya, dan akan membantu saya mendapatkan keadilan." Ody dengan tulus mengucapkan terimakasih kepada Dokter Intan.
"Sama-sama, kamu siapkan saja semua buktinya, nanti aku hubungi Rio untuk mengatur pertemuan, kalo sudah ada kesepakatan saya hubungi kamu agar kamu juga ada kesempatan untuk bicara dengan Rio. Semua masalahmu harus dibicarakan, nggak bisa hanya diam saja." ujar intan memberi nasehat .
"Iya Dokter, sekali lagi saya makasih banyak karna Anda mau membantu saya." lirih Ody.
"Iya," jawab Intan singkat.
Setelah Ody selesai mengerjakan pekerjaanya, Ody pun pamit akan kembali ke pantri dan melanjutan pekerjaan yang lain.
***
Sesampainya di pantri, Ody menceritakan semua yang dia bicarakan antar Intan dan dirinya kepada Ipek. kebetulan saat itu Ipek sedang istirahat.
Ipek pun ikut senang dengan berita yang Ody bawa, itu tandanya banyak yang bersimpati dengan kejadian Ody.
"Kalo gitu kita harus semangat lagi buat bikin Dokter Rio bertanggung jawab." ajak Ipek semangat.
Ody pun hanya tersenyum samar dan mengangguk. Dia bertekad akan kembali optimis untuk meminta keadilan buat dirinya.
***Yang paling jauh darimu bukan lah matahari, bukan langit, bukan kutub utara. Namun, waktu yang telah berlalu walau hanya 1 detik, karena kamu tidak akan bisa kembali lagi kesana. Gunakan waktumu dengan baik***
...****************...
#Yuk dukung karya author. Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah ...