
Ody menutup wajahnya dengan kedua tanganya, ia terisak menangis. Setelah Rio memecatnya sepihak.
"Kenapa menangis?" tanya Rio pelan, ia panik gimana kalo Intan tau pasti bakal ngomel.
Cukup lama Ody diam, tidak menjawab pertanyaan Rio, yang bagi Ody hanya mengejek.
Sudah pasti Ody nangis karena memikirkan nasib keluarganya, belum nasib anaknya. Gimana ia bisa mengirim orang tuanya kalo dia nggak kerja.
"Tuan, apa Anda tidak bisa kasih saya kesempatan untuk tetap kerja, aku tulang punggung keluarga, gimana nasib ade dan ibuku kalo aku tidak kerja?" tanya Ody, sembari menatap mata Rio dan dari sudut matanya masih jelas air matanya jatuh dengan deras.
"Dengar dulu makanya. Kamu boleh kerja, tapi tidak di rumah sakit ini. Please kamu juga ngerti posisi aku. Orang-orang nggak ada yang tau kamu istri aku, keluarga aku juga nggak tau aku udah menikah, meeskipun keluargaku lagi nggak tinggal di Indonesia, tapi cepat atau lambat mereka akan kembali ke negara ini. Gimana kalo setatusmu terungkap, aku yang repot, Ody." Rio menjelaskan alasanya dia memecat Ody. Itu semata-mata agar setatus Ody sebagai istrinya tidak ada yang tau.
Ody sebenarnya kecewa lagi-lagi ia di sembunyikan. "Mungkin ini sudah jadi nasibku, tidak dianggap pernikahanya. Rio mau menerimaku karena anaknya, diluar urusan anak aku hanya dianggap pembantu." batin Ody tercubit.
"Lalu di mana aku akan kerja tuan? Aku akan ikut apa mau Anda yang penting saya tidak kehilangan pekerjaan tuan." ucap Ody dengan sedikit terbata, karena isak tangisnya masih terlihat meskipun tidak seperti tadi.
"Kamu cukup di rumahku ajah, seperti biasa pagi hari kamu memijitku, dan kalo aku kerja kamu bantu Mbok Karti di rumah." Rio menjelaskan kerjaan Ody. "Dy, coba kamu ceritakan, kenapa kamu jadi tulang punggung keluarga, bahkan aku liat kamu itu kaya nggak ada capenya. Kerja dari pagi sampai malam. Seberapa banyak kebutuhan keluargamu?" Rio rupanya penasaran dengan kehidupan Ody.
"Kenapa Anda tiba-tiba tanya begitu tuan? taya Ody merasa aneh kenapa Rio penasaran dengan kehidupanya.
"Ya biar aku tetap mengizinkan kamu kerja. Takutnya itu hanya akal-akalan kamu sajah buat narik simpati aku." jawab Rio enteng seperti tanpa dosa.
"Astaga tuan, sedikit pun nggak ada pikiran untuk menarik simpati tuan. Aku pun sebenarnya tidak mau diposisi ini. Namun, Tuhan berkehendak lain, semuanya terjadi begitu cepat, dan berurutan. Seolah tidak membiarkan aku bernapas cobaan datang bertubi-tubi untuk menguji sejauh mana keimananku." Ody berusaha membela diri, bahwa ia tak pernah ada niatan untuk menarik simpati dari Rio dengan berpura-pura susah.
"Ya makanya ceritain, kalo kamu nggak cerita mana aku tau apa sebenarnya yang terjadi sama keluarga kamu sampe kamu mau banting tulang siang dan malam." pinta Rio bersungguh-sungguh.
