Beauty Clouds

Beauty Clouds
Mainan Baru



Ody kini sudah berada di rumah Rio, setelah sebelumnya kerumah Intan untuk merapihkan pakaianya.


Ody di minta tinggal di kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan kamar Rio.


Seperti biasa Rio akan pulang menjelang magrib, Ody sebenarnya tau kalo Rio sudah pulang, tetapi Ody terlalu bingung mau berbuat apa, terlebih hubungan mereka masih kurang baik, sehingga Ody tetap memilih rebahan di kamarnya.


Ody mendengar Rio melewati kamarnya dan masuk kekamar Rio. Rio pun sudah tau bahwa Ody sudah balik lagi kembali tinggal di rumahnya. Namun untuk menemui dan sekedar berbasa basi Rio sangat canggung, sebenarnya entah perasaan apa setiap Ody di samping Rio hatinya berbunga-bunga, dan nyaman. Kalo kata Intan Rio mengalamin ngidam, dan memang ngidam setiap orang beda-beda. Kebetulan yang Rio alamin ngidamnya ingin bedekatan terus dengan Ody, entah lah dengan Ody atau dengan anaknya, yang jelas Rio merasa kalo di dekat Ody ia nyaman. Namanya juga Rio si gengsi nomer satu jadi dia pura-pura jutek padahal mah pengin diperhatiin duluan.


Mbok Karti memanggil Rio untuk makan malam. Awalnya Rio membiarkan Ody di kamarnya dan menikmati makan malam seorang diri. Namun ia ingat bahwa anaknya juga pasti lapar, dan juga rasanya terlalu sepi apabila makan sendirian.


"Mbok, tolong panggilan Ody yah." titah Rio agar Mbok Karti memanggil Ody untuk menemanimya makan malam.


"Baik tuan," Mbok Karti bergegas naik keatas dan meminta Ody turun menemani Rio makan.


Ody yang baru selesai sholat Isa pun kaget ketika di minta untuk turun kebawah. Ia memutuskan turun kebawah tanpa membuka mukenanya, karena ia masih ingin melanjutkan untuk mengaji.


Rio yang melihat Ody turun dengn setelanl mukena lengkap tampak terkesima.


"Anda memanggil saya tuan?" tanya Ody ketika menghampiri Rio yang masih tercengng menatap Ody.


"Oh.... iya, saya ajak kamu untuk makan, belum makan kan?" Rio pun akhirnya menjawab meskipun kaget.


Ody nampak kaget, kenapa tiba-tiba Rio memanggilnya untuk makan bersama, apa Rio sudah menerima Ody di rumahnya sebagai istri, sehingga ia mau berbagi barang dan makanan bersamaan.


"Kamu lepas mukena kamu, simpan ajah di sanan dulu!" Rio menunjuk kearah sova.


Ody pun mengikuti saran dari Rio, ia melepas mukenanaya, melipat dan disimpan di sova.


"Sini," tawar Rio agar Ody duduk di depan Rio.


Ody masih nurut mengikuti semua perkataan Rio, ia mengambil makanan dan menu yang ada di meja makan. Meskipun masih canggung tapi Ody berusaha untuk santai.


"Tuan kenapa Anda tidak makan, malam melihat saya begitu?" tanya Ody, ia merasa risih dan malu tentunya dilihati Rio terus menerus.


"Kenapa? Malu," Rio terkekeh karena wajah Ody apabila malu berubah memerah dan itu menjadi mood booster buat Rio.


"Iya saya jadi nggak nyaman ada liatin terus," lirih Ody.


Namun, Rio yang mendengar kejujuran Ody bukanya berhenti menatap Ody, malah justru ia semakin disengaja menopang wajahnya di meja dan menata Ody dengan menggunakan kedua manik matanya yang tajam.


Ody pura-pura cuek, meskipun wajahnya tidak bisa berbohong. Merah seperti kepiting rebus.


Setelah selesai makan Ody membantu Mbok Karti merapihkan meja makan sebelum ia kembali kekamarnya.


Kini Mbok Karti pun tau bahwa Ody adalah istri Rio, tetapi atas perintah Rio, Mbok Karti dan Pak Yono nggak diizinka untuk bercerita dengan siapapun tentang yang terjadi di rumah Rio, termasuk setatus Ody adalah istri Rio


"Lama sekali dari mana ajah?" tanya Rio tiba-tiba ketika Ody masuk kekamarnya.


