Beauty Clouds

Beauty Clouds
Sidak Dari Abah



"Nak Arzen, enggak usah takut, atau gerogi Abah cuma mau tanya ajah ko, Zawa ini siapa?" tanya Abah sambil menunjuk Zawa yang juga tengah menunduk malu. Ipek sebelumnya tidak mengatakan apa-apa dengan penyambutan di rumah Abahnya, sehingga Zawa tidak ada persiapan mental yang lebih. Sehingga ia sekarang serasa kaget berada di situasi yang cukup formal.


Arzen sebelum menjawab melirik dulu ke arah Zawa. "Kekasih Bah," jawab Arzen dengan singkat.


Ada kelegaan di hati Zawa sehingga ia langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, sembari mencuri pandang pada Arzen. Zawa takut kalo Arzen sudah tidak mengakuinya lagi sebagai kekasihnya.


"Ada niatan untuk dinikahi tidak. Soalnya Nak Arzen tahukan hukumnya seorang muslim yang berpacaran?" tanya Abah dengan santai, tetapi Arzen pasti tahu arahnya kemana.


Yah, lagi-lagi Arzen tidak menjawab pertanyaan Abah, tetapi kembali melirik ke arah Zawa, yang Arzen tentu tahu bahwa kekasihnya sangat menginginkan kepastian dari Arzen, tetapi ia juga masih ragu apakah ia mampu memberikan nafkah bati maupun lahir dengan istrinya. Takutnya Arzen malah tidak bisa membahagiaka istrinya nanti apabila Arzen dan Zawa menikah.


"Kenapa malah diam? Ada yang membuat ragu?" tanya Abah dengan penuh hati-hati sebab Abah tahu ini adalah masalah yang sensitif. Abah tau berada di posisi Arzen sangat tidak gampang.


"Maaf sebelumnya, Arzen memang masih ragu," jawab Arzen dengan wajah sendu.


"Karena fisik? Dan kerjaan?" tanya salah satu pengurus pondok yang terkenal bijak apabila memberikan nasihat beliau adalah Abah Zubki.


Arzen mengangguk lemah, memang pada dasarnya itu yang berhasil membuat dirinya bimbang untuk menikahi Arzen.


"Neng Zawa mau nggak kalo Aa Arzen melamar Neng, dan ngajak nikah?" tanya Abah Zubki, bergantian bertanya pada Zawa agar tahu isi masing-masing insan itu, dan bisa mencari solusi diantara keduanya.


Zawa mengangguk dengan semangat. " Mau Bah," jawab Zawa singat dan tegas, tanpa berbelit-belit langsung ke intinya.


"Neng Zawa kan sudah tau kondisi Aa Arzen, dan ceritanya pasti tahu kan? Apa Neng Zawa mau menerima calon suami Neng dengan tulus dan tidak menyesal di kemudian hari?" tanya Abah dengan suara yang sangat lembut.


"Zawa mau menerima calon suami Zawa apa adanya. Zawa tidak akan menyesal dan tidak akan meninggalkannya walaupun kami diuji dengan ujian yang lebih dari ini." Zawa lebih tegas untuk menjawabnya.


Abah pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda sangat paham dengan yang di maksud oleh Zawa, yang lain pun sangat kagum dengan jawaban Zawa. Begitu pun dengan Ipek dan teman-temnanya tidak menyangka kalo Zawa akan menjawab setegas, dan seyakin itu.


"Nak Arzen sudah dengar dengan jawabanya Neng Zawa apa ada yang mau ditanyakan lagi baik Arzen maupun Zawa?" tanya salah satu pemimpin pondok yang lain. Untuk memantapkan masing-masing hati yang barang kalimasih ragu dengan jawabannya.


"Zawa, boleh aku bertanya?" Arzen nampaknya masih ada pertanyaan yang mengganjal. Zawa pun mengangguk sebagai jawaban ia.


"Saya itu tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan kenapa kamu mau tetap menikah dengan saya?" tanya Arzen, karena ia tahu bahwa materi di dalam pernikahan adalah hal yang paling utama. Banyak rumah tangga yang rusak karena hal ini.


"Zawa yakin rezeki sudah Allah atur. Di mana pun kalo kita mau usaha dan di iringi dengan doa pasti rezeki akan datang dengan sendirinya. Jadi mana yang harus Zawa ragukan lagi, bukanya pertolongan dari Allah sudah pasti nyata." Zawa pun menjawab dengan yakin.


"Nah, Aa Arzen sudah mendengar jawaban dari Neng Zawa, ada lagi yang mengganjal?" tanya Abah.


Arzen pun menggeleng, menandakan sudah yakin dengan jawaban calon istrinya.


"Neng Zawa ada yang mau di tanyain atau mungkin bakal mengajukan syarat untuk calon suaminya?" Abah kali ini yang menanyakan pada Zawa.


Zawa pun dengan tegas menggelengkan kepala.


