Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kejutan



Ipek yang sudah tidak lagi di buntuti oleh mobil misterius itu pun, sudah bisa bernafas lega. Rasanya ia sangat takut, sampai-sampai keringat dingin keluar, saking takutnya bahwa mobil di belakangnya adalah mobil orang jahat.


Namun tidak menampik kemungkinan bahwa Ipek juga penasaran dengan siapa gerangan yang mengikutinya? Ada motif apa mereka mengikuti Ipek? Tunggu Ipek teringat dengan pemudah bermasker di bandara tadi. Kenapa melihat sosok peria itu Ipek seolah tidak asing dari bentuk badanya dan cara berpakaianya.


Sepanjang perjalanan ia masih terus memikirkan laki-laki tersebut pasalnya ia seolah melihat Clovis yang berada di balik masker dan kaca mata hitamnya. Bagaimana pun Ipek ingin melupakan Clovis, tetap sajah tubuh laki-laki itu sangat terlihat dengan jelas didiri Clovis.


"Ya Allah apa laki-laki itu Clovis? Kenapa disaat aku sudah sedikit melupakan dia dan menggantinya dengan yang baru engkau datangkan lagi dia di hidup hamba ya Allah." Ipek memejamkan matanya rasanya terlalu berat ujian dari Allah, terutama apabila menyangkut laki-laki itu.


Ipek kadang marah sendiri pada dirinya, kenapa ia sangat sulit menghapus nama Clovis, kenapa disaat dia telah memiliki suami yang baik dan pengertian, bisa-bisanya seorang laki-laki lain masih singgah di hati dan mengganggu difikiran Ipek.


Ipek pun memukul kepalanya sendiri berkali-kali, agar ia sadar bahwa perbuatanya salah besar. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu karena ternyata lagi-lagi jalanan ibukota yang macet parah.


"Kirain jalanan ibukota semakin hari semakin bisa terurai, ternyata ia salah, jalanan malah semakin parah," batin Ipek ketika berada ditengah-tengah kemacatan jalanan kota Jakarta.


Keasikan melamun, dan menggerutu jalanan sampai-sampai dia lupa bahwa sekarang Ipek sudah sampai di depan rumahnya. Ipek turun dari mobil mengedarkan pandanganya ke sekeliling.


"Ko sepi, kaya nggak ada orang apa ini? Perasaan tadi Ipek sudah ngasih tau kalo mau pulang, tapi malah pada kemana sih. Tau gini tadi Ipek pulang ke rumah Ambu lagi." Ipek menggerundel dan matanya sudah berkaca-kaca pasalnya tadi juga waktu di telpon Umi seperti tidak terlalu suka kalo Ipek pulang ke rumah ini. Ipek merasa tersisihkan.


Ipek berjalan dengan lesu, semangatnya seolah teh menguai, ia kembali teringat Abah dan Ambunya. Pokoknya Ipek janji kalo sampai Abi dan Umi pergi kerja atau arisan dan urusan lain Ipek saat itu juga mau balik ke pesantren. Pokoknya dia akan kembali ke mode ngambek.


Ipek membuka pintu rumah mewah itu, "Huh... aku pikir pulang bakal disambut gitu sama anggota keluarga ternyata malah dicuekin. Rasa sakit banget dicuekin keluarga. Mana mereka memilih mengumpulkan tumpukan dolar dari pada anaknya, dan adiknya." Ipek benar-benar ngambek.


Ipek sudah membayangkan bakal ada masakan yang lezat-lezat di atas meja makan tetapi Ipek lagi-lagi salah hanya ada sayur sop dan ikan goreng.


Ipek dengan malas masuk kedalam kamarnya. Ia sangat kecewa sama umi dan Abinya.


Huh... Ipek membuang nafas kasar dan membuka pintu kamar Ipek yang nampak di depan kamar seoalah tidak terawat. Sehingga menambah kemarahanya ia pengin menegur para pekerja di rumah Abinya kenapa di depan kamarnya kayak kapal pecah, banyak perabotan yang tidak terpakai di letakan di sana, sehingga Ipek mau masuk kamarnya saja harus geser beberapa barang yang menutupinya, sungguh menyebalkan. Ipek benar-benar tidak habis fikir dengan penghuni rumah ini, karena seolah sudah tidak menghargai lagi ia adalah anak dari majikanya. Anak kesayangan dari majikanya.


