Beauty Clouds

Beauty Clouds
Keperian Ipek....



Di apartemen Clovis...


Ipek meninggalkan Clovis yang hendak beristirahat. Ia pergi ke dapur hendak menyiapkan makanan untuk Clovis, namun berhubung ia payah urusan dapur. Jalan satu-satunya ialah menghubungi lestoran keluarganya yang paling dekat dengan apartemen Naqi.


Ipek memesan beberapa menu terutama untuk orang yang masih tahap penyembuhan dari oprasi, jahit luka tusuk diperutnya. Ipek minta dikirimkan Nasi, sop ikan gabus, dan olahan dari ikan gabus, sembari menunggu makananya datang Ipek juga mengatur salah satu pembantu kepercayaan keluarganya untuk mengurus Clovis selama masih sakit, tentu Ipek sebelumnya sudah meminta izin sama uminya, dan Ipek juga berkata bahwa hari ini ia akan pulang.


Hanya membutuhkan waktu empat puluh menit, makanan yang dipesan Ipek pun datang, dan Ipek dengan telaten menyiapkanya di nampan agar nanti Bibi tinggal mengantarkanya ke kemar Clovis.


Tidak lama setelah makanan datang Bibi pun datang. Ipek meyambutnya dengan ramah. Ipek menjelaskan kerjaannya pada Bibi dan Ipek juga membayar Bibi untuk beberapa bulan kedepan, karena ini kerjaan Ipek yang minta sehingga pembayaran Ipek yang tanggung. Ipek juga meminta Bibi merahasiakan jati dirinya, dan Bibi berpura-pura tidak mengenala Ipek sebelumnya.


"Pokoknya nanti kalo ditanya Bibi jawab ajah tidak kenal sama Ipek, dan Bibi bisa ngaku diambil saya dari yayasan, intinya Clovis jangan sampai tau siapa Ipek, yah Bi! Bibi paham kan maksud Ipek?" tanya Ipek memastikan agar Bibi tidak salah berkata.


"Tau Neng, nanti Bibi kerjakan sesuai yang Neng Ipek pesankan." Bibi pun yang sudah terbiasa denga perintah Ipek tentu paham maksud dari kemauan majikanya.


"Ya udah Bi, Ipek mau pulang. Nanti kalo Clovis sudah bangun tolong antarkan makanan ini dan juga obatnya disiapkan yah Bi. Ini obatnya aturanya sudah Ipek tulis dikertas yah Bi, dan satu lagi ini tolong kasih sama Clovis." Ipek meyodorkan kotak berwarna merah hati yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Baik Neng." Bibi pun terharu dengan perjuangan Ipek, tentu Bibi tau siapa Clovis, buka rahasia umum lagi bahwa anak majikanya mencintai laki-laki tetapi tidak terbalaskan.


Setelah memastikan semua urusanya beres Ipek pun akhirnya undur diri sama Bibi dan menitipkan semua urusan Clovis sama asisten rumah tangganya. Berjalan menyusuri lorong apartemen yang sepi dengan lemas menuju palkiran di mana sopir keluarga sudah menunggu.


Ipek masuk mobil dengan lemas, gimana nggak lemas dari dia merawat Clovis di rumah sakit tak sedikit pun dia ingin makan, dia hanya minum air putih sajah. Buka diet atau pun nggak ada uang untuk membeli makanan, tetapi entah mengapa selera makanya menguai entah kemana. Lemas, itu yang Ipek rasakan, tetapi dua hari ini ia berusaha kuat dan tidak terlihat lemah didepan laki-laki yang dicintainya.


"Assalamuallaikum..." ucap Ipek begitu masuk ke dalam rumahnya.


"Walaikumsallam, aduh anak kesayangan Umi udah pulang. tapi ko lesu amat," balas Umi sembari memeluk Ipek dengan erat meluapkan semua rasa kengenya karena dua hari tiga malam Ipek tidak pulang ke rumah. Keluarga Ipek memang membebaskan Ipek tetapi mereka selalu mengawasi kegiatan Ipek dari jarak jauh sehingga semua yang dilakukan Ipek meskipun Ipek merahasiakannya akan sampai ketelinga keluarganya.


"Umi, Ipek lagi sedih, kira-kira kalo Ipek tinggal di pondok Abah gimana Mi? Ipek ingin mendalami ilmu agama di pondok Abah," ucap Ipek. Keputusanya ia ambil barusan selama dalam perjalanan pulang.


Umi pastinya kaget, terlebih ia tau dari dulu Ipek sudah ditawarkan untuk mendalami ilmu agama di pondok Abi maupun Abah, tetapi Ipek selalu menolak dengan berbagi macam alasan. Namun kali ini Ipek justru meminta untuk tinggal dengan Abahnya.


"Kita masuk ke kamar kamu ajah dulu yuk, nanti kita ngobrol di sana. Sekalian kayaknya anak Umi ini lagi cape banget." Umi menuntun anak kesayanganya, dan Ipek ikut sajah dengan saran dari Umi. Memang pada kenyataanya dia sangat cape dan lemas.


Ipek dan Umi duduk diranjang bersandarkan pada headboard, "Ngomong-ngomong yang membuat kamu ingin belajar mendalami ilmu agama apa? Kenapa memilih di pesantren Abah bukan di pesantren Abi?" tanya Umi dengan sabar, kedua tanganya menggenggam erat tangan putrinya, seolah memberikan semangat agar bisa kuat menghadapi masalah percintaanya.


"Di pesantren Abah itu lebih tenang Um, sebab terletak diujung pulau Jawa, jadi Ipek lebih bisa fokus tidak banyak memikirkan yang tidak seharusnya dipikirkan," ucap Ipek, mengutarakan pilihanya memih pesantren kakeknya dari pada pesantren milik Abinya.


"Baiklah nanti Umi bicarakan sama Abi dan Abang-Abangmu mereka harus tahu rencana kamu juga," jawab Umi tidak mau gegabah mengambil keputusan.


"Baik lah Mi, Ipek juga pengin istirahat cape banget badanya." Ipek pun merebahkan badanya sementara Umi masih mengelus-elus rambut Ipek yang panjang.


"Sayang apa kamu ingin mendalami ilmu agama ada hubunganya dengan laki-laki yang kamu sukai?" tanya Umi, dengan sangat lembut agar Ipek tidak tersinggung.


"Ipek hanya ingin melupakanya Umi, dan meyerahkan jodoh sama Tuhan, rasanya sakit ketika mencintai seseorang, tetapi orang itu tidak membalas cinta kita." Ipek menumpahkan semua sesak didadanya. Kini ia tidur dipangkuan Umi dan menangis menumpahkan semua air mata yang mewakilkan perasaanya yang sangat hancur.


"Apa kamu yakin sangat mencintai laki-laki itu?" tanya Umi, tetap dengan suara lembutnya.


"Ipek sayang dia dan Ipek ingin menjadi pendamping hidupnya, tapi Ipek juga nggak bisa memaksakan, bukanya jodoh dan maut sudah Alloh atur, jadi sekarang Ipek serahkan semua jalan hidup Ipek sama Allah, tetapi Ipek lemah kekuatan untuk mengapus bayang-bayang dia tidak mudah," lirih Ipek.


"Enggak apa-apa, nanti juga lama-lama kamu lupa dengan sedirinya. Jalan yang kamu ambil sudah benar. Menyerahkan semua pilihan kepada Sang Pemilik Kehidupan dan doakan dia supaya mendapatkan juga pendamping yang sholehah yah!" Umi memberika semangat pada putrinya agar tetap semangat menghadapi semua masalahnya.


Ipek pun mengangguk dan memeluk Uminya sebagai kekuatannya.


****


Sementara diapartemen Clovis...


Clovis bangun, dan mencari-cari air minum. Tenggorokanya kering, setelah ia mimpi mengejar-ngejar wanita cantik berkerudung yang lari membelakangi dirinya. Dari wajahnya ia seperti mengenal wanita itu tetapi ketika Clovis dekati wanita itu berbalik arah dan meninggalkanya. Clovis mengejar karena penasaran dan hatinya diketuk oleh wanita itu, namun sang wanita misterius terus berlari dan hilang ditelan awan putih.


Clovis terbangun dan merasakan haus, seolah ia benar-benar telah berlati-lari. Ia berusaha bangun, tetapi..


Ceklek... suara pintu dibuka dan masuklah wanita paruh baya yang membawa nampan berisi makanan dan minum serta obat.


"Anda siapa?" tanya Clovis heran.


"Oh saya, Bibi Irma, asisten rumah tangga yang Neng Ipek tugaskan untuk merawat Anda Tuan!" jawab Bi Irma dengan lembut dan sopan.


"Sekarang Ipeknya mana?" tanya Clovis penasaran dan mengedarkan pandanganya mencari Ipek, barang kali masih ada disekitar dia.


"Neng Ipek sudah pamit pulang, maka dari itu, Bibi menggantikan tugas-tugas Neng Ipek menjaga dan merawat Anda, sampai sembuh." Bi Irma menjelaskan dengan hati-hati tugas yang telah Ipek berikan.


Clovis termenung, ada rasa tidak biasa ketika mendengar Ipek pergi, bahkan ia lupa bahwa ia bangun karena kehausan.


"Tapi tadi sebelum Neng Ipek pergi, beliau menitipkan ini." Bi Irma menyodorkan kotak berwarna merah hati yang Ipek titipkan untuk Clovis.


"Apa ini Bi?" tanya Clovis heran dan membolak-balikan kotak persegi yang lumayan besar itu.


"Saya tidak tau Tuan, dan saya tidak berani membukanya, karena itu kotak untuk Anda."


Clovis perlahan membuka kotak Itu. Clovis kaget melihat isi kotak itu...


"Ipek," lirih Clovis ketika melihat isi dalam kotak itu Clovis terdiam dan mengambilnya satu persatu isinya...


#Nah loh kira-kira Ipek kasih warisan apa buat Bambang Clovis, dan apa Bambang Clovis akan merasa kehilangan Ipek, setelah Ipek pergi dari kehidupanya....