
Clovis yang di buat penasaran dengan ucapan Ipek pun setelah sholat Subuh di masjid langsung buru-buru keluar masjid, dan akan kembali ke kamarnya. Lagi-lagi Abi juga melakukan hal yang sama setelah sholat Subuh dan bersalaman dengan para jamaah langsung tergopoh hendak kembali kekamar Abi. Yah, Umi pun sama berjanji akan memberikan kabar gembira pada suaminya, setelah menjalankaan sholat subuh.
"Abi kenapa buru-buru sekali? Apa yang membuat Abi seburu-buru seperti ini?" tanya Clovis berbasa-basi dirinya juga sebenarnya sama merasakan hal yang sama terburu-buru karena penasaran dengan kejutan yang akan Ipek katakan.
"Lah kamu juga buru-buru kenapa? Abi tahu yah kamu itu sedang terburu-buru, jadi bukan Abi doang kok yang terburu-buru," jawab Abi sembari melambatkan jalanya. Clovis kira beberapa kali mereka terlibat percakan akan membaik hubunganya ternyata tidak justru Abi kembali jutek lagi.
"Itu Abi, tadi katanya Ipek mau kasih kejutan kalo sudah selesai sholat Subuh, jadi Clovis buru-buru takutnya Ipek nungguin," jawab Clovis berusaha tetap santai dan hangat dengan mertuanya itu. Clovis juga tahu sebenarnya mertuanya itu tidak benar-benar marah dengan dirinya.
"Loh, kok kita sama. Tadi juga sebelum berangkat sholat Subuh Umi bilang gitu. Kira-kira kejutan apa yah?" tanya Abi, seolah lupa dengan kejutekanya, kali ini nada bicaranya jangan di tanya sangat hangat.
"Kurang tahu Abi, yuk coba kita buru-buru ke kamar!" Clovis dan Abi pun buru-buru ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar Ipek sedang rebahan menunggu suaminya pulang sholat. Bahkan Ipek bingung mau ngomong pembukaanya bagaimana biar lebih spesial gitu. Ipek tidak tahu gimana bikin kata-kata yang bagus, sehingga waktunya dia habiskan untuk berfikir.
Senyum teduh terlihat dari wajah Clovis yang sebelum masuk kedalam kamar sudah mencoba menetralkan jantungnya dan nafasnya yang sebelumnya ngos-ngosan karena naik tangga terburu-buru, sehigga nafasnya terlihat memburu. Ipek mencium tangan suaminya dengan takzim, dan Clovis selalu mencium pucuk kening Ipek dengan hangat.
"Sayang mau ngomong apa sih, gara-gara kamu yang bilang mau bikin kejutan entah dalam sholat Abang juga keinget pulang terus," ucap Clovis sembari terkekeh, menertawakan isi kepalanya yng sulit diajak kerja sama, di minta khusu malah otaknya pengin buru-buru selesai dan segera pulang, belum isi otaknya mencoba menerka-nerka apa kiranya yang akan Ipek berikan surprase untuk dirinya.
"Ya ampun Abang dosa loh lagi sholat kok mikirinya ke mana-mana," ucap Ipek sembari membenarkan duduknya, sebenarnya ia sedang mencoba menekan rasa gugupnya.
"Atuh gima Baby, kefikiran terus kira-kira kejutan apa yang akan kamu berikan. Service bukan baby, serivice yang panas-panas, kebetulan cuaca pagi ini cukup dingin baby gimana kalo kita bikin yang hangat, hangat biar tidak dingin lagi," ucap Clovis otak mesumnya malah ngajak Ipek main cangkul-cangkulan.
"Apaan sih Abang, Nih kejutanya buka sendiri ajah." Ipek menyodorkan satu bungkus kado berbentuk hati dengan warna merah meroona, dengan pita yang sangat cantik. Butuh perjuangan buat Ipek agar bisa membungkus secantik itu dan lebih parahnya Ipek harus kejar-kejaran dengan waktu yang tidak lama karen waktu sholat Subuh lebih sebentar dari sholat yang lainya.
Ipek merutuki dirinya sendiri yang tidak ada romantis-romantisnya, harusnya dia berkata, "Sayang tutup dulu mata kamu, aku ada kejutan, tapi kamu jangan kaget yah...," Namun yang keluar malah kalimat juteknya.
Clovis mengernyitkan dahinya, ketika melihat kotak berbentuk love yang di bungkus dengan rapih oleh istrinya. Clovis tidak langsung menerima, tetapi di dalam otaknya masih bekerja keras kira-kira kejutan apa? Apa ada yang ulang tahun, tapi setelah otaknya bekerja keras dan mengingat satu demi satu momen tetapi tidak ada perayaan di hari ini, bahkan ulang bulan pernikahan pun belum waktunya merayakan, lalu apa.
