Beauty Clouds

Beauty Clouds
Menemui Zawa



Papih masih terus berbincang dengan Rio tanpa sadar hari sudah makin siang dan Ody pun sudah bangun, karena ia yang sengaja memasang alarm.


"Papih ada di sini? Udah lama Pih?" tanya Ody dengan suara serak, suara yang membuat Rio selalu terngiang-ngiang dengan suara serak itu. Suara yang hanya dimiliki oleh Ody. Ody pun tidak lupa memberikan salam pada Papih, dan mencium punggung tanganya dengan takzim.


"Belum terlalu lama, ada yang perlu dibicarakan dengan anak Papih yang bandel ini. Eh... ternyata malah ada cucu yang cantik, jadi lupa buat pergi ke kantor," kelakar Papih, agar mereka tidak canggung.


Ody mengambil alih Meyra sementara Rio segera mandi karena memang harus mulai berangkat kerja mulai jam delapan.


"Papih udah makan belum? Kalo belum yuk sarapan bareng." Ody mengajak mertuanya agar masuk ke dalam rumah, yang mana mereka sekarang masih ada di area taman belakang rumah.


Ody, Mayra, dan Papah pun masuk ke dalam rumah dan kini duduk di meja makan. "Papih mau minum teh atau kopi?" Ody sebagai menantu yanh baik tentu tidak mau belihat mertuanya datang ke rumahnya, tetapi malah kehausana.


"Tidak usah Dy, nanti kalo Papih kalo haus bisa ambil sendiri. Kamu duduklah! Ada yang ingin papih bicarakan dengan kamu."


Ody pun akhirnya duduk di depan Papih, dan Mayra ia letakan di bok bayi karena bayi itu sudah tidur setelah sarapan pagi. "Mau ngomong apa Pih, Ody jadi deg-degan," ucap Ody sembari menunjukan tampang seriusnya.


"Sebenarnya ini bukan wilayah Papih untuk ikut campur, tapi demi kebaikan kamu dan Mayra. Sepertinya kalian jangan tidur terpisah dengan suami kamu. Bukan apa-apa tapi kalo kamu tidur satu kamar bisa saling bergantian apabila menjaga Mayra. Kamu tau kan bayi itu kalo malam suka ngajak bergadang giliran siang ya kaya gitu tidur terus, sampe Opanya datang nggak diperduliin. Dia asik tidur terus." Papih sebagai tertua menasihati mantunya.


Ody menunduk, ia pun bingung. Memang benar apa yang di katakan mertuanya ada benarnya Mayra kalo malam suka ngajak bergadang. Nggak mungkin juga ia bergadang setiap malam nanti malah yang ada dia drop.


"Itu Papih saranin bukan Papih membela anak Papih yang bandel itu. Papih justru setuju dengan keputusan kamu untuk pisah kamar, untuk memberikan efek jera, tapi kalo kamu sendirian ngurus Mayra, nanti kamu malah jatuh sakit, kasihan Mayra nggak ada yang jaga." Papih masih berusaha mengeluarkan pendapatnya agar Ody mempertimbangkan omonganya.


"Baik Pih, nanti Ody pertimbangkan lagi. Memang yang papih bilang ada benarnya. Ody kesusahan apabila mengurus Mayra seorang diri. Mungkin kalo ada Mas Rio bisa saling gantian." Ody akan mencoba mempertimbangkan dengan saran mertuanya.


"Kalau kamu masih ragu dengan suami kamu, bisa dia tidur di sofa atau di lantai. Setidaknya biarkan dia tetap tidur satu kamar, biar dia bisa melindungi kalian."


Di tengah obrolan Papih dan Ody, Rio sudah rapih dengan pakaian kantornya. Di mana saat berpakean resmi wajah Rio menjadi tambah kegantenganya.


Mereka pun akhirnya sarapan bersama, dan setelahnya Papih dan Rio berangkat kerja. Tentunya setelah berpamitan dengan Mayra, yang bahkan sepertinya masih terbuai di alam mimpi.


"Kamu pagi ini sibuk tidak? Kalo tidak sepertinya lebih enak ke kantor polisi dulu agar cepat urusanya." Papih memang tipe orang yanh tidak mau menunda sesuatu kalau bisa dikerjakan lebih cemat maka Papih akan melakukanya.