Ipek membuka pintu kamarnya....


Surprise....


Dooor.... Dooor...... Doooorrr..... suara balon yang meletus membuat Ipek terlonjak kaget.


"Ya Allah." Ipek pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya rasanya ia sangat bahagia sampai pecah tangisnya.


"Ko jadi nangis sih, Tuan Putri?" tanya Abi sembari mengusap sisa lelehan air mata di wajah cantik Ipek.


"Sedih dong Abi, Ipek pikir kalian lupa sama anak perempuan kalian. Sampai tidak ada yang menyambut kepulang Ipek, udah gitu di meja makan nggak ada makanan sedikit pun, kan Ipek lapar. Lalu Ipek naik ke kamar, di depan kamar ada banyak rongsokan. Tambah kesel Ipek, Abi." Ipek mengadu kekesalanya selama ia pulang ke dalam rumahnya, sungguh Ipek awalnya sangat merasa di bedakan dengan Abangnya.


Namun sekarang ia sangat bahagia, karena ternyata ini bagian dari prank keluarganya. Ipek pun melampiaskan pada Abangnya kedua Abang yang menjadi bulan-bulanan pukulan Ipek. Hal itu karena Umi yang bilang bahwa ini adalah Ide dari Abangnya. Sehingga Ipek pun menghajar Abangnya sampai terpingkal-pingkal, mana mungkin Abangnya tega membalas Tuan Putrinya. Yang ada nanti Raja marah kalo Tuan Putrinya disakiti.


"Udah-udah jangan berantem terus malu sama umur, udah pada gede juga malah berantem terus. Yuk makan ajah. Umi udah siapkan makanan khusus menyambut kedatangan Tuan Putri." Umi meminta putra putrinya untuk makan bersama.


"Yeh... akhirnya ada makanan juga. Ipek pikir bakal dibiarkan kelaparan disini karena tidak ada makanan," seloroh Ipek sembari mendahului yang lain untuk berjalan ke meja makan. Rasanya ia sangat kangen suasana seperti ini.


Ipek dan yang lainya makan dengan sangat lahap, terlebih Ipek karena makanan yang umi masak adalah makanan kesukaanya.


"Pek, nanti kamu kalo tinggal disini lagi, bisa-bisa kamu kembali gendut loh," ucap Abang Amar yang menertawakan adiknya makan dengan lahap. Padahal ia takut gendut. Namun kali ini ia lupa ketakutanya itu.


"Ah... Abi, tuh Abang ngomong kaya gitu Ipek nggak suka Abi. Tolong Abi kasih pelajaran Abi sama Abang biar dia jangan ngatain Ipek terus." Ipek sengaja dong cari pembelaan dari Abinya.


"Bang, kamu itu kebiasaan banget, selalu deh ngeledek adik kamu. Biarin napa gedut atau kurus kan juga anak Abi mah tetap yang paling cantik." Abi langsung menjalankan perintah Tuan Putri.


Sementara Ipek tertawa sombong, karena di rumah ini ia adalah Tuan Putri sehingga bisa menindas apa sajah termasuk Abangnya.


"Dih... tukang ngadu emang nih bocah tengil satu." ejek Amar tidak mau kalah.


"Umi... itu ah, Abang ngomong mulu, Ipek jadi nggak konsentrasi buat makan." Nah, kali ini Ipek meminta bantuan Uminya.


"Abang...." Umi mengeluarkan jurusnya.


"Iya Umi, Iya." Amar pun akhirnya diam ketika Umi sudah ikut bicara. "Tunggu kamu Tuan Putri akan aku balas," batin Amar sembari menatap tajam Ipek yang ternyata Ipek juga tengah menjulurkan lidahnya meledek Amar.


Dalam hati Mahes, justru sebaliknya ia sangat senang menyaksikan kebersamaan ini lagi. Di mana selama lebih dari tiga tahun Ipek menjadi gadis yang pendiam dan jarang sekali tertawa lebar seperti sekarang ini.


"Semoga kebahagiaan kamu selalu hadir sebagai warna dalam kelarga ini," ucap Mahes dalam batinya.