Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kambing Hitam



Di kantor polisi...


"Maaf Pak bisa jelaskan kenapa saya di bawa kesini?" Zawa yang sejak awal sangat penasaran begitu sampai ke kantor polisi langsung menanyakan kasus apa yang menjeratnya, sehingga ia dijemput paksa.


"Mbak kenal laki-laki ini?" polisi menggiring dua orang laki-laki yang Zawa sama sekali nggak kenal.


Zawa mencoba mengamati wajah dua orang laki-laki itu dan dia tentu tidak mengenalinya. "Tidak Pak saya tidak mengenal mereka."


"Bohong, Mbak itu bohong. Dia yang sudah memrintah saya untuk menabrak wanita hamil itu, alasannya, karena wanita itu adalah perebut pacar sahabatnya." Laki-laki yang bertampang preman berteriak dan menuduh Zawa, yang Zawa sendiri tidak mengerti apa maksud dari perkataan laki-laki itu.


"Bisa tolong jelaskan saja apa kasusus yang menjerat saya, saya benar-benar tidak paham. Wanita hamil yang mana?" Zawa meminta ke petugas polisi untuk menjelaskan maksud perkataan dari preman itu.


"Gini Mbak, semalam terjadi korban tabrak lari, di jalan kenanga dan korbanya seorang ibu-ibu muda yang tengah hamil dan sekarang anak yang dalam kandungan terpaksa dilahirkan karena kondisi ibunya kritis, dan juga kondisi anaknya sekarang kritis. Setelah kami telusuri pelaku penabrakan itu adalah dua laki-laki ini. Namun, mereka mengaku Anda yang memerintah mereka." Seorang polisi menceritakan dengan detail kronologi Zawa menjadi tersangka.


Zawa tentu sedikit tau arah pembicaraan polisi tersebut. "Itu tidak mungkin Pak bahkan saya tidak mengenal mereka," ucap Zawa suaranya sudah mulai bergetar. Bahkan ia sangat kaget dengan penuturan polisi tersebut pasalnya Zawa sajah bekerja sebagai dokter kandungan masa tega mencelakai seorang ibu hamil. Namun, seolah semua perkataan Zawa hanyalan isapan jempol semua kata-katanya disangkal oleh kedua preman itu. Bahkan bukti chat dan foto yang terkirim dari nomer ponsel Zawa ada semua di ponsel mereka.


"Apa Anda tau foto ini (foto Ody dan Rio ketika menikah yang Zawa ambil dari ponsel Arzen)?" Zawa mengangguk.


"Dari mana Anda dapatkan foto itu?" tanya polisi itu dengan suara beratnya.


"Ponsel Arzen. Aku memang mengambil foto-foto itu dan mengirimkanya kenomel Emly, sahabat saya. Tapi saya berani bersumpah bukan saya pelakunya. Saya tidak mungkin melakukan kejahatan itu." Zawa berusaha membela dirinya.


"Cukup!!! Semakin Anda bersikeras membela semakin Anda terlihat bersalah." Polisi lain membentak Zawa. Seketika itu juga Zawa dia. "Dari bukti-bukti ini sudah sangat membuktikan bahwa Anda adalah otak dari kasusu ini. Apabila salah satu korban meninggal dunia, kasus yang menjerat Anda adalah pembunuhan berencana. Anda tau kan kasus ini tidak main-main bekerja samalah dengan kami dan jangan bikin kami sulit," imbuh pak polisi itu.


Zawa hanya bisa menunduk memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan. Ia tahu betul semua ini pasti ulah Emly, dan ia menjadikan Zawa sebagai kambing hitamnya.


"Pak saya tau siapa sebenarnya pelaku sebenarnya. Dia adalah Emly, perempuan yang aku kirim foto-foto itu dan dia bisa jadi membajak percakapan whatshap saya, seolah semua kejahatan saya yang lakukan. Saya mohon usut juga Emly Pak, saya yakin dia dalang di balik semua ini." Zawa mencoba meyakinkan Pak polisi kembali.


