
Pagi hari dikediaman Rio, seperti hari sebelumnya, ketika pagi menyapa, kepala Rio terasa sakit.
"Mbok,......" Rio memanggil Mbok Karti.
Dengan tergesa Mbok Karti menapaki tangga
"Iya Tuan," sapa Mbok Karti ketika masuk kekamar Rio.
"Mbok, tolong pijit kepala saya, Mbok." Rio meminta mbok Karti memijit kepalanya, berharap bisa sembuh seperti Ody kemarin memijit kepalanya.
Dengan ragu Mbok Karti memijit kepala majikanya. Namun, bukanya sembuh justru pijitan Mbok Karti terlalu keras, sehingga menambah sakit kepalanya.
"Stop Mbok," ko keras sekali mijitnya, malah makin sakit," dengus Rio.
"Mbok nggak bisa mijit Dok," ujar Mbok Karti nggak enak hati, karna membuat Rio kecewa.
"Mbok ada nomer Ody nggak?" tanya Rio.
"Ody?... engga Dok, ada apa dengan Ody, Dok? tanya Mbok Karti merasa aneh.
"Iya yah, harusnya aku yang punya nomer Ody dia kan istriku." batin Rio menyesal kenapa ia dulu tidak meminta nomer Ody.
"Coba Mbok, tanya Aarav barang kali dia punya nomer Ody, kalo ada suruh Aarav hubungi Ody. Minta agar Ody datang kerumah." perintah Rio.
"Baik Dok,"
Mbok Karti langsung menelefon Aarav.
"Kenapa Mbok?" tanya Aarav begitu telfon terhubung.
"Pa Aarav apa Anda mempunyai nomer Ody?" tanya Mbok Karti dengan ragu.
"Kenapa memangnya Mbok?" tanya Aarav lagi.
"Tuan Rio berpesana, apabilan Anda menyimpan nomer Ody, Anda diminta menghubunginya, dan meminta Ody untuk kerumah tuan Rio." jelas mbok Karti dengan sopan.
"Tunggu,..... tunggu..... kesambet setan mana Rio menyuruh Ody datang?" tanya Aarav penasaran.
"Itu Pa, kepala tuan Rio kembali sakit, dan pengin dipijit, tapi Mbok nggak bisa mijitnya. Jadi tuan Rio ingin Ody yang mijit, kata tuan Rio pijitan Ody pas." jawab Mbok Karti jujur.
"Oh,....ada maunya toh, pantes panggil Ody, butuh toh." cicit Aarav, mengejek bosnya.
Aarav pun menutup telfon Mbok Karti, dan bergantian menghubungi Ody. Kebetulan Aarav menyimpan nomer Ody.
****
Dilain tempat, Ody sedang bersiap akan berangkat kerja. Tiba-tiba terdengar dering telfon, Ody mengambil telfon genggamnya.
"Hah,..pa Aarav, ada perlu apa Aarav telpon sepagi ini." batin Ody.
"Haloh...." sapa Ody dengan suara khasnya.
"Dy lagi dimana?" tanya Aarav singkat.
"Dirumah, lagi siap-siap buat berangkat kerja. Kenapa?" tanya balik Ody penasaran.
"Kamu nggak usah kerumah sakit Dy. Kamu kerumah Rio ajah, dia minta kamu kesini." ujar Aarav.
"Loh ko bisa, nanti saya kena omel nggak kalo tidak masuk kerja?" tanya Ody bingung.
"Siapa yang berani marahin kamu, kalo yang menyuruh semdiri anak dari pemilik rumah sakit?" tanya Aarav balik, merasa lucu dengan pertanyaan Ody.
"Ya udah Ody mau kerumah dokter Rio, tapi pa Aarav izin Bu Dewi yah, Ody nggak mau nanti Bu Dewi marah kalo tau Ody nggak masuk kerja." ujar Ody
"Urusan gampang itu," ucap Aarav dengan santai.
Setelah menutup telfon Ody melanjutkan bersiap dan akan sarapan bersama dengan Ipek dan Intan.
"Pek, hari ini aku nggak datang kerumah sakit, Aarav memintaku datang kerumah Rio." ucap Ody disela-sela mereka sarapan.
"Loh ko bisa, nanti Ipek berangkat sendiri dong. Ah nggak seru kalo berangkat sendiri." rajuk Ipek.
"Gimana lagi perintah Bos besar begitu," ujar Ody pasrah.
"Tumben Rio nyuruh kamu kerumahnya?" tanya Intan, ia penasaran juga dengan Rio yang tiba-tiba meminta Ody kerumahnya.