"Kerjaan Rio masih bisa dikerjakan oleh Aarav dan juga Azra. Tadinya Rio mau ambil peraktek dulu pagi. Pengin kembali jadi dokter, sepertinya omongan Ody ada benarnya jadi lebih baik aku berlatih untuk menyesuaikan keadaan dan coba membuka peraktek lagi," ujar Rio.


"Bagus itu dong, memang sepertinya harus begitu. Kerjaan rumah sakit masih bisa dikerjakan sama Papih juga. Kamu memang sudah seharusnya fokus lagi di tenaga medis. Kasihan pasien kamu yang membutuhkan uluran tangan dari kamu. Sudah sepatutnya kamu mulai mempertimbangkan semua ini. Kamu sudah jadi Papah jadi harus bisa mandiri dan tidak selalu tergantung dengan Papih. Bukan Papih tidak mau membantu anak-anak Papih. Hanya saja agar kamu mandiri dengan kerjaan kamu dan rumah tangga kamu." Tiada lagi yang bisa Papih beri kecuali memang nasihat yang sangat membangun untuk sifat dan perubahan Rio.


Kini dua laki-laki bersetelan kemeja rapih dan berwajah sama tampan pun mulai memasuki kantor polisi. Papih dan Rio duduk menunggu Zawa untuk di panggil.


Hanya memerlukan waktu beberapa menit Zawa sudah datang. Seperti biasa Zawa nampak semakin kurus dan kusam. Tidak terlihat ada gairah dalam wajah Zawa.


Zawa yang belum pernah bertemu dengan dua laki-laki itu pun bingung.


"Zawa, Anda Nona Zawa kan?" tanya Papih memecah kebingungan Zawa.


"Iya Tuan, itu nama saya. Ngomong-ngomong kalo boleh tahu Anda siapa yah?" Zawa dengan sopan, pun bertanya.


"Perkenalkan saya Hartono dan ini putra saya Rio. Mungkin Anda sudah mengenal nama kami, tapi belum pernah ketemu yah. Saya memang agak sedikit sibuk akhir-akhir ini sehingga belum bisa mengunjungi Anda." Papih menjawab pertanyaan Zawa.


Sedangka Zawa sangat terkejut dengan mendengat nama Rio. Ia bahkan lupa wajah Rio.


"Tuan mungkin entah berapa puluh kali saya bilang, saya tidak bersalah. Saya tidak membunuh anak Anda. Saya benar-benar tidak tau dengan rencana Emly, bahkan andai saya tahu mungkin saya juga akan kabur lebih dulu. Sama seperti yang Emly lakukan, tapi justru saya terjebak di sini. Saya mohon pada Anda percaya dengan saya." Zawa memohon dengan sangat agar laki-laki di hadapanya mau memberikan kebebasan pada Zawa.


"Menantu saya sudah menceritakan kronologi Anda menjadi terlibat dalam kasus ini. Dan saya juga sudah memerintahkan orang-orang saya untuk menyelidiki Anda, Aarav juga menambahkan informasi yang memeperjelas Anda tidak bersalah, tetapi Anda juga harus tahu bahwa kami tidak bisa langsung percaya dan membebaskan Anda. Bagai mana kalo memang Anda melakukan hal yang sama setelah bebas. Apa jaminan kami kalo Anda tidak bersalah? Saya harus melindungi keluarga saya, terutama dengan orang-orang asing yang bisa sajah menyimpan dendam di dalamnya." Papih mengutarakan kegundahanya.


Zawa mulai terisak. "Tuan saya pun tidak tau bisa menjamin keluarga aman atau tidak. Karena saya tidak tahu Emly masih mengincar keluarga Anda atau tidak, tetapi saya akan menunjukan pada Anda dan yang lainya kalo saya tidak bersalah. Saya berjanji Tuan, beri saya kesempatan untuk membuktikan ucapan saya." Zawa hanya bisa meyakinkan Papih dan Rio dengan ucapanya, sebab dia juga tidak tau rencana Emly seperti apa. Zawa takut Emly kembali datang dan menggunakan dirinya lagi untuk melancarkan aksinya. Tanpa Zawa dan lainya ketahui Emly saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit. Itu semua karena saat melahirkan anaknya, ia mengalami kerusakan syaraf. Dokter yang menangani mengatakan bahwa Emly sulit untuk sembuh total. Dia mungkin akan kembali bisa beraktifitas, tetapi untuk berjalan Emly harus menggunakan korsi Roda. Setiap hari Emly menangis manakala melihat nasibnya yang sangat mengenaskan.