
Emly merasa lega ketika mobil orang tuanya sudah pulang, sejak tadi dia merasa cemas, bahkan selera untuk makannya pun sudah menguai. Ini sudah menunjukan hari yang semakin sore tetapi ia belum juga makan siang hal itu karen Emly yang cemas akan orang tuanya.
Emly menggerakan korsi rodanya untuk menyambut kepulangan mamih dan papihnya. Emly seolah tidak sabar untuk bertanya apa yang terjadi, hasil pertemuanya seperti apa? Banya fikiran itu yang ingin Emly tanyakan sehingga dia tidak bisa diam saja di dalam kamar.
Pintu rumahnya di buka dari luar dan dua orang paruh baya dengan wajah lelahnya, masuk ke dalam rumahnya. "Loh sayang kamu ada di sini," tanya mamih yang kaget kenapa anaknya ada di depan pintu.
"Hehehe penasaran Mih, gimana hasil pertemuanya," ucap Emly matanya tertuju pada pipi papihnya. "Pih, pipi papih kenapa, dan itu juga bibirnya kenapa?" tanya Emly dengan curiga. "Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Emly lagi. Ini semua gara-gara dirinya sehingga papihnya harus menanggung apa yang tidak seharusnya dialami laki-laki umur lima puluh tahun itu. Sungguh tega bukan buat orang yang tega memukul papihnya.
"Ini hanya salah paham tadi sayang, tapi kamu tenang ajah, semuanya sudah terselesaikan dengan baik dan sepertinya keluarga Rio juga sudah menutup kasusus kamu, jadi ada kemungkinan kamu bebas nak," jelas papih dan juga mereka sebelum turun dari mobil sudah sepakat bahwa tidak ingin membahas apa yang terjadi tadi di rumah sakit termasuk cucunya.
Yah, hanya Emly yang belum tahu di mana anaknya berada. Sedangkan tanpa mereka ketahui bahwa Emly juga sangat ingin tahu di mana anaknya berada. Perasaan bersalah atas semua yang sering ia katakan kepada anaknya selama di dalam kandungan, membuat Emly semakin menyesal. Ia takut, bahwa ucapanya dulu membawa musibah bagi anaknya, di mana orang-orang berkata ucapan adalah doa. Ucapanya dulu dengan buah hatinya adalah semuanya doa yang jelek-jelek sempanjang hamilnya. Maka dari itu Emly dilanda ketakutan kalo-kalo ucapnya membawa anaknya mendapatkan kemalangan.
"Jadi kesimpulanya pertemuan kali ini sudah menemui titik terang Pih?" ucap Emly dengan wajah lebih ceria.
"Tadi ada kejadian tidak terduga, istri Rio tiba-tiba kontraksi hendak melahirkan. Sehingga obrolan kita terhenti, tapi nanti papih akan kesana lagi hanya memastikan kapan mereka ada waktunya," ucap Erwin, tidak ingin membuat Emly kefikiran.
"Syukurlah, Emly benar-benar ingin memperbaiki hubungan dengan mereka." Papih dan mamihnya pun mengerti dengan fikiran Emly.
Papih ingin bercerita tentang dirinya yang bertemu Arzen, hanya ingin mengetahui bagai mana perasaan Emly, tetapi takut malah nantinya membuat anaknya menjadi bersedih. Papih jadi kefikiran dengan Arzen, lambat laun dia akan tahu bahwa anak yang sangat lengket denganya itu adalah anaknya. Erwin merasa sangat miris ketika melihat sebegitu dekatnya cucunya dengan keluarga Rio. Sedangkan untuk bersama dengan dirinya hanya disapa saja sudah menjerit ketakutan.
"Mey, Opa dan Omah serta mamih kamu sangat sayang sama kamu, Opa berharap nanti kamu mau tinggal bersama kita," batin Erwin. Melihat wajah Meyra semua perlakuanya dengan anak itu langsung teringat. Erwin pun heran kenapa dia bisa sejahat itu dengan anak itu. Anak tanpa doa tetapi ia perintahkan untuk dibuang, bahkan seorang harimau pun akan menjaga anaknya dengan baik, tetapi kenapa Erwin tidak bisa memberikan perlindungan buat anak tanpa dosa itu.
****
"Abang... Abang sini deh," pekik Ipek ketika melihat setatus Rio dengan foto keempat keluarganya, dan juga foto bayi dengan pakaian bertuliskan 'Im Boy' itu. Ipek ikut bahagia ketika melihat setatus pasangan suami istri itu.
