Beauty Clouds

Beauty Clouds
Bukan Untuk Rebutan



"Mau ngebahas apa soal Emly, dari kemarin bahas Emly-Emly terus sampe gue bosen, tapi ujungnya dia nggak berani buat datang nemuin gue maupun Ody. Apa dia tidak punya nyali buat nemuin keluarga gue. Malah selalu memanfaatkan orang-orang buat mewakilkanya. Males gue bahas dia," celoteh Rio sebelum Aarav maupun Chandra berbicara.


"Emly sudah datang kerumah sakit ini buat nemuai loe dan Ody, tapi papih loe yang menolak mereka menemui loe dulu. Jadinya dia balik lagi, dan sekarang gue nemuin loe buat bahas dia karena kondisinya kembali drop, sehingga dia enggak bisa nemuin loe dan Ody." Aarav hatinya sakit ketika mendengar Rio mengatai Emly seperti itu sehingga ia mencoba melakukan pembelaan buat Emly, hal yang sama sekali tidak terlintas di pikiran Aarav untuk melakukan pembelaan pada Emly. Sesungguhnya ia juga kesal dengan Emly, tapi malah sekarang dalam bibirnya ia melakukan pembelaan itu, apa itu tandanya bahwa Aarav sudah memaafkan Emly? Sedang di hatinya Aarav masih ingin memberi hukuman pada Emly.


"Emly dan orang tuanya selama ini sudah memberi tahukan kondisi Emly sama papih kamu. Dia baru datang karena dari kemari-kemarin kondisinya tidak memungkinkan, dan sekarang dia drop lagi. Aku rasa dia memang sangat kefikiran dengan kesalahnya, berati itu tandanya dia ada kesempatan menyesal. Coba kamu temui dia dendam tidak akan ada ujungnya. Jangan pelihara dendam. Niat dia sudah baik untuk menemui kami dan Ody meskipun om Hartono belum mengizinkan, tetapi itu tandanya dia memang sudah menunjukan niat baiknya, meskipun tubuh dia masih lemah." Chandra juga ikut menasihati Rio. Di mana jiwa dokter pasti akan menomor satukan keselamatan pasien dan mencoba agat pasien mau berjuang untuk sembuh maka doker sudah sepatutnya memberikan suntikan penyemangat. Masalah dendam masa lalu bisa dibicarakan setelah kesembuhan Emly.


"Sakit apa dia? Bukan pura-pura sakit kan?" tanya Rio nadanya masih ketus. Bahkan Chandra sampai kawatir takut-takut kalo Aarav terpancing terlebih dia juga fikiranya lagi kalut, tetapi sepertinya pikiran Aarav yang tengah banyak masalah tidak begitu menangkap pertanyaan Rio, sehingga dia diam saja. Andai Aarav mendengar pertanyaan Rio bisa-bisa emosinya naik, itu yang ditakutkan oleh Chandra.


"Tadi Aarav sempat cerita selama ini Emly tidak kabur, tetapi koma karena jatuh dari tangga dan saat itu anaknya dilahirkan paksa karena kondisi Emly yang lemah dan juga ada saraf yang rusak, sehingga sempat koma delapan bulan dan pemulihan sampai saat ini juga dia belum bisa berjalan normal. Masih menggunakan korsi roda, dan itu alasan mereka Emly tidak ikut kesana kesini karena kondisi fisiknya masih belum sembuh total. Dan hari ini kali pertamanya ia ikut kerumah sakit ini untuk meminta maaf sama kalian, tetapi malah semuanya berakhir kurang mengenakan. Dia kembali drop dan tidak sadarkan diri. Saran saya di mana kita sama-sama menjadi dokter alangkah baiknya kita utamakan keselamatan pasien dulu. Aku tahu kamu marah, kamu kesal, kamu pengin membalas Emly dengan apa yang pernah ia perbuat dengan kamu, tetapi bisa kan itu semua disingkirkan dulu dan saat ini fokus buat kesembuhanya. Setelah sembuh kamu minta dia buat meminta maaf sama kamu atau apalah itu, semua terserah sama kamu. Yang penting sumpah kita sebagai dokter jangan di nodai dengan dendam." Chandra mencoba menasihati Rio, yah meskipun Chandra juga ketika mencoba memposisikan diri menjadi Rio sangat sakit hatinya dan pasti sulit untuk memulai semuanya dengan kata maaf dari yang pernah Emly lakukan.


