Beauty Clouds

Beauty Clouds
Nasihat Chandra



Aarav bersiap menuju ke ruangan Chandra. Yah dia akan curhat dengan duda satu anak itu, setidaknya mungkin saja Chandra bisa membuatnya lebih tenang setelah nasihat-nasihatnya yang biasanya selalu tepat sasaran.


Bruggh... Suara bantingan pintu yang dibuka paksa oleh Aarav, setelah ia memastikan bahwa pemilik ruangan masih ada di dalam sanah. Yah, sebelumnya Aarav memang sudah menghubungi Chandra, untuk memastika di mana dudu anak satu itu berada.


"Sialan, kenapa sih loe, kesurupan," dengus Chandra ketika melihat wajah menjijihkan Aarav yang sok tengil itu, berada di ambang pitu.


"Gue mau curhat," ujar Aarav, sembari berjalan dan mengambil langkah, duduk dihadapan Chandra yang tengah mengecek rekam medis pasienya.


"Curhat kenap ke gue, curhat ke mamah Dedeh tuh!" sungut Chandra, ganggu kerjaan ajah, pikir Chandra. Lagian bukanya masih ada sore atau malam, mereka bisa curhat suka-suka hati mereka. Kenapa harus jam kerja, tidak tau waktu. Pikir Chandra.


"Gue serius Dra," lirih Aarav, ia benar-benar serius dan wajahnya nampak dibikin semengiba mungkin agar Chandra tidak lagi bercanda.


"Lagian, tumben banget loe curhat Rav, aku pikir loe enggak pernah ada masalah. Emang masalah apa sih, kayaknya rumit banget, sampe loe mau nemuin gue buat bagi keluhanmu?" tanya Chandra. Map yang ada di tanganya ia lipat dan dorong dengan disingkirkan dari hadapanya, ia akan mendengarkan curhatan sahabatnya yang mungkin sajah dia benar-benar sedang membutuhkan saran dari dirinya.


Aarav sedikit lega ketika melihat Chandra menyingkirkan kerjaanya itu tandanya bahwa dia akan mendengarkan curhatan darinya. "Emly sudah keluar dari persembunyianya dan gue sudah tau siapa anak gue," terang Aarav, ada kelegaan sedikit ketika dia membagi masalahnya. Padahal Chandra belum memberikan solusinya, tetapi seolah batu besar yang menghimpit di tubuhnya sudah perlahan memberikan ruang untuk mernafas.


"Loh bagus dong, kalo Emly sudah balik ke sini tandanya masalah sebentar lagi akan selesai. Dan soal anak loe bukanya itu yang loe harapkan dari itu. Loe selama ini dibikin bertanya siapa anak loe dan di mana sekarang, kalo udah tahu anak loe ada di mana bukanya itu bagus." Chandra untuk permasalahan nomor dua masih dibuat heran.


"Iya, tapi masalahnya anak itu sudah bahagia dengan orang tua angkatnya. Rasa iri di hati masih ada Chan, hati gue sakit setiap melihat anak gue lebih dekat dengan orang tua angkatnya, di banding gue orang tua kandungnya," keluh Aarav, nada bicara yang penuh penekanan sudah cukup memberikan seberapa lelahnya hatinya setiap mengingat masalah ini.


Chandra tidak langsung melempar kembali pertanyaa kepada Aarav, walaupun di kepalanya malah sudah di penuhi sebagian masalah dari laki-laki yang ada dihadapanya. Kata demi kata Chandra ingat dengan detail. Meskipun dia masih kurang paham dengan jalan ceritanya, tetapi Chandra tetap menempatkan dirinya berada diposisi Aarav.


"Jelaskan dengan se-jelas jelasnya siapa anak loe? Dan orang tua angkatnya, agar gue bisa tahu, dan mencoba memposisikan diri berada di posisi loe," ucap Chandra, sikapnya yang lebih tenang, membuat Aarav memutuskan bercerita dengan Chandra dan itu memang ide yang bagus.


Chandra nampak kaget, dia bahkan seolah mengabaikan Aarav, entah dia sedang berfikir atau memang justru otaknya menjadi tidak berfungsi dengan baik.


