
Clovis perlaham membuka kotak berwarna merah hati, yang Ipek titipkan ke pada Bi Irma. Ia termenung, mengambil setiap beda yang Ipek simpan disana, tetapi Clovis tertarik dengan satu benda berwrna merah muda.
Dengan sangat pelan Clovis membuka beda tersebut. Yang ternyata isinya adalah surat untuk Clovis...
****
Dear : Clovis
Sebelumnya saya menulis surat ini dengan sangat sadar. Dari hati yang terdalam saya mengucapkan maaf yang teramat, karena lancang telah mencintai Anda. Saya pernah memimpikan menjadi pendamping hidup Anda, tetapi semakin kesini, saya semakin sadar bahwa saya sangat tidak pantas dengan Anda.
Mohon maaf karena kelancangan saya Anda menjadi tidak nyaman, mulai saat ini saya akan pergi dari hidup Anda. Saya berharap apabila Tuhan mempertemukan kita kembali. Anda sudah bahagia dengan pasangan Anda, begitupun saya yang sudah bisa melupakan Anda. Memang ini akan sangat sulit buat saya melupakan Anda, tetapi saya berjanji akan mencoba menghapus nama Anda dari hati saya.
Mohon maaf, karena saya pernah menyebut nama Anda dalam doa-doa saya. Sekarang saya serahkan takdir hidup saya dengan Tuhan, sehingga saya tidak akan lagi menyebut nama Anda dalam doa saya.
Terima kasih memeberikan kesempatan terakhir untuk bisa merawat Anda, itu mungkin hal yang paling membahagiakan dalam hidup saya, walapun kita tidak saling bercerita, tetapi sudah bisa berdekatan dengan Anda saya sudah sangat bahagia.
****
Begitu kira-kira isi surat dari Ipek, yang mengungkapkan perasaanya, dan permohonan maafnya. Entah mengapa hati Clovis tercupit manakala membaca surat dari Ipek, tanpa Clovis sadari air matanya merangsak keluar dan jatuh kepipinya. Mungkin sepanjang sejarah ini kali pertama hatinya bergetar bahkan sampai meneteskan air mata.
Clovis meletakan surat yang ia ambil dan memasukan kembali ke dalam kotak. Lalu mengambil tiga ikat uang berwarna merah yang tadi ia berikan sebagai ganti biyaya rumah sakit dan bayaran dirinya yang telah merawat Clovis. diantar tiga ikat uang itu ada catatan kecil yang Ipek sematkan "Mohon Maaf uangnya saya kembalikan, karena bukan ini tujuan saya merawat Anda. Saya bisa bersama Anda, adalah bayaran termahal yang sudah saya terima. Jadi uang Anda saya kembalikan, karena saya tidak pantas menerima itu semu."
Lagi-lagi Clovis tercubit hatinya membaca pesan Ipek. Clovis yang selalu merendahkan Ipek dan menganggap ia adalah makhluk paling menyebalkan, tetapi justru selama ini ia baik dan tulus merawat dirinya.
Clovis kembali meletakan uang itu dan mengambil tiga amplop berwarna coklat, Clovis tau apa isi amplop itu, yah karena yang memberi amplop itu adalah Clovis sebagai upah gajih dia selama bekerja di bar miliknya.
Di balik amplop itu ada sebuah tulisan yang mana Ipek mengucapkan terima kasih karena telah diberi waktu bisa melihat Clovis dan berdekatan denganya. Disini Clovis sangat merasa bersalah karena selam ini telah memperlakukan Ipek dengan sangat buruk.
Terakhir Clovis mengambil dua lembar foto dirinya, yang ternyata Ipek ambil secara diam-diam dan disana terdapat ucapan maaf karena telah mengambil fotonya dan Ipek kini mengembalikanya pada Clovis. Ia menutup kotak dan meletakanya disamping tempat tidurnya.
"Bi, apa Bi Irma tau di mana alamat rumah Ipek?" tanya Clovis yang merasa bersalah dan ingin meminta maaf dengan semua kata-katanya yang dulu pernah sangat menyakiti Ipek.
"Tidak Tuan, Bibi juga kenal Neng Ipek barusam ketika Bibi datang bekerja kesini," jawab Bi Irma mengikuti permintaan majikanya, agar tidak bercerita tentang jati diri Ipek.
Clovis mengangguk samar.
"Ini Tuan makananya, tadi sebelum pergi Neng Ipek menitipkan ini buat Tuan makan dan obatnya juga telah disiapkan oleh Neng Ipek." Bibi menyodorkan nampan makanan untuk Clovis dan Clovis menerimanya.
Ada note disana "Selamat makan, jangan lupa minum obatnya dan semoga cepat sembuh yah!!!" Ipek memberikan emot tertawa dibelakang note.
Clovis pun ikut menarik bibinya mengembangkan senyum. Lalu ia memakan semua yang Ipek siapkan untuknya, dan meminum obat. Kemudian ia kembali rebahan. "Aku akan mencari kamu, pasti aku akan menemukan kamu," batin Clovis dengan sangat yakin.
****
Di rumah Ipek yang megah bak istana, Ipek tengah menyiapkan pakaianya yang akan dibawa ke rumah Abahnya. Dia hanya membawa pakaian yang tertutup sajah, mengingat disana ia akan tinggal dilingkungan santri.
"Sayang yuk makan malam, nanti sekalian kita izin sama Abi dan Abang kamu," ucap Umi yang menghampiri Ipek.