"Emly adalah mantan pacar Rio, suami dari korban tabrak lari itu. Emly juga dendam dengan Rio dan teman-temanya karena ada suatu kesalah pahaman dengan teman-teman Rio, sehingga Emly menaruh dendam mereka. Dan Emly beberapa bulan ini memang meminta saya membantu rencana balas dendamnya agar mulus, dengan cara saya berpura-pura suka dengan salah satu teman Rio yaitu Arzen dan mengambil foto-foto itu semua, tetapi saya tidak tau bahwa rencana Emly sampai setega ini bahkan mengorbankan saya yang telah menganggapnya sahabat dan banyak membantunya selama Emly kesusahan. Emly bilang pada saya bahwa ia tidak akan mencelakai mereka, sehingga saya mau membantu sahabat saya itu, tetapi justru saya kaget ketika menerima kenyataan ini." Zawa berusaha menceritaan apa yang terjadi antar dirinya dan Emly.


"Gini sajah Mbak, untuk semua keterangan Mbak kami akan jadikan bukti tambahan, dan nanti kami akan cari juga orang-orang yang Anda maksud yaitu Emly, dan juga kami akan mendatangkan Arzen sebagai saksi dan Rio beserta teman-temanya. Untuk sementara Anda kami tahan karena semua bukti sudah sangat mengarah pada Anda. Untuk sementara setatus Anda masih saksi tapi suwaktu-waktu bisa berubah menjadi tersangka setelah semuanya terungkap, atau Anda juga bisa bebas kalo memang semua yang Anda bicarakan benar adanya, Bahwa Emly lah yang menjadi dalang dibalik semua ini."


Dengan berat hati Zawa pun di gelandang ke sel tahanan khusus wanita, dan berganti memakai baju tahanan. Polisi meminta teamnya menghubungi Rio, Arzen, dan yang lainya agar memenuhi panggilan sebagai saksi. Lalu team polisi lain mencoba mencari keberadaa Emly setelah sebelumnya mendapatkan fotonya dari Zawa.


****


Di rumah sakit keluarga Hartono....


Pagi-pagi terjadi kepanikan pasalnya, Baby Angel tiba-tiba drop. Rio sebagai dokter seketika hilang sudah kemampuanya, ketika menyaksikan buah-hatinya makin memburuk dia langsung lunglai. Bersimpuh dilantai rumah sakit menyaksikan para medis melakukan penolongan pertama pada buah hatinya.


Rio semalaman sudah tidak sedetik pun memejamkan matanya dan pagi hari dihadapkan dengan situasi seperti ini. Rasanya raganya terbang melayang.


"Ya Tuhan jangan ambil anak hamba. Tolong gantikan sajah dengan hamba." Rio hanya bisa bergumam tak jelas. Rasanya air mata pun sudah kering, sesal tinggallah sesal tanpa memberika penyelesaian.


Papih pun setelah menerima laporan bahwa cucunya kondisinya makin memburuk langsung datang ke ruang NICU dan melihat Rio sudah seperti orang setres menarik-narik rambutnya dan membentur bentukan kepala bagian belakang ke tembok.


"Rio kamu, nggak boleh seperti itu, Papih akan mengusahakan yang terbaik buat Angel jadi kamu jangan patah semangat dan menyiksa diri kamu seperti ini yah. Mereka juga butuh pelindung seperti kamu. Jadi kamu harus tetap kuat dan bangkit, semangat tunjutkan kalo kamu bisa menjadi lebih baik lagi." Papih selalu menguatkan Rio. Beliau juga tidak tega melihat anak laki-lakinya murung dan bersedih seperti ini.


Namun, namanya orang lagi dilanda kesedihan seolah omongan Papihnya pun ia tidak mendengar, di dalam hatinya hanya penyesalan dan penyesalan.


Semakin bertambah menit situasi semakin tegang. Rio lagi-lagi seperti orang yang sudah kehilangan harapan. Andai bisa ditukar dengan harta pasti Rio akan memilih melepaskan hartanya asalkan anak dan istrinya kembali sehat dan berkumpul bersamanya. Namun kadang apa yang kita minta justru tidak sesuai dengan yang Allah takdirkan. Rio terus berharap keajaian akan datang, dia tidak bisa membayangkan apabila kehilangan salah satu dari mereka, apalagi sampai kehilangan mereka semua. Mungkin ia juga akan menyusul mereka semua karena penyesalanya yang semakin menggerogoti batinya.