Arzen dan Zawa pun saling mengangguk dengan seulas senyum.


"Alhamdulillah...." Serentak semua yang ada di ruang tamu mengucapkan hamdalah sebagai rasa syukur dengan semua keputusan yang baik.


"Kalo gitu kapan Nak Arzen mau melangsungkan pernikahan? Makin cepat makin baik loh Nak Arzen?" Abah dengan senyum dan nada meledeknya bertanya agar tidak tegang.


"Kalo soal itu saya mau rundingkan dengan Zawa dan keluarganya Bah." Arzen meminta waktu untuk merundingkan dengan Zawa maupun keluarganyaa.


"Yah-yah meamang itu sudah keputusan paling tepat. Tapi kalo bisa jangan lama-lama yah, syetan ada di mana-mana dan bentuknya macam-macam loh." Abah masih seneng meledek Arzen. Setelah mereka bercengkrama dan saling berkenalan satu sama lain, dan saling bercerita, terlebih Ipek yang memiliki banyak sekali cerita mengenai suaminya Wahid, menjadi yang mendominasi bercerita di sana.


Mereka semua di sambut dengan ramah oleh keluarga Ipek di sugguhkan dengan sangat ramah.


Setelah semua berpamitan kini tinggal Ipek, Chandra, Intan, Zawa, dan Arzen. Mereka akan saling bernostalgia. Melepaskan rasa kangen yang teramat selama tiga tahun ini.


Setelah melewati sidak dari Abah dan pemimpin pesantren. Kini saatnya Arzen dan yang lainya merilekan otot yang tadi sempat pada tegang semua. Terurtama Zawa dan Arzen.


"Zen, loe ikut ke Jakarta nanti yah!" Chandra memulai obrolan diantara yang lainya.


Arzen pun yang diam-diam tengan mengamati kekasinya, kaget.


"Hah... ngapain?" tanya Arzen dengan bingung. Yah, dia bingung ke Jekarta mau ngapain. Sedangkan dia di sana sudah tidak punya rumah dan kerjaan pun tidak punya. Walaupun sebenarnya Arzen pun ingin bekerja sebab nanti untuk menafkahi istrinya pasti kan harus kerja.


Padahal tanpa sepengetahuan Arzen. Zawa sudah membeli cafe milik Arzen yang sudah di jual dan kini rencananyaa teman-teman mereka pun akan bahu-membahu untuk membantu memerika modal pada Arzen untuk memulai bisnisnya.


****


Di tempat lain Rio, Aarav dan Clovis yang rencananya hari ini akan bertemu dengan wahid sejak tadi pun iku memantau Arzen dan yang lainya.


Mereka memang tidak ikut menemui Arzen, tetapi sejak tadi Chndra vidio call dengan mereka sehingga mereka tahu apa yang terjadi di sana.


Tiga cogan itu malah sejak tadi menertawakan ekspresi Arzen yang di nilai sangat lucu karena gugup dan cemas, cemas dan lain sebagainya sehingga membuat wajah Arzen sangat lucu.


Clovis pun ikut, menertawakan dengan renyah tampang memelas Arzen, padahal dirinya dan Arzen saja nanti kalo di posisi itu pasti bakal lebih parah dari Arzen.


Setelah berunding akhirnya mereka semua sepakat untuk berpatungan memberikan modal untuk Arzen memulai kembali cafenya di cafe yang dulu di mana cafe Arzen adalah salah satu cafe favorite dan banyak di jadikan tempat nongkrong hal itu karena masakan Arzen memang tidak ada duanya. Resep yang Arzen buat selalu berhasil membuat lidah pengunjung termanjakan.


Ternyata tidak hanya teman-teman Arzen. Abi pun tetap akan mengajak kerja sama dengan Arzen. Rencana yang dulu pernah Arzen bicarakan dengan Abi akan mulai di kerjakan. Dulu Arzen belum bisa mengerjakanya karena kondisi kesehatanya yang belum cukup bagus, tetapi kali ini mereka yakin Arzen sudah kuat dan mampu memulai kembali usaha kulinernya. Dan akan mulai bergabung dengan team Abinya Ipek yang mana beliau sudah merajai sebagian besar lestoran bintang lima.


Yah, ini memang masih menjadi rencana teman-teman Arzen. Belum di sampaikan pada Arzen secara langsung. Biar semua ini akan menjadi kejutan nanti ketika mereka sudah berada di Jakarta.


Setelah melewati perdebataan yang sangat panjang dan cukup alot akhirnya Arzen ikut kembali ke Jakarta. Arzen sebenarnya sejak tadi ingin sekali bertanya tentang ke bebasan Zawa, tetapi selalu tidak ada waktu. Belum teman-temanya yang selalu saling meleparkan pertanyan. Baik yang serius maupun yang hanya sebatas candaan keisengan mereka, hanya sebagai hiburan agar tidak jenuh.