
Di ruangan Rio...
Tok... tok... tok... suara pintu ruangan Rio di ketuk oleh Azra, sekretarisnya.
"Dok, tadi perawat di ruangan Pak Wahid, mengatakan bahwa beliau sudah bangun dan sekarang ingin bertemu dengan Anda." Azra langsung mengatakan apa tujuanya mendatangi ruangan bosnya.
"Ah... baiklah kami akan segera ke ruangan Wahid, katakan demikian pada perawat Wahid." Rio tidak lama langsung mengakhiri panggilan vidionya dengan Chandra. Chandra pun mengerti dengan urusan Rio dan Clovis, karena memang sekarang mereka akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam pertemanan mereka. Kali ini mereka lebih mementingkan pertemanan mereka, pelajaran dari yang dulu-dulu mengajarkan mereka agar semakin kompak dan tidak mudah untuk dihasud. Sehingga persahabatan mereka menjadi cerai berai,seperti kemarin-kemarin.
Rio dan Clovis pun menuju ruangan rawat Wahid, sementara Aarav melanjutkan pekerjaanya. Yah, walaupun Aarav sudah berpenghasilan besar dari usaha GYM'nya tetapi ia tidak akan meninggalkan pekerjaan utamanya yang menjadi asisten Rio, itu semua karena Rio yang tidak pernah membedakan mana bos dan juga bawahanya. Aarav selama kerja dengan Rio selalu mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan, sehingga Aarav betah. Terlebih dari kerja sebagai asisten Rio, Aarav bisa membuka usahanya.
RIo mengetuk pintu ruangan Wahid dan dari dalam wanita paruh baya pun membukakan pintunya, padahal tidak di bukakan pun Rio sudah akan membuka pintu itu. Mengetuknya barusan adalah sebagai tanda bahwa ada tamu yang akan masuk ke dalam ruangan wahid.
"Wahid'nya ada Bu?" tanya Rio dengan ramah.
"Oh ada, kebetulan sudah di tunggu sejak tadi, ucap Umi, yah wanita paruh baya itu adalah uminya Ipek. "Silahkan langsung masuk saja Dok, biar Umi mau kekantin saja buat cari udara segar." Umi tahunya Rio akan melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan menantunya tentang kesehatan'nya. Sebab Wahid sebelumnya sudah mengatakan demikian.
Rio dan Clovis pun masuk keruangan Wahid dan benar sajah ia sudah menunggu dengan terbaring. Seulas senyum tipis dari wajah tirusnya tergambar dengar samar.
"Maaf pasti nunggu lama yah, saya kalo tidur suka lama dan akan sulit sekali untuk di bangunkan." Wahid memulai obrolan, sedangkan Clovis dan Rio duduk di samping ranjang Wahid yang mana memang sudah disediakan kursi untuk dua pasang saling berhadapan sisi kanan dan kiri. Seolah sudah disiapkan kedatanganya.
"Ah tidak apa-apa, kami juga tidak lagi sibuk jadi santai sajah." Rio yang memang lebih kenal dengan Wahid, jadi lebih banyak mendominasi obrolan mereka sementara Clovis masih menyimak. Di samping memang ia yang memang belum terlalu kenal dengan Wahid. Clovis juga sebenarnya tengah tegang sebab ia masih kefikiran dangan ucapan Rio, yang mengatakan bahwa Wahid marah dengan Clovis yang mencoba mendekati Ipek.
"Terima kasih Mas Clovis untuk waktunya yang mau menyempatkan waktunya untuk memenuhi permintaan saya yang ingin berbicara dengan Anda. Padahal Anda pasti sibuk sekali, tetapi Anda mau menyempatkan waktu Anda untuk saya. Terima kasih." Wahid lebih dulu menyapa Clovis. Yang sejak tadi lebih banyak menyimak obrolan Rio dan dirinya mengenai pekerjaan dan juga Clovis di sini terlihat canggung, sehingga Wahid mencoba menyapa lebih dulu agar Clovis juga bisa menganggapnya sama seperti Rio yang kini menganggap Wahid teman juga.
"Begini Mas Clovis, saya mengundang Anda pasti ada satu dua pesan yang saya ingin sampainkan dengan Anda mengenai istri saya, Ipek." Wahid menjeda sejenak ucapanya dan Clovis sejak Wahid mulai menyampakan niatanya jantungnya tidak mau berdetak dengan pelan. Jantung Clovis seolah tengah berlomba untuk berdetak. Saling memburu.