Clovis yang sedang duduk di sofa berwarna ping dengan laptop dipangkuanya pun mendongakan kepalanya. "Kenapa Baby? Abang lagi ada kerjaan, adik yang kesini bisa enggak?" tanya Clovis dengan mulut sangat manisnya. Agar Ipek yang mendekat kearahnya. Pasalnya ia benar-benar sedang membaca laporan orang kepercayaanya.
Laki-laki itu menyambar ponsel yang ada di hadapanya itu dan segera membesarkan layarnya, seolah memastikan bahwa apa yang ia lihat memang benar.
"Ini serius Ody udah lahiran? Dan anaknya cowok?" tanya Clovis seolah tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Seriuz lah Bang, tuh buktinya perut Mba Ody sudah tidak buncit lagi. Terus juga caption dokter Rio baca deh. 'Alhamdulillah, sudah lengkap, cewek sama jagoan." Ipek membaca caption yang tertulis di bawah foto mereka.
"Beruntung banget sih Rio dan Ody itu, dapat anak cowok," ujar Clovis sembari memberikan ponsel pada Ipek.
"Loh, kok ngomongnya gitu? Kan berati itu rezeki Mba Ody sama dokter Rio. Kalo Abang pengin juga harus banyak berdoa dan berusaha juga," ucap Ipek agar Clovis jangan berkecil hati, lagian mereka menikah baru hitungan hari, masa udah pengin dapat yang cowok. Usaha dulu yang rajin bambang....
"Iya Baby, Abang enggak iri kok, tadi itu cuma bercanda. Dan kapan kita akan menengok anak Rio itu? Rasanya sudah tidak sabar ingin menculik anak cowok itu," ujar Clovis tentunya dia tidak serius dengan ucapanya. Ia hanya bercanda agar istrinya tidak tegang terus.
"Abang kok diculik, kasihan dong. Nanti bundanya nyariin loh," rutuk Ipek dengan memukul setengah bercanda pundak suaminya itu.
Clovis pun terkekeh ini adalah momen paling mengasikan di mana ia bisa mengerjai Ipek. Lucu, polos membuat Clovis senang untuk mengerjai istri barunya itu. Rasanya semakin detik semakin menit dan berganti jam bahkan hari rasa cintanya justru bertambah. Apa yang menjadi kesukaan Ipek lama kelamaan ia bisa terima dan tidak keberatan mengikuti gaya hidupnya sesuai dengan kesukaan istrinya.
Contohnya kamar ini yang didominasi dengan warna pink. Hampir di setiap sudutnya ada bonek-bonek dengan warna yang hampir rata-rata Pink. Namun Clovis melihatnya malah menarik, aroma harum wangi yang segar menambah betah dirinya berlama-lama di kamar barunya. Yah kamar istrinya yang berarti kamar dirinya juga. Pasalnya Abi menolak keras kertika Clovis ingin memisahkan diri dari mereka. Meskipun alasanya ingin mandiri, tetap saja Abi tidak mengizinkanya.
Kata Abi apa di rumah ini tidak bisa mandiri, dan lain-lain. Abi tetap ingin Ipek dan dirinya tinggal di rumah ini. Pokoknya kalo baginda raja sudah berkehendak tidak bisa di negosiasi. Sehingga Clovis pun tidak masalah kalo harus tinggal di rumah ini. Lagian sekalian dia bisa mendekatkan diri dengan mertuanya yang galak itu.
"Gimana kalo besok Bang, Ipek udah enggak sabar pengin gendong Baby Boy," ucap Ipek antusias tanganya ia pragakan tengah menimang bayi yang lucu itu.
"Ya udah, besok pulang kerja kita langsung kesana yah," balas Clovis. Dia juga tidak sabar ingin minta jurus sama Rio biar bisa dapat bayi laki-laki juga.
Ipek pun memekik dengan riang, karena ia besok akan menemui Ody dan bayinya. Selanjutnya Ipek pun membuat janji dengan Zawa, agar mereka mengunjungi bayi Ody bersamaan. Kalau banyak teman yang berkunjung pasti akan semakin ramai dan seru. Itu pikir Ipek. Clovis pun kembali bekerja dengan bibir masih tersenyum karena kelakuan istrinya yang menggemaskan itu.