
Di kediaman Zawa..
"Kamu pilih sajah salah satu, cowok yang nanti bakal kamu dekatin."ucap Emly sembari menyodorkam Handphone'nya, disana ada foto Rio dan teman-temanya.
Zawa mengambil HP Emly, dia memperhatikan kelima cogam di foto itu, pertama melihat, Zawa tertarik dengan Arzen.
"Menurut loe sifat mereka gimana?" tanya Zawa karena ia tak mau salah mengambil keputusan.
Emly menggeser duduknya mendekati Zawa.
"Kalo untuk Rio dan Aarav loe udah tau kan?" tanya Emly.
"Pernah ketemu dulu banget kayaknya, tapi sepertinya sedikit lupa. Loe kasih tau lagi biar aku nggak salah nantinya." pinta Zawa.
"Ini Rio mantan gue, baiknya loe hindari ajah takutnya dia masih inget sama loe." jelas Emly sembari menunjuk kefoto Rio. "Yang ini Aarav asisten Rio, dan inj juga yang sudah ngehamilin gue." ucap Emly masih dengan tangan yang menunjuk foto Rio.
Zawa memperhatikan setiap penjelasan dan mengingat ingat muka Rio dan Aarav.
"Yang ini Clovis, baiknya jangan juga deh, dia Cassanova aga susah percaya dengan cinta, takutnya nanti kamu yang disakiti sama kelakuanya." Emly kembali memberi tahuan sifat dari teman-teman Rio. "Yang ini Chandra, dia Dokter juga sama kaya loe. Dia bekerja dirumah sakit Rio, dan dia duda anak satu, istrinya sudah meninggal. Kalo Chandra masuk lah," ujar Emly sembari meledek Zawa.
"Lalu yang ini?" tanya Zawa dengan menunjuk ke foto Arzen, laki-laki yang membuatnya bergetar dipandangan pertama biarpun hanya melihat fotonya.
"Yang ini Arzen, boleh juga buat loe dekati, setau gue dia juga pergaulanya bagus. Nggak terpengaruh meskipun teman-temanya banyak yang begajulan." ucap Emly dengan melirik Zawa. "Lalu kira-kira loe bakal deketin yang mana biar nanti gue bantu buat cari ide untuk pendekatanya."
Zawa masih tampak diam, memastikan pilihanya yang mana.
"Kayangnya gue deketin Arzen ajah deh, keliatanya mukanya lebih ramah, dan dia dari wajahnya lebih keloka. Tau kan gue nggak suka cowok yang ada kebule-buleanya. Gue lebih suka produk lokal." tutur Zawa.
"Ya udah nanti orang suruan gue, memata-matai kebiasaan Arzen dan setelah itu, kita mulai atur strategi buat mendekati Arzen." Ujar Emly dengan semangat.
Zawa pun hanya mengangguk pasrah. Kini Zawa sudah nggak bisa mundur lagi. Yang harus Zawa lakukan ia harus hati-hati agar Arzen tidak curiga, dan rencananya juga berhasil agar Emly bisa menerima kehadiran anaknya.
Emly nampak bahagia sekali, karena kini Zawa berada dipihaknya. Sekarang tinggal Emly meyakinkan Zawa bahwa ia nggak akan berbuat aneh-aneh untuk membalas dendamnya terutama pada Rio dan Aarav.
Emly menghubungi orang suruannya agar memata-matai Arzen, apa ajah kebiasaan Azen selama satu hari. Selamat satu minggu Emly memberi waktu orang kepercayaanya, dan setelah satu minggu nanti mereka wajib melaporkan kegiatan Arzen sehari-hari.
****
Di ruangan Rio...
Aarav masuk ke ruangan Rio dengan tujuan akan memberikan laporan.
"Kenapa? Muka lecek amat." tanya Aarav ketika melihat muka Rio yang ditekuk.
"Bingung gue," jawab Rio, lemas.
"Kapan sih loe nggak bingung, tiap hari juga ngeluhnya bingung terus, mau makan ajah loe mah bingung," oceh Aarav, menirukan gaya Rio ketika ditanyai mau makan apa? Pasti jawabnya bingung.
"Kali ini beneran bingung. Ody hamil." ucap Rio tiba-tiba.
"Hah ko bisa?" tanya Aarav sepontan karena kaget.
