
Ipek sembari menunggui suaminya bangun, ia kembali ke niat awal yaitu membaca Al-quran. Dengan suara merdunya ia mencoba menghilangkan kejenuhnya berada di kamar ruangan rawat yang sudah hampir satu minggu ia di sini. Lalu bagaimana dengan Wahid yang bahkan sudah hampir satu bulan terbaring di atas bed pasien tanpa bisa berbuat apa-apa.
Setelah sekian lama Ipek menunggu Wahid, akhirnya suaminya bagun juga. "Mas kamu udah bangun?" Ipeh menghampiri Wahid yang seolah menahan rasa sakit, "Ada yang di rasa sakit Bang?" tanya Ipek kembali dengan sedikit rasa cemas.
"Tiba-tiba mual tapi sekarang sudah tidak lagi," jawab Wahid setelah perutnya sudah tidak begitu mual lagi.
"Beneran sudah tidak mual lagi, kalo masih mual biar Ipek panggil dokter gimana?" tanya Ipek yang masih khawatir akan terjadi apa-apa dengan suaminya.
"Enggak sayang, aku sudah tidak apa-apa, lagian itu biasa ko. Mungkin asam lambung yang naik." jawab Wahid mencoba menenangkan Ipek.
"Oh ya udah, ngomong-ngomong tadi Abang ngobrol apa dengan dokter Rio? Apa Abang cerita sesuatu?" tanya Ipek yang sejak tadi tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu, padahal Ipek lumayan ngantuk, tetapi karena penasaran dengan apa yang Wahid ceritakan sehingga Ipek tidak bisa istirahat untuk tidur siang.
"Cerita soal kesehatan sayang, yang mana kamu tahu lah Abang tiba-tiba tidur terus dan tiba-tiba bisa normal atau bahkan insomnia. Jadi Abang curhat apa ada indikasi dengan pernyakit lain dan kemungkinan efeknya. Kata dokter Rio, beliau mau mengusahakan di adakan check menyeluruh ulang takutnya ada hal yang terlewatkan dan kira-kira bisa diobati tidak. Makanya paling mulai besok Abang bersama dokter Rio akan sering berkomunikasi mengenai kesehatan Abang. Kamu nggak apa-apa kan kalo Abang sering berkomunikasi dengan dokter Rio abisan Abang sama beliau lebih nyaman untuk bercerita," ujar Wahid yah sesuai rencana awal agar Ipek tidak curiga.
"Ya, enggak atuh Abang, malah Ipek seneng tandanya Abang banyk temanya. Oh iya Bang Ipek juga besok mau minta izin boleh tidak, besok Ipek ikut Zawa menjemput Arzen? Selain menemani Zawa, Ipek juga kangen pengin ketemu Ambu dan Abah, Ipek sangat-sangat kangen dengan beliau. Ipek pengin ketemu sama mereka, lagian sudah lama Ipek tidak bertemu mereka, kalo vidio call juga cuma sebentar," ucap Ipek dengan sangat hati-hati takut Wahid tersinggung dan tidak suka istrinya keluyuran.
"Ya Alloh Pek, jujur Abang itu lebih suka Ipek kembali kaya dulu, kalo mau kumpul dengan teman-teman silahkan, dan juga kalo mau nemanin Zawa, pulang ke rumah Abah dan Ambu atau pulang ke rumah Abi dan Umi, Abang sama sekali tidak melarang. Abang suka Ipek menjalanin apa pun yang sekiranya membuat Ipek bahagia. Karena kalo Ipek tidak bahagia dan justru sedih di samping Abang, sungguh Abang merasa berdosa dan gagal memberikan kebahagiaan untuk istri Abang. Kalo Ipek mau ke rumah Abah besok boleh tapi tetap hati-hati yah." Wahid pun menjawab dengan sangat hati-hati agar Ipek tidak tersinggung dan sedih. Wahid tau Ipek ingin berkumpul dengan temanya, tapi mungkin karena tidak enak, sehingga Ipek untuk izin dengan Wahid pun ragu.
"Terima kasih yah Bang, besok pasti Bibi sama Umi datang kesini ko, dan perawat nanti Ipek tambah satu orang lagi biar gantian jaga Abangnya, setidak sampai Ipek kembali Abang tetap aman. Paling Ipek dan Zawa nggak akan lama soalnyakan yang lain harus kembali bekerja," tutur Ipek, setidaknya walaupun Ipek pergi tetapi semua apa yang di butuhuin Wahid terpenuhi.