"Mau di buka enggak? Kenapa malah bengong?" tanya Ipek sembari menggoyang-goyangkan kotak bentuk love itu. Clovis mengambil kotak itu, dia menggoyang-goyangkan kotak itu seolah tengah mencoba menebak kira-kira apa yaang ada di dalamnya. "Hari ini ada acara atau perayaan yang sepesial?" tanya Clovis dengan wajah memohon dan penasaran. "Tapi setelah Abang ingat-ingat tidak ada perayaan yang sepesial, dan kenapa Abang dapat kado?" imbuh Clovis, rasanya kalo dapat kado tidak tahu alasanya akan sangat aneh, itu yang Clovis rasakan.
Clovis melototkan matanya mendengar ucapan Ipek, dan ia semakin di buat penasaran oleh istrinya itu. "Boleh Abang buka sekarang? Abang enggak sabar banget pengin tahu isinya, kayaknya sih sepesial banget pake telur dua ini," tanya Clovis dan tanganya lagi-lagi di gerakan sekali lagi mencoba menebak isinya, tetapi tidak ada suara apa-apa.Namun sepertinya sia-sia Clovis tidak juga bisa menebak isi di dalam sana.
Ipek mengembangkan senyum manisnya, yang justru menarik Clovis untuk menyesap bibir mungilnya. "Bukalah! Semakin cepat Abang membukanya Abang akan lebih tahu apa isinya dan tidak menebak-nebak terus," balas Ipek enggak sabar juga ketika ia harus menunggu suaminya lama, membuka kadonya. Ingin Ipek mengambil dan membukanya sendiri dan segera menunjukan isi dari kado yang ia beriakan untuk Clovis.
Clovis setelah mendengar jawaban dari Ipek pun langsung menarik pita yang terikat dengan rapih dan membuka kota warna merah maroon itu. Satu kotak sudah Clovis buka tetapi ternyata di dalam sanah masih ada kotak lagi. Hati Clovis semakin di lingkupi rasa penasaran yang teramat. Tanganya yang tandinya kering, kini sudah basah oleh keringat. Dan tidak hanya itu, dia jadi gemetar, seolah ia ketahuan mencuri jambu di kebun tetangga.
Kotak kedua Clovis buka, dan lagi-lagi Clovis di buah harus gigit jari dan ingin berteriak, apa kadoanya? Namun Clovis mencoba sabar dan menatap Ipek, dengan tatapan penuh pertanyaan.
'Lanjut ajah," lirih Ipek sembari tanganya ia ajukan kedepan, sebagai tanda bahwa Clovis di minta melanjutkan membuka kadonya.
Clovis seolah menjadi kerbau yang di cocok hidungnya, dia nurut sajah, tangannya membuka bungkusan terakhir, adalah amplop dengan warna pink. Laki-laki yang masih mengenakan baju koko dan peci membalik amplop tersebut, dan pluukkkk... empat benda berbentuk pipih jatu diatas pangkuangnya. Clovis bukanya segera mengambil benda itu justru menatap istrinya dengan penuh tanya dan senyum mengembang, seolah laki-laki itu tahu bahwa dia akan menjadi ayah.
"Lihat dong hasilnya!" ucap Ipek, taanganya lagi-lagi di sodorkan kedepan agar Clovis melihat hasilnya.
Dengan wajah yang masih tersenyum dengan lebar Clovis mengambil ke empat benda pipih tersebut dan lihatnya satu-satu. Semuaanya terlihat dengan jelas ada dua garis berwarna mrerah muda.
"Ini seriuskan Baby, kamu hamil," ucap Clovis. Tes... air matanya turun sebagai tanda bahwa dia memang tengah berbahagia.
Ipek mengangguk dengan senyum teduhnya, sebagai jawaban 'iya aku hamil'
Yes... Yes... Yes... Clovis langsung bangkit dan membuang tes pek yang ada di tanganya di saking gembiranya sambil berloncat-loncat seperti anak kecil tengah main air hujan. Clovis mendekat ke Ipek dan mengujami pipinya dengan ciuman yang penuh syukur. "Selamat yah Baby, akhirnya kita akan jadi orang tua." ucap Clovis dengan memeluk erat istrinya itu.
Brrrakkk... pintu di buka kasar dari depan Clovis dan Ipek yang masih berpelukan dengan hangat pun kaget dengan orang yang membuka pintu itu.
"Ipek... sayang ini benaran?" tanya Abi sembari bermelow, saking bahagianya akan menjadi kakek Abi sampe nangis.
"Iya Abi, Clovis sama Ipek mau jadi orang tua, doain yah," ucap Clovis dengan sisa tangis bahagianya. Abi pun langsung menghambur ke dalam pelukan Clovis, Mertua dan menantu itu pun saling berbagi kebahagiaan dengan berpelukan dan isak tangis bahagia mewarnai pagi hari ini. Ipek dan umi hanya melihat mantu dan mertua yang biasanya akan tidak akur itu, tetapi pagi ini mereka sangat manis, berpelukan.