Beauty Clouds

Beauty Clouds
Rencana Umi



Umi begitu tahu kebenaran yang sedang suaminya rencanakan untuk mengetes calon menantu yang terbaik. Umi langsung diam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Bukan senang dengan cara suaminya tetapi tetap tidak menyukai cara suaminya yang Umi nilai tidak menilai efeknya dari perbuatanya itu. Di mana putrinya sampai menghukum tubuhnya yang tidak bersalah, tidak hanya itu. Ipek pun sampai memiliki rencana untuk kabur. Andai rencana kabur bisa sungguhan apa tidak berbahaya.


"Abi itu sebenarnya sudah merencanakan rencana ini dengan matang nggak sih. Tetap sajah Abi sudah menghukum Ipek dengan semua ini. Apa Abi tidak tahu sekarang badan anak kita semakin kurus dan kering, wajah semakin pucat dan lain sebagainya. Orang di mana mana akan melakukan perawatan menjelang pernikahan tetapi putri kitra justru tidak mau melakukanya sama sekali. Pokoknya Umi tidak setuju dengan apa yang Abi rencanakan itu. Katakan yang sebenarnya pada Ipek, atau kalau tidak biarkan Umi yang mengatakan semua ini." Umi dengan mode masih marah kecewa, meminta agar suaminya berbicara dengan jujur pada putrinya itu. Setidaknya berikan sedikit harapan agar Ipek tidak berlarut sedih.


"Eh... enggak bisa gitu dong Umi, jangan kasih tahu Ipek lebih dulu dan jangan kasih tahu juga rencana Abi yang ini, satu minggu lagi kok Umi, setelah itu terserah semua kalian deh marah dan kecewa sama Abi.


"Rencana kalian apa lagi? Terus kalian ingin bahwa Umi ngikutin rencana kalian, nggak akan. Umi tidak akan mengikuti cara kalian. Umi tidak mau membuat anak Umi berlarut sedih." Umi menolak mengikuti cara Abi yang dinilai selalu menyakiti putrinya.


Hati mana yang tidak sakit ketika melihat buah hatinya di sakiti terutama sama suaminya sendiri sampai badanya bertambah kurus, terus menerus.


"Lalu rencana Umi apa? Umi tolong jangan kasih tahu rencana Abi, pada Ipek. Abi juga sama Umi sedih ketika harus melihat Ipek meneteskan air mata, tapi semuanya untuk kebaikan Ipek semuanya pasti akan teratasi dan akan bahagia bersama.


Umi masuk ke dalam kamar putrinya. "Umi gimana hasilnya?" tanya Ipek ternyata anak itu sejak tadi tidak bisa tidak memikirkan dan mendoakan apa yang Umi bicarakan dengan Abinya.


"Coba tebak kira-kira Umi bawa kabat gembira atau kabar sedih?" tanya Umi, sengaja agar Ipek berfikir. Benar sajah Ipek langsung mengamati wajah orang yang sudah melahirkanya itu. " Sepertinya kalo di lihat dari raut wajah Umi, kabar yang Umi bawa adalah kabar bahagia," tebak Ipek, sembari mengembangkan senyumnya, setidaknya ada harapan bahwa ia tidak harus menikah dengan Eric, anak teman Abinya itu.


"Yah, Umi membawa kabar bahagia, tetapi kamu janji yah kamu tetap pura-pura tidak tahu apa-apa dan kamu tetap merajuk sama Abi." Umi akan memulai rencanaya sendiri.


Ipek pun mengangguk meskipun ragu rencana dan kabar apa yang Umi akan bawa.