*****
Pagi-pagi selesai menjalankan sholat subuh Ipek sudah bersiap akan menjemput teman-temanya di rumah Zawa, pastinya Zawa sudah Men'share alamat rumahnya kepada Ipek. Setelah berpamitan dengan perawat akhirnya Ipek pergi tanpa berpamitan dengan Wahid, tetapi semalam Ipek sudah berpamitan bahwa ia akan jalan selepas sholat subuh. Andai Wahid belum bangun juga Ipek tidak akan membangunkanya karena kasihan jadi Ipek sudah berpamitan dengan Wahid di malam harinya.
Wahid pun tidak keberatan, dan memang ia kalo tengah tertidur biasanya sangat sulit untuk dibangunkan, sehingga memakluminya.
"Pek, loe ikut?" pekik Intan dengan suara keras, begitu mau masuk kedalam mobil tetapi melihat ada Ipek dan pastinya Intan langsung menyerbu Ipek. Tidak mau ketinggalan Zawa pun langsung masuk ke kursi penumpang barisan tengah dan memeluk Ipek, sementara Chandra duduk di smping supir.
"Kemarin katanya nggak mau ikut, aku udah sedih ajah loh. Tapi taunya cuma ngeprank ajah." Zawa gemas dengan Ipek sehingga mencubit pipi mulusnya.
"Iya, tadinya enggak mau ikut, malas juga jauhkan perjalanan, tapi dipikir lagi, sayang masa enggak liat drama nanti gimana reaksi Arzen sama kamu kalo nggak liat langsung, sayang iya enggak Dok?" ledek Ipek yang berhasil membuat wajah Zawa jadi memerah. Setelah Intan maupun Ipek senang meledek Zawa kini mereka pun mulai melanjutkan perjalanan. Terlebih tempat yang lumayaan jauh sehingga harus di segerakan agar tidak kesiangan mereka sampai ke pesantren Abah Ipek.
"Pek ngomong-ngomong ko kamu bisa bareng dengan Arzen memang gimana ceritanya, apa memang kalian sengaja janjian untuk sembunyi atau gimana?" tanya Chandra yang sejak tahu Arzen bersama Ipek sedikit curiga, terlebih Ipek dan Arzen belum termasuk teman lama. Malah masih di bilang baru banget, tapi kenapa justru Arzen lebih nyaman bercerita dangan Ipek dan tinggal pun dilingkungan yang sama.
"Iya Pek, coba ceritain biar kita nggak bosen juga di perjalanan yang panjang dan melelahkan kalo loe ngedongeng kan nggak berasa tuh perjalanan panjang juga." Intan ikut menodong agar Ipek bercerita juga.
"Iya Pek, jujur aku malah dulu sempat berfikir kamu memang menghilang bersama Arzen, dan kalian menikah dan tidak mau diketahui sama kita. Abisan kalian di cari nggak ada jejaknya sama sekal. Padahal orang-orang Rio sudah nyari ke manan pun, tapi tidak ketemu, makanya aku ngira ya begitu, tapi untungnya dugaanku salah. Kalian memang tinggal bareng tapi tidak menikah. Meskipun dugaanya ada yang bener tapi setidaknya ada yang nggak tepat," kekeh Zawa, entah bagai mana jadinya hati Zawa kalo Ipek menikah dengan Arzen.
Ipek yang mendengar perkataan Zawa pun tertawa renyah. "Ya Allah Zawa kamu itu lucu sekali sih, masa bisa kefikiran sampai sana, kenapa bisa?" tanya Ipek masih dengan tawa yang tertahan.
"Bisa lah Pek, Zawa itu masih mengira kalo vidio kalian itu benaran dan dia takut Arzen akan tanggung jawab dengan semua perbuatanya," sela Intan, tidak ketinggalan tertawa juga dengan ketakutan Zawa.
Ya namannya juga manusia, pasti ada rasa takutnya Pek, dan sama lah aku itu pikiranya jelek. Yang Arzen sudah menikah dengan yang lain, yang menikah sama kamu, pokoknya aku pikiranya jelek terus saking aku cintanya sama Arzen kali yah," kekeh Zawa yang tertawa dengan ketakutanya sendiri.
"Ok-ok aku cerita yah biar kalian semua tidak curiga aku ada hubungan apa dengan Arzen. Eh aku memang ada hubungan sama Arzen sih, tapi hubungan persahabatan, dan aku murni sahabat sama Arzen tidak ada rasa lain. Bahkan Arzen udah aku anggap sebagai Abang aku sendiri. Memang awal dekat aku pun dari kejadian waktu itu loh, kalo tidak ada vidio palsu itu aku tidak akan sedekat ini salama Arzen." Ipek memang merasa berhutang budi karena hal itu.
Semua pun mulai menyimak Ipek dengan seriuz, termasuk Chandra yang kini menghadap ke belakang untuk menyimak cerita Ipek. Ipek malah jadi tidak fokus dengan tatapan penaran dari mereka. Bingung juga mau memulai cerita dari mana.