"Tau tuh, kemarin ajah ngusir, sekarang butuh kan." cicit Ipek kesal.
"Mungkin pengi dipijit kali Dok, soalnya menurut penuturan Aarav akhir-akhir ini Rio sering sakit kepala, kemarin saya coba tawarkan dipijit. Setelah dipijit nggak lama membalik. Bisa ajah hari ini sakit lagi, dan minta dipijit lagi." beber Ody.
"Karma On The Way tuh," cetus Ipek dengan muka datarnya.
"Huzzz.... sembarangan kamu, hati-hati kalo ngomong ah, takutnya nanti Rio denger entar malah dia marah lagi," ujar Ody mengingat kan Ipek.
Setelah mereka sarapan Ipek pamit kerumah sakit, sedangkan Ody kerumah Rio dengan menaiki ojek online, sementara Intan bersiap untuk kerumah sakit. Intan masih tergolong santai karena jam praktik pukul sepuluh, sehingga masih banyak waktu buat mengerjakan aktifitas yang lainya.
"Pagi Pak Yono," sapa Ody ketika satpam rumah Rio membukakan gerbang.
" Pagi Neng Ody, aduh kangen sama Neng Ody nih," canda Pak Yono.
"Sama Ody juga kangen sama Pak Yono, dokter Rio ada kan?" tanya Ody.
"Ada ko, belum berangkat kerja," jawab Pak Yono.
"Ya udah Ody kedalam yah." Pamit Ody sama Pak Yono.
Ody melanjutkan masuk kedalam, dilihatnya Mbok Karti sedang bebersih.
" Pagi Mbok," sapa Ody...
"Pagi, eh Neng Ody, langsung kekamar dokter Rio ajah Neng, sudah ditungguin dari tadi." titah Mbok Karti.
"Ya udah Ody naik yah Mbok." pamit Ody
Ody menaiki tangga dengan pelan, dan berdoa agar semuanya berjalan lancar.
Tok.....tok....tok...
Ody mengetuk pintu dengan pelan.
"Masuk ajah Dy," terdengar sautan dari dalam.
"Ko tau kalo itu aku" batin Ody, serasa ditungguin kalo gini.
"Pagi Dok," sapa Ody, dengan senyum manis diwajahnya.
"Pagi, sini...." titah Rio " Kamu pijit kepalaku lagi yah, kemarin pijitanmu enak sekali.
"Baik Dok." Ody berjalan kearah Rio yang sedang bersandar diranjang.
Ody merasa ragu apa ia akan ikut naik keranjang atau duduk dibawah.
"Disini Tuan," tanya Ody menunjuk temapat tidur Rio.
"Iya kenapa?" tanya balik Rio tidak paham dengan Ody.
"Maaf Tuan apa tidak lebih baik disofa sajah, kalo disini saya merasa kurang sopan," jawab Ody jujur.
"Kenapa nggak sopan, udah sini duduk." Rio menarik tangan Ody, sehingga Ody terduduk diranjang.
"Naik," titah Rio.
Ody mengikuti perintah Rio, ia naik keranjang.
"Luruskan kaki kamu," Rio meminta Ody duduk dengan kaki lurus.
"Kenapa harus lurus Tuan?" Anda jangan macam-macam yah Dok, Ody takut kalo Rio akan melakukan perbuatan gila lagi.
"Engga bakal macem-macem Ody," ucap Rio pelan." Biar mijitnya enak ajah, kaki kamu lurus,"
pinta Rio lagi.
Kali ini Ody mengikuti Rio, kalo Rio macam-macam ia akan berteriak minta bantuan Pak Yono dan Mbok Karti.
Ody kaget, ketika kakinya lurus, tiba-tiba Rio kepala Rio tidur, dipangkuannya.
"Dok, kenapa harus begini? tanya Ody dengan kaget.
"Udah pijit!" perintah Rio dengan mata terpejam.
"Ini geli Dok, bisa Anda duduk dulu saya alasin dengan bantal agar saya tidak merasa geli." Pinta Ody.
Rio mengikuti saran Ody, ia duduk, setelah Ody meletakan bantal dipanguanya, Rio kembali meletakan kepala dipanggkuan Ody.
Dada Ody bergemuruh, menatap wajah tampan Rio dengan dekat.
"Aduh gimana mau fokus mijit, kalo pemandanganya indah begini." batin Ody.
Ody memulai memijit kepala Rio dengan nyaman. Rio pun menikmatinya, Rio memejamkan mata, menikmati setiap pijitan Ody.
***Untuk mendapatkan apa yang kamu cintai, kamu harus terlebih dahulu bersabar dengan apa yang kamu benci***
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak dan dukunganya yah ❤❤