Beauty Clouds

Beauty Clouds
Restu dari orang Tua



Hari-hari dilewati Emly di rumah sakit, dengan di temani Meyra dan Aarav, tetapi sesuai perjanjian ketika Emly sudah diizinkan pulang makan Meyra juga pulang kerumah Ody. Ibu yang selama ini membesarkanya. Yah, hari ini Emly sudah boleh pulang dan itu menandakan bahwa Aarav memang sangat bagus untuk memberikan perawatanya.


Emly tinggal disarankan rutin melakukan terapi di rumah sakit Hartono seminggu dua kali, dan lagi-lagi Aarav yang selalu datang untuk menjemput dan mengantarkanya pulang setelah selesai teraphi. Terlebih papihnya  sudah mulai bekerja dan Liana di rumah degan segala aktifitas rumah yang tidak ada hentinya.


Terlebih kali ini Erwin nampaknya sudah merestui hubungan putrinya satu-satunya dengan Aarav, mungkin Eriwin sudah tahu kalau Aarav juga miliander yang bisnisnya juga tidak hanya satu dua tempat sehingga bisa mencukupi kebutuhan putrinya, atau memang Erwin yang juga sudah mulai tobat dengan semua sikapnya yang dulu dan kini dia juga tidak lagi matrealitis sepeti yang dulu ia lakukan pada Aarav.


Erwin juga secara pribadi sudah meminta maaf pada calon menantunya itu, dia sudah menyadari semua kesalahanya. Tidak hanya itu Erwin justru sekarang sangat mendukung hubungan Emly dan Aarav. Sementara Liana sudah pasti mendukung keputusan suaminya.


"Kenapa tidak langsung pulang saja?" tanya Emly ketika melihat korsi rodanya di dorong ke ruangan kerja calon suaminya itu. Yah, Aatav sudah mendapatkan lampu hijau dari semuanya dan Emly pun akhirnya mau menikah dengan Aarav setelah laki-laki itu berhasil meyakinkan Emly bahwa hanya wanita itulah yang bisa membahagiakan dirinya.


"Masih banyak kerjaan, enggak enak sama Rio kalau harus di tinggal," ucap Aarav sembari mendorong kursi roda Emly, dan wanita itu pun terbukti tidak lagi protes dengan ucapan Aarav, tetapi cukup diam dan mematuhi calon suaminya. Benar juga yang di katakan Aarav bahwa pasti tidak enak dengan Rio kalau kerjaanya di tinggal-tinggal terus. Padahal pada kenytaanya Aarav meninggalkan pekerjaanya juga dalan kondisi sudah beres dan juga selama mengurus Emly di rumah sakit Aarav juga tetap dalam bekerja, sehingga Rio ataupun pemilik rumah sakit ini sendiri Tuan Hartono sekalipun tidak akan marah.


"Rav, kabar Meyra gimana, baru dua hari enggak ketemu rasanya kangen banget," ucap Emly memecah kebisuan diantara mereka.


"Meyra baik-baik saja tentunya, Ody itu ibu yang pandai mengurus buah hatinya, kalo kamu kangen kamu bisa kok datang kerumaah Ody untuk bertemu Meyra, tetapi di sana harus jaga sikap atau omongan jangan sampai membuat Ody merasa tersisih dan merasa gagal menjadi orang tua untuk Meyra, tanpa kasih sayang yang tulus dari Ody tidak akan ada Meyra yang pintar seperti sekarang ini," ucap Aarav, mencoba menasihati Emly. Bukan karena Emly yang tidak tahu tata kerama, tetapi Aarav takut Emly tanpa sadar membuat Ody tersinggung, terlebih pasti seperti Ody hatinya sensitif, sekarang saja Aarav lebih berhati-hati apabila ingin bertemu dengan buah hatinya, tidak seperti dulu yang mana ia bebas bercanda bahan kadang candaanya sangat kasar dengan Rio dan Ody, tetapi apabila candaan itu di lontarkan di waktu sekarang bisa-bisa Ody tersinggung dan terjadi ketegangan diantara persahabatan mereka lagi.


Emly tersenyum mendengar nasihat dari calon suaminya itu, sesuai yang di katakan Aarav bahwa mereka akan belajar bersama. Kini baik Emly dan Aarav juga tengah belajar mengerti perasan orang lain bukan seperti mereka yaang dulu yang terserah mau ngomong apa saja terserah bibir mereka, tanpa mau tahu gimana persaan lawan bicaranya. Bagi Emly dan Aarav saat ini menjaga persaan orang lain lebih penting karena mereka juga nantinya akan membalas menjaga perasaan kita. Terlebih Ody dan Rio yang sudah baanyak banget berjasa dengan mereka tentu mereka tidak ingin membuat pasangan suami istri bersedih.


Jasa Ody dan Rio tidak akan pernah Emly dan Aarav ganti karena buah hatinya bisa tumbuh dengan sempurna tentu berkas kasih sayang dari mereka semua.


"Ngomong-ngomong kamu lagi apa sih Rav, kayaknya sibuk banget?" tanya Emly sembari mencoba mengintip kegiatan Aarav di layar laptopnya.


"Ini sedang memilih surat undangan kira-kira menurut kamu bagus yang mana?" tanya Aarav sembari menunjukan beberapa desain yang menurut dia bagus dan itu semua sudah melalui tahap seleksi yang sangat ketat sehingga terpilih beberapa contoh desain undangan yang terbaik.


Emly mengerutkan dahinya. "Kartu undangan pernikahan buat siapa?" tanya Emly wanita itu masih bingung kenapa Aarav memilih kartu undangan dengan begitu hebohnya sedangkan dia belum tahu yang mau nikah.


"Loh, kamu belum tahu siapa yang mau nikah?" tanya Aarav balik heran kenapa calon istrinyaa tidak tahu siapa yang akan menikah sedangkan Erwin sudah menyetujuinya bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan satu minggu lagi.


Emly menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia benar-benar tidak tahu siapa yang akan menikah.


"Ya Tuhan, Emly yang mau nikah itu kita. Kita mau nikah seminggu lagi, bukanya semalam papah kamu sudah setuju dengan lamaran akau dan beliau malah yang meminta merlangsungkan pernikahan kita di percepat," jelas Aarav agar Emly tahu setidaknya bisa ikut memilih calon semua kebutuhan yang akan dia gunakan, pernikahan yang mendadak memang Erwin yang memutuskanya dan dia percaya dan yakin bahwa satu minggu cukup untuk mempersiapkan pernikanya anak satu satunya. Tadinya Emly ingin memberikaan kabar bahagia pada calon suaminya, bahwa ia sudah bisa berjalan meskipun sedikit sedikit karena kakinya masih belum terlalu kuat untuk melangkah lebih panjang lagi tetapi karena rencana pernikahan yang satu minggu lagi Emly jadi kefikiran untuk memberikan kejutan pada calaon suaminya itu.


Emly jadi tidak sabar kira-kira gimana nanti Aarav reaksinya ketika mengetahui bahwa Emly sudah bisa berjalan. Emly tertawaa sendiri membayangkan hal itu.


Tidak lupa juga Emly akan menemui Zawa untuk meminta maaf sesuai dengan janjinya yang dulu. Di mana apabila ia sembuh dan bisa berjalan maka ia akan meminta maaf dengan tulus dan Emly juga ingin mengajak sahabatnya untuk berkumpul bersama merayakan kesembuhanya.


Di momen pernikahan Emly dan Aarav pasti akan berkesan pada mereka, karena sebuah teman baiknya akan merayakan pernikahan mereka.