"Kenapa Anda ada dikamar saya?" tanya balik Ody, merasa heran kenapa Rio dengan santainya duduk diranjangnya.


"Rumah ini milikku, jadi bebas aku mau dimana pun." jawab Rio dengan jutex.


Ody setelah mendengar jawaban Rio ia pun diam dan masuk kekamarnya.


Lagi dan lagi Rio hanya tertawa melihat wajah Ody, bagi Rio sangat menyenangkan meledek Ody, seperti mendapat mainan baru itu yang Rio rasakan bahagia.


"Aku pengin kamu memijatku seperti kalo pagi hari." ucap Rio ketika Ody menghampirinya.


"Apa kepalanya sakit lagi?" tanya Ody heran.


"Nggak hanya pengin ajah, mulai sekarang pagi dan malam menjelang tidur kamu pijit aku, biar aku tidurnya nyenyak kalo abis dipijit suka lebih pulas tidurnya." ujar Rio, agar Ody nggak banyak bertanya.


Ody pun pasrah, nggak mau membalas lagi ucapan Rio. Ody duduk seperti biasa dan meletakan bantal di atas pangkuanya agar Rio nyaman untuk rebahan.


Baru beberapa menit Ody memijit, tetapi nampaknya Rio sudah mulai tertidur dengan damai.


Ody mengangkat kepala Rio dan meletakanya di bantal, sedangkan kaki Ody ditarik menyudahi pijatanya.


"Huh... akhirnya tidur juga bayi gede, tapi kalo Rio tidur disini aku tidur di mana dong? Masa iya aku harus tidur satu ranjang dengan Rio." Ody nampak berpikir.


Setelah menimang-nimang akhirnya Ody tidur di bawah dengan kasur lantai yang Ody minta dari Mbok Karti, "Untung ajah dirumah ini ada kasur lantainya sehingga aku bisa gunakan untuk tidur," batin Ody.


Satu minggu telah berlalu kini Ody sudah terbiasa tinggal di rumah Rio, dan satu minggu juga Ody tidak bekerja di rumah sakit dan di Bar milik Clovis. Untuk sementara Ody memang izin dari tempat Clovis, itu karena Ody masih belum bilang sama Rio, tetapi nanti Ody akan coba negosiasi dengan Rio agar diizinkan kerja di tempat Clovis.


***


Sedang Ipek ia masih kerja di tempat Clovis, dan masih seperti sebelumnya Clovis masih jutek dengan Ipek, padahal Ipek sudah selalu baik dan nurut apabila diperintah oleh Clovis, tetapi nampaknya Clovis malah makin ingin mengerjai Ipek.


Sudah hampir memasuki bulan kedua Ipek kerja di tempat Clovis, tetapi sedikit pun Ipek tidak pernah dilihat oleh Clovis. Setiap hari kegiatan Clovis hanya memandu kasih dan memacu birahinya dengan para teman wanitanya yang berbeda setiap malamnya, seperti disengaja Clovis tunjukan di depan Ipek. Ipek yang awalnya geli ngelihat kelakuan Clovis makin hari sudah semakin bisa. Namun, Ipek belum bisa menghilangak rasa sukanya pada Clovis. Ipek tetap berharap suatu hari Clovis akan sadar dan melihat kesungguhan hati Ipek. Entah mengapa Ipek kekeh menyukai Clovis, padahal orang yang baik dan lebih tampan dari Clovis banyak dan tentunya bisa menerima kekurangan Ipek juga, sehingga tidak harus menyakiti hatinya dengan kelakuan Clovis. Mencintai laki-laki seperti Clovis pasti sangat menyakitkan, tetapi Ipek berusaha tidak menunjukan perasaan sakit itu. Ia selalu berusaha baik-baik sajah di depan Clovis maupun temanya Ody dan Intan.


Ipek akan tetap bertahan mencintai Clovis, meskipun dengan luka di hatinya, tetapi apabila sampai suatu saat Clovis tidak ada perubahan juga Ipek hanya berdoa semoga ia dikuatkan hatinya untuk melupakan Clovis, dan Ipek akan mundur meninggalkan Clovis. Mencari dan menyusun kehidupanya dengan yang baru. Setidaknya Ipek sudah berusaha sehingga tidak menyesal apabila ia tidak mendapatkanya. Dari pada nanti Ipek meyesal karena tidak berusaha dan akan penasaran, rasa penasaran akan terus menghantui disetiap harinya.


***


#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