Beauty Clouds

Beauty Clouds
Rencara Zawa dimulai



[Sayang gimana kalo nanti malam kita jalan-jalan, sudah lama kita tidak menghabiskan malam bersama, aku kangen saat-saat kita menghabiskan malam bersama!]


Begitulah kira-kira pesan yang Zawa kirim untuk Arzen. Yah, Zawa sudah mulai terpengaruh dengan Emly, jadi Zawa akan memanfaatkan waktu berdua mereka untuk mengorek informasi mengenai Rio dari Arzen.


Karena kecewa dengan Arzen, akhirnya Zawa mengikuti saran Emly. Kembali ketujuan awalnya ia mendekati Arzen hanya untuk mencari informasi mengenai Rio dan teman-temanya.


Padahal sebenarnya perasaan Zawa sudah benar-benar cinta sama Arzen. Terlebih sikap Arzen yang baik. Selalu memanjakan Zawa berhasil melulukan sifat Zawa yang susah untuk ditaklukan itu. Begitu pun Arzen yang mencintai Zawa dengan tulus, tanpa sedikit pun curiga dengan niat buruk Zawa.


Arzen yang saat itu tengah di jalan menuju rumah sakit tempat Clovis di rawat, langsung menepikan kendaraanya sejenak ketika ponselnya berbunyi dengan notif khusus dari pujaan hatinya itu.


Arzen langsung berjingkrak dan mengembangkan senyumnya ketika membaca pesan dari kekasihnya itu. Awalnya Arzen mengira bahwa Zawa masih marah denganya, karena vidio dirinya dan Ipek. Namun, ketika ia menerima pesan dari Zawa, Arzen sangat yakin bahwa kekasihnya sudah memaafkanya.


[Ok ayang, nanti jam tujuh aku jemput ke rumah ayang yah!"] Begitu kira-kira balasan yang Arzen kirim untuk kekasihnya. Yah, Arzen langsung membalas pesan sawa saat itu juga.


Rasa kesal yang tadi sempat mengusainya kini sudah sedikit menguai. Peran Zawa sangat penting dihati Arzen, sehingga mampu meredam kemarahanya. Namun, Arzen kembali melanjukan mobilnya ia tetap harus menuju rumah sakit, sebab Arzen pun khawatir dengan Ipek, takut apabila Clovis berbuat kasar terhadap Ipek.


Begitu sampai di palkiran rumah sakit, Arzen langsung berlari menuju lift dan langsung menekan angka tiga. Dengan tidak sabar Arzen mencari nomor satu, ruangan VIP di mana Clovis dirawat. Arzen langsung mendorong pintu ruangan Clovis dan menatap Clovis dengan nyalang. Ia belum menyadari bahwa Ipek ada di ruangan itu juga yang saat itu tengah duduk di sova.


"Arzen," lirih Ipek, ia langsung berdiri menghampiri Arzen. Ipek takut akan terjadi pertengkaran lagi antar Arzen dan Clovis. Mengingat mereka sama-sama keras kepala dan emosian.


"Ngapain kamu disini?" tanya Arzen dengan suaran bergetar menahan emosinya.


"E... a... aku hanya membantu Clovis," lirih Ipek, dengan terbata karena, ia takut meliat mata merah Arzen yang tengah kesal terhadap Ipek.


"Kenapa kamu bo'doh banget sih Pek!! Kapan kamu bisa sadar, cinta kamu itu cuma bertepuk sebelah tangan. Jangan jadi gila, karena orang ini! (Arzen menunjuk Clovis yang justru dengan santai menyaksikan pertengkaran Arzen dan Ipek) Dil luar sana banyak Pek laki-laki baik, yang bisa menerima kamu apa adanya. Bukan seperti bajing'an ini," omel Arzen pada Ipek. Arzen bahkan sudah seperti kakak Ipek yang tidak terima adiknya disakiti oleh laki-laki mana pun.


"Bukan Zen, bukan itu alasan saya membantu Clovis. Saya membantu Clovis hanya sebatas menolong sesama," bela Ipek dengan bergetar karena Arzen yang sudah benar-benar marah.


"Apa pun alasan kamu, yang jelas gue kecewa banget sama loe Pek, gue ikhlas bantu loe, bahkan hubungan gue hampir hancur dengan cewek gue, demi bantu loe lepas dari cowok breng'sek ini. Tapi apa balasan loe? Loe malah menolong dia. Ketika gue ngasih pelajaran biar tuh orang gila agar secepatnya sadar," sungut Arzen dengan menunjuk Clovis dengan geram. Rasanya Arzen sudah kehilangan kesabaran buat menghadapi Clovis.