"Aku terlahir dari keluarga miskin, Ayahku yang saat itu hanya buruh tani, tidak mampu mencukupi kebutuhan kami. Setelah lulus sekolah menengah atas aku memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta, tetapi tetap sajah kami kekurangan. Hutang-hutang kami semakin menumpuk, karena ibu yang memiliki sakit tumor di rahim membutuhkan pengobatan rutin, sehingga memaksa aku untuk bekerja lebih keras lagi. Aku mendaftar jadi TKW keluar negri tepatnya ke Jepang bekerja sebagai buruh pabrik. Kejadianya sangat singkat 2 minggu menjelang kepulanganku ketanah air, Doni tuanganku yang menurut rencana, kami akan menikah setelah aku pulang kekampung halaman. Namun, justru Doni menikah dengan Cindi, teman mainku. Uang yang aku kumpulkan selama kerja aku kirimkan pada Doni untuk membangun rumah dan menyiapkan pernikahan kami, tetapi justru Doni menikah dengan wanita lain. Sepuluh hari menjelang kepulanganku, kembali aku di beri cobaan Ayahku meninggal dunia, sehari sebelumnya ayah terkena serangan jantung, karena kecewa denganku yang terlalu percaya pada Doni sehingga uangku tidak jelas habisnya. Memang Doni membangun rumah yang rencananya akan kami tempati tapi belum selesai, dia sudah ketahuan selingkuh dan menikah. Sehingga uangku habis tak jelas." Ody mengisahkan nasibnya dengan terisak, menahan sesak setiap mengingat kejadian yang ia lalui.
Rio terdiam, ia merasa simpati dengan nasib Ody yang begitu berat. "Kamu nggak coba temui mantan tunanganmu setidaknya dia kembalikan uang kamu, kan kalian nggak jadi nikah." ucap Rio geram juga mendengar kisah perjalanan hidup Ody.
"Udah aku temui keluarganya, karena Doni semenjak menikah pergi merantau ke Jakarta. Menurut penuturan keluarga Doni, mereka akan menjual rumah yang kami bangun bersama lalu uangnya dibagi dua, tetapi sampai sekarang bahkan surat tanah sajah belum ketemu, gimana mau dijual. Entah benaran nggak ada atau akal-akalan mereka sajah agar aku lupa dengan masalah ini. Yang jelas aneh sajah sudah lebih dari 6 bulan tapi nyari surat tanah seharusnya di simpen dengan rapi, kenapa bisa ilang." ucap Ody, ia makin curiga dengan keluarga Doni tetapi dia juga nggak bisa berbuat apa-apa.
"Percuma, keluarganya pasti nggak ngasih, malahan nanti dikira aku ganggu suami orang lagi." cicit Ody jutek.
"Ya terserah juga sih, cuma kan keenakan mereka kalo kamu diam ajah, dikiranya kamu udah iklas lagi." ujar Rio terpancing juga karena sikap kelurga Doni.
"Aku nggak akan Ikhlas, suatu saat andai kami ketemu pasti akan aku bahas. Aku rela kerja lebih dari 12 jam dan juga selalu irit biar bisa terkumpul uang, setelah kumpul malah habis tidak jelas." ucap Ody kesal setiap membahas masalah uangnya. " Memang itu semua salahku juga terlalu percaya dengan orang, semua juga menyalahkan aku, bahkan diriku sendiri menyalahkan kebodohanku." imbuh Ody dengan terisak.
"Ya udah lain kali jangan diulangi lagi." ujar Rio, tanpa sandar ia mengusap tangan Ody yang sejak tadi dimainkan olehnya.
Ody hanya menganggung lemah.
"Kata Intan nanti kalo sudah mendingan, udah boleh pulang. Langsung pulang kerumah ajah, jangan balik kerja lagi. Biar urusan kamu dengan Bu Dewi, nanti Aarav yang atur semua." ucap Rio, dengan suara sedikit lebih lembut, mengalihkan pembahasanya agar Ody tak berlarut sedihn
Lagi-lagi Ody menganguk.
"Pulangnya kerumah aku, jangan rumah Intan lagi." imbuh Rio, dia tau selama ini Ody tinggal bersama Intan.
"Iya." jawab Ody singkat.
"Kalo gitu aku balik kerja lagi yah, kamu istirahat dulu ajah, sampai benar-benar pulih baru pulang."
Rio pun meninggalkan Ody sendirian, setelah memastikan Ody bisa untuk ia tinggal sendiri. Satu sisi Rio kasian dengan nasib Ody, tetapi ia juga takut bahwa pernikahanya akan diketahui keluarganya. Rio terlalu takut membuat keluarganya kecewa, terlebih mamihnya yang memiliki riwayat sakit jantung, takut nanti tiba-tiba syok dan sakitnya kambuh.
Sepanjang perjalanan Rio sangat bingung dengan hubunganya dengan Ody, apa harus dia sembunyikan Ody disuatu tempat sampai lahiran. "Ah sial kenapa Ody meski hamil sih." batin Rio menjerit mengutuk nasibnya.
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤❤❤