"Eh makasud gue, bagus dong, bentar lagi loe bakal jadi Dady, dan gue jadi uncle." ucap Aarav dengan santai.
"Dady sih Dady tapi gue bingung, Ody bakal gue sembunyiin dimana?" tanya Rio nggak mau kalo sampai yang lain tau bahwa Ody hamil dan yang menghamilinya adalah dia sendiri.
"Ko disembunyiin sih, tinggal ajah bareng di rumah loe, kenapa mesti main petak umpet segala." tanya Aarav heran dengan jalan pikiran Rio.
"Kalo dirumah gue terlalu riskan, kalo Mamih Papih udah kembali kenegara ini dan tiba-tiba berkunjung kerumahku, melihat Ody yang ada di rumahku dengan kondisi hamil, gue mesti cari alasan apa." ujar Rio nggak mau setatus pernikahannya diketahui oleh orang lain termasuk keluarganya. Entah alasan apa Rio menyembunyikan Ody dari keluarganya. Apa karena malu atau kenapa, padahal nantinya juga bakal ketahuan apa lagi kalo anaknya lahir otomatis mereka bisa sajah mengetahui fakta tentang pernikahanya.
"Kenapa mesti bingung beralasan apa. Kamu tinggal jelaskan siapa Ody sebenarnya. Semakin loe tutupin Ody dari kehidupan loe. Semakin banyak kesempatan untuk terbongkar.
Yang namanya bangkei ditutupin serapat apapun akan tetap tercium juga."Aarav mencoba menjelasi Rio siapa tahu kali ini berhasil meluluhka sifat kerasa kepala Rio.
"Menjelaskan kebenaranya sama mereka, itu nggak akan pernah terjadi." sungut Rio jutek.
"Kenapa nggak? Lalu cepat atau lambat keberadaan anak loe pasti bakal diketahui." ucap Aarav nggak kalah geram juga, kenapa Rio keras kepala sekali.
"Ya, setidaknya nggak dalam waktu dekat ini. Sampai waktu itu terjadi gue bakal cari alasan yang tepat buat memperkenalkan anakku pada kedua orang tua ku." jawab Rio santai.
"Masih yah nggak mau jujur," gerutu Aarav "Kalo saya ada diposisi loe bakal gue kenalin Ody sama orang tua gue. Gue mah Gentleman nggak usah main petak umpet. Udah kaya anak kecil demennya main petak umpek." cicit Aarav siapa tau Rio bakal tergerak hatinya setelah mendengar nyiyiranya.
Teranyata Aarav salah, Rio masih cuek dengan pendirianya.
"Huh dasar nggak peka," dumel Aarav pelan.
"Kalo Ody hamil, berati ada kemungkinan dong kalo Emly hamil juga." gerutu Aarav dalam hati. "Bahkan gue berharap banget kalo hal itu terjadi." imbuh Aarav membayangkan apabila Emly hamil ia akan menjadi laki-laki paling bahagia. Bahkan Aarav berjanji akan dengan senang hati menikahi Emly apabila Emly menginginkan pertanggung jawabanya. Lalu Aarav akan memperkenalkan pernikahanya keumum, tidak seperti Rio yang memilih menutupi setatus pernikahanya.
***
Di ruangan Intan..
"Gimana Dok, udah boleh pulang kan aku?" tanya Ody, setelah barusan Intan selesai memeriksanya.
"Udah ko, semuanya udah OK." jawab Intan "Yang mau pulang kerumah suami, nggak sabar banget, pengin buru-buru pulang ajah." imbuh Intan meledek Ody.
"Apaan sih Dok, orang beneran bosen di kamar terus, mana nggak bisa ngapa-ngapain jadi suntuk." ujar Ody nggak suka Intan meledeknya.
"Iya-iya tau ko, suntuk." cicit Intan nggak berhenti meledek Ody.
"Mudah-mudahan Rio berubah setelah kami kembali tinggal satu atap lagi." gumam Ody dalam hati.
Andai boleh meminta Ody ingin pernikahnya tetap utuh, supaya anaknya kelak tidak menjadi anak dari keluarga yang broken home. Tetapi sepertinya semua keinginan Ody akan susah terwujud, mengingat keras kepala Rio yang tidak menginginkan pernikahan di ataran mereka.
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
Mampir juga yah di karya Othor yang satu lagi. Judulnya "Jangan Hina Kekuranganku" dijamin nggak kalah seru ceritanya..