Ipek pun langsung mengikuti Umi untuk makan malam.
"Malam Abi, malam Abang," sapa Ipek dengan mencium pipi Abi dan Abangnya.
"Malam, gimana urusanya udah selesai?" tanya Abi.
"Udah Bi, Alhamdulillah," balas Ipek sembari mengambilkan makanan buat Abi. Biasanya uminya yang melayani Abinya, tetapi untuk kali ini ia ingin melayani Abi, Abang dan Uminya untuk salam perpisahan selama ia tinggal di rumah Abahnya.
"Tumben nih, Tuan Putri yang layani Abi, suatu kehormatan dong bisa dilayani Tuan Putri," ledek Abi, padahal Abi sudah tau bahwa Ipek akan melanjutkan mendalami ilmu agama di rumah orang tuanya. Sebelumnya Umi yang memberi tahu Abi dan Abang Maher atas niatan Ipek.
"Abang nggak dilayani De?" tanya Maher meledek adiknya.
"Sabar Abang, Raja dan Ratu dulu baru melipir kerakyat jelata," ledek Ipek.
"Yeh masa rakyat jelata, pangeran dong," protes Maher.
Ipek hanya membuang nafas kasar jengan dengan perkataan Abangnya.
"Ngomong-ngomong kapan mau mulai ke rumah Abah?" tanya Abi, disela-sela makan malamnya.
"Malam ini Bi."
Uhuk...uhuk... Abi batuk kaget dengan jawaban Ipek.
"Kenapa Bi?" tanya Ipek.
"Kenapa dadakan sekali, apa kamu udah kasih kabar Abah, bahwa kamu mau tinggal disana?" tanya Abi, tentu kaget, Abi berfikir bahwa rencana anaknya paling lusa atau besok lah.
"Udah Bi, Abah juga seneng ko kalo Ipek kesana sekarang." Ipek menceritakan reaksi Abahnya yang senang akan kedatangan cucutnya.
"Abah, sama Ambu mah pasti seneng dengan kabar gembira ini. Abi yang nggak seneng bakal ditinggal anak Abi lama lagi," ucap Abis menuturkan rasa tidak sukanya karena ipek akan meninggalnya.
"Kan kalo Abi, Umi atau Abang kangen bisa ke rumah Abah untuk tengokin Ipek," jawab Ipek dengan santai.
"Tetap ajah beda Pek, nggak ada yang ngusilin Abang lagi," sela Maher yang juga kehilangan adiknyan yang usil.
"Udah-udah, biarin Tuan Putri memilih jalan hidupnya, kita cukup doakan sajah, semoga ilmu yang dicarinya nanti bermanfaat untuk kita semua," lerai Umi. Ia selalu menyetujui semua keinginan Ipek, yang terpenting adalah kebahagiaan putrinya.
Begitu selesai makan malam Ipek pun bersiapa akan berangkat ke rumah Abahnya. Ipek berpamitan sama semua anggota keluarganya, Abi yang paling kehilangan karena Abilah orang yang sangat memanjakan anak perempuanya itu. Bukan berati Umi nggak sayang sama Ipek, hanya sajah Umi itu lebih tegas dan bisa menyembunyikan kesedihanya berbeda sama Abi yang dari tadi murung terus untuk merelakan putrinya mondok.
"Sayang jaga diri yah, belajar yang pinter," pesan Umi pada putrinya.
"Pasti Um. Umi juga jaga kesehatan yah," balas Ipek dengan suara beratnya, Ipek sudah ingin menanis tetapi ia bisa menahanya.
"Putri Abi, apa tega meninggalkan Abi disini?" tanya Abi, berharap Ipek luluh dan tidak jadi pergi kerumah Abahnya. Toh di rumah ini juga mereka ada kelas mengaji dan lain sebagainya.
"Abi, jangan begini dong, nanti malah Ipek sedih disana karena Abi yang nggak rela Ipek pergi." Ipek memeluk Abi dan menepuk-nepuk punggungnya. Begitupun Umi mengusap-usap pundak Abi.
"Abang yang anterin kamu yah De!" tawar Maher ingin mengantarkan Adiknya. Awalnya Ipek akan meminta sopir untuk mengantarnya, tetapi justru Maher yang ingin mengantarkan Adiknya dan memastikan sampai rumah Abahnya dengan selamat.
Ipek melirik Umi dan Abinya, mereka menganggukan kepala secara bersamaan, menandakan bahwa ia setuju dengan ide Maher.
"Baik lah Abang yang mengantar Ipek, tapi inget jangan bikin Ipek kesel terus," ancam Ipek, yang suka kesal ketika Maher selalu mengusili adik bontotnya itu.
"Iya Tuan Putri."
Akhirnya Ipek dengan diantar oleh Abang Maher pun pergi ke kampung Abah.
"Selamat tinggal kenangan, semoga andai kita berjodoh, Alloh akan pertemukan kita dengan takdir yang sangat indah, takdir yang Alloh tuntun untuk mencapai dengan suatu titik hubungan yang bahagia," batin Ipek. Ia mengusap bulir air mata yang jatuh. Ada rasa berat ketika ia akan meninggalkan semua kenangan dikota ini.
Ipek memutuskan komunikasi dengan siapa pun, bahkan dengan Ody dan yang lainya. Ia benar-benar pergi untuk mencari kehidupan yang baru...
#Semoga kebahagiaan akan menyertaimu Ipek...