"Apa yang dikatakan Rio benar adanya. Wahid akan memperingatkan aku agar tidak mengganggu istrinya," batin Clovis semakin penasaran, tetapi jantungnya seolah juga tidak baik-baik saja mendengar pesan selanjutnya.
"Bagai mana perasaan Anda terhadap istri saya? Mohon maaf kalo pertanyaan saya terlalu to the poin, tanpa berbasa basi langsung ke inti. Saya hanya ingin tahu bagai mana perasaan Anda pada istri saya. Cinta, atau menganggap biasa saja layaknya sama seperti teman dan lain sebagainya. Saya mohon dengan sangat Anda menjawab pertanyaan saya dengan jujur yah Mas Clovis. Jangan ada perasaan tidak enak dengan saya yang menyandang setatus suami Ipek." Wahid sangat berharap bahwa Clovis berkata jujur dengan perasaanya.
Clovis tidak langsung menjawab pertanyaan Wahid melainkan justru menatap Rio. Yang duduk di depanya seolah bertanya, ia harus apa? Selain Clovis bingung dengan jawabanya harus gimana jujur, tapi akan menyakiti Wahid atau berbohong, tapi Wahid juga pasti tahu bahwa ia tengah tidak berkata jujur.
"Tidak apa-apa Mas Clovis Anda berkata jujur saja. Biarpun saya sudah tahu jawaban Anda, tapi setidaknya saya ingin tahu dan ingin mendengar dari mulut Anda sendiri. Agar saya tidak menyesal nantinya ketika menitipkan pada orang yang tepat atau tidak. Anda pasti tahu, kondisi saya yang seperti ini tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu umur saya sampai kapan. Saya hanya ingin andai saya tidak memiliki umur yang panjang saya sudah tenang karena sudah menitipkan istri saya pada orang yang tepat." Wahid yang melihat Clovis ragu untuk menjawabnya pun menyampaikan niatanya sesungguhnya memanggil dirinya untuk dapat bercerita dan saling terbuka.
Clovis langsung melotot mana kala mendengar tujuan Wahid memanggil dirinya. Di satu sisi tidak bisa dipungkiri dirinya juga ada rasa bahagia ketika diberi kesempatan untuk mengejar cinta Ipek lagi. Namun tidak bisa dipungkiri Clovis juga kasihan dan sedih manakala Wahid berkata demikian. Dia sebagai laki-laki tahu bagai mana perasaan Wahid. Andai kejadian itu terjadi pada dirinya pasti Clovis akan berputus asa dan mungkin tidak akan setegar itu. Clovis akui Wahid memang laki-laki sangat tegar dan penyayang. Pantas saja Ipek sangat mencintai Wahid. Karena memang sosok sifat seperti itu yang banyak wanita inginkan menjadi sosok imamnya. Clovis ingin belajar seperti Wahid, agar ia juga pantas bersanding di sisi Ipek.
"Iyah saya menyukai istri Anda. Tapi saya tidak akan memaksa keinginan saya. Saya masih ingat betul, ada seseorang berkata bahwa jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Saya akan memasrahkan jodoh saya dengan garis yang Tuhan berikan. Tidak akan memaksa lagi dan tidak akan menghidar lagi kalau memang semuanya sudah digariskan oleh Nya.
Wahid mencoba tersenyum meskipun senyum itu samar, dan mungkin juga itu senyum getir, bukan senyum kebahagiaan seperti orang-orang lain yang sering tunjukan.
"Kalo begitu, berjanjilah tidak akan membuat Ipek meneteskan air mata kesedihan. Air mata yang Ipek keluarkan adalah air mata bahagia saja. Berjanjilan Anda hanya akan mencintai Ipek, jangan Anda bikin ia merasa diduakan. Saya akan sangat senang apabila Anda bisa mencintai Ipek dengan tulus. Perjuangkan cinta Anda lagi..Anda pantas menjadi pendamping istri saya, setelah saya pergi. Ambil hati Ipek lagi dan juga keluargarganya. Anda harus buktikan bahwa Clovis yang sekarang adalah Clovis yang sangat jauh berbeda dengan yang dulu." Wahid memberikan amanah pada Clovis dengan sorot mata yang memohon.
Clovis dan Rio sangat kaget dengan wasiat yang dikatakan Wahid. "Ada apa dengan Wahid? Kenapa ia berkata sangat aneh," batin Rio dan Clovis.