"Loe seriuz? Mengaku anak tidak segampang itu, 'itu anak gue' jangan loe ambil! Harus ada bukti yang kuat dan juga runutan masalah yang menjelaskan kenapa anak loe bisa diadopsi sama Rio dan Ody," ujar Chandra, ia hanya tidak ingin Aarav membuat kekacauan sehingga untuk mengakui anak juga harus berdasarkan bukti agar Rio dan Ody percaya bahwa anak yang diasuhnya anak Aarav.


"Bukti apa, DnA? Gue akan melakukanya, orang tua Emly juga udah bilang bahwa anak yang Rio asuh adalah cucunya yang berati anak gue Dra," balas Aarav di mana nada bicara meninggi menggambarkan bahwa laki-laki itu tengah dikuasai gelombang emosi yang lebih tinggi.


"Hanya mencegah agar semua keterangan menguatkan, dan setelah semua jelas dengan bukti yang kamu punya dan cerita dari A dan dari B atau mungkin penuturan langsung dari Emly. Lebih baik kamu adakan musahwarah bersama. Obrolkan secara bersama-sama. Rio selain bos loe juga teman buat kita, bahkan sudah lebih dari teman. Ikatan kita sudah seperti sodara, maka dari itu jangan ada lagi perpecahan. Kalo saran gue sih lebih baik asuh bersama tok selama ini juga loe ikut menjaga merawat dia. Bahkan anak itu panggil ke loe Dady rumah loe bersebelahan dengan rumah Mey. Lebih baik jaga bersama. Mengenai anak itu tercatat di negara anak siapa-siapa sepertinya tidak berpengaruh yang penting kasih sayangnya sama. Dan anak itu nyaman," ujar Chandra berusaha menasihati Aarav agar tidak egois.


"Kalo gitu nanti gue minta bantuan dari loe buat mengumpulkan semuanya dan membahas Meyra. Tapi setelah bukti di tangan gue komplit, sehingga Rio dan Ody percaya bahwa aku dan Emly adalah orang tua kandungnya. Dan mereka meizinkan anak itu di asuh oleh aku juga," balas Aarav, mengikuti masukan dari Chandra. Benar memang apa yang dikatakan Chandra bukti dulu dikumpulkan dengan lengkap lalu biarkan bukti-bukti itu yang bicara nanti Rio dan Ody dengan sendirinya akan mengetahui fakta itu.


"Semua bisa di atur kok, intinya mulai sekarang loe belajar membuka hati yang lapang ajah. Yang terpenting kebahagiaan Mey. Jangan ada keegoisan dari loe dan Rio. Takutnya malah membuat Mey trauma. Pikirkan perasaan Mey juga itu yang paling penting," ujar Chandra. Karena dia sendiri juga merasakan apa yang Aarav rasakan. Anaknya lebih dekat dengan orang tuanya dari pada dengan dirinya. Dia berusaha mengiklaskanya, yang terpenting perasaan anaknya, dan tidak kekurang satu apapun dan anak itu bahagia. Mungkin Aarav juga bisa mengikuti caranya agar Meyra merasa tetap nyaman.


"Pasti gue akan lebih memikirkan perasaan Mey, perjalananya sudah luar biasa dari di dalam kandungan, karena dia bisa melewatinya dari ibu yang tidak menginginkan kehamilanya. Kakek yang selalu meminta anak gue di gugurkan. Tapi perlindungan Tuhan selalu hadir diaampingya sampai dia menemukan keluarga yang tulus sayang sama dia." Aarav setiap mengingat cerita dari Zawa dadanya masih sesak. Terlebih pertama ia ketemu anaknya yang dalam kondisi pucat karena alergi susu sapi, andai saat itu Mey tidak bertemu dirinya dan juga tidak ada Ody yang mau menjadi ibu susu untuk Meyra, entah bagai mana nasib anaknya saat ini. Aarav sangat bersyukur karena Mey saat itu bertemu denganya, seolah memang takdir yang digariskan bertemu dengan dia saat itu. Dan kini dia bisa ikut merasakan Meyra bahagia dengan orang tua angkatnya.


...****************...


Readers terlope-loper yuk mampir di karya othor yang baru, ramaikan yah masih sepi banget kayak kuburan emaknya Zifa😁 Tekan fav dulu yah biar enggak ketinggalan juga kisahnya dan jangan lupa tinggalkan dukungan buat othor biar makin mangat ngehalunya...🙏