Rio tidak menjawab apa yang Chandra katakan, dia membutuhkan waktu yang lebih agar bisa memutuskan yang terbaik. Namun di hati Chandra yakin bahwa Rio pasti akan menekan egonya demi sebuah nyawa. Sumpah seorang dokter lebih penting dan sudah tertanam di hatinya. Sehingga akan mencoba menekan kemarahanya biarpun itu semua tidak mudah.


"Gue takut dia tidak akan bertahan hidup lama. Keinginan terakhir sebelum ia pingsan adalah ingin ketemu anaknya. Kalau di bilang marah, kesal gue juga sama Yo. Terlebih gue dibiarin kayak orang bodoh tidak tahu bahwa dia hamil anak gue. Tapi setelah lihat kondisi dia, gue iba dan tidak tega membebankan dendam dan kemarahan sama dia." Aarav yang Chandra duga tengah melamun ternyata sejak tadi juga menyimak apa yang Chandra dan Rio bahas.


"Ya berati loe dong yang harus cari anak kalian sampai ketemu. Bukanya dia ingin ketemu anaknya," ucap Rio dengan santai.


"Anak Emly adalah Meyra," jawab Aarav dengan pandanga lurus dan tubuh santai tanpa ada suatu beban apapun.


"Iya anak angkat. Tetap orang tua kandungnya adalah Emly dan gue," balas Aarav dengan cepat seolah ia juga tidak terima dengan jawaban Rio.


Chandra yang melihat situasi mulai tidak aman pun segera ambil tindakan. "Sekarang bukan waktunya untuk debat, karena tidak akan pernah ketemu solusinya. Anak angkat atau kandung yang penting Meyra bahagia. Ayo lah jangan kayak anak kecil rebutan permen," lerai Chandra. Suaranya menandakan bahwa ia malas berada di situasi tidak menyenangkan ini.


"Elo Rav, kan kamarin udah gue bilang, jaga perasaan Meyra yang penting kan Meyra bahagia mau angkat atau kandung," ujar Chandra dengan menatap Aarav tajam. Chandra paham sebenarnya ucapan Aarav untuk membela dirinya dan Emly yang mana Rio seolah berkata ini anak gue jangan loe ganggu!


Namun hanya cara dan nada penyampeianya yang berbeda sehingga terkesan ia juga ingin menguasai apa yang sebenarnya sudah dimiliki Rio.


"Iya gue minta maaf, gue kepancing suasana," ujar Aarav. Lebih baik mengalah, demi kebaikan bersama. Seperti ini kira-kira fikiran Aarav. Lagi pula saat ini bukan waktunya bersitegang. Lagi-lagi apa yang dikatakan Chandra benar. Tidak ada gunanya ia marah-marah kalo sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik.


Rio pun nampaknya tidak terpancing lagi dengan ucapan Aarav, padahal tadi Rio sudah sangat ingin menyerang Aarav, dengan kata-kata yang membuatnya mati kutu, dan terpojok.


Andai tidak ada Chandra, pasti keduanya sudah bersitegang bisa jadi malah saling tonjok untuk menunjukan kekuatanya. Semua ingin menang, karena baik Rio dan Aarav merasa memiliki hak atas Meyra.


"Di mana Elmy sekarang?" tanya Rio nadanya tidak setegang tadi. Mungkin dia juga mulai melunak hatinya. Seiring perminta maafan Aarav. Sepele sih maaf, tapi tidak semua orang mau mengucapkanya dengan niat memperbaiki hubungan agar tidak berlarut-larut dan membuat hubungan semakin buruk.