Ipek menunduk sedih, benar apa yang dikatakan Arzen, bahwa Ipek memang keterlaluan. Cintanya sudah benar-benar buta. Ipek pun sebenarny pengin bisa cuek dan tidak memperhatika lagi dengan Clovis. Namun hati dan fikiranya tak sejalan. Sehinga lagi-lagi logikanya kalah dengan kata hatinya. Ia kembali perduli dengan Clovis, meskipun berkali-kali ia menelan pil kekecewaan yang rasanya sangat pahit.


"Lalu loe sampai kapan disini?" tanya Arzen memastikan. Rasanya percuma Arzen marah-marah dengan Ipek juga, toh Ipek akan tetap dengan kebodohanya membantu Clovis. Entah apa yang Ipek pikirkan sehingga sudah berkali-kali disakiti, tetapi masih ada sajah kebaikan untuk menolong Clovis.


"Nyesel gue nggak ngabisin dia sampai mati! Seharuanya gue habisin sajah dia dari muka bumj ini," ucap Arzen sembari melirih Clovis yang masih asik menikmati pertengkaran antara Ipek dan Arzen. Bahkan Clovis menyunggingkan senyum kemenanganya, karena Arzen dan Ipek yang terus bertengkar.


Arzen hendak pergi meninggalkan ruangan Clovis, lama-lama disana yang ada dia bisa setres,dan darah tinggi. Cuma Ipek orang yang berkali-kali dihina, dicaci bahkan diperlakukan layaknya budak, tetapi masih mau memperhatikan Clovis, sebegitu cintanya dia dengan Clovis.


Begitu Arzen akan membuka pintu, ia urungan dan berbalik. "Jangan lupa loe hubungi Umi sama Abi loe, mereka mencemaskan keadaan loe. Kalo cinta jangan sampe membuat gila, ingat juga orang tua loe di rumah kebingungan menunggu kabar dari putrinya, sampai mereka mencari ke Tama dan Tama mencari ke gue. Cukup sudah loe ngelakuin ke salahan lagi. Setelah urusan loe selesai, segera pulang!" ucap Arzen dengan nada kecewa.


Ipek pun mengangguk. Nanti Ipek akan hubungi orang tuanya. Dia fikir supirnya sudah memberi informasi mengenai dirinya yang tidak bisa pulang.


Begitu Arzen sudah keluar ruangan, Ipek kembali berjalan kearah sova. Ia membuang nafas kasar. Entah apa yang diambil keputusan oleh Ipek selalu sajah salah, selalu menyusahkan orang lain.


"Yang dikatakan Arzen ada benarnya sebaiknya kamu pulang sajah Pek!" Clovis membenarkan perkaaan Arzen. Setelah mendengar kecemasan Arzen dan keluarga Ipek. Clovis sedikit menekan emosinya. Kini ia tidak lagi menggebu-gebu marah dengan Arzen. Ia sadar kemarahan Arzen juga dipicu dari sifat dirinya yang sangat egois.


"Apa Anda keberatan apabila saya menemani Anda? Setidaknya sampai Anda pulang kerumah?" tanya Ipek dari tempatnya duduk.


"Tentu tidak, aku justru senang dengan perhatian dan bantuan kamu, tapi kasin orang tua kamu mencariin kamu. Pasti mereka cemas dengan nasib kamu," balas Clovis, entah dari mana datangnya perhatian itu. Apakah benar itu sifat perhatian atau rasa sekedar terimakasih sajah.


"Anda tidak usah khawatir Tuan, semuanya bisa saya selesaikan," balas Ipek dengan nada datar dan lebih terkesan cuek. Mereka kembali termenung dengan masing-masing pikiranya.


Ipek merasa perutnya sangat perih karena memang semenjak kemarin ia belum sama sekali makan, sampai sekarang pun ia masih sangat malas untuk makan. Ipek mengecek ponselnya bahkan banyak sekali panggilan dan pesan masuk dari teman-temanya, dan juga keluarganya.


Ipek satu persatu membalas pesan-pesan itu. Baik keluarganya maupun teman-temanya. Ipek mengabarkan bahwa ia baik-baik sajah. sehingga mereka tidak perlu mencemaskanya.


Ipek juga tidak lupa meminta sopirnya agar mengantarkan pakaianya ke rumah sakit, mengingat pakian yang ia kenakan sudah kotor dan banyak terdapat noda darah Clovis.


"Tuan, saya izin menemui dokter dan perawat yang menangani Anda. Saya mau memastikan kapan Anda diperbolehkan pulang?" ucap Ipek dengan sopan.


Hemz... Clovis hanya berdehen sebagai jawaban dari pertanyaan Ipek.


Setelah Ipek berkonsultasi dengan dokter besok apabila lukanya sudah bagus alias tidak mengeluarkan darah lagi atau tidak adanya indikasi gejala infeksi pada luka, maka Clovis sudah diizinkan untuk pulang, tetapi ia juga harus melakukan rawat jalan.