
Clovis pun selesai berjingkrak langsung kembali ke arah Ipek yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut tebal hal itu karena Clovis yang tidak jadi membuat malam panas ini. Eh... Bukannya tidak jadi tetapi belum jadi karena terhalang dengan pertanyaan yang tidak penting itu.
"Kita coba lagi yah?" tanya Clovis, dengan membalas ciuman dan pelukan di tubuh istrinya itu.
"Memang susah banget yah Bang? Dan nanti kalo Ipek tidak bisa bermain dengan lihai seperti para wanita Abang yang dulu itu bagai mana?" tanya Ipek dengan sangat berhati hati takutnya Clovis tersinggung.
"Hahaha... Tidak apa-apa sayang itu karena kamu masih baru dan belum ada pengalaman, sangat wajar sulit untuk di bob*l tetapi kalo nanti sudah biasa kamu akan lebih jago dari mereka kok. Kamu tenang ajah semuanya akan berlalu nanti Abang ajarkan sampai kamu ahli dan bisa memimpin," kekeh Clovis yang sejak tadi tertawa dulu karena Ipek yang belum juga bisa di tembus pertahananya, tetapi sudah ketakutan apabila tidak pandai memu'askan suami. Kalau baru memang seperti itu dan itu sangat-sangat wajar dengan apa yang terjadi.
Setelah menenangkan Ipek bahwa ia tidak usah khawatir dengan apa yang terjadi kini Clovis kembali lagi mencoba merobohkan pertahanan yang Ipek buat. Walaupun sudah lewat dari pukul dua belas malam dan mereka belum menghabiskan satu r*nde pun sedangkan biasa pengantin baru jam segini sudah dapat satu r*nde untuk sekali permainan, tetapi sekarang Clovis justru masih mencoba.
Perlahan Clovis mengarahkan antenanya dengan dibantu dengan tangan agar tidak meleset. Memang ketika memiliki senjata yang besar dan panjang selain senang karena bisa memu'askan pasangan juga akan merasa kesusahan ketika pertama kali membuka jalan.
Sesuai yang di ajarkan Clovis begitu benda besar nan keras itu perlahan masuk, Ipek menajamkan kuku-kukunya ke punggung Clovis. Semakin dalam Clovis menekankan benda itu semakin dalam juga Ipek menajamkan kukunya di punggung suaminya.
Blush... Satu batang sudah bisa masuk semua tentu tidak sekali tekan langsung masuk, melainkan beberapa kali usaha dan itu pun beberapa kali kegagalan dan semua itu bisa Clovis taklukan, berkat kegigihanya.
Ipek memejamkan matanya ketika di bawah sana benda besar dan sesak menguasai di area sensitifnya. Uhhh... Rasanya sesak sekali dan sedikit perih. Itu yang Ipek rasakan.
Clovis memang sengaja tidak langsung membuat pemainan, karena pasti akan menyakitkan apabila langsung ia lakukan, sehingga ia lebih dulu mendiamkan agar Ipek bisa menikmati rasa untuk pertama kalinya wilayahnya ada yang menguasai.
"Siap?" tanya Clovis sebelum akhirnya ia melakukan tugasnya dengan beru'tal.
Ipek mengangguk dengan semangat karena memang ia juga ingin merasakan apa yang Zawa dan Ody selalu bicarakan enak-enak itu. Satu... Dua... Tiga... Clovis mulai mempermainkan antenanya, mengaduk, dengan gerakan yang pelan tetapi makin lama semakin tidak terkendali.
Satu dan dua gaya Clovis gunakan, ia masih ingat akan nasihat Intan agar tidak menyakiti Ipek. Sehingga Clovis bentar-bentar bertanya pada istrinya itu "Sakit tidak?" karena memang Clovis yang sudah pandai soal begituan sehingga ia tidak merasa membuat sakit Ipek dan begitu pun dengan Ipek tidak merasakan sakit, justru Ipek merasakan kenik'matan. Sehingga Ipek heran ketika Clovis bertanya sakit tidak karena memang ia tidak merasakan sakit kok, dia sangat merasakan enak dan bahkan Ipek baru tahu bahwa untuk sebuah permainan suami istri sangat enak seperti ini. Ada rasa menyesal kenapa dulu ia tidak melakukan dengan mantan suaminya, Wahid, sehingga Ipek tidak bisa merasakan milik mantan suaminya segimana enaknya.
Yah, walaupun untuk mengetahui ukuran Ipek beberapa kali mengetesnya ketika membersihkan tubuh suaminya ketika masih sqkit sehingga ia bisa tahu ukuranya. Walaupun memang tidak sebesar milik Clovis.
Ipek merasakan rasa yang semakin membuatnya ingin menumpahkan sesuatu ketika Clovis semakin mempercepat gerakan antenanya. "Abang, peng'in pi-pi-s," ucap Ipek dengan terbata dan hal itu membuat Clovis tersenyum pernuh arti.
Ahhhh... Ahhhh....
Era-ngan panjang yang menandakan bahwa mereka telah menyudahi permainan sampai ke puncaknya. Clovis sengaja tidak buru-buru mencabut antenanya melainkan ia membiarkan merasakan denyutan yang di bawah sana sehingga ia merasakan seolah tengah di pijat, terlebih rasa hangat itu sangat membuatnya enggan untuk menyudahinya. Apabila tidak teringat dengan nasihat Intan Clovis ingin mengulang permainan itu lagi, tetapi Clovis ingat nasihat Intan, dan pastinya takut juga apabila nanti Ipek demam dan justru berakhibat ia di paksa puasa lagi selama satu minggu.
Bukanya lebih baik menahan malam ini yang terpenting pertahanan Ipek sudah berhasil ia bo-*** dan besok ia akan ulang lagi apabila Ipek sudah biasa jangankan dua tiga pun pasti akan di berikan oleh Ipek.
Bercak merah karena selaput dara berhasil di ro-bek mengakibatkan noda bercak merah terdapat di seprai yang berwarna putih itu. Dan benda yang pas di dalam genggaman Clovis masih naik turun mengikuti da-da Ipek yang masih memacu karena sisa berci'nta barusan.
Clovis menarik tubuh polos itu ke dalam pankuanya melihat dua buah da-da yang naik turun memancing untuk di nik-mati lagi. Ipek melentingkan punggungnya ke depan dan membusungkan da-da'nya ketika benda kenyal yang menyerupai kacang kembali di kuasai oleh suaminya.
Dadanya sengaja di bikin membusung dan membiarkan rasa itu kembali menguasai dirinya. Clovis hanya memberikan sentuhan tambahan tanpa harus menguasai dirinya.
"Udahan yuk, kita mandi dan ini di kompres biar tidak bengkak dan besok kita bisa bermain lagi," ucap Clovis sembari mengangkat tubuh polos istrinya di gendonganya. Kali ini mereka akan mandi bersama dan setelah itu istirahat agar besok pagi kembali fresh. Sehingga di malam harinya ia bisa kembali mengulang kegiatan yang membuat can-du itu.
Setelah satu jam saling menggosok Ipek dan kini mereka sudah selesai bebersih dan lagi-lagi Clovis tidak mengizinkan Ipek berjalan, karena ia tahu hal itu sangat menyakitkan dan mengganjal di bawah sana, karena bekas permainanya. Yah memang Ipek pun beberapa kali meringis menahan sakit ketika Clovis bersihkan area sensitifnya dengan air hangat agar tidak membengkak.
Setelah mandi kini Ipek kembali menggunakan pakaianya lagi-lagi Clovis yang dengan sabar menggunakan pakaian Ipek. Itu sebagai rasa terima kasih Clovis pada Ipek karena ia sudah menjaga kepera'wananya untuk dirinya.
"Lapar lagi tidak?" tanya Clovis ketika Ipek sudah selesai memakai bajunya.
Ipek menggeleng. "Tidak lapar hanya mengantuk," jawab Ipek dengan memeluk perut six pack suaminya.
"Ya udah istirahat yah." Clovis akhirnya membiarkan Ipek untuk istirahat dan dia pun akhirnya ikut istirahat juga walaupun sebenarnya ia sangat ingin bertanya pada Ipek kenapa ia bisa masih pera-wan sementara Ipek Sudah pernah menikah dan kejadian dengan Arzen dulu Clovis masih belum begitu mengerti kenapa bisa Ipek masih pera-wan.
Namun semua pertanyanya itu ia terpaksa menahanya karena Ipek yang sudah mendekur dengan halus dan sudah lebih dulu mengarungi lautan meimpi. Sehingga Clovis pun pada akhirnya mengikuti juga mengarungi lautan mimpi dan besok mereka harus bangun dengan kondisi tubuh